
"Baiklah Ken, kamu tenang ya...aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan pak Ardian." ucap Nayla akhirnya mengalah daripada Kenzo akan melakukan hal yang nekat lagi.
"Kabari aku setelah kamu bicara dengan Pak Ardian Nay." ucap Ksnzo dengan kekecewaan yang dalam.
"Ya Ken, nanti aku kabari lagi ya." Ucap Nayla dengan perasaan bersalah.
"Aku mencintaimu Nay." Ucap Kenzo sebelum menutup panggilannya.
"Aku juga mencintaimu Ken." ucap Nayla setelah itu mematikan ponselnya agar Kenzo tidak meneleponnya lagi.
Bergegas Nayla berjalan ke kamar Ardian, namun sebelum masuk ke kamar Ardian, Nayla mendengar bel pintu berbunyi.
Nayla meletakkan bubur Ardian di atas meja, kemudian berjalan keluar melihat siapa yang datang.
Nayla membuka pintu, sedikit terkejut melihat kedatangan Anita dengan beberapa teman kerja Ardian.
"Nayla, kita datang mau melihat keadaan Ardian, apakah Ardian ada di dalam?" tanya Anita dengan penuh wibawa dan anggun.
"Ya ada di kamarnya, silahkan masuk." jawab Nayla yang tiba-tiba saja ada perasaan yang tidak senang dengan kedatangan Anita, walaupun itu bersama teman-temannya.
Anita bersama yang lainnya masuk ke dalam kamar Ardian yang sedang duduk bersandar menunggu kedatangan Nayla.
"Hai Ardian, apa kamu terkejut dengan kedatangan kita?" sapa Anita dengan bibir penuh senyuman, sambil meletakkan buah-buahan yang di belinya Khusus untuk Ardian.
Nayla yang tidak ingin Anita duduk dekat dengan Ardian, dengan cepat duduk di samping Ardian saat Anita sibuk meletakkan oleh-olehnya di atas meja.
"Trimakasih ya Nita, jadi merepotkan kalian." Ucap Ardian dengan tenang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Anita menatap Ardian penuh perhatian.
"Masih kurang baik Bu Nita, jadi kemungkinan beberapa hari ke depan bapak belum bisa bekerja, bukan begitu Pak?" Jawab Nayla yang menjawab pertanyaan Anita, sambil memegang tangan Ardian yang masih di gips.
Ardian yang melihat sikap Nayla seperti orang yang cemburu hanya bisa tersenyum bahagia.
"Ardian aku doakan kamu cepat sembuh ya, dan jangan kuatir kalau pun tangan kamu masih sakit kamu masih bisa bekerja di tempat kami." ucap Anita tak lepas dari senyumnya.
"Trimakasih Nita." ucap Ardian singkat dan tak bisa berkata lain lagi karena Ardian tak ingin menyakiti hati Nayla.
__ADS_1
"Apa kamu mau makan bubur Yan?" tanya Anita saat melihat bubur di atas meja.
"Ya, tadi Nayla yang membuatnya." Jawab Ardian sambil melihat Nayla yang tiba-tiba mengambil bubur itu terlebih dulu sebelum Anita mengambilnya.
"Bubur ini memang aku yang membuatnya Bu Nita, berhubung Bu Nita datang jadi bapak belum sempat aku suapi, bukan begitu pak?" tanya Nayla lagi pada Ardian minta dukungan dari Ardian atas ucapannya.
Ardian tersenyum menatap Nayla penuh kasih.
"Jadi bagaimana dengan tanganmu Yan? apa masih sakit?" tanya Anita yang berniat mau menyentuh pergelangan tangan Ardian, namun dengan cepat tangan Nayla menggenggam telapak tangan Ardian.
Anita menghela nafas panjang melihat Nayla yang tidak memberikan kesempatan dirinya untuk berbincang santai dengan Ardian.
"Baiklah Yan, karena jam istirahat sudah habis kita harus kembali ke kampus, cepat sembuh ya?" ucap Anita dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Trimakasih ya Nita, salam buat dosen lainnya." jawab Ardian dengan tersenyum.
Nayla akhirnya bisa bernafas lega saat Anita dan teman-temannya berpamitan pulang.
Dengan senyum di bibirnya, Nayla kembali masuk ke dalam kamar.
"Nay, apa mereka sudah pulang?" tanya Ardian yang tak ingin sikap Nayla berubah lagi di saat Anita sudah pulang.
"Kamu tersenyum terus Nay, apa kamu sedang bahagia?" tanya Ardian menatap lembut wajah Nayla.
"Aku lega saja Pak, Bu Nita tidak ada kesempatan untuk mendekati bapak." ucap Nayla dengan tersenyum kecil.
Ardian ikut tertawa kecil.
"Kenapa kamu tidak suka dengan Anita Nay?" tanya Ardian ingin tahu jawaban Nayla.
"Karena dia sepertinya menyukai bapak." jawab Nayla jujur yang tidak rela jika Anita mendapatkan hati Ardian.
"Kalau suatu saat kamu meninggalkan aku, apakah kamu setuju kalau aku membuka hati untuk Anita Nay?" tanya Ardian menggoda Nayla.
"Tidak boleh!!" jawab Nayla cepat tanpa berpikir panjang.
"Kenapa tidak boleh Nay?" tanya Ardian menatap penuh wajah Nayla mencari kejujuran di mata Nayla.
__ADS_1
"Aku tidak suka saja Pak, dan aku tidak akan membiarkan Bu Nita dekat-dekat dengan bapak, karena bapak sudah punya istri yaitu aku." jawab Nayla tanpa sadar telah mengaku sebagai istri seorang Ardian.
"Nayla, apakah itu berarti kamu akan menjagaku selamanya dari kejaran Anita?" tanya Ardian penuh selidik ingin tahu kebenaran hati Nayla.
Nayla terdiam baru menyadari apa yang telah di ucapankannya.
"Emm pak, di makan dulu buburnya ya pak? kita bisa membahas itu nanti saat situasi sudah tenang." ucap Nayla sambil menyuapi Ardian dengan bubur buatannya.
Ardian kembali bertanya-tanya dalam hati, apa yang di rasakan Nayla saat ini
Sambil di suapi Nayla Ardian mencoba membetulkan perban pundaknya yang hampir terlepas.
Melihat Ardian kesulitan membukanya, Nayla meletakkan buburnya yang sudah habis dan membantu membetulkan perban yang melingkar di pundak dan di dada Ardian.
Dengan perban baru Nayla membalut perban dari bahu ke lengan ketiak Ardian kemudian membalut melingkar di dada Ardian hingga wajah Nayla dan Ardian begitu dekat dengan saling bertukar nafas yang menghangatkan seluruh aliran darah Nayla dan Ardian.
Seperti ada Magnit yang begitu kuat Ardian dan Nayla saling berpandangan, dan saling menatap bibir mereka secara bersamaan.
Bibir Nayla bergetar seolah meminta bibir Ardian untuk segera melumatnya.
Dengan hati yang berdebar-debar Ardian mendekatkan wajahnya semakin dengan dengan wajah Nayla, perlahan bibir Ardian menyentuh bibir Nayla yang bergetar dengan bibir bawah sedikit terbuka.
Tanpa penolakan bibir Nayla menerima dengan tenang lumatan-lumatan kecil Ardian yang sangat lembut Nayla rasakan.
Mata Nayla terpejam merasakan kenikmatan saat bibir Ardian semakin intens ******* dan memagut bibir bawahnya.
Tanpa jeda bibir Nayla pun bereaksi membalas lumatan bibir Ardian penuh gairah, hingga saat pasokan nafas Nayla berkurang dan melepas pagutannya.
"Apa kamu menyukainya Nay?" tanya Ardian dengan kening yang saling bertaut.
Wajah Nayla memerah tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku tidak bisa menjawabnya pak, maafkan aku." Jawab Nayla bingung dengan perasaan hatinya dan bingung dengan apa yang telah di lakukannya.
"Apa kamu masih belum bisa mencintaiku Nay? apakah kamu masih mencintai Kenzo?" tanya Ardian dengan hati yang mulai rapuh kembali.
"Aku tidak tahu pak, aku tidak bisa menjawabnya, maafkan aku." jawab Nayla dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Ya Tuhan apa yang barusan aku lakukan, kenapa aku harus berciuman dengan Pak Ardian, dan ciuman itu adalah ciuman pertamaku?" teriak Nayla dalam hati.