
Akad nikah ijab Qabul Ardian dan Nayla berjalan dengan lancar tak ada halangan apapun di KUA setempat.
Seperti semuanya telah menjadi takdirNya, Ardian dengan lancar mengucapkan ijab Qabul dan Nayla telah mendengarkan dengan serasa kehilangan semua impiannya, impian bisa bersanding dengan laki-laki yang di cintainya yaitu Kenzo.
"Selamat ya Nay, sekarang kamu telah menjadi Nyonya Ardian...ingat itu Nay! Nyonya Ardian." ucap Zanna di telinga Nayla.
"Ya...Zan, aku tahu.. terimakasih telah mengingatkan aku." ucap Nayla dengan berbisik pula.
Dengan hati yang berkali-kali mengucapkan rasa syukur, Ardian menghampiri kedua orang tua Nayla dan meminta doa restunya.
"Ayah Bunda, jika tidak ada halangan hari ini kita akan langsung pindah ke kota yang dekat dengan desa ini, saya usahakan untuk tiap seminggu sekali saya dan Nayla menengok Ayah dan Bunda." ucap Ardian dengan wajah yang sedikit pucat, karena melewatkan jadwal cuci darahnya.
"Jangan terlalu merepotkan Nak Ardian, yang terpenting jaga kesehatan Nak Ardian jangan sampai drop lagi." pesan Sasongko pada Ardian.
"Dan kamu Nayla, ingat pesan Ayah jika kamu ingin mencapai kaki surga...kamu harus mematuhi segala ucapan suamimu, jangan menyakiti hati suamimu, penuhi semua permintaan suamimu termasuk kewajibanmu untuk melayaninya." pesan Sasongko pada Nayla yang berdiri terdiam di hadapan orang tuanya.
Hati Nayla berkecamuk dengan semua yang di pikirkannya, antara persaaan cintanya pada Kenzo dengan kewajibannya sebagai istri seorang Ardian yang kini telah.sah menjadi suaminya.
"Kamu dengar tidak Nay, apa yang Ayah katakan?" tanya Sasongko lagi saat melihat Nayla malah melamun.
"Ya Ayah, aku mendengar semua ucapan Ayah." sahut Nayla dengan suara lirih.
"Baiklah Ayah, bolehkah saya meminta izin untuk membawa Nayla pulang ke rumah agar bisa langsung berbenah?" tanya Ardian menatap Sasongko dan Bunda Nay secara bergantian.
"Silahkan Nak Ardian, tapi jangan lupa sebelum berangkat ke kota mampir dulu ke rumah kami." jawab Sasongko dengan perasaan yang tidak tidak tega dengan keadaan Ardian jika tinggal di kota sendirian.
"Ya Ayah, saya permisi dulu Assalamualaikum." ucap Ardian pada kedua orang tua Nayla, kemudian meraih tangan Nayla dan membawanya keluar dari kantor KUA langsung menuju ke rumahnya untuk berbenah agar bisa pindah ke kota secepatnya.
Tiba di rumah kediaman Ardian, Nayla segera turun dan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian biasa.
Ardian mengistirahatkan tubuhnya bersandar di kursi sofa sambil menunggu Nayla yang berganti pakaian di dakam kamar mandi.
Wajah Ardian semakin pucat dengan tubuhnya yang terasa lemas jika terlambat melakukan jadwal cuci darah.
Nayla yang sudah keluar dari kamar mandi, sedikit heran melihat Ardian yang terlihat lemas bersandar di sofa dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Pak, apa bapak sakit?" tanya Nayla sambil meraba wajah Ardian yang terlihat pucat.
"Aku melewatkan jadwal untuk cuci darah Nay, harusnya pagi tadi." jawab Ardian jujur dengan bibirnya yang sudah pucat.
Rasa sakit yang di rasakan Ardian di daerah perutnya membuat Ardian sedikit mengerang kesakitan.
"Kenapa bapak melewatkannya, harusnya bapak melakukan cuci darah terlebih dahulu, baru kita menikah... kesehatan bapak juga sangat penting." ucap Nayla kuatir sambil melepas jas dan dasi Ardian.
Ardian terdiam dengan ucapan Nayla yang ada benarnya.
"Maafkan aku Nay, aku berpikir pernikahanku lebih penting di banding dengan hidupku." ucap Ardian sambil memegang perutnya terasa tertusuk beribu belati.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang pak." ucap Nayla saat melihat kondisi Ardian yang sudah terlihat kesakitan.
Dengan sedikit mengeluarkan tenaganya, Nayla memapah Ardian berjalan keluar kamar menuju ke mobilnya.
Sampai di mobil Nayla membantu membukakan pintu mobil dan menyandarkan tubuh Ardian yang semakin lemas.
Tanpa berkata-kata Nayla menjalankan mobilnya ke rumah sakit di mana biasanya Ardian melakukan cuci darah.
Tubuh Ardian yang sudah lemas di bawa suster ke ruangan khusus untuk proses cuci darah.
Nayla menunggu di samping Ardian yang masih terpejam dengan darah yang sudah tertransfer ke dalam tubuhnya.
Hampir tiga jam, akhirnya proses cuci darah Ardian selesai.
Nayla menarik nafas lega melihat wajah Ardian yang berangsur sedikit segar.
Ardian membuka matanya tersenyum, melihat Nayla berada di sampingnya.
"Trimakasih Nay, telah membawaku kemari." ucap Ardian mencoba untuk duduk.
"Jangan bergerak dulu pak, nanti pusing." ucap Nayla menahan Ardian dengan memegang lengan Ardian.
"Aku sudah tidak apa-apa Nay, kita harus pulang... bukannya kita harus berbenah dan pindah hari ini juga." ucap Ardian yang tidak ingin mengecewakan Nayla.
__ADS_1
"Bapak harus istirahat dulu di rumah, baru kalau bapak sudah sehat kita bisa berangkat ke kota." ucap Nayla sambil membantu mengancingkan lagi kemeja Ardian yang tadi sempat di buka dokter Ketut.
Ardian menatap wajah Nayla yang sedikit dekat dengan wajahnya saat Nayla mengancingkan kemejanya.
"Aku sudah kuat Nay, kita bisa pulang sekarang." ucap Ardian bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir ranjang.
"Bapak keras kepala ya?" ucap Nayla menatap wajah Ardian yang begitu lain setelah menikah dengannya, terlihat sangat lebih tampan.
"Nay? kita pulang sekarang?." ucap Ardian membuyarkan lamunannya.
"Ya pak." jawab Nayla singkat membantu Ardian berdiri dan memapahnya kembali.
"Aku bisa berjalan sendiri Nay." ucap Ardian takut jika Nayla merasa risih memegang tangannya dengan lengan yang berada di pundak Nayla.
"Bapak ternyata cerewet sekali ya? menurut sama istri demi kebaikan bapak apa tidak bisa?" tanya Nayla masih memapah Ardian berjalan ke tempat mobil yang ada di depan rumah sakit.
Hati Ardian begitu melambung jauh dengan ucapan Nayla yang mengklaim dirinya sebagai istri seorang Ardian.
"Trimakasih Nay, aku tidak akan cerewet lagi aku akan mendengar semua ucapanmu." ucap Ardian setelah berada di dalam mobil.
Nayla menoleh dan tersenyum ke arah Ardian yang duduk di sampingnya.
"Sama-sama pak." ucap Nayla kemudian menjalankan mobilnya kembali ke rumah.
Sampai di rumah, Nayla masih membantu memapah Ardian berjalan masuk ke dalam rumah sampai ke kamar.
"Nayla, jika kamu mau kita bisa pindah ke kota sekarang juga, aku sudah tidak apa-apa." ucap Ardian yang merasa tidak enak dengan Nayla yang menguatirkannya.
"Bapak yakin sudah sehat?" tanya Nayla menatap dalam wajah Ardian yang tengah bersandar di dinding ranjang.
Ardian tersenyum dan mengangguk pasti.
"Baiklah, bapak istirahat saja di sini biar aku yang mengemasi barang-barangnya." ucap Nayla seraya berdiri hendak mengemasi barang-barang yang perlu di bawa.
"Nayla, kita tidak perlu membawa apapun, bawa saja pakaianmu beberapa...di sana aku sudah menyiapkan semuanya, kita tinggal menempatinya saja." jelas Ardian merubah posisinya duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
Nayla berdiri di tempatnya, menatap Ardian dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.