
Nayla duduk di samping Ardian yang sudah terbaring di ranjang kamar rumah sakit dengan selang infus yang menancap di lengan Ardian dengan darah yang mengalir di dalamnya.
"Apa sakit pak?" tanya Nayla melihat wajah Ardian yang sedikit kesakitan dan pucat.
"Sudah terbiasa dengan rasa sakit ini Nay." jawab Ardian dengan tersenyum.
"Emm, aku keluar sebentar ya pak? aku akan kembali lagi." ucap Nayla tidak tega melihat orang sakit.
"Nay, makanlah di kantin kamu belum ada sarapan dari pagi kan?" tanya Ardian sebelum Nayla membuka pintu.
Nayla tersenyum kemudian mengangguk kecil.
Nayla menghela nafas panjang, bersandar di balik pintu kamar Ardian.
"Kenapa Ardian begitu sangat baik, di saat dirinya sendiri belum ada makan tapi masih sempat memikirkan perut orang lain."
Nayla mengedipkan matanya agar tidak terlarut dengan hatinya yang mulai tersentuh dengan kebaikan Ardian.
Dengan perasaan yang sedikit terganggu, Nayla berjalan ke tempat information untuk bertanya siapa yang menjadi dokter Ardian.
Setelah tahu yang menangani Ardian adalah Dokter Ketut, Nayla mencari dokter Ketut di ruangannya.
"Selamat siang Dok, saya Nayla keluarga dari pasien pak Ardian." sapa Nayla setelah berada di dalam ruang dokter Ketut.
"Selamat siang juga Nayla, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Ketut dengan ramah.
"Saya mau tanya mengenai kondisi Pak Ardian saat ini Dok." ucap Nayla dengan hati yang berdebar-debar.
"Em, Nayla sudah tahu belum tahu riwayat sakitnya Pak Ardian?" tanya Dokter Ketut sambil mengambil daftar riwayat sakit Ardian.
"Belum tahu Dok, apa dokter bisa menceritakannya pada saya?" tanya Nayla semakin penasaran.
"Pak Ardian baru mengalami sakit gagal ginjal lima tahun yang lalu saat mendonorkan salah satu ginjalnya pada pasien yang saat itu kritis membutuhkan ginjal, setelah dua tahun lbih sejak hidup dengan satu ginjal, Pak Ardian mengalami ginjalnya bermasalah sampai saat ini, mengalami gagal ginjal yang sudah parah dan harus melakukan cuci darah untuk bisa bertahan hidup." jelas Dokter Ketut panjang lebar.
"Berarti sudah lima tahun ya Dok, Pak Ardian hidup hanya dengan satu ginjal?" tanya Nayla dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Ya memang seperti itu, sebenarnya tidak ada masalah orang yang hidupnya dengan satu ginjal, kalau pola hidupnya sehat dan terjaga, tidak terlalu bekerja siang dan malam, Pak Ardian orangnya pekerja keras, jadi salah satu penyebabnya itu juga." ucap Dokter panjang lebar yang tahu riwayat sakit Ardian.
Nayla hanya bisa terdiam, teringat Ayahnya yang juga pernah mengalami gagal ginjal dan baru sembuh lima tahun yang lalu saat Ayahnya mendapatkan donor ginjal dari seseorang yang tidak Nayla tidak tahu siapa.
"Baiklah Dokter, trimakasih atas penjelasannya mengenai sakitnya pak Ardian." ucap Nayla dengan perasaan yang campur aduk.
"Kalau saya boleh tahu Nayla apanya Pak Ardian?" tanya Dokter Ketut sebelum pamit.
Nayla tersenyum malu.
"Saya calon istri Pak Ardian Dok." ucap Nayla dengan wajahnya yang bersemu merah.
Dokter Ketut tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, mungkin Pak Ardian sudah selesai cuci darahnya." ucap Nayla tersenyum kemudian keluar dari ruangan Dokter Ketut.
Mendengar kisah riwayat sakitnya Ardian membuat Nayla tidak punya selera untuk ke kantin, namun langkahnya membawa kembali ke arah kamar Ardian di mana sedang berbaring setelah melakukan cuci darah.
Nayla membuka pintu kamar dengan perlahan dan melihat wajah Ardian yang sedikit segar di banding sebelum cuci darah tadi pagi.
"Apa kamu sudah makan Nay?" tanya Ardian menatap Nayla yang terlihat sedih.
"Belum, aku tidak menemukan makanan kesukaanku Pak." jawab Nayla memberi alasan.
"Bagaimana kalau kita ke kantin bersama Pak?" tanya Nayla punya ide agar Ardian juga mengisi perutnya yang juga belum terisi makanan.
"Tunggu Dokter Ketut dulu Nay, kalau dokter Ketut bilang aku sudah stabil biasanya langsung di izinkan pulang." ucap Ardian yang bahagia dengan ajakan Nayla.
Nayla terdiam duduk di samping Ardian, setelah beberapa menit Dokter Ketut datang dari balik pintu seraya tersenyum pada Ardian dan Nayla.
"Bagaimana Pak Ardian sudah merasa baikan lagi setelah cuci darahnya? sebaiknya untuk cuci darah di lakukan rutin Pak, jangan sampai lupa seperti kapan hari, nanti yang mengalami drop Pak Ardian juga, apa lagi sekarang sudah ada calon istri yang begitu perhatian sama Pak Ardian." ucap Dokter Ketut yang membuat Nayla malu, dan membuat Ardian jadi bingung namun bahagia.
"Dokter Ketut tahu dari mana?" tanya Ardian menggantungkan pertanyaanya.
"Dari calon istri Pak Ardian sendiri yang tadi datang ke tempat saya untuk mengetahui perkembangan sakitnya pak Ardian, bukan begitu Nayla?" tanya Dokter Ketut pada Nayla yang dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
__ADS_1
Hati Ardian meleleh tak percaya dengan apa yang di dengarnya, jika itu bukan Dokter Ketut yang mengatakannya mungkin Ardian tak percaya, ini Dokter Ketut sendiri yang bilang dan Nayla sendiri juga tidak menampiknya saat Dokter Ketut bertanya padanya.
Mata Ardian tak lepas menatap wajah Nayla yang tertunduk karena malu.
"Hasil pak Ardian sudah stabil jadi jangan lupa Minggu depan harus tepat waktu untuk cuci darahnya ya pak?" ucap Dokter Ketut mengingatkan Ardian.
Selepas Dokter Ketut pergi, Nayla menghampiri Ardian ikut membantu Ardian yang mencoba untuk duduk.
"Apakah kita jadi ke kantin Nay?" tanya Ardian dengan hati-hati, tak ingin membuat mood Nayla menjadi jelek.
"Jadi Pak, bapak kan belum makan juga." jawab Nayla membantu Ardian berdiri agar tidak terjatuh.
"Apa kita ke sana sekarang?" tanya Ardian lagi menatap Nayla dengan perasaan yang bagaikan mimpi.
Nayla mengangguk, melepas pegangannya setelah Ardian berjalan perlahan keluar dari kamar.
Nayla berjalan mengikuti Ardian yang berjalan perlahan di sampingnya.
Tiba di kantin Nayla berinisiatif cepat mencari kursi yang kosong.
"Kita duduk di sana ya Pak Ardian." ucap Nayla tanpa sadar meraih tangan Ardian dan mengajaknya berjalan ke arah meja yang di tunjuk.
Hati Ardian bergetar kembali, sungguh Ardian tidak tahu harus bilang apa dengan perubahan sikap Nayla, berubah karena mulai mencintainya atau karena kesepakatan yang telah di buat.
"Kamu mau pesan apa Nay?" tanya Ardian setelah mereka duduk dan seorang pelayan datang dengan menawarkan menu makanan pada Ardian dan Nayla.
"Aku minuman saja Pak." jawab Nayla yang masih belum ada selera makan setelah tahu semua cerita soal Ardian.
"Kalau begitu aku juga pesan minuman saja." ucap Ardian kalem.
"Tidak bisa begitu pak, pak Ardian sakit jadi harus makan." ucap Nayla yang tidak ingin Ardian kenapa-kenapa.
"Kamu juga harus makan Nay, agar tidak sakit seperti aku." ucap Ardian menatap dalam wajah cantik Nayla.
"Baiklah Pak, kita pesan makanan yang sama ya." ucap Nayla akhirnya mengalah demi Ardian yang memerlukan asupan makanan.
__ADS_1