LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
AKU MERINDUKANMU


__ADS_3

"Nayla, Ayahmu tidak bersama Nak Ardian, Ayahmu pergi ke rumah pak Lurah sayang." Ucap Bunda Nay menahan Nayla untuk pergi ke rumah sakit.


"Aku akan tetap ke sana Bunda." ucap Nayla dengan sangat yakin.


"Nayla apa yang kamu lakukan Nak?? Nak Ardian dan Ayahmu sudah tidak di rumah sakit." Gumam Bunda Nay menangisi apa yang terjadi pada anaknya.


Tiba di depan rumah sakit Nayla berlari ke tempat informasi, untuk menanyakan pasien yang bernama Ardian.


Namun berkali-kali pegawai rumah sakit itu mencari nama pasien Ardian sama sekali tidak ada.


Nayla memijat kedua pelipisnya, sungguh hidup benar-benar mempermainkan hidupnya.


"Bu selain nama Pak Ardian yang tidak ada, apa ada yang bernama Pak Sasongko?" tanya Nayla dengan rasa putus asa.


"Sebentar ya mbak." jawab pegawai itu.


"Bagaimana Bu, apa ada?" tanya Nayla lagi.


"Pasien atas nama Pak Sasongko ada tapi sudah pulang tadi sore mbak." jawab pegawai itu yang sambil menatap Nayla dengan iba.


"Trimakasih ya mbak." Ucap Nayla kemudian berjalan dengan gontai kembali ke dalam mobilnya.


Airmata yang sedari tadi di tahannya tak terasa sudah mengalir deras di kedua pipinya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Nayla menatap langit yang sudah gelap.


Dengan gemetar Nayla menelpon Ayahnya berharap ada suatu keajaiban yang akan dia dapatkan.


"Hallo Ayah." panggil Nayla dengan tangisan lirih.


"Ya Nak." sahut Sasongko dengan sedih, yang sudah di pondok menunggu Ardian yang kondisinya sudah drop.


"Ayah di mana, apa Ayah bersama Mas Ardian?" tanya Nayla dengan sangat yakin.


"Tidak Nak, Ayah lagi bersama Pak Lurah." jawab Sasongko dengan dada yang terasa sesak tak tahu apa yang harus di lakukan, karena semua ini sudah permintaan Ardian.


"Ayah,..Ayah ingin Nayla dan Mas Ardian bahagia bukan? katakan di mana Mas Ardian sekarang Ayah? Aku mohon." ucap Nayla dengan Isak tangisnya.


"Ayah sungguh tidak tahu Nayla, besok akan Ayah bantu mencari ya Nak" ucap Sasongko dengan perasaan iba pada anak semata wayangnya.


"Ya Ayah." ucap Nayla sedikit tenang saat Ayahnya akan membantu mencari Ardian.


"Sekarang kamu pulanglah Nak, kamu bisa tidur di rumah Ardian atau di rumah Ayah." Ucap Sasongko sambil menatap Ardian yang menatapnya dengan lemah.


"Baiklah Ayah, terimakasih." Ucap Nayla seraya menutup panggilannya.

__ADS_1


Sasongko terdiam, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.


"Nak Ardian, sudah beberapa hari ini Nayla selalu mencarimu, kenapa Nak Ardian tidak memberitahu Nayla saja Nak, kasihan Nayla." ucap Sasongko dengan sedih.


"Apa Nayla sudah menyelesaikan masalahnya dengan Kenzo Ayah? aku ingin Kenzo yang bisa melepaskan Nayla dengan ikhlas Ayah." Ucap Ardian menatap redup wajah Sasongko.


"Bagaimana Nayla ada waktu untuk Kenzo Nak, waktunya habis untuk mencarimu." ucap Sasongko yang ikut iba melihat keadaan Ardian yang semakin hari semakin menurun.


"Aku mohon minta Nayla berhenti mencariku Ayah, bantu Nayla untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kenzo, jika Nayla nanti kembali pada Kenzo, aku ikhlas Ayah." ucap Ardian menahan rasa sakit di rongga perutnya.


"Baiklah Nak Ardian, secepatnya besok Ayah akan memberitahu Nayla." ucap Sasongko dengan hati terenyuh melihat Nayla dan Ardian yang sama-sama tersiksa.


***


Dengan airmata yang membasahi kedua pipinya Nayla menjalankan mobilnya dengan pelan. Langit yang gelap telah menurunkan rinaian hujan yang mengguyur hatinya yang kering.


Saat di tengah perjalanan hujan semakin deras, Nayla seketika menghentikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan dengan rasa ketakutan yang menyergapnya.


Selintas kenangan bersama Ardian mulai berputar di pikirannya, bagaimana dia merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam pelukan Ardian.


Tubuh Nayla bergetar menahan kepedihan hatinya. Airmata kesedihan tak mampu lagi dia pertahankan.


Rasa ketakutannya semakin menenggelamkan Nayla pada kesedihan yang panjang.


Untuk menghilangkan rasa ketakutannya Nayla menyalakan radio di mobilnya untuk mendengarkan acara lagu dan puisi yang dulu selalu dia dengarkan saat kuliah.


Sambil memegang ponselnya, Nayla menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam sambil membayangkan Ardian berada di sampingnya.


Alunan musik malam mengalun indah membelai hati Nayla yang penuh dengan kerinduan.


Terdengar sayup-sayup suara yang sangat indah mulai mengusik hati dan pikirannya, sebuah puisi yang di bacakan penyiar radio sangatlah tepat dengan suasana hatinya.


Nayla mendengarnya dengan penuh perasaan.


Rindu ini bertuan pasti..


Ketika hati meluruh dalam segala imaji..


Derai nestapa menyapa jiwa..


Saat engkau pergi entah kemana..


Sedang, cinta kian bersemi dibalik sesal hati..


Meronta embun dibalik candu..

__ADS_1


Akan cintamu yang tulus suci..


Harus kemana kucari, melangkah, berserah, atau pergi..


Sedang jiwaku limbung bersama tumbuhnya rasa ini..


Yang perlahan hadir mengisi relung hati..


Kembalilah cinta, isilah hariku dengan hangatnya rengkuhmu..


Aku merindumu tak jua sirna..


Bak mentari yang hadir menghilang namun tak pernah mati..


Setelah selesai mendengarkan puisi itu, kerinduan Nayla semakin tak tertahankan pada Ardian.


Dengan rasa putus asa, Nayla menekan panggilan pada Ardian, terdengar ada nada pada ponsel Ardian namun tidak terangkat.


Berkali-kali Nayla menelponnya tetap tidak ada satupun yang di angkat Ardian.


Airmata Nayla mengalir deras sangat lelah dengan semuanya, namun tidak dengan rasa cinta dan rindunya pada Ardian.


"Kamu ada di mana sekarang Mas? kenapa kamu selalu tidak mengangkat panggilan teleponku? apa kamu sama sekali tidak merindukan aku? ataukah hanya aku yang merindukamu Mas?" ucap Nayla dengan suara lirih.


***


Di kamar yang sunyi sepi, Ardian menatap ponselnya tak berkedip saat ada panggilan dari Nayla beberapa kali, ingin rasanya dia menerima panggilan dari wanita yang sangat di cintainya.


Namun terasa lemah hati untuk menerimanya.


Ardian tak ingin apa yang telah di lakukan untuk kebaikan semuanya akan sia-sia.


Ardian tak ingin egois dengan perasaan cinta yang di milikinya dengan memanfaatkan keadaannya yang sakit.


Dengan matanya yang terpejam Ardian menggenggam ponselnya dengan sangat erat. Hujan semakin deras dengan di iringi suara petir bersahutan.


Ardian semakin menggenggam erat ponselnya, membayangkan wajah ketakutannya Nayla saat memeluknya.


"Nayla, kamu tidak takut kan Nay? kamu tidak takut lagi dengan hujan kan sayang? kamu harus kuat ya Nay? sebentar lagi kamu akan bahagia dengan orang yang kamu cintai, kamu harus bahagia Nay." rintih Ardian dalam hati, berharap semuanya cepat berakhir agar tidak ada rasa sakit lagi dan kerinduannya akan segera berakhir.


***


Di dalam kamar inap yang sepi, Kenzo duduk terdiam menunggu jawaban dari Zanna yang sekarang bersamanya.


"Zanna, aku minta jawab pertanyaanku? aku berjanji padamu Zanna aku tidak akan apa-apa, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi, asal kamu jawab jujur pertanyaaku, apa benar Nayla sudah mencintai Pak Ardian? dan tidak ingin berpisah dengan pak Ardian?" tanya Kenzo memastikan lagi dengan apa yang di dengarnya saat Nayla sebelum berangkat ke desa untuk mencari Ardian.

__ADS_1


__ADS_2