
"Nayla, Tante minta maaf..bisakah Nay Tante minta tolong padamu, tinggalkan Pak Ardian dan kembalilah pada Kenzo, Kenzo sangat mencintaimu Nayla, perasaan Kenzo sangat tulus padamu, apa kamu tega melihat Kenzo yang akan perlahan hancur karena kehilangan kamu, Tante mohon padamu Nayla." ucap Mama Kenzo yang tiba-tiba duduk bersimpuh di kaki Nayla.
"Tante,..apa yang Tante lakukan?" tanya Nayla mengangkat kedua lengan Mama Kenzo.
"Maafkan Tante Nayla, Tante hanya tidak bisa melihat keadaan Kenzo yang tidak punya semangat hidup sejak kamu memutuskan untuk tetap terus bersama Pak Ardian, Tante tahu walau Kenzo sekarang lebih dewasa dalam bersikap, tapi tetap saja Tante merasakan kesedihan Kenzo." ucap Mama Kenzo dengan kedua matanya menerawang hampa.
"Tante tidak bersalah apa-apa, mungkin ini sudah takdir Tuhan, dan lagi aku lihat Kenzo sudah bisa menerima semuanya." ucap Nayla dengan perasaan bersalah juga.
"Tante mohon Nay, pikirkan lagi apa yang Tante bilang, kamu masih mencintai Kenzo kan Nay? kembalilah pada Kenzo Nay..Tante mohon." ucap Mama Kenzo memegang kedua tangan Nayla.
"Mami, apa yang mami katakan?? Nayla tolong jangan di dengarkan ucapan Mamiku." ucap Kenzo yang sudah sadar dan mendengar terakhir ucapan terakhir Maminya.
"Kenzo, Mami hanya ingin melihatmu bahagia sayang, kamu sudah berkorban memberikan ginjalmu pada Pak Ardian, coba kalau kamu tidak memberikan ginjal pada Pak Ardian apa Pak Ardian masih ada sampai sekarang." ucap Mami Kenzo dengan sangat kecewa karena Kenzo menyalakannya.
"Mami!!! jangan teruskan!!" Seru Kenzo dengan suara yang tiba-tiba terhenti sambil menekan dadanya yang kesulitan bernafas, nafas Kenzo tersengal-sengal dengan menahan rasa sakit.
Melihat hal itu, dengan cepat Nayla menekan tombol panggilan emergency.
Dua orang perawat datang dan memberikan bantuan dengan memasang alat pernafasan pada Kenzo.
Setelah melihat nafas Kenzo mulai teratur, dua orang perawat itu meninggalkan kamar Kenzo.
"Kenzo, maafkan Mami sayang." ucap Mama Kenzo dengan terisak-isak sambil menggenggam tangan Kenzo di mana Kenzo yang tak sadarkan diri lagi.
"Nayla tolong, bangunkan Kenzo... Kenzo pasti sadar jika mendengar suaramu Nay." ucap Mami Kenzo.
Nayla terdiam mengambil nafas panjang, tidak tahu apa yang harus di lakukannya lagi.
"Baiklah Tante akan saya coba." ucap Nayla seraya mendekati Kenzo, namun gerakannya terhenti saat ponselnya berbunyi.
Dengan cepat Nayla menerima panggilan telepon tersebut saat tahu yang menelpon adalah Ayahnya.
__ADS_1
"Nayla kamu cepat kemari, Nak Ardian baru selesai di operasi dan sekarang sudah di pindahkan ke kamar VIP indah nomor dua." ucap Sasongko di sana.
"Alhamdulillah Ya Tuhan." seru Nayla dengan hati yang sangat lega.
"Tante maafkan aku, aku harus segera menemui suamiku yang baru selesai operasi, aku janji setelah suamiku sadar aku akan mengajaknya kemari untuk mengucapkan terimakasih pada Kenzo." ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian menatap wajah Kenzo yang masih belum sadar.
"Kenzo, maafkan aku..aku tidak bisa berbuat banyak untukmu, trimakasih dengan semua pengorbananmu, aku tidak akan pernah melupakannya." ucap Nayla mengusap pelan punggung tangan Kenzo kemudian kembali menghadap Mama Kenzo.
"Tante aku permisi, aku selalu berdoa atas kesembuhan Kenzo dan kebahagiaan akan datang secepatnya pada Kenzo." ucap Nayla mengecup punggung tangan Mama Kenzo.
"Nayla tidak bisa begitu, kamu tidak boleh meninggalkan Kenzo dalam keadaan seperti ini Nayla." ucap Mama Kenzo menggenggam tangan Nayla dengan erat.
"Maafkan aku Tante, aku sudah menjadi istri Mas Ardian, dan lagi aku sudah hamil Tante, tolong Maafkan aku." ucap Nayla melepas genggaman tangan Mama Kenzo dan keluar secepatnya untuk segera melihat keadaan Ardian suaminya.
***
Di kamar VIP indah, Sasongko tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada Tuhan atas keajaiban yang di berikan pada Ardian hanya dalam satu malam saja.
"Ayah." panggil Nayla setelah masuk ke dalam kamar Ardian.
"Nanti aku ceritakan semuanya pada Ayah, sekarang bagaimana keadaan Mas Ardian? Mas Ardian baik-baik saja kan Ayah?" tanya Nayla mendekati Ardian yang matanya masih terpejam.
"Tadi sudah ada bangun sebentar kemudian tertidur lagi, mungkin pengaruh obatnya masih belum hilang." ucap Sasongko hati yang sangat lega.
"Syukurlah kalau sudah sadar, Ayah baiknya Ayah istirahat biar aku yang jaga Mas Ardian sekarang." ucap Nayla dengan perasaan bersalah pada Ayahnya yang selalu ikut menjaga Ardian.
"Baiklah Nay, Ayah mau istirahat di rumah saja nanti sore Ayah kembali lagi." ucap Sasongko kemudian memeluk Nayla penuh kasih sayang.
"Jaga dan sayangi Nak Ardian ya Nay, lupakan semua tentang masa lalu." ucap Sasongko kemudian meninggalkan kamar Ardian.
Nayla terdiam mendengar ucapan Ayahnya memang benar apa yang di katakan Ayahnya.
__ADS_1
Nayla duduk di di samping Ardian menatap wajah Ardian dengan hati bahagia, seulas senyum tersungging di bibir Nayla.
"Sekarang aku tidak lagi ragu-ragu dalam mencintaimu Mas, takdirku ternyata hidup bersamamu, aku bahagia kamu bertahan untukku." ucap Nayla sambil menggenggam tangan Ardian dan mengecupnya berulang-ulang.
Tidak hanya mengecup tangan Ardian, Nayla juga mengecup bibir Ardian sangat lama. Entah karena rasa rindunya atau bawaan bayinya Nayla juga tidak tahu.
Ardian yang merasakan ada sesuatu yang lembab berada di bibirnya perlahan membuka matanya, dan melihat dengan jelas bagaimana Nayla dengan fokusnya ******* bibirnya hingga tidak menyadari kalau dirinya sedang menatap Nayla.
Nayla perlahan menghentikan lumatannya saat bibir Ardian membalas lumatan-lumatan kecilnya.
Nayla terkesima menatap kedua mata Ardian yang menatapnya dengan segala keteduhannya.
"Mas Ardian?" Ucap Nayla dengan cepat melepas bibirnya dengan wajah bersemburat merah.
"Hm, maafkan aku Mas.aku tadi terlalu gembiranya karena di samping Mas Ardian sudah selesai operasi dan sudah sadar, jadi aku melakukannya." ucap Nayla dengan wajah tertunduk.
Ardian tersenyum menatap wajah Nayla yang terlihat sangat lucu dengan kedua pipinya yang memerah.
"Kenapa harus minta maaf Nay, aku malah bahagia di saat aku terbangun ada dirimu yang tepat berada di kedua mataku." ucap Ardian dengan tatapannya yang teduh.
Nayla tersenyum tersipu malu.
"Aku ikut bahagia Mas, kalau Mas Ardian juga bahagia." ucap Nayla dengan suara lirih, sungguh Nayla sangat merindukan kasih sayang dan perhatian Ardian.
"Aku merindukanmu Nay." ucap Ardian seraya mengusap lembut pipi Nayla.
"Terlebih aku Mas, aku lebih sangat merindukanmu." sahut Nayla dengan sebuah senyuman.
"Bagaimana keadaan bayi kita Nay, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ardian yang tiba-tiba ingin tahu sejauh mana kehamilan Nayla.
"Dari kemarin aku tidak menghiraukan bayi kita Mas, maafkan aku,...aku terlalu menguatirkanmu kemarin." ucap Nayla dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Kamu harus menjaganya Nayla, bayi kita adalah amanah dari Tuhan yang di titipkan pada kita berdua." ucap Ardian menatap dalam-dalam wajah Nayla.
"Ya Mas, aku tahu..aku berjanji, akan menjaga anak kita dengan sangat baik." ucap Nayla dengan wajah penuh kebahagiaan.