
Nayla berjalan pelan mengikuti Zanna yang terlihat tampak cemas dan panik.
"Zanna, jalannya pelan dong?" ucap Nayla sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
"Iya maaf Nay, sini biar aku pegang tanganmu." ucap Zanna sambil memegang tangan Nayla.
"Zanna, bukan aku tidak bisa jalan..aku hanya minta kamu jangan terlalu cepat jalannya, perutku jadi terguncang nanti." ucap Nayla dengan bibir cemberut.
"Ya maaf, mungkin karena aku panik jadi tidak sadar berjalan terlalu cepat." ucap Zanna dengan tatapan memelas.
"Ya...ya...aku maafkan. Dan lagi Kenzo juga tidak akan bisa kemana-mana, jadi kamu jangan panik." ucap Nayla sambil matanya mencari-cari nomor kamar Kenzo karena menurut Priambodo Kenzo sudah di operasi dan sudah pindahkan ke kamar inap.
"Itu Nay, kamarnya Kenzo." ucap Zanna gugup dengan hatinya yang berdebar-debar.
"Sudah tenangkan hatimu Zan, nanti kamu bisa pingsan kalau gugup terus seperti itu." ucap Nayla sambil mengusap punggung Zanna sebelum masuk ke dalam kamar Kenzo.
"Bismillah." ucap Zanna sambil membuka pintu kamar Kenzo.
"Nay, kamu saja di depan. Kamu yang lebih di harapkan Kenzo daripada aku." ucap Zanna dengan suara lirih, yang tiba-tiba down karena bagi Kenzo dia tak lebih dari seorang sahabat.
Masih teringat dengan jelas saat Kenzo yang sudah berusaha membuka hati untuknya namun itu tidak bisa merubah perasaan Kenzo padanya.
"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak aku yakin sekarang Kenzo sudah membuka hatinya untukmu." ucap Nayla dengan berbisik pula.
"Dan lagi Zan, aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Kenzo selain mas Ardian ayah dari anakku." ucap Nayla jadi teringat Ardian yang sedang di rumah sendirian.
"Apa kamu yakin Kenzo sudah punya perasaan padaku?" tanya Zanna masih dengan suara pelan.
"Sudah diamlah Zan, nanti kamu bisa lihat sendiri sikap Kenzo padamu." ucap Nayla berjalan pelan mendekati Kenzo yang masih belum sadar setelah selesai operasi.
Zanna terdiam menahan rasa gelisahnya.
Tanpa menimbulkan suara Nayla duduk di kursi di sebelah ranjang Kenzo. Nayla mengambil ponselnya dan mengambil foto Kenzo dan segera di kirimnya ke Ardian lewat pesan, dan memberi penjelasan pada Ardian yang berupa pesan juga.
"Mas, aku dan Zanna sudah tiba di kamar Kenzo yang masih belum sadar. Mungkin aku pulang setelah Kenzo sadar lebih dulu." ucap Nayla pada pesannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian ada pesan balasan dari Ardian.
"Tidak apa-apa Nay, semoga Kenzo cepat sadar. Titip salam buat Kenzo kalau dia sadar nanti." ucap Ardian dalam balasannya.
"Mas Ardian lagi apa sekarang?" tanya Nayla mengirim pesan lagi pada Ardian sambil menunggu Kenzo sadar.
"Lagi tiduran di kamar sambil chat dengan istri." Balas Ardian membuat Nayla tersenyum sendiri dan itu tak lepas dari penglihatan Zanna.
"Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri Nay? chat sama siapa?" Tanya Zanna penasaran.
"Sama mas Ardian, sekarang dia lebih romantis Zan, sudah bisa bercanda dan mudah tersenyum." ucap Nayla dengan tatapan penuh cinta.
"Sampai segitunya kamu bahagianya senyum-senyum sendiri seperti orang tidak jelas." ucap Zanna dengan tertawa lirih.
"Kamu belum merasakan sekarang, nanti setelah kamu resmi pacaran dengan Kenzo baru tahu rasanya jadi orang yang tidak jelas." ucap Nayla menggoda Zanna.
"Nay...Nay.. sepertinya Kenzo mulai sadar." ucap Zanna saat melihat kedua mata Kenzo terbuka pelan.
Nayla yang berniat membalas pesan Ardian mengurungkan niatnya dan fokus melihat ke arah Kenzo.
Kenzo menatap ke arah Nayla kemudian ke arah Zanna dan ke sekeliling kamar.
"Apa kamu lupa Ken? kalau kamu terkena tembak?" tanya Nayla tidak menyebut Burhan sebagai pelakunya.
"Ya, aku baru aku ingat Ayahku sendiri yang menembakku. Apa Pria bisa menangkap Ayahku? Bagaimana dengan keadaan ibuku?" tanya Kenzo sangat sedih dengan apa yang menimpa di keluarganya.
"Pak Burhan sudah di tangkap, dan ibu kamu tidak apa-apa, sekarang di rawat di rumah oleh Tante kamu." ucap Nayla yang tahu semuanya dari Pria.
"Syukurlah kalau ibu tidak kenapa-kenapa." ucap Kenzo dengan perasaan lega.
"Kamu sendiri bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?" tanya Nayla sebagai serius.
"Masih sakit di perutku." ucap Kenzo sambil melirik ke arah Zanna yang dari tadi diam saja.
"Zanna, kamu diam saja dari tadi?" tanya Kenzo menatap Zanna dengan intens.
__ADS_1
Hati Zanna berdebar-debar saat Kenzo menatapnya dengan tak berkedip.
"Hem..Hem.. sebaiknya aku pulang, karena mas Ardian sedang menungguku." ucap Nayla yang cukup tahu dengan situasi mereka berdua.
"Nay, kita pulang sama-sama." ucap Zanna dengan gugup ikut berdiri saat Nayla berdiri.
"Biarkan Nayla pulang Zan, kamu tetaplah disini untuk menjagaku." ucap Kenzo tanpa basa-basi lagi di hadapan Nayla.
"Tuh Zan, kamu dengar sendiri, aku di suruh pulang sama Kenzo." ucap Nayla dengan tersenyum dan hatinya merasa lega karena Kenzo sudah membutuhkan Zanna.
"Tapi Nay, aku nanti pulang dengan siapa?" tanya Zanna dengan wajah memerah.
"Biar sopirku yang mengantarmu nanti Zan, tetaplah kamu di sini bersamaku." ucap Kenzo menjawab pertanyaan Zanna.
"Aku pulang dulu ya Zan, Kenzo." ucap Nayla pada keduanya kemudian bergegas keluar dari rumah sakit dan segera pulang.
***
Di kantor polisi Priambodo masih sibuk dengan mengumpulkan semua berkas-berkas bukti kesalahan Burhan untuk di serahkan ke pengadilan untuk sidang yang akan di gelar Senin depan.
"Kapten Pria, ada telepon dari Komisaris Hadi Wirawan." ucap Hari memberikan ponsel kantor pada Priambodo.
"Hallo, selamat siang pak." ucap Priambodo dengan sopan.
"Kapten Pria, aku mendapat laporan kinerja kamu semakin bagus. Untuk itu aku memberimu tugas baru dan sangat pribadi untuk bisa kamu selesaikan dengan cepat." ucap Hadi dengan penuh wibawa.
"Tugas apa pak?" tanya Priambodo dengan penasaran.
"Kamu akan mengawasi dan menjaga putriku selama dua puluh empat jam, karena putriku kini sedang terancam keselamatannya. Ada salah satu dari mafia kelas atas yang tengah balas dendam padaku. Aku ingin menyerahkan putriku padamu dan kamu harus menjaganya dengan baik." ucap Hadi Wibawa dengan tenang tapi sangat jelas.
"Lalu bagaimana dengan tugasku disini pak?" tanya Priambodo yang tidak mengerti dengan maksud atasannya.
"Setelah tugas kamu di sana selesai kamu segera kembali ke kota dan mulai dengan tugas barumu." ucap Hadi Wirawan dengan keputusan mutlak.
"Kalau boleh tahu putri bapak siapa namanya, sudah bekerja atau masih kuliah?" tanya Priambodo dengan pikiran rumit karena baru kali ini tugasnya di luar pekerjaan kantor.
__ADS_1
"Namanya Putri dia belum bekerja dan juga tidak kuliah, tapi dia masih SMA kelas tiga. Minggu kemarin Putri aku pindahkan ke sekolah yang baru tapi sayang di sekolahnya yang baru teman-temannya semua membully Putri. Kamu harus bisa menjaga Putri agar tidak terluka."Jawab Hadi Wirawan dengan penjelasan panjang lebar.
"Baik pak siap! saya akan menyelesaikan tugas di sini dulu sampai selesai. Senin depan ada sidang untuk tugas saya yang terakhir." ucap Priambodo yang tidak bisa menolak perintah atasannya.