LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
TAKDIR KITA BERSAMA


__ADS_3

"Ya Tuhan, jangan beri hambamu Ujian di luar kemampuanku, aku mohon Ya Tuhan." jerit suara hati Nayla dengan airmata berlinang.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Sasongko dengan perasaan cemas.


"Sepertinya kita tinggal tunggu waktu saja Pak, ginjal Pak Ardian hanya berfungsi sepuluh persen saja, saya akan cari informasi lagi untuk donor ginjal buat pak Ardian." jawab Dokter Ketut yang sudah berusaha membantu secara maksimal.


Jantung Nayla seketika terasa berhenti mendengar jawaban dokter Ketut, kedua kakinya serasa tidak berpijak pada tanah.


"Boleh saya melihat suami saya Dokter?" ucap Nayla dengan airmata yang berlinang.


"Sebentar lagi Pak Ardian akan di pindah ke kamar inap, berikan kebahagiaan pada Pak Ardian ya Nayla, sambil kita menunggu informasi dari rumah sakit kota, semoga ada keajaiban." ucap Dokter Ketut kemudian masuk ke dalam ruangan lagi.


Dengan perasaan sedih, Nayla memeluk Ayahnya sambil menangis dalam diam, sungguh Nayla tidak menginginkan sesuatu terjadi pada Ardian.


"Sabar Nay, semoga ada keajaiban buat suami kamu, suami kamu orang baik nak." ucap Sasongko ikut terisak lirih.


"Ayo Ayah, itu Mas Ardian sudah keluar mau di pindahkan." ucap Nayla mencoba untuk tegar.


Sambil menuntun Ayahnya, Nayla berjalan mengikuti para perawat yang membawa Ardian ke kamar inap.


Sampai di kamar inap Ardian di pindahkan oleh para perawat dari brangkar ke ranjang.


"Ayah, baiknya Ayah pulang dan istirahat..biar aku yang jaga Mas Ardian." ucap Nayla melihat wajah Ayahnya terlihat sangat lelah.


"Baiklah Nay, nanti kalau ada apa-apa telepon Ayah ya Nak." ucap Sasongko dengan badan yang terasa lelah.


"Ya Ayah, hati-hati di jalan." ucap Nayla mencium punggung tangan Ayahnya.


Setelah Sasongko keluar dari kamar, tinggal Nayla yang menjaga Ardian. Dengan hati sedih Nayla menatap wajah Ardian yang sangat terlihat pucat, wajah Ardian terlihat sangat tampan.


"Seandainya aku lebih dulu memahami akan cintamu Mas, mungkin kamu tidak akan seperti ini." ucap Nayla dengan isakan pelan.


"Aku sungguh sangat menyesal kenapa aku tidak menolak saja keinginanmu untuk menjaga Kenzo Mas, kalau aku menolaknya kamu pasti tidak akan pergi meninggalkan aku." ucap Nayla dengan sejuta banyak penyesalan.

__ADS_1


Dengan isakan tangisnya Nayla menggenggam tangan Ardian yang begitu sangat lembut, selalu ada kehangatan tiap kali Nayla menggenggamnya.


"Bangunlah Mas, aku sangat merindukanmu." ucap Nayla dengan suara lirih hampir tidak terdengar.


Airmata Nayla menetes tepat jatuh pada punggung tangan Ardian yang di genggamannya. Perlahan Nayla merasakan pergerakan tangan Ardian yang membalas genggaman tangannya, seiring mata Ardian yang mulai terbuka.


"Mas Ardian." panggil Nayla dengan suara pelan seperti tercekat pada tenggorokannya.


"Nayla." tatap Ardian dengan matanya yang teduh.


"Syukurlah Mas, akhirnya kamu sadar kembali." ucap Nayla sambil menciumi punggung tangan Ardian berulang.


Ardian menatap Nayla tak berkedip, seulas senyum lembut menghias di bibir Ardian.


"Nayla, kulitku tanganku basah Nay." ucap Ardian saat merasakan punggung tangannya basah terkena airmata Nayla yang berjatuhan.


"Itu airmata cintaku padamu Mas, aku sangat mencintaimu, sangat merindukanmu." ucap Nayla masih terus saja menciumi punggung tangan Ardian dengan semua kerinduannya.


"Mas jangan ikut menangis, cukup aku saja yang menangis untukmu Mas." ucap Nayla seraya menghapus airmata Ardian.


"Kamu juga jangan menangis Nay, aku tidak bisa melihatmu menangis." ucap Ardian dengan suara yang masih lemah, mengusap airmata Nayla.


"Kalau Mas Ardian tidak ingin melihatku menangis, berjanjilah padaku Mas akan punya semangat untuk hidup demi aku." ucap Nayla menatap dalam wajah Ardian yang terlihat begitu tampan dan bersih di mata Nayla.


"Apa aku harus berjanji Nay, sedangkan aku tahu hidupku tidak akan lama lagi." ucap Ardian dengan suara lirih.


"Hidup dan matinya manusia itu, Tuhan yang menentukan Mas, Mas harus percaya akan keajaiban." ucap Nayla mengusap lembut wajah Ardian yang terlihat sedih.


"Ucapanmu sungguh menenangkan hatiku Nay, aku bahagia mendengarnya.. walaupun seandainya aku tidak ada di sisimu lagi aku sudah bahagia karena ada cintamu untukku." ucap Ardian dengan matanya yang setengah terpejam menahan sakit di daerah perutnya tembus ke punggungnya.


"Jangan bicara seperti itu lagi Mas, aku sedih mendengarnya." ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan bersedih Nay, kita harus siap dengan takdirnya Tuhan, dan jika itu terjadi aku ingin kamu harus ikhlas menerimanya, kamu mengerti kan Nay?" ucap Ardian dengan mata yang begitu teduh menatap wajah Nayla.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerimanya Mas, aku tidak bisa." tangis Nayla sudah tidak bisa di tahannya lagi, Nayla menangis meraung di atas dada Ardian dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kamu harus bisa menerimanya Nay, bagaimana aku bisa tenang jika kamu tidak mengikhlaskan aku." ucap Ardian dengan suara lirih.


"Aku tetap tidak akan bisa menerimanya, kamu tidak akan pergi...dan tidak tidak akan kemana-mana, kamu tetap ada di sini bersamaku Mas, kita akan selalu bersama-sama selamanya." ucap Nayla menangis pilu di dada Ardian.


"Sudah Nay, jangan menangis lagi...aku tidak akan pergi dan tidak akan kemana-mana, kita akan selalu bersama..jangan menangis lagi Nay." ucap Ardian mencoba menenangkan hati Nayla agar tidak menangis lagi, sungguh hatinya semakin sakit melihat wanita yang di cintainya menangis tanpa henti.


"Berjanjilah padaku Mas." ucap Nayla menatap dalam-dalam wajah Ardian yang terlihat lebih tenang di banding dirinya.


"Ya Nay, aku berjanji padamu." ucap Ardian seiring hatinnya berdoa apa yang telah di ucapkannya menjadi nyata.


"Sungguh Mas?" tanya Nayla dengan mata sembab.


"Ya Nay." sahut Ardian seraya mengusap airmata terakhir Nayla.


"Dokter Ketut akan mengusahakan dengan cepat untuk mendapatkan donor ginjal Mas, jadi aku minta Mas jangan putus asa, Mas harus tetap semangat agar Mas Ardian tidak drop lagi." ucap Nayla mengusap lembut wajah Ardian dengan penuh kasih sayang.


"Ya Nay." ucap Ardian dengan tersenyum memegang tangan Nayla yang ada di pipinya.


Melihat senyuman di sudut bibir Ardian, yang begitu menggetarkan hatinya, entah tanpa sadar ada sebuah keinginan yang sangat kuat di hati Nayla untuk mencium bibir Ardian.


Dengan hati-hati dan sangat pelan Nayla ******* bibir bawah Ardian dengan lembut.


Dan Ardian tak menampik jika dirinya sangat merindukan Istrinya. Ardian pun membalas lumatan bibir Nayla dengan mata setengah terpejam menikmati tiap sentuhan bibir Nayla yang begitu menenangkan hati dan perasaannya.


Saat beberapa detik Ardian membalas ciuman Nayla, tiba-tiba Nayla menarik bibirnya dengan pelan dan menutup mulutnya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mual dan ingin muntah.


"Hueeekkk... Huekkkk."


"Nayla...ada apa Nay?" tanya Ardian dengan wajah panik melihat Nayla yang tiba-tiba mual dan muntah.


Nayla menggelengkan kepalanya, kemudian berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalam perutnya.

__ADS_1


__ADS_2