LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
TAKDIR KITA BERSAMA (2)


__ADS_3

"Nayla...ada apa Nay?" tanya Ardian dengan wajah panik melihat Nayla yang tiba-tiba mual dan muntah.


Nayla menggelengkan kepalanya, kemudian berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalam perutnya.


Ardian yang merasa cemas dengan keadaan Nayla memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang dan berjalan pelan menahan sakit pada pinggangnya ke arah kamar mandi.


"Nayla, kamu tidak apa-apa?" tanya Ardian yang seketika mengagetkan Nayla dengan Ardian yang berdiri di belakangnya.


"Mas, kenapa kamu kemari? kamu masih lemah Mas." ucap Nayla dengan cepat memegang lengan Ardian dan memapahnya kembali ke ranjang.


"Kamu tidak apa-apa kan Nayla?" tanya Ardian lagi setelah duduk bersandar di ranjangnya.


"Tidak apa-apa Mas, mungkin aku hanya masuk angin saja." ucap Nayla sambil mengusap mulutnya.


"Tapi wajah kamu pucat Nay? periksalah nanti, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa." ucap Ardian dengan cemas.


Nayla tersenyum dan mengangguk.


"Ya Mas, nanti aku akan memeriksanya, yang penting Mas Ardian juga tidak kenapa-kenapa dan selalu semangat untuk sembuh." ucap Nayla menggenggam tangan Ardian dan mengecupnya dengan penuh perasaan.


Hati Ardian begitu sangat tenang dengan adanya Nayla di sisinya. Mata Ardian tak lepas menatap Nayla yang sedang mengusap-usap lembut punggung tangannya.


"Nayla, bagaimana kabar Kenzo? apa dia baik-baik saja?" tanya Ardian yang masih merasa bersalah dengan keadaan Kenzo.


"Kenzo sudah mulai membaik Mas, dan dia juga kemarin menanyakan keadaan Mas." ucap Nayla yang tidak ingin Ardian merasa bersalah karenanya.


"Syukurlah, bagaimana dengan matanya Nay? apa dia sudah bisa melihat kembali?" tanya Ardian lagi menatap wajah Nayla yang terlihat cukup sedih.


"Masih belum bisa melihat Mas, mungkin masih perlu beberapa waktu untuk Kenzo bisa melihat lagi Mas." ucap Nayla dengan perasaan yang bersalah juga.


"Nayla, seandainya Kenzo tidak bisa melihat lagi, dan seandainya aku juga tidak bisa bertahan, aku ingin mendonorkan mataku untuk Kenzo, apakah kamu bisa membantu untuk itu Nay?" tanya Ardian dengan wajah serius.


Nayla menengadahkan wajahnya menatap wajah Ardian dengan perasaan yang sangat sakit.


"Kenapa Mas Ardian bicara seperti itu lagi?" tanya Nayla menahan airmatanya agar tidak terjatuh.


"Hanya seandainya saja Nay, jika itu benar-benar terjadi entah sekarang atau nanti, jika Kenzo masih tidak bisa melihat aku ingin mataku buat Kenzo jika aku sudah tidak ada." ucap Ardian dengan suara pelan.


Nayla tak kuasa lagi menahan kesedihannya, kembali Nayla menangis dalam kesedihan.

__ADS_1


"Sudah ya Mas, sekarang jangan pikirkan hal lain, aku ingin Mas Ardian ada semangat untuk bisa sembuh." ucap Nayla sambil mengusap lembut wajah Ardian.


"Ya Nay, apa yang kamu bilang benar." ucap Ardian mengembangkan senyumnya.


"Oh ya Nay, bagaimana kalau sepulang dari sini kita tinggal di rumah pondok? apa kamu mau Nay?" tanya Ardian yang ingin menghabiskan sisa hidupnya di rumah pondok.


"Di manapun kita tinggal jika bersamamu aku bahagia Mas." ucap Nayla tersenyum kemudian mengecup kening Ardian.


Ardian tersenyum menatap wajah Nayla yang terlihat lebih cantik.


"Nay, apa kamu tidak berniat memeriksakan kondisi kamu sekarang?" tanya Ardian yang berharap kalau mual Nayla di sebabkan karena hamil.


"Ya Mas, nanti aku akan periksa kalau Ayah datang, aku tidak bisa meninggalkan Mas sendirian." ucap Nayla menatap wajah Ardian dengan penuh cinta.


Ardian kembali tersenyum sangat bahagia.


"Aku sangat mencintaimu Nay." ucap Ardian membalas tatapan Nayla dengan tatapan lembut.


"Aku juga mencintaimu Mas." ucap Nayla berdiri dari duduknya dan mengecup mesra bibir Ardian.


Ardian termangu mendapat ciuman Nayla yang sudah lama tidak dirasakannya lagi.


"Mas tidak lapar?" tanya Nayla yang tahu perut Ardian sama sekali belum terisi.


"Aku merasa mual jika makan Nay." jawab Ardian dengan wajah sedikit gelisah sambil memegang perutnya.


"Sedikit saja Mas, biar tubuh Mas tidak merasa lemas." ucap Nayla mencoba membujuk Ardian yang enggan untuk makan sesuatu.


"Sedikit saja ya Nay." ucap Ardian tidak ingin mengecewakan hati Nayla.


Dengan penuh kasih sayang, Nayla menyuapi Ardian dengan sedikit demi sedikit.


"Sudah Nay, aku sudah kenyang." ucap Ardian lagi dengan perutnya yang sudah mulai mual.


"Apa Mas ingin muntah? keluarkan saja Mas, daripada Mas tersiksa." ucap Nayla menenangkan Ardian sambil mengusap lembut perut Ardian untuk mengurangi rasa mual Ardian.


"Tidak jadi mual Nay, usapan lembut tanganmu sangat mujarab Nay." ucap Ardian dengan tersenyum lemah.


Wajah Nayla bersemu merah mendengar pujian Ardian yang jarang Ardian ucapkan selain pada sikap yang nyata.

__ADS_1


"Hmm, sejak kapan mulai pintar merayu Mas?" tanya Nayla yang tidak puas duduk di kursi beralih pindah duduk di pinggir ranjang agar lebih dekat dengan Ardian.


"Sejak ingin melihat kamu selalu bahagia, tidak bersedih hanya karena memikirkan aku." ucap Ardian meraih tangan Nayla dan menggenggamnya dengan pelan.


"Aku akan selalu bahagia jika bersamamu Mas." ucap Nayla dengan hati sedih jika mengingat ucapan dokter kalau hidup Ardian tinggal beberapa hari saja.


"Aku juga ingin selalu bersamamu Nay." ucap Ardian mengusap lembut bibir Nayla dengan jarinya.


"Apa Mas Ardian ingin aku mencium bibir Mas?" tanya Nayla saat jari Ardian mengusap bibirnya dengan sangat lembut.


"Sudah lama aku tidak merasakannya lagi Nay, aku sangat merindukannya." ucap Ardian dengan suara pelan.


Tanpa menjawab ucapan Ardian, Nayla mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Ardian dengan sangat pelan, beberapa saat kemudian bibir Ardian membalas ciuman Nayla.


Nayla semakin ingin memperdalam ciumannya, namun keinginannya terhenti saat Ayahnya datang kembali.


"Nayla." panggil Sasongko menghampiri Nayla dan Ardian.


"Ya Ayah." ucap Nayla sambil kembali duduk di kursi.


"Istirahatlah Nay, biar Ayah yang menjaga suamimu." ucap Sasongko senang melihat Ardian yang sudah sadar.


"Ayah, aku mau keluar sebentar, mau periksa keadaanku." ucap Nayla menuruti apa kata Ardian.


"Memang apa yang terjadi padamu Nay? apa kamu sakit?" tanya Sasongko dengan cemas.


"Aku tidak apa-apa Ayah, aku hanya ingin tahu kenapa Minggu terakhir ini, aku merasa lemas dan selalu mual." jelas Nayla sambil memijat tengkuk lehernya.


"Mungkin kamu hamil Nay, kapan terakhir kamu haid?" tanya Sasongko dengan hati yang sangat gembira.


"Harusnya lima hari yang lalu Ayah." ucap Nayla yang juga merasakan sesuatu pada dirinya.


"Ya sudah Nay, pergilah...siapa tahu hari ini ada kabar yang bagus, kamu hamil." ucap Sasongko sambil membelai rambut indah Nayla.


"Aamiin, aku pergi dulu Ayah." ucap Nayla pada Ayahnya, kemudian mengecup kening Ardian.


"Aku pergi Mas, doakan aku hamil ya Mas." ucap Nayla dengan wajah serius.


"Ya Nay, semoga kamu hamil sayang." ucap Ardian dengan hati dan perasaan yang sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2