
"Bagaimana dengan Kenzo Nay? dia sudah berkorban demi dirimu?" tanya Ardian yang tak ingin Nayla hanya merasa kasihan padanya.
"Saat ini aku hanya berpikir tentang kesehatan bapak, bagaimana caranya bapak bisa sembuh." jawab Nayla menatap dalam wajah Ardian yang terlihat sangat lelah, Nayla tahu beberapa hari terakhir pasti Ardian mengalami beban pikiran yang sangat berat.
Ardian membalas tatapan Nayla dengan perasaan tak percaya, Nayla memikirkan dirinya, memikirkan kesehatannya.
"Nayla." Panggil Ardian dengan suara parau, menarik punggung Nayla dengan tangan satunya dan memeluknya sangat erat, sungguh hatinya tak bisa menahan rasa bahagianya.
Nayla terdiam tenggelam dalam pelukan Ardian.
"Setelah aku berada di sisi bapak, apakah bapak mau berjanji satu hal padaku?" tanya Nayla menatap wajah teduh Ardian.
" Apa itu Nay, aku pasti akan memenuhinya." Ucap Ardian dengan penuh kebahagiaan.
"Bapak harus jaga kesehatan baik-baik, jangan pernah terlambat untuk cek up dan cuci darah, sambil jalan kita akan cari pendonor ginjal buat bapak." Ucap Nayla yang pikirannya ingin mencari pendonor buat ginjal Ardian yang sudah parah.
"Nayla." panggil Ardian tak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk erat Nayla.
"Berjanjilah pak." ucap Nayla menangkup wajah pucat Ardian.
"Aku berjanji padamu Nayla." ucap Ardian dengan hati yang terharu.
"Sekarang bapak istirahat ya." ucap Nayla melepas pelukan Ardian.
"Nayla, bagaimana dengan Kenzo? dia pasti tidak akan terima dengan keputusanmu ini, apa aku yang harus menjelaskannya pada Kenzo?" tanya Ardian tak ingin Nayla mendapat masalah nantinya.
"Jangan pak, biarkan saja...biar aku sendiri yang menyelesaikan masalahku dengan Kenzo, bapak fokus pada kesehatan bapak saja ya? bapak sudah berjanji padaku kan?" ucap Nayla yang tak ingin Ardian drop lagi.
"Trimakasih ya Nay." ucap Ardian dengan hati yang sangat lega.
"Terimakasih untuk apa pak?" tanya Nayla menatap lembut wajah Ardian.
"Untuk tetap bertahan di sisiku." ucap Ardian dengan sendu.
"Bagaimana aku tidak bertahan pak, bapak suamiku sekarang dan aku tidak mungkin meninggalkan bapak sendiri di saat seperti ini." ucap Nayla sambil menahan rasa kantuknya.
"Kamu mengantuk Nay?" tanya Ardian penuh kasih sayang.
"Ya Pak, lelah hari ini aku pak." ucap Nayla tak kuat menahan matanya lagi.
__ADS_1
"Tidurlah di sini Nay, biar aku tidur di sofa." ucap Ardian seraya hendak turun dari ranjang.
Tapi tangan Nayla menahannya dengan lembut.
"Tidurlah di sini saja pak, kita tidur bersama di sini." ucap Nayla seraya naik ke atas ranjang dan berbaring di atas ranjang.
Ardian hendak menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat yang lebih banyak buat Nayla, namun sekali lagi Nayla menahannya.
"Bapak tetap saja di sini, di luar mendung aku takut kalau nanti hujan." ucap Nayla yang tahu di luar sangat gelap.
"Tidurlah dulu Nay, biar aku yang menjagamu." ucap Ardian tak habis-habisnya menatap Nayla penuh cinta.
"Kita tidur bersama pak." ucap Nayla merapatkan tubuhnya pada tubuh Ardian.
Ardian terpaku menata jantungnya yang berdetak dengan kencang.
"Nayla? apa yang kamu katakan?" tanya Ardian tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
"Kita tidur sekarang ya pak, aku sangat mengantuk sekali." ucap Nayla dengan pelan meletakkan kepalanya di dada Ardian dan memejamkan matanya.
Detak jantung Ardian semakin tak beraturan saat tangan lembut Nayla melingkar di pinggangnya.
"Pak jangan lepas pelukan bapak ya?" ucap Nayla saat terdengar di luar hujan.
"Tidak Nay, aku akan memelukmu erat, jangan takut lagi ya Nay?" ucap Ardian membelai rambut hitam Nayla.
"DUAAAAARR"
Hujan deras terdengar seiring suara petir yang menggelegar keras.
Nayla semakin merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Ardian.
Dalam derasnya hujan, Nayla memeluk pinggang Ardian dengan erat, sentuhan kulit tubuh Nayla bagaikan arus listrik masuk ke aliran darah Ardian.
"Nayla." panggil Ardian menatap wajah cantik Nayla.
Hati Nayla berdesir menatap lembut wajah Ardian, Tanpa sadar Nayla menatap bibir seksi Ardian yang pucat basah.
Ardian pun tak kuasa melihat bibir Nayla yang begitu menggodanya.
__ADS_1
Entah siapa yang memulai, bibir Ardian sudah menyentuh lembut bibir Nayla.
Dengan mata setengah terpejam, Nayla memiringkan tubuhnya menghadap Ardian, meraih punggung Ardian agar menghadap dirinya.
"Nayla, apa kamu menginginkannya Nay?" tanya Ardian berbisik lembut di telinga Nayla.
Nayla membuka matanya, menatap dalam mata Ardian.
Tanpa menjawab pertanyaan Ardian, Nayla menyentuh bibir Ardian dengan lembut. Suara air hujan di luar sama sekali tak menganggu keinginan Nayla untuk membahagiakan Ardian.
"Nayla, aku tak ingin kamu menyesal Nay." ucap Ardian lagi dengan suaranya yang sudah parau.
"Bapak, bisakah bapak diam? biarkan aku membahagiakan bapak sebagai istri bapak." ucap Nayla dengan suara parau.
Ardian terpaku mencoba menenangkan hati dan jantungnya agar bisa menjalankan tugasnya, dan membalas gairah Nayla yang sudah menguasainya.
"Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istri bapak." bisik Nayla pelan di telinga Ardian.
Dada Ardian terasa bergemuruh menahan rasa kebahagiaannya yang luar biasa mendengar semua ucapan Nayla.
Dengan di saksikan suara hujan dan petir di luar rumah, untuk pertama kalinya Nayla menyerahkan kesuciannya pada suaminya Ardian Adhlino Gavin. Dan Ardian dengan kemampuannya telah menanam benihnya beberapa kali dalam rahim Nayla.
Setelah semuanya berakhir, suasana kembali sunyi, yang terdengar hanya suara rintik hujan yang mulai mereda.
Ardian memejamkan matanya, berucap syukur pada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan yang begitu luar biasanya.
"Pak, kenapa kamu diam saja?" tanya Nayla dengan tubuhnya yang masih lemas.
"Aku bersyukur pada Tuhan Nay, karena kamu telah sepenuhnya menjadi istriku, dan aku ucapkan terimakasih padamu yang telah memberikan hal yang terbesar yang kamu punya hanya untukku." ucap Ardian dengan setitik airmata yang menetes dari kedua sudut matanya.
"Bapak menangis?" tanya Nayla dengan hati terenyuh sambil mengusap pelan airmata yang tersisa di pelupuk mata Ardian.
"Aku tidak bisa menahan kebahagiaan ini Nay, terimakasih Nay... terimakasih." ucap Ardian memeluk erat tubuh Nayla.
Nayla terdiam membiarkan Ardian tenggelam dalam kebahagiaannya.
Bagi Nayla saat ini adalah memberikan kebahagiaan seutuhnya pada Ardian di saat masih ada hari-hari yang tersisa untuknya.
Entah dengan cara apa, bagi Nayla sekarang Ardian adalah suami sahnya yang akan Nayla jaga dan Nayla akan berusaha untuk membuat suaminya sembuh dengan mencari pendonor ginjal secepatnya.
__ADS_1