
Dengan di papah Nayla, Ardian berjalan masuk dalam kamarnya.
Tangan kiri Ardian yang patah tergantung kain di lehernya.
"Berbaring pelan Pak." ucap Nayla sambil menopang punggung Ardian yang mau bersandar di dinding ranjang.
"Terimakasih Nay." ucap Ardian sedikit kesulitan untuk bersandar dengan punggung yang terasa sakit.
"Apa masih terasa sakit pak?" tanya Nayla menyentuh pundak Ardian yang terluka selain pergelangan tangannya yang patah.
"Sedikit Nay." Jawab Ardian mencoba menggerakkan jarinya yang masih kaku.
"Baiknya bapak istirahat ya." ucap Nayla yang tidak tahu harus bicara apa lagi pada Ardian.
"Drrrrttt... Drrrrttt... Drrrrttt"
"Ponselmu berbunyi Nay." ucap Ardian yang sangat yakin tahu itu adalah Kenzo.
Nayla melihat ponselnya, kemudian menatap Ardian.
"Hallo...Nay." panggil Kenzo di sana.
"Iya Ken." jawab Nayla sambil melirik ke arah Ardian yang menatapnya dengan mata yang sendu.
"Nay, hari Minggu besok ada acara gathering di perusahaan aku, aku ingin mengajakmu karena mereka semua membawa pasangannya." ucap Kenzo dengan antusias.
"Minggu besok?" tanya Nayla sambil melihat Ardian lagi.
"Sepertinya aku tidak bisa Ken, Pak Ardian habis kecelakaan." ucap Nayla merasa tak enak pada Kenzo.
"Apakah parah?" tanya Kenzo di sana.
"Alhamdulillah tidak, hanya pergelangan tangannya yang patah." jawab Nayla tanpa bisa bicara apa-apa.
"Nay, kamu merasa tidak sejak kamu menikah dengan Pak Ardian kita semakin jauh, aku merasa cintamu mulai berkurang padaku." ucap Kenzo mengungkapkan apa yang di rasakannya.
"Itu hanya perasaanmu saja Ken, tidak ada yang berubah dengan perasaanku." ucap Nayla pelan sedikit menjauh dari Ardian.
__ADS_1
"Tapi aku yang merasakanya Nay, kamu lebih perhatian pada Pak Ardian sekarang." ucap Kenzo dengan kecewa.
"Ken, dengarkan aku...suka atau tidak suka aku dan Pak Ardian sudah menikah dan aku juga harus lebih berhati-hati dengan statusku sebagai istri Pak Ardian, kecuali kamu telah berpisah dengan Safitri, maka aku akan bercerai dengan Pak Ardian." ucap Nayla mengungkapkan apa yang di pikirannya.
"Jadi apakah selama kamu masih istri Pak Ardian kita tidak akan bertemu?" tanya Ardian ingin tahu maksud dari ucapan Nayla.
"Mungkin sebaiknya begitu Ken, kita harus bersabar dengan semua ini." Ucap Nayla yang tak ingin mengecewakan orang tuanya bila tahu dari seseorang dia bermain dengan laki-laki lain di belakang Ardian.
"Nay, tapi aku tidak sanggup dengan semua ini, aku tidak bisa jauh darimu Nay." ucap Kenzo sarat dengan kesedihan.
"Anggap ini ujian yang menguji cinta kita, jika kita berjodoh kita pasti akan kembali bersama-sama." ucap Nayla mengingat ucapan yang pernah di katakan Ardian.
"Baiklah Nay, kalau itu jalan yang terbaik buat kita, tapi kita masih tetap bisa bicara seperti ini kan Nay?" tanya Kenzo berharap masih bisa berhubungan dengan Nayla.
"Ken, aku tidak bisa lagi...walaupun hanya bicara seperti ini." ucap Nayla dengan berat hati.
"Nay please, aku berjanji padamu seminggu sekali saja aku menelponmu Nay, jujur Nay aku bisa mati tanpamu bila tidak melihatmu atau mendengar suaramu." ucap Kenzo dengan hati yang sedih.
Nayla terdiam menghela nafas panjang.
"Trimakasih Nay, aku berjanji akan berusaha lebih cepat memutuskan Safitri agar kita bisa cepat bersama." ucap Kenzo bersungguh-sungguh.
"Aku tunggu janjimu itu Ken." ucap Nayla berharap Kenzo bisa cepat memenuhi janjinya.
"Ya Nay, aku sangat mencintaimu Nay." ucap Kenzo merasakan kesedihan yang sangat.
"Aku juga mencintaimu Ken." ucap Nayla kemudian menutup panggilannya Kenzo.
Setelah selesai urusannya dengan Kenzo, Nayla kembali ke tempat Ardian, terlihat Ardian sedang tertidur dengan posisi masih duduk bersandar.
Nayla menatap wajah tampan Ardian, seiring waktu wajah Ardian tidak asing lagi di mata Nayla, terlihat sangat teduh dengan mata yang sendu.
Berniat membuat agar Ardian tidur dengan nyaman, Nayla sedikit menarik punggung Ardian ke bawah agar Ardian bisa tidur berbaring.
Namun apa daya, karena tubuh Ardian yang berat dan kekar, saat menarik kedua punggung Ardian dengan pelan, Ardian menggerakkan tubuhnya hingga tubuh Nayla terjerembab di dada Ardian,dengan bibirnya yang menyentuh bibir Ardian.
"Aauuhhhh,." rintih Ardian dengan bibir yang terbuka menyatu dengan bibir Nayla.
__ADS_1
Ardian merintih saat tubuh Nayla mengenai pundak dan lengan Ardian yang terluka.
Tubuh Nayla tak bergerak, bahkan bibirnya msih menyatu dengan lembutnya bibir Ardian.
Selang beberapa menit bibir menyatu itu tetap di tempatnya tak bergerak selain kedua mata Ardian dan Nayla saling berpandangan.
"Aauuhh," rintih Ardian lagi saat Nayla tersadar dan menggerakkan tubuhnya hingga mengenai pundak dan pergelangan tangan Ardian lagi.
"Maaf pak, maaf...aku tidak sengaja, benar-benar tidak sengaja,..aku hanya ingin bapak bisa tidur dengan nyaman." ucap Nayla dengan wajahnya yang bersemu merah.
"Tidak apa-apa Nay." ucap Ardian dengan bibirnya yang ternoda warna merah terkena lipstik Nayla.
"Maaf pak, bibir bapak terkena noda lipstik aku." ucap Nayla sambil mengusap bibir Ardian dengan tissue basah.
Hati Ardian berdesir, sentuhan bibir Nayla di bibirnya tidak akan pernah terlupakan, sentuhan jemari Nayla sungguh seperti arus listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Trimakasih Nay." ucap Ardian setelah Nayla membersihkan noda lipstik di bibirnya.
"Sama-sama pak." ucap Nayla masih dengan wajahnya yang memerah padam.
"Nay, kalau boleh aku tahu apa Kenzo tadi yang menelponmu?" tanya Ardian menatap lembut wajah Nayla tanpa kemarahan.
"Ya pak, tapi bapak jangan kuatir aku dan Kenzo bersepakat untuk tidak saling bertemu sebelum Kenzo melepas Safitri dan bapak melepas aku." ucap Nayla dengan wajah tertunduk dengan perasaan hati yang berat.
"Bukankah waktu kita lima bulan Nay?" tanya Ardian dengan suara tercekat.
"Kenzo berniat mempercepat melepas Safitri pak, jadi jika Kenzo sudah sendiri apa bapak juga bisa melepaskan aku?" tanya Nayla dengan perasaan ragu-ragu.
Hati Ardian terasa sesak kembali, kenapa harus begitu cepat perpisahan ini.
"Nay, selama itu yang kamu inginkan, aku akan memenuhi permintaanmu...walau aku tidak menginginkan perpisahan di antara kita." ucap Ardian dengan perasaan yang sangat sedih.
"Maafkan aku pak, aku tidak ingin srmakin menyakiti hati bapak, semakin lama kita bersama bapak akan selaku tersiksa dengan apa yang aku lakukan, aku tidak ingin menyakiti hati bapak lagi." ucap Nayla yang ikut merasakan kesakitan Ardian.
"Aku tidak merasa tersakiti selama kamu masih di sisiku Nay, aku bisa bertahan sampai hatimu bisa melihat cintaku, tapi jika memang kamu ingin pergi,..aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu selalu bahagia." ucap Ardian tersenyum dalam tangis.
"Trimakasih pak, perasaan dan cinta bapak terlalu baik untukku pak, aku tidak pantas menerima cinta tulus bapak." ucap Nayla dengan perasaan bersalah.
__ADS_1