
"Nay, sepertinya ada yang mengetuk pintu? apa itu Ayah atau Bik Ummah?" tanya Ardian yang sedikit panik dengan keadaannya yang masih dalam keadaan telanjang dengan Juniornya yang masih berdiri keras.
"Biarkan saja Mas, tidak apa-apa kalau menunggu sebentar kan?" ucap Nayla sedikit kesal karena kasihan sekali pada Ardian yang sudah pada titik terangsang hasratnya harus menahannya karena ada suara ketukan pintu.
"Di buka saja Nay, kita bisa melakukannya nanti, tolong bisa pakaikan celanaku lagi Nay?" ucap Ardian tanpa ada rasa kesal walau ada yang mengganggunya di saat hasratnya sudah di ujung klimaks.
Setelah membantu memakaikan celana Ardian, Nayla bergegas turun dari ranjang sambil merapikan pakaiannya dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Dengan berat hati Nayla berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan pelan.
"Maaf Non Nayla, mengganggu." ucap Bik Ummah yang berdiri di depan pintu.
"Tidak apa-apa Bik Ummah, ada apa Bik tumben ke sini tanpa memberi kabar dulu." tanya Nayla sedikit heran melihat wajah Ummah yang pucat dan sedikit ketakutan.
"Emm, Den Ardian ada Non?" tanya Bik Ummah dengan suara bergetar.
"Ada di kamar Bik, lagi istirahat.. kalau ada yang penting masuk saja Bik." ucap Nayla jadi penasaran dengan ketakutannya Bik Ummah.
"Tolong beritahu saja pada Den Ardian kalau Den Pria ada di depan ingin menemui Den Ardian." ucap Bik Ummah dengan suara bergetar.
"Den Pria? maksud Bik Ummah apa namanya Pria?" tanya Nayla yang sedikit penasaran dengan nama Pria.
"Den Pria namanya Tegar Priambodo Non, tapi sejak kecil Keluarga besar Den Ardian memanggilnya Den Pria." jelas Bik Ummah dengan suara pelan takut suaranya terdengar Pria yang duduk di ruang tamu.
"Sepertinya Bik Ummah takut sekali dengan Den Pria, pasti wajahnya seram ya Bik?" ucap Nayla menggoda Bik Ummah.
"Sama sekali tidak Non, sangat tampan seperti Den Ardian." jawab Bik Ummah dengan jujur kalau Pria memang tampan dan wajahnya bagaikan pinang di belah dua dengan wajah Ardian. Tegar Priambodo adalah seorang polisi yang berpangkat Kapten putera pertama Restu Ayuningtyas Gavin kakak Ardian yang tinggal di Jakarta.
"Bik Ummah masuk saja dan bicara pada Mas Ardian ya Bik, karena tidak enak juga kalau aku yang menemui Pria sebelum di kenalkan sama Mas Ardian." ucap Nayla membuka pintunya lebar-lebar.
__ADS_1
Dengan sedikit ragu Bik Ummah masuk ke dalam kamar di mana Ardian sedang duduk bersandar sambil membaca koran yang belum di bacanya.
"Den Ardian." panggil Bik Ummah dengan tatapan rumit.
"Ya Bik Ummah ada apa?" tanya Ardian sambil meletakkan korannya.
"Maafkan saya Den Ardian, Den Pria minta di antar kemari, sekarang ada di ruang tamu menunggu Den Ardian." ucap Bik Ummah dengan takut-takut karena tanpa memberitahu lebih dahulu.
"Tidak apa-apa Bik, aku akan menemuinya, tolong bisa bantu buat minuman kesukaannya Pria." ucap Ardian yang memang sangat menyayangi Pria.
Dengan pelan Ardian turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar untuk menemui Pria yang sedang duduk di ruang tamu.
"Pria." sapa Ardian tersenyum menatap Pria yang terlihat sangat gagah dengan tubuh tegapnya.
"Paman." sahut Pria berdiri dari duduknya dan memeluk erat Ardian.
"Kapan kamu datang?" tanya Ardian duduk dengan pelan setelah melepas pelukannya.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu." ucap Ardian dengan serius.
"Ceritakan Paman, aku akan mendengarkan." ucap Pria duduk tegak dengan wajah yang serius mendengarkan ucapan Ardian.
Dengan serius Ardian menceritakan semuanya dari awal sejak dia sakit sampai menikah dengan Nayla dan saat-saat Ardian yang sudah tidak bisa bertahan hidup hingga Ardian berniat meminta bantuan pada Pria untuk menjaga Nayla, yang ternyata Ardian masih di beri kesempatan umur panjang untuk bisa menjaga Nayla.
Pria mendengarkan cerita Ardian dengan serius tanpa menyela sedikitpun.
"Jadi begitu ceritanya Paman, syukurlah kalau Paman sudah dapat ginjal yang sehat, tapi tetap saja Paman harus menjaga kesehatan Paman untuk tidak terlalu bekerja keras." ucap Pria dengan wajah yang terlihat tenang sangat mirip dengan sikap Ardian yang bawaannya selalu tenang.
"Trimakasih Pri, karena Paman kamu datang dari jauh dan ternyata Paman masih di beri umur panjang agar bisa menjaga Nayla." ucap Ardian sedikit tidak enak pada ponakannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Paman, malah aku senang kalau Paman sehat kembali, dan lagi dengan aku minta izin kemarin ternyata aku di pindah tugaskan juga di desa ini, jadi tidak ada sia-sia aku ada di sini." ucap Pria dengan tersenyum.
"Benarkah itu Pri?" tanya Ardian tak percaya dan ikut senang dengan kepindahan Pria.
"Benar Paman, jadi Paman tidak perlu merasa tidak enak dengan hal yang kemarin." ucap Pria lebih bersyukur dengan kesehatan Pamannya yang sudah sehat.
"Kalau begitu sebaiknya kamu tinggal di rumah besar saja Pri, karena tidak ada orang di sana." ucap Ardian berharap Pria mau tinggal di rumah besar.
"Tidak ada masalah Paman, aku dapat mes juga di tempat aku bertugas." ucap Pria yang sudah punya pangkat Kapten.
"Biarkan saja mes nya Pri, kamu tempati saja rumah besar paman daripada tidak ada yang menjaga di sana." ucap Ardian dengan penuh harap.
"Ya Paman aku pikirkan nanti." ucap Pria dengan serius.
"Paman..boleh aku ke kamar mandi? aku ingin buang air kecil." ucap Pria berdiri sambil memegang pinggangnya.
"Masuk saja Pri, kamar mandi dekat dapur, ada Bik Ummah dan Nayla di dapur." ucap Ardian duduk tenang sambil menunggu minuman yang di buat Bik Ummah.
Pria yang tidak terlalu paham rumah pondok Ardian masuk ke dalam dan mencari dapur yang katanya dekat dengan kamar mandi.
Saat di dapur Pria melihat Nayla dari belakang sedang membawa nampan dengan dua gelas juice tomat dengan memakai pakaian yang terbilang sederhana.
Pria berpikir usia Nayla seumuran dengannya mungkin selisih satu atau dua tahun lebih tua darinya, dan Pria pun berpikir Nayla adalah adik dari istri Ardian.
"Dek, mau tanya..di mana letak kamar mandi ya?" tanya Pria dengan tiba-tiba di belakang Nayla membuat Nayla berjingkat kaget.
"Ya Tuhannn!!!" teriak Nayla dengan refleks melempar nampan yang ada dua gelas juice tomat hingga mengenai wajah dan kemeja Pria.
Pria berdiri diam dengan wajah dan kemejanya yang hampir keseluruhan terkena juice tomat. Sedangkan Nayla terpaku sambil menutup mulutnya saat melihat wajah Pria hampir tidak terlihat karena tumpahan juice tomat yang sangat kental.
__ADS_1
"Maaf,...maaf aku tidak sengaja." ucap Nayla dengan panik meraih lap di samping kompor yang ternyata kotor untuk membersihkan wajah Pria.
Dan Alhasil wajah Pria yang tadinya penuh kena tomat sekarang sebagian wajahnya berubah menjadi warna hitam.