LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
DENGAN CINTAMU AKU HIDUP


__ADS_3

"Masih sakit tidak Mas?" tanya Nayla masih mengusap lembut perut Ardian yang terasa nyeri.


"Sedikit Nay." jawab Ardian pelan sambil menatap wajah Nayla yang sebagian tertutup anak rambutnya.


Dengan penuh perhatian tangan Ardian menyelipkan anak rambutnya di sela telinga Nayla.


"Ada apa Mas?" tanya Nayla sedikit gugup melihat apa yang di lakukan Ardian dengan begitu tiba-tiba menyelipkan anak rambutnya.


"Aku tidak bisa melihat penuh kecantikan wajahmu Nay, tertutup sama rambut itu tadi dan sekarang aku sudah melihatnya tanpa ada gangguan." ucap Ardian dengan tersenyum melihat wajah Nayla dengan tatapan yang teduh.


"Jangan menatapku seperti itu Mas, aku malu." ucap Nayla seraya menutup mata Ardian dengan satu tangannya.


"Kenapa harus malu Nay, aku hanya ingin melihat keindahan yang ada di wajahmu." ucap Ardian dengan suara lembut meraih tangan Nayla yang menutup matanya.


"Tapi aku malu Mas, aku merasa tidak seindah itu." ucap Nayla dengan wajah tertunduk.


"Kamu cantik dan Indah Nay, aku menyukaimu sejak lama, saat kamu masih mengucir rambutmu, ada sesuatu pada dirimu yang membuatku tidak bisa berpaling pada siapapun." ucap Ardian dengan jujur.


"Hm..hm..aku jadi semakin gugup Mas." ucap Nayla dengan wajahnya yang semakin memerah.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Nay, aku lemah di hadapanmu tidak bisa lagi melihat hal lain selain keindahan dan kecantikan hati pada dirimu." ucap Ardian dengan suara pelan.


"Tidak cantik Mas, kalau aku cantik pasti aku tidak akan pernah menyakiti hatimu bukan Mas?" ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca yang sangat menyesali dengan semua yang telah di lakukannya pada suaminya.


"Nayla, itu hanyalah suatu proses di mana untuk mendapatkanmu memang tidaklah mudah." ucap Ardian meraih tangan Nayla dan mengusapnya pelan.


"Aku bahagia Mas, masih ada kesempatan untuk bisa menyadari dan berusaha untuk membahagiakanmu." ucap Nayla mengecup punggung tangan Ardian yang menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Ya Nay, kita harus mensyukuri nikmat Tuhan ini dengan lebih dekat denganNya, dan berusaha untuk lebih bisa menjaga dan menyayangi apa yang kita miliki sekarang yaitu cinta kita dan buah hati kita yang masih dalam kandunganmu." ucap Ardian dengan mata yang setengah terpejam menahan kantuk.


"Ya Mas, apa yang mas katakan sangat benar, Apa kamu mengantuk Mas?" tanya Nayla saat mata Ardian beberapa kali sedikit terpejam.


"Kamu sendiri sudah mengantuk apa belum Nay, kalau belum aku akan temani." jawab Ardian sekaligus bertanya pada Nayla.


"Kita tidur saja Mas, kesehatan Mas Ardian lebih penting..walau sekarang Mas sudah ada satu ginjal sehat kalau Mas masih saja bekerja dengan keras nanti juga bisa sakit lagi, jadi harus di jaga betul-betul kesehatan Mas Ardian." ucap Nayla seraya naik ke atas ranjang.


"Kan ada kamu sekarang yang selalu menjagaku seharian penuh." ucap Ardian menatap Nayla dengan tersenyum penuh cinta.


"Hm, mulai lagi membuatku gugup, nanti kalau aku buat Mas Ardian blushing lagi bagaimana, bingung lagi nanti." ucap Nayla tersenyum sambil merebahkan kepalanya di bahu Ardian.


Tangan Ardian merengkuh pundak Nayla dengan sebuah senyuman mengembang.


"Tidak apa-apa Nay kita merasa gugup, itu pertanda kita masih sama-sama malu dan harus lebih banyak belajar lagi membuang rasa malu, bukan begitu sayang?" ucap Ardian di kata-kata terakhirnya menyebut kata sayang pada Nayla.


"Katakan sekali lagi Mas." ucap Nayla menatap wajah Ardian yang begitu teduh.


"Sebutan untuk diriku di kata yang terakhir." ucap Nayla menunggu dengan sabar.


"Sayangku." ucap Ardian sambil mengecup puncak kepala Nayla yang bersandar di bahunya.


"Lagi?" ucap Nayla dengan hati berbunga-bunga.


"Jangan lagi Nay, aku sudah berkeringat dingin nanti aku bisa pingsan karena rasa gugupku ini." ucap Ardian yang berusaha penuh menjadi seorang laki-laki yang benar-benar di inginkan dan di cintai Nayla dengan sepenuh hati.


Nayla tertawa lirih kemudian mengusap lembut wajah Ardian.

__ADS_1


"Aku kira hanya aku yang merasa gugup dengan pujian suamiku, ternyata suamiku yang merayuku lebih gugup daripada aku." ucap Nayla dengan tatapan penuh rindu dat cinta.


"Ya Nay, aku harus lebih banyak belajar lagi agar kamu bisa lebih mencintaiku dan tidak akan berpaling pada yang lain." ucap Ardian tersenyum dengan tenang.


"Berpaling pada siapa?" tanya Nayla menggoda Ardian.


Ardian menatap penuh wajah Nayla dengan jantungnya yang mulai berdebar-debar.


"Aku masih ada rasa takut, jika kamu bisa berpaling pada Kenzo cinta pertamamu, dan pada Pria yang terlihat menyukaimu." jawab Ardian dengan wajah memerah menatap Nayla tanpa berkedip.


Nayla menelan air ludahnya, sungguh tidak menyangka Ardian menyimpan rasa cemburu pada Kenzo dan Pria.


"Benarkah itu Mas?" tanya Nayla yang juga yang tidak berkedip menatap kedua mata Ardian.


"Maafkan aku ya Nay, aku sudah berusaha menahannya tapi ada terbesit rasa kuatir di hatiku, bukan aku tidak percaya padamu Nay, aku sangat percaya padamu sayang, aku rasa ini hanya pikiran seorang laki-laki tua yang hidup dengan rasa ketakutannya yang tidak mampu lagi mengalahkan laki-laki yang lebih muda." ucap Ardian dengan menghela nafas kemudian tersenyum merengkuh lebih erat pundak Nayla.


"Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan barusan Mas, terimakasih banyak aku bahagia mendengarnya." ucap Nayla tersenyum kemudian mengecup bibir Ardian dengan penuh perasaan.


"Kamu tidak merasa terganggu Nay? aku takut kecemburuanku bisa membuatmu tidak nyaman Nay, aku tidak ingin kamu merasa tertekan dengan rasa cinta dan cemburuku ini." ucap Ardian yang ingin Nayla merasa nyaman di sampingnya.


"Sudah Mas, jangan pikirkan itu lagi ya?sekarang dengarkan aku Mas, aku mungkin punya masa lalu yang aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, karena pernah menyakiti hatimu Mas, tapi percayalah aku sangat mencintaimu sekarang dan itu untuk selamanya, hanya kamu saja Mas." ucap Nayla menatap dalam-dalam wajah Ardian kemudian menautkan keningnya pada kening Ardian.


"Aku ingin hidup bersamamu selamanya, hanya denganmu dan buah hati kita." bisik Nayla seraya mengecup lembut bibir bawah Ardian.


Hati Ardian benar-benar meleleh, merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, hidup bersama dengan Nayla wanita yang di cintainya dan yang sekarang juga sangat mencintainya.


"Trimakasih Nay, trimakasih sayang." ucap Ardian dengan suara parau menahan haru.

__ADS_1


"Sekarang kita tidur ya Mas? bukannya besok kita harus ke rumah sakit untuk melihat hasil operasi Mas dan melihat keadaan bayi kita?" ucap Nayla kembali bersandar di dada Ardian dengan kebahagiaan penuh bisa melihat Ardian yang masih ada di sampingnya.


"Aku sangat bersyukur masih ada di sampingmu Nay, merasakan kehangatan cintamu, perhatian dan kasih sayang yang selama ini aku impikan dan sekarang semuanya telah menjadi nyata, karena cintamu Nay, yang membuatku bisa bertahan hidup." bisik Ardian dengan setengah mata terpejam merengkuh Nayla dalam dekapannya.


__ADS_2