
"Apa mas yakin minta pulang hari ini?" tanya Nayla setelah empat hari menjaga dan merawat Ardian pasca selesai operasi.
"Ya Nay, punggungku terasa capek berbaring terus." ucap Ardian seraya duduk bersandar melihat Nayla yang sedang menyiapkan air hangat untuk menyeka badannya yang sudah beberapa hari ini belum terkena air.
"Nay, mana handuk kecilnya biar aku yang bersihkan sendiri." ucap Ardian yang masih malu dan gugup jika berdekatan atau bersentuhan dengan Nayla.
"Apa Mas Ardian tidak suka kalau aku yang menyeka Mas?" tanya Nayla menatap dalam wajah Ardian yang sedikit wajahnya memerah.
"Maksudku aku m tidak ingin merepotkanmu Nay, kamu kan hamil." ucap Ardian jadi salah tingkah dan semakin gugup.
"Kamu kelihatan gugup Mas, aku suka melihat wajah Mas Ardian saat memerah seperti itu, terlihat sangat tampan." ucap Nayla dengan tersenyum.
Wajah Ardian semakin bersemburat merah dengan dadanya yang berdetak sangat kencang.
"Nayla, jangan membuatku semakin malu, aku sudah tua Nay, tidak tampan seperti katamu." ucap Ardian mengalihkan pandangannya.
"Mas, aku berkata yang sesungguhnya, Mas Ardian memang tampan, apa perlu kita tanya pada Ayah dan Bunda?" goda Nayla ingin sekali melihat Ardian tertawa lagi.
Dan benar juga, terlihat sebuah senyuman di bibir Ardian yang sangat membuat hati Nayla meleleh.
"Mas lagi dong senyumnya, hatiku adek meleleh Mas." Nayla semakin menggoda Ardian sampai Ardian terbatuk-batuk.
"Uhukk..uhuk... uhuk"
"Lah.. hati-hati Mas, memang ada apa sampai batuk seperti itu." Ucap Naylat sambil memberikan minuman segelas air mineral.
"Aku tidak tahan dengan pujian Istriku yang sekarang pandai menggoda." ucap Ardian yang kini berganti wajah Nayla yang bersemburat merah karena malu.
"Memuji suami sendiri kan baik Mas, daripada aku memuji Kenzo." ucap Nayla kelepasan karena memang selama ini yang di kenal dekat hanyalah Kenzo dan Ardian.
Mendengar Nayla menyebut Nama Kenzo seketika senyuman Ardian menghilang dan berubah jadi serius.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Kenzo Nay, dia sudah pulang apa belum? kalau belum bisakah aku mengantarku ke sana?" ucap Ardian berharap Nayla mau mengantarnya sebagai istrinya, bukan sebagai teman Kenzo.
"Tentu saja Mas, kemanapun Mas Ardian pergi aku akan temani." ucap Nayla dengan tersenyum.
"Trimakasih Nay, kamu istri yang baik Nay." ucap Ardian terharu dan sangat bersyukur karena Nayla telah bisa menerima cintanya.
"Sama-sama Mas, aku rawat dulu badan Mas Ardian biar segar ya?" tanya Nayla seraya mengambil handuk basah untuk menyeka badan Ardian.
Ardian menatap Nayla dengan bahagia seraya membuka kancingnya memudahkan Nayla untuk merawatnya.
Dengan penuh perhatian Nayla membersihkan seluruh badan atas Ardian juga wajah Ardian. Hati Ardian berdesir saat tangan lembut Nayla menyentuh seluruh kulit tubuhnya, terasa ada arus listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya.
"Nayla." panggil Ardian dengan suara parau.
"Ya Mas?" tanya Nayla menatap lembut wajah Ardian yang terlihat lebih tampan dan lebih segar setelah dia rawat.
"Terimakasih atas semuanya, atas kesabaranmu selama ini menjagaku, dan yang telah mau menerima cintaku." ucap Ardian tak bisa melanjutkan ucapannya saat bibir lembut menutup bibirnya.
Ardian tersenyum bahagia, seraya menggenggam tangan Nayla dengan erat.
"Kita ke Kenzo sekarang Mas?" tanya Nayla setelah merapikan kemeja Ardian.
"Hm ya Nay." ucap Ardian bergerak turun dari ranjang namun di tahan pelan oleh tangan Nayla.
"Mas Ardian duduk saja di sini, aku akan mencarikan kursi roda dulu." ucap Nayla beranjak keluar kamar, dan kembali lagi sudah membawa kursi roda.
"Nah, dengan ini Mas Ardian tidak akan sakit perutnya." ucap Nayla seraya membantu Ardian duduk di kursi roda.
"Gimana Mas, sudah enakan duduknya Mas?" tanya Nayla berjongkok menghadap wajah Ardian.
"Sudah Nay, kamu jangan terlalu memanjakanku Nay, aku jadi pemalas nanti." ucap Ardian merasa tidak berguna di hadapan Nayla.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas, untuk suamiku yang tampan sepertimu aku rela memanjakanmu." ucap Nayal dengan mengerlingkan matanya.
Wajah Ardian kembali bersemu merah, dengan pujian Nayla sudah berapa kali Nayla membuatnya blushing.
"Kita berangkat sekarang Nay?" Tanya Ardian yang tidak ingin pingsan karena godaan Nayla yang tidak ada habisnya.
Sampai di kamar Kenzo, Nayla membuka pintu kamar dan mendorong kursi roda Ardian masuk ke dalam, dan sialnya ada Mama Kenzo di dalam.
"Nayla, kamu ke sini lagi sayang." sapa Mama Kenzo dengan sangat lebay saat Nayla datang dengan Ardian.
"Hem, ini seperti janjiku kapan hari aku membawa Mas Ardian untuk mengucapkan terimakasih pada Kenzo." ucap Nayla sambil memegang pundak Ardian.
"Hai Ken." sapa Nayla seraya mendorong Ardian mendekati Kenzo yang duduk bersandar.
"Hai Nayla, Pak Ardian." balas Kenzo dengan sebuah senyuman.
"Ya tentu saja harus ada terimakasih, coba kalau orang lain yang memberikan donor ginjal pasti mendapat uang jutaan itu." ucap Mama Kenzo dengan sewot.
"Ya Bu, apa yang ibu bilang sangat benar kalau donor ginjal memang sangat mahal kalau Kenzo menginginkannya akan aku siapkan dengan secepatnya." ucap Ardian dengan hati perih.
"Tidak perlu!! cukup pak Ardian tahu saja ya, karena cinta Kenzo yang begitu besar pada Nayla apalagi saat mendengar Nayla hamil Kenzo ingin melindungi Nayla agar tidak hidup susah, makanya Kenzo rela memberikan ginjalnya pada Pak Ardian, coba kalau tidak ada ginjal Kenzo, sudah pasti Pak Ardian tidak ada di sini sekarang." ucap Mama Kenzo dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati Ardian dan Nayla.
"Mami!! kenapa Mami dari kemarin tidak bisa diam!!" ucap Kenzo dengan keras.
"Mami mengatakan yang sebenarnya Kenzo!!dengarkan Pak Ardian coba pikir baik-baik, Kenzo dan Nayla itu sudah saling mencintai sejak SMA kelas satu, Kenzo sampai sekarang pun masih sangat mencintai Nayla, dan aku yakin Nayla juga masih mencintai Kenzo dengan bukti saat Pak Ardian operasi, Nayla malah di sini menjaga Kenzo, Nayla itu hanya kasihan pada Pak Ardian!!" ucap Mama Kenzo dengan luapan kekecewaan.
"Mami!!! tolong hentikan!!" teriak Kenzo dengan tatapan marah pada Maminya.
"Tante!! aku mohon jangan teruskan dengan kebohongan ini!! apa yang Tante katakan semua itu tidak benar!!" ucap Nayla yang sedari tadi hanya bisa terpaku dengan kata-kata Mami Kenzo yang begitu jahat.
"Nayla sekarang jawab ya atau tidak saja, biar Pak Ardian dengar, Tante mau tanya..apa benar kamu di sini menemani Kenzo yang masih pingsan di saat pal Ardian operasi?" tanya Mami Kenzo dengan keras.
__ADS_1
Nayla tidak mampu menjawab karena memang kenyataannya ya, namun tidak seperti itu alasannya.