LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
CINTA BUTA ANITA SALWA


__ADS_3

"Mas, bangun sayang." panggil Nayla setelah habis subuhan Ardian tertidur lagi karena merasakan nyeri pada jahitannya.


"Mas, ayo dong bangun sayang." ucap Nayla menarik pundak Ardian agar menghadap dirinya.


Dengan refleks Ardian menghadap ke arah Nayla kemudian memeluk pinggang Nayla dengan manja.


"Sudah jam berapa Nay?" tanya Ardian dengan matanya yang masih terpejam Menenggelamkan kepalanya di pangkuan Nayla.


"Sudah jam enam Mas, kalau kita datang ke rumah sakit siang, antrinya akan lama Mas." ucap Nayla sambil membelai rambut tebal Ardian.


"Ya Nay, sebentar lagi ya Nay, aku masih ingin tidur sebentar di pangkuanmu." ucap Ardian semakin erat memeluk perut Nayla yang masih terlihat rata.


"Hem, Mas Ardian tidak mengidam kan?" tanya Nayla yang melihat Ardian terlihat sedikit manja sejak kehamilannya.


"Tidak Nay, aku hanya merindukanmu saja, sangat lama aku menantikan hal seperti ini, di tiap aku bangun ada kamu di sampingku." ucap Ardian sambil menengadahkan wajahnya menatap wajah cantik Nayla.


Wajah Nayla bersemu merah menatap mata teduh Ardian yang sedang menatapnya.


"Masih pagi sudah membuatku gugup Mas." ucap Nayla kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ardian tersenyum, kemudian bangun dari tidurnya.


"Aku akan mandi dulu Nay, dan bisa minta tolong surat dari rumah sakit ada di laci ya Nay." ucap Ardian turun dari ranjang berjalan pelan ke kamar mandi.


Nayla memberikan handuk bersih pada Ardian sabelum Ardian masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Ardian selesai mandi, Nayla merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan.


"Drrrrttt.. Drrrrttt.. Drrrrttt"


Ponsel Ardian di atas meja berbunyi ada pesan masuk beberapa kali.


Sedikit penasaran Nayla ingin tahu siapa yang kirim pesan pagi-pagi pada Ardian.


"Anita Salwa? bukankah dia teman Mas Ardian yang di kota?" gumam Nayla kemudian membuka pesan Anita.

__ADS_1


"HAI ARDIAN, BAGAIMANA KABARMU? KAMU BAIK-BAIK SAJA KAN? AKU DENGAR DARI TEMAN-TEMAN KAMU SUDAH MENDAPATKAN DONOR GINJAL, AKU SANGAT BERSYUKUR UNTUKMU..


AKU ADA KABAR UNTUKMU SEMOGA KAMU JUGA SENANG MENDENGARMYA KARENA PENGAJUANKU UNTUK MENJADI REKTOR DI DESAMU TELAH DI SETUJUI DAN ITU BERATI KITA AKAN SERING BERTEMU. HARI INI AKU SUDAH PINDAH KE DESA, DAN JUJUR AKU SANGAT MERINDUKANMU DAN MASIH BERHARAP KAMU BISA MENJADI MILIKKU."


Jari Nayla bergetar setelah membaca pesan dari Anita yang sangat menyakiti hatinya. Sungguh entah itu sebuah rasa cemburu atau rasa amarah, ingin sekali Nayla menghapus atau membalas pesan Anita yang sama sekali tidak punya rasa malu.


"Ada apa Nay?" tanya Ardian saat keluar dari kamar mandi melihat Nayla termenung sambil memegang ponsel miliknya.


"Hm, ada pesan dari Anita untuk Mas Ardian." ucap Nayla dengan suara pelan seraya memberikan ponselnya pada Ardian.


Ardian menerima ponselnya, sambil duduk di kursi panjang Ardian membaca pesan dari Anita.


Ardian menghela nafas panjang kemudian beranjak dari duduknya dan duduk di samping Nayla yang sedang melipat selimut.


Ada kesedihan di wajah Nayla yang membuat hati Ardian ikut merasakan kesedihan itu.


Perlahan Ardian mengangkat pelan Nayla untuk duduk di pangkuannya. Dengan sabar Ardian menunjukkan ponselnya pada Nayla dan menghapus pesan Anita tanpa membalasnya.


"Jangan bersedih dengan ujian seperti ini Nay, aku akan menjaga hatimu, dan tidak ingin melihatmu bersedih apalagi terluka, aku hanya mencintai Nay." ucap Ardian memeluk pinggang Nayla dan mengusap lembut perut Nayla.


"Dan kamu harus selalu ingat, ada bayi kita dalam perut kamu yang harus kita jaga, kamu tidak boleh bersedih karena akan berpengaruh pada bayi kita Nay." ucap Ardian dengan suara pelan mengecup perut Nayla yang masih rata.


"Aku cemburu Mas, aku tidak suka dengan Bu Anita yang sama sekali tidak memandang aku sebagai istrinya Mas Ardian." ucap Nayla jujur dengan perasaannya.


"Aku tahu kamu cemburu Nay, aku bahagia melihatmu cemburu, sekaligus tidak ingin kamu merasa sedih hanya karena rasa cemburu." ucap Ardian menangkup wajah Nayla kemudian mengusap airmata Nayla dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa sesabar Mas Ardian untuk memendam rasa cemburu." ucap Nayla sedikit malu dengan perasaan cemburunya.


"Tidak apa-apa Nay, bukannya aku juga jujur padamu kalau aku juga cemburu pada Kenzo dan Pria?" ucap Ardian tersenyum dengan perasaan bahagia karena Nayla merasakan rasa cemburu seperti yang di alaminya.


"Ya Mas, trimakasih telah menenangkan hatiku." ucap Nayla menatap kedua mata Ardian dengan perasaan cinta yang semakin dalam.


"Apa hanya trimakasih saja Nay? apa tidak ada hadiah untukku yang telah menenangkan hatimu?" tanya Ardian dengan sebuah senyuman.


Wajah Nayla kembali bersemu merah, mendengar ucapan Ardian yang semakin hari membuat hatinya meleleh.

__ADS_1


"Maksudnya Mas?" tanya Nayla ingin memastikan maksud dari kata-kata Ardian, karena Nayla tidak ingin malu karenanya.


Ardian terdiam sejenak kemudian menangkup wajah Nayla dan mengecup pelan bibir Nayla dengan penuh perasaan.


"Aku menginginkan hal seperti itu Nay, maukah kamu memberikannya sebagai hadiah?" ucap Ardian dengan tersenyum setelah selesai mengecup bibir Nayla.


"Bukannya Mas Ardian sudah menciumku?" tanya Nayla dengan perasaan bingung.


"Aku ingin kamu memberikan hadiah untukku Nay." ucap Ardian dengan tenang menatap kedua mata Nayla dalam-dalam.


Wajah Nayla semakin memerah, tapi tidak bisa menolak keinginan suaminya.


"Sepertinya aku yang mencintaimu sekarang Mas." ucap Nayla dengan wajah tertunduk.


"Tidak Nay, aku yang lebih mencintaimu dan akan selalu begitu." ucap Ardian kemudian memejamkan matanya menunggu kecupan dari Nayla.


Entah kenapa semakin lama, dengan perasaan cintanya yang semakin mendalam, rasa gugup dan malu semakin menyerangnya saat Ardian berkata-kata manis padanya.


"Nay, aku masih menunggumu sayang." ucap Ardian masih memejamkan matanya.


Dengan hati yang berdebar-debar, dan perasaan yang gugup Nayla pun memejamkan matanya dan mengecup bibir Ardian dengan sangat dalam.


Perlahan Ardian membuka matanya dan tersenyum bahagia.


"Trimakasih Nay, selalu membuatku terjatuh dan tak berdaya tiap kali bibir indah ini menyentuh bibirku." ucap Ardian merengkuh penuh Nayla dalam dadanya.


"Apa kita tidak jadi ke rumah sakit Mas?" tanya Nayla mengalihkan rasa malunya.


"Jadi Nay, aku ganti pakaian dulu ya? tapi aku masih membutuhkan tangan lembut istriku untuk memakaikan bajuku." ucap Ardian yang masih susah memakai bajunya.


"Drrrrttt.. Drrrrttt.. Drrrrttt.


Ponsel Ardian berbunyi panggilan, dan Nayla sangat tahu panggilan itu dari Anita.


Ardian menatap Nayla kemudian berniat menolak panggilannya, namun Nayla menahannya.

__ADS_1


Dengan tenang, Nayla menerima panggilan Anita dan mengeraskan suaranya.


"Hallo.. Ardian.. kenapa kamu tidak membalas pesanku? apa kamu tidak senang dengan kepindahanku? atau kamu takut sama istrimu yang cemburuan itu? Ardian kita sudah berteman lama, kenapa kamu tega padaku?" tanya Anita panjang lebar tanpa sedikitpun malu dengan statusnya sebagai Rektor.


__ADS_2