LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
CINTAMU SELUAS SAMUDERA (2)


__ADS_3

"Sebaiknya, kembalilah pada Kenzo, biar aku yang pergi.. Kenzo lebih membutuhkanmu saat ini." ucap Ardian dengan dadanya yang terasa sesak sekali.


"Mas bicara apa? aku sudah bilang pada Mas tidak akan meninggalkan Mas, kenapa sekarang Mas bilang seperti ini?" tanya Nayla menatap tak mengerti.


"Nayla, aku mencoba memahami bagaimana kalau aku dalam posisi Kenzo, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama." ucap Ardian yang sudah merasakan bagaimana rasanya mencintai dan mempertahankan.


"Tapi Mas, aku sudah mengambil keputusan dan itu jatuh padamu Mas?" ucap Nayla yang sudah dari kemarin-kemarin mencari jawabannya, dan jatuhnya pada Ardian.


"Nayla, keadaan aku dan Kenzo sekarang adalah sama, sama-sama membutuhkanmu, dan hanya satu jawaban yang harus kamu dapat, siapa yang kamu cintai sekarang? aku atau Kenzo?" Ucap Ardian dengan hati yang sakit karena Ardian sangat tahu pasti hati dan cinta Nayla hanya tertuju pada Kenzo.


Nayla terdiam, menatap wajah teduh Ardian.


"Lepas dari rasa aku mencintai pada siapa sekarang, aku memilih mu Mas, karena kamu suamiku." ucap Nayla dengan pasti.


Hati Ardian tersentuh, namun kembali pada kenyataannya, Kenzo yang tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari Nayla.


"Nayla, aku tahu kamu masih mencintai Kenzo, dan aku tahu kenapa kamu memilihku karena aku lebih dulu menjadi suamimu, dan sekarang...aku telah membebaskanmu Nay, aku akan segera mengurus surat perceraian kita, agar aku kamu bisa merawat Kenzo tanpa takut dengan status kamu yang menjadi istriku." ucap Ardian yang sangat tahu Nayla kenapa Nayla tidak memilih Kenzo karena Nayla tidak ingin mengotori hubungan suami istri dengan pria lain.


"Mas, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu tidak memberikan kesempatan padaku untuk menyadari siapa yang aku cintai, aku memilihmu karena aku berat meninggalkanmu Mas, bukan hanya karena kamu sebagai suamiku." ucap Nayla yang mencoba menjelaskan sesuatu tentang apa yang di rasakannya.


"Nayla, Kenzo juga mencintaimu , dia juga mengorbankan semuanya demi dirimu, bahkan nyawanya hari ini, aku lah yang menyebabkan semua ini terjadi, aku yang menyebabkan kamu harus berpisah dengan Kenzo, seandainya aku tidak hadir dalam kehidupan kalian berdua, kamu dan Kenzo tidak akan pernah berpisah, aku akan menebus kesalahanku ini Nay, aku akan segera mengurus perceraian kita." ucap Ardian dengan hati yang terasa hampa.


"Apa yang kamu katakan ini Mas, kenapa kamu mengingatkan aku dengan hal ini lagi, kenapa kamu tidak memberikan aku pilihan?" ucap Nayla memeluk Ardian, menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Ardian.


"Nayla dengan keputusanku ini, aku malah memberikan kesempatan padamu Nay, kesempatan pada kita semua agar tidak ada rasa bersalah di hati kita, kita terpaksa berpisah agar kamu bisa merawat Kenzo tanpa ada celaan di mata orang-orang, dengan adanya dirimu bersama Kenzo kamu akan menyadari siapa sebenarnya yang kamu cintai, jika kamu mencintai Kenzo kamu akan bahagia bersamanya, dan aku juga tidak akan ada rasa bersalah lagi, dan jika ternyata kamu tidak mencintai Kenzo datanglah padaku Nay pintu hatiku selalu terbuka untukmu." ucap Ardian dengan ikhlas merelakan cinta Nayla agar bisa memilih siapa hati yang akan di tujunya nanti.


Tangis Nayla semakin pecah, menangis sejadi-jadinya dalam dada Ardian.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi Nay, kita harus saling mengikhlaskan, mungkin inilah takdir ujian kita." ucap Ardian lagi seraya membelai puncak kepala Nayla.


"Aku hanya takut Mas, saat aku melepaskanmu aku aku tidak bisa mendapatkanmu kembali, sungguh aku tidak yakin dengan keputusan kita ini Mas." ucap Nayla yang lebih memikirkan kesehatan Ardian di bandingkan apapun.


"Percaya padaku Nay, kamu akan bisa lebih yakin untuk mengambil keputusanmu nanti jika kita resmi berpisah, jadi tidak akan ada lagi rasa bersalah di hati kita semua." ucap Ardian pasti dengan semua keputusannya.


"Tapi Mas, berjanjilah satu hal padaku, setelah kita berpisah jangan pernah menerima cinta siapapun, apalagi cinta Bu Anita." cicit Nayla yang seharusnya peka dengan apa yang di ucapankannya adalah bagian dari rasa cemburunya.


Ardian tersenyum bercampur kesedihan yang sangat.


"Aku berjanji padamu Nay, aku tidak akan menerima siapapun dalam kehidupanku selain cintamu." bisik Ardian dengan penuh perasaan.


Mendengar ucapan Ardian, entah kenapa hati Nayla merasa tenang namun dengan sejuta rasa kehampaan.


"Aku semakin berat meninggalkanmu Mas." ucap Nayla dengan sedih.


"Aku ingin memilikimu dengan utuh Nay, bukan ragamu saja tapi semua rasa dan cintamu Nay." ucap Ardian dalam hati.


Nayla tak mampu lagi berkata-kata, selain membalas pelukan Ardian dengan lebih erat.


Hampir beberapa jam, Ardian dan Nayla berpelukan dalam diam, hingga salah satu perawat mengingatkan jika Kenzo sudah di bawa ke kamar inap.


"Kita ke sana ya Nay." ucap Ardian melepas pelukannya.


Dengan saling memeluk pinggang satu sama lain, Nayla dan Ardian berjalan ke kamar inap di mana Kenzo di rawat.


Di dalam kamar Kenzo, Nayla terdiam duduk di samping Ardian yang berdiri menunggu Kenzo yang masih belum sadar.

__ADS_1


"Nay, kamu istirahat ya.. tidurlah di sofa biar aku yang menjaganya." ucap Ardian penuh perhatian walau dirinya sangat lelah dan merasakan sakit pada perutnya.


"Tidak Mas, sebaiknya Mas yang istirahat, ingat apa kata dokter, Mas tidak boleh capek dan berpikir terlalu berat." ucap Nayla yang selalu juga perhatian pada Ardian.


"Hm, kita istirahat bersama beberapa menit ya Nay." ucap Ardian yang tahu kalau Nayla juga keras kepala.


"Begitu lebih baik Mas." ucap Nayla menatap wajah Ardian yang begitu terlihat tampan dari hari ke hari.


"Ada apa Nay?" tanya Ardian saat mereka sudah duduk di sofa.


"Tidak apa-apa Mas." ucap Nayla yang malu mengatakannya.


Ardian terdiam, kemudian menyandarkan punggungnya di sofa, sungguh sangat terasa capek dan lelah, Ardian memejamkan matanya yang mulai terasa berat.


Melihat hal itu Nayla bangun dari duduknya, dan berjalan di belakang Ardian yang bersandar.


Dengan pelan, tangan Nayla memulai memijat kedua pundak Ardian dengan penuh kasih sayang.


Ardian membuka matanya perlahan saat merasakan tangan lembut Nayla yang memijat kedua pundaknya.


"Apakah sakit pijatanku Mas?" tanya Nayla dengan suara pelan.


"Hm, tidak Nayla sangat terasa nyaman, rasa lelahku jadi hilang Nay." jawab Ardian kembali memejamkan matanya, merasakan detik-detik moment yang indah bersama Nayla yang sebentar lagi bukan Istrinya lagi.


"Mas, apa mas yakin dengan keputusan ini? sebelum semuanya terlambat, jujur aku berat meninggalkanmu sendirian Mas." ucap Nayla dengan perasaan tak menentu.


"Kita harus melakukannya Nay, agar hubungan kita bisa berjalan dengan semestinya, tanpa ada tekanan dan rasa bersalah." Jawab Ardian dengan penuh keikhlasan.

__ADS_1


__ADS_2