LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
DUA HATI SATU CINTA (1)


__ADS_3

"Suka tidak suka, aku akan tetap memberikan ginjalku padamu Mas, dan aku akan segera melakukannya." ucap Nayla yang tidak ingin kehilangan Ardian yang sangat di cintainya.


"Tidak Nay, jangan lakukan ini padaku Nay? aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu! pada buah hati kita, tolong dengarkan aku kali ini Nay." ucap Ardian dengan perasaan sedih, sungguh dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai Nayla yang mendonorkan ginjalnya.


"Aku akan baik-baik saja Mas, dua-duanya ginjalku sehat, dan aku yakin kalau aku menjaga kesehatanku, aku tidak kenapa-kenapa juga buah hati kita." ucap Nayla yang selalu keras kepala jika sudah punya niat.


Ardian terdiam, dengan perasaan dan hati yang tiba-tiba tidak merasa tenang dengan keinginan Nayla yang sudah tidak bisa di hentikan.


"Sebaiknya keinginan kamu itu, kamu bicarakan dengan Ayah dan Bunda Nay, aku pribadi tidak setuju dengan keinginanmu ini." ucap Ardian dengan rasa putus asa karena tidak mungkin lagi menghentikannya.


"Ya Mas, tapi seandainya Ayah dan Bunda tidak setuju, aku akan tetap donorkan ginjalku padamu Mas." ucap Nayla dengan sangat serius.


"Ya sudah Nay, sebaiknya kita balik ke rumah sekarang, aku ingin istirahat sebentar." ucap Ardian merasakan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas.


"Kamu tidak apa-apa kan Mas?" tanya Nayla saat melihat wajah Ardian yang pucat.


"Aku hanya merasa lemas saja Nay." ucap Ardian sambil memegang lengan Nayla untuk pegangan.


"Kita balik sekarang Mas." ucap Nayla membantu Ardian berdiri dan memapahnya agar Ardian tidak terjatuh.


Sampai di rumah, Nayla membantu Ardian berbaring ke tempat tidur kemudian membuka kaos Ardian dan di olesinya dengan minyak kayu putih.


"Makan dulu ya Mas? aku ambilkan makan di dapur." ucap Nayla seraya berdiri hendak ke dapur, namun tangan Ardian menahannya.


"Tidak usah Nay, aku masih kenyang." ucap Ardian tidak ingin di tinggalkan Nayla.


"Makan sedikit saja Mas, setelah itu minum obat dan baru Mas bisa istirahat." ucap Nayla yang benar-benar ketat menjaga kesehatan Ardian.


"Ya Nay." ucap Ardian akhirnya mengalah lagi pada istrinya.


"Sebentar ya Mas, aku ambilkan makanannya." ucap Nayla dengan tersenyum saat Ardian menuruti keinginannya.


Saat Nayla sudah berada di dapur, Ardian ingin menelepon Zanna tentang keinginan Nayla yang ingin mendonorkan ginjalnya.

__ADS_1


"Hallo Zanna." ucap Ardian dengan suara beratnya.


"Ya Pak, ada apa ya pak?" tanya Zanna dengan perasaan cemas.


"Zanna, aku bisa minta tolong padamu untuk bicara sama Nayla, agar Nayla tidak meneruskan keinginannya untuk mendonorkan ginjalnya untukku, Karen Nayla sekarang dalam keadaan hamil." cerita Ardian dengan sedih.


"Jadi Nayla sekarang hamil pak?" tanya Zanna dengan perasaan bahagia.


"Ya Zanna, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Nayla apalagi pada bayinya, tolong nasihati dia ya Zan." ucap Ardian berharap dengan adanya nasihat dari Zanna, Nayla mau mengurungkan niatnya.


"Aku usahakan ya pak, tapi kalau seumpama Nayla tidak mendengarkan saya, mungkin terpaksa saya akan minta tolong pada Kenzo, biasanya kalau Kenzo yang meminta Nayla pasti mau mendengarkan pak." ucap Zanna yang kelepasan bicara.


"Maaf pak Ardian, bukan saya bermaksud menyakiti hati pak Ardian, karena memang kenyataannya seperti itu." ucap Zanna dengan jujur.


"Ya Zanna, tidak apa-apa...aku hanya minta tolong itu saja, karena Nayla besok ingin ke rumah sakit." ucap Ardian dengan perasaan sedikit tercubit saat Zanna bilang kalau Nayla selalu menurut apa kata Kenzo.


"Ya Pak, nanti saya akan coba bicara sama Nayla." ucap Zanna dan mengakhiri panggilannya Ardian.


"Habis bicara sama siapa Mas?" tanya Nayla saat datang melihat Ardian meletakkan ponselnya.


"Ohh, apakah ada yang penting Mas?" ucap Nayla seraya duduk di samping Ardian dan mulai menyuapi Ardian dengan pelan-pelan.


"Tidak Nay, hanya masalah yang tadi kita bahas saja." jawab Ardian setelah selesai mengunyah makanannya.


"Ohh, pasti Mas Ardian minta tolong pada Zanna untuk membujukku bukan?" tanya Nayla sambil mengusap mulut Ardian yang sedikit belepotan terkena makanan.


"Hm, aku harus bagaimana lagi Nay, kalau aku tidak bisa membujukmu." ucap Ardian dengan menghela nafas panjang.


"Bukannya aku tidak bisa kamu bujuk Mas, kamu tahu sendiri kalau aku sangat mencintaimu, dan menuruti semua apa kata kamu Mas, tapi untuk yang satu ini..aku harus melakukannya Mas, karena aku sangat mencintaimu dan ingin kamu ada di sisiku selamanya bersama buat hati kita." ucap Nayla sambil mengusap lembut wajah Ardian.


"Tapi Nay, itu sangat berbahaya buatmu, aku lebih bahagia kamu yang sehat agar bisa menjaga anak kita nanti." ucap Ardian dengan suara berat.


"Besok kita bicarakan sama dokter saja ya Mas." ucap Nayla masih bersikukuh dengan keinginannya.

__ADS_1


Ardian mengambil nafas panjang, merasakan sedikit kesedihan dengan langkah yang di ambil Nayla.


Dengan rasa putus asa, Ardian memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan hatinya.


Nayla menatap wajah Ardian dengan seksama, Nayla tahu Ardian tidak benar-benar tidur, dan karena dirinya yang membuat Ardian menjadi resah dan gelisah.


"Drrrrttt... Drrrrttt... Drrrrttt"


Nayla melihat ponselnya bergetar dan ada panggilan dari Kenzo. Kening Nayla berkerut kenapa selarut ini Kenzo menelponnya.


"Hallo ya Ken?" tanya Nayla dengan suara sedikit lirih.


"Nay, barusan Zanna meneleponku, apa benar kamu akan mendonorkan ginjal kamu pada Pak Ardian?" tanya Kenzo dengan suara cemas di sana.


"Ya Ken, itu benar aku berencana akan memberikan satu ginjalku pada Mas Ardian." jawab Nayla dengan jujur.


"Tapi Nay, kata Zanna kamu juga telah hamil? selamat ya Nay." ucap Kenzo mencoba untuk mengikhlaskan Nayla.


"Ya Ken, itu juga benar, memang ada apa Ken?" tanya Nayla yang sedikit aneh mendengar suara Kenzo yang terlihat cemas.


"Nay, aku minta padamu jangan lakukan hal itu, kamu lagi hamil kamu tahu resiko saat ibu hamil dengan satu ginjal, itu akan membahayakan dirimu Nay." ucap Kenzo dengan suara pelan.


"Lalu aku harus bagaimana Ken? apa aku harus diam saja melihat Mas ardian yang sewaktu-waktu bisa meninggal?" tanya Nayla dengan suara bergetar dan hati yang pedih kembali.


"Nayla, aku minta padamu jangan lakukan itu, percayalah padaku, Pak Ardian akan mendapatkan donor secepatnya dan akan segera sembuh." ucap Kenzo dengan serius.


"Apa yang kamu bilang Ken? benarkah Mas Ardian akan mendapatkan donor ginjal? kamu tidak berbohong kan Ken?" tanya Nayla dengan hati yang mulai tumbuh sebuah harapan.


"Ya Nay, aku serius kamu pasti akan mendapatkan Informasi itu dari Dokter Ketut nanti." lanjut Kenzo lagi dengan hati sedikit lega.


"Baiklah Ken, aku akan menunggu kabar dari dokter Ketut, setelah itu baru aku bisa tenang." ucap Nayla dengan perasaan bahagia.


"Jadi kamu jangan lagi mendonorkan ginjalmu ya Nay, berjanjilah padaku." ucap Kenzo berharap Nayla akan berjanji padanya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa janji Ken, sebelum aku mendapat kabar dari dokter Ketut besok." ucap Nayla yang tidak bisa berjanji pada Kenzo sebelum tahu pasti suaminya akan mendapatkan donor ginjal.


__ADS_2