
Melihat Ardian masih pingsan, Dargo segera menyuruh dua anak buahnya untuk membawa Ardian ke kamar di mana Anita yang masih tidur karena kelelahan dan pengaruh minumannya yang belum hilang.
Dengan membawa sebuah belati yang baru di beli anak buahnya Dargo masuk ke dalam kamar Anita.
"Kalian sudah memakai kaos tangan plastik kan? cepat lepas pakaian dan ikatannya Ardian, sekarang dimana ponselnya Ardian?" tanya Dargo saat melihat anak buahnya sedang membawa Ardian.
Anak buahnya mengangguk menandakan sudah melakukan semua perintah Dargo, dan salah satu anak buahnya memberikan ponselnya Ardian pada Dargo.
"Baiklah, sekarang tunggu aku menghabisi nyawa Anita dulu." ucap Dargo mendekati Anita yang telanjang tanpa memakai apapun selain selimut yang menutupinya.
Dengan tanpa hati dan perasaan Dargo menikam perut Anita tepat pada ulu hatinya. Anita meninggal tanpa ada suara selain tubuhnya mengejang sebentar kemudian tak bergerak lagi.
Membunuh tanpa ampun adalah pekerjaan yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Dargo dan anak buahnya.
Setelah memastikan Anita tidak bernafas lagi. Dargo membersihkan gagang belatinya dengan tissue.
"Cepat letakkan tubuh Ardian di atas tubuh Anita." perintah Dargo seraya menarik tangan Ardian dan di genggamankanya pada gagang belati yang menancap di perut Anita. Setelah sidik jari telapak tangan Ardian menempel pada gagang belati, Dargo menekan panggilan miscall pada nomor Priambodo setelah itu di letakkannya ponsel Ardian di atas ranjang dalam keadaan aktif.
"Ayo cepat pergi, aku yakin kapten polisi itu akan segera kemari." ucap Dargo turun dari ranjang dan mengemasi barang-barang bukti untuk di buang di tempat yang jauh.
Dengan ke empat anak buahnya Dargo melarikan diri ketempat yang jauh dari jangkauan penyelidikan Priambodo.
Tapi Dargo tidak tahu jika Priambodo sudah mengetahui kalau Dargo ikut terlibat dengan Anita atas penculikan Ardian dan sekarang di tetapkan menjadi buronan dimanapun dia berada.
***
Di kantor polisi, Priambodo yang baru selesai mendapat laporan kalau Burhan sudah datang dua jam yang lalu, segera menelepon Kenzo dan juga menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Burhan.
Setelah selesai menelepon Kenzo, Priambodo di kejutkan dengan panggilan telepon tak terjawab dari Pamannya Ardian.
__ADS_1
Dengan cepat Priambodo menelepon balik namun tidak ada yang mengangkatnya. Berkali-kali Priambodo menekan panggilan namun tetap tidak ada yang mengangkatnya.
Priambodo segera masuk keruang pelacak di mana dari alat khusus yang dimilikinya bisa mengetahui lokasi di mana Ardian berada lewat ponsel Ardian yang aktif.
"Pak Bayu tolong lacak lokasi nomor ini, kita harus secepatnya ke sana." perintah Priambodo pada Bayu dan juga memerintahkan anak buahnya yang lain untuk bersiap-siap berangkat.
"Aku yakin pasti terjadi sesuatu pada Paman, tidak mungkin tiba-tiba ponsel paman aktif dan hanya meneleponku sebentar." gumam Priambodo dengan perasaan cemas.
"Bagaimana Pak Bayu sudah menemukan titik lokasi nomor telepon tersebut?" tanya Priambodo dengan serius.
"Sudah pak, ini tempat lokasinya sudah saya print kan, dan juga sudah saya kirim ke ponsel Pak Pri." jawab Bayu dengan cepat.
"Kerja bagus, terimakasih pak Bayu." ucap Priambodo langsung memberi perintah pada anak buahnya untuk mengikutinya.
Dalam perjalanan menuju ke lokasi yang hampir dua jam, Priambodo juga menyempatkan menelepon Nayla untuk bersiap-siap menerima segala kemungkinan yang terjadi.
Sampai pada titik lokasi yang di temukan tampak sebuah rumah kosong yang sangat besar dan berhalaman luas dengan di tumbuhi pohon-pohon karet.
"Ayo kita masuk sekarang dan keluarkan anjing pelacaknya." perintah Priambodo seraya mengeluarkan pistolnya.
Dengan beberapa anak buahnya yang ikut mengikutinya dan juga anak buah lainnya yang berpencar Priambodo memasuki rumah kosong tersebut.
"Sepertinya mereka sudah tidak ada sini pak." ucap salah satu anak buahnya.
Priambodo mengawasi ke sekeliling ruangan sepertinya memang benar semuanya telah meninggalkan tempat dalam rentang waktu yang tidak lama.
"Kapten!! sepertinya ada sesuatu di kamar belakang!" teriak anak buahnya yang mengikuti anjing pelacak dengan memegang talinya.
"Kita ke sana." ucap Priambodo pada anak buah lainnya.
__ADS_1
Dengan perasaan yang was-was Priambodo mendekati kamar belakang yang pintunya terbuka lebar.
Dan sungguh hati Priambodo seperti tertusuk belati melihat Ardian yang setengah telanjang berada di atas tubuh Anita, dan keduanya tidak ada pergerakan sama sekali.
Dengan cepat Priambodo mendekati Ardian dan mengangkat tubuh Ardian yang menindih tubuh Anita.
Priambodo sangat terkejut saat melihat tubuh Anita yang membiru dengan sebuah belati yang menancap di perutnya.
"Cepat panggil ambulans!" ucap Priambodo dengan tubuh setengah gemetar karena apa yang terjadi menimpa pada Pamannya sendiri.
Dengan jantung yang hampir lepas dari tempatnya Priambodo kembali mendekati Ardian dan meraih pergelangan tangan Ardian untuk memeriksa denyut nadi Ardian.
"Syukurlah, denyut nadi paman masih ada." gumam Priambodo seraya mengambil pakaian Ardian yang tergeletak di lantai dan memakaikannya pada Ardian yang masih belum sadar.
"Bisa minta tolong bawa pamanku di ruang yang sedikit terbuka agar bisa bernafas. Dan untuk semua bukti yang mungkin ada tertinggal kalian amankan terutama belati yang menancap di tubuh korban." perintah Priambodo yang bisa mengambil satu kesimpulan saja. Ardian telah di jebak dengan dua tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan.
"Pak Hari, tolong bisa hubungi keluarga korban untuk datang ke kantor polisi." ucap Priambodo yang mencurigai Burhan dalang dari semua yang terjadi.
"Tapi apa motif Burhan sampai begitu tega menjebak Paman Ardian?" tanya Priambodo dalam hati.
"Kapten Pria! mobil ambulans sudah datang." ucap Pak Hari setelah melihat kedatangan mobil ambulans.
"Segera bawa jenazah dan Paman Ardian ke rumah sakit terdekat, aku akan segera menyusul." ucap Priambodo untuk menelepon Nayla agar segera datang ketempatnya dengan di antar salah satu anak buahnya yang sudah di beri tugas untuk menjemput Nayla.
Sambil menunggu kedatangan Nayla, Priambodo mencari bukti-bukti yang mungkin masih ada yang tertinggal seperti ada sarung ****** dan kaos tangan plastik yang dia temukan di pojok kamar.
"Pak Hari tolong simpan bukti ini, juga botol yang pecah di kamar depan siapa tahu ada sidik jari di sana." ucap Priambodo dengan dada yang terasa sesak melihat apa yang terjadi pada Pamannya yang sangat baik hatinya.
"Pria!! di mana Mas Ardian? Mas Ardian baik-baik saja kan?" tanya Nayla yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya dengan airmata yang sudah mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Tenang Nay, kita akan ke rumah sakit segera. Paman Ardian tidak apa-apa mungkin karena beberapa tidak makan dan lukanya yang tidak di obati membuat paman Ardian pingsan." ucap Priambodo menenangkan hati Nayla.
"Antarkan aku ke sana Pri, aku harus melihat keadaan Mas Ardian." pinta Nayla dengan suara tangisnya yang semakin menyesakkan hati Priambodo.