LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
MELEPAS RASA RINDU


__ADS_3

"Antarkan aku ke sana Pri, aku harus melihat keadaan Mas Ardian." pinta Nayla dengan suara tangisnya yang semakin menyesakkan hati Priambodo.


"Berhentilah menangis Nay, kamu harus tegar demi paman Ardian. Kamu harus bisa lebih kuat saat ini karena paman Ardian sedang terlibat dengan kematiannya Anita." ucap Priambodo dengan perasaan sedih dengan apa yang telah terjadi.


"Terimakasih Pri, memang aku harus kuat saat ini. Aku tidak ingin mas Ardian merasa lebih hancur dengan semua ini." ucap Nayla seraya mengusap airmatanya.


"Ya sudah Nay, masuklah ke dalam mobil kita akan berangkat ke rumah sakit." ucap Priambodo seraya masuk ke dalam mobil.


Tiba di rumah sakit, Priambodo dan Nayla keluar dari mobil langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit di mana Ardian di rawat.


"Di sini kamarnya Nay, kamu masuklah lebih dulu. Aku akan ke dokter sebentar ingin tahu hasil pemeriksaan paman yang terakhir." ucap Priambodo meninggalkan Nayla di depan pintu kamar Ardian di rawat.


Dengan hati yang berdebar-debar bercampur rasa cemas, Nayla masuk ke dalam kamar mendekati Ardian yang terbaring diam di tempat tidurnya.


Duduk diam di samping Ardian, membuat hati Nayla menjadi sangat sedih melihat keadaan Ardian yang tampak terbaring pucat.


"Mas, apa yang terjadi padamu mas? kenapa kamu harus mengalami ujian seperti ini?" tanya Nayla menangis lirih sambil menggenggam tangan Ardian.


"Bangunlah mas, jangan membuatku takut. Aku takut kehilanganmu mas." ucap Nayla menciumi punggung tangan Ardian dengan berulang-ulang.


Perlahan kedua mata Ardian terbuka secara perlahan-lahan saat merasakan punggung tangannya basah dan juga merasakan sebuah kecupan yang berulang-ulang.


"Aiirrr." ucap Ardian dengan suara lirih setelah sekian lama baru sadar.


"Mas Ardian?" panggil Nayla dengan kedua matanya yang sembab.


"Aiirrr." ucap Ardian lagi perlahan-lahan menggerakkan tangannya menggenggam tangan Nayla.


Dengan cepat Nayla mengambil segelas air mineral dan membantu Ardian untuk minum dengan menggunakan sedotan.


"Minum seteguk lagi mas." ucap Nayla dengan hati yang sedih.

__ADS_1


Setengah sadar Ardian menatap pada wajah cantik yang sudah tidak asing lagi di hati dan di pikirannya.


"Nayla." Panggil Ardian setelah beberapa saat termangu dalam kediamannya.


"Mas Ardian, syukurlah mas Ardian sudah sadar, hiks.. hiks.. hiks." Nayla menangis di atas dada Ardian dan memeluknya dengan sangat erat.


"Nayla, syukurlah aku masih bisa melihatmu lagi." ucap Ardian yang sudah putus asa saat mengingat masih dalam sekapan Anita.


"Ya mas, aku juga sangat bersyukur mas Ardian tidak kenapa-kenapa, aku tidak bisa tidur dalam beberapa hari ini memikirkan keadaan mas Ardian." ucap Nayla di sela-sela tangisnya.


"Tapi kamu tidak sakit kan Nay? kandunganmu baik-baik saja kan?" tanya Ardian sambil menggapai perut Nayla.


Nayla berdiri dan meletakkan tangan Ardian di perutnya.


"Alhamdulillah mas, kandunganku baik-baik saja, Bunda dan Ayah selalu menguatkan aku agar tetap sabar dan kuat demi mas Ardian dan bayi kita." jawab Nayla yang tak berhenti menangis jika mengingat rasa takutnya kehilangan Ardian.


Kedua mata Ardian berkaca-kaca sangat bersyukur masih bisa melihat Nayla dalam keadaan sehat.


"Hiks... hiks.. hiks, aku juga mencemaskanmu mas, aku takut kehilanganmu..aku sangat mencintaimu mas." ucap Nayla melepas tangis kesedihannya dalam pelukan Ardian.


"Maafkan aku ya Nay, telah membuat hatimu cemas.. sekarang jangan menangis lagi semua akan baik-baik saja, aku berjanji padamu." ucap Ardian mengecup puncak kepala Nayla dengan perasaan bersalah atas kesedihan yang di alami istrinya.


"Semua belum baik-baik saja mas, Anita telah meninggal di bunuh secara keji oleh orang jahat yang bekerjasama dengan Anita." ucap Nayla yang tidak bisa menutupinya dari Ardian karena lambat laun pasti Ardian akan tahu dari Priambodo.


"Apa Nay? Anita meninggal di bunuh? oleh siapa? Bukannya Anita yang menculikku?" tanya Ardian yang belum mengerti karena di samping dia tidak sadar sepenuhnya, hanya Anita yang selalu bersamanya.


"Biar nanti Pria yang menjelaskan padamu ya mas? Pria ada di luar dan masih menyelidiki semuanya termasuk mengejar orang-orang yang bekerja sama dengan Anita." ucap Nayla mengusap airmatanya yang tersisa.


"Sepertinya ada seseorang yang ingin menjebakku Nay, aku harus bicara dengan Pri, bisa panggilkan Pri sekarang Nay?" pinta Ardian yang mulai terbebani dengan masalah barunya.


"Sebentar lagi Pria akan kesini mas, sekarang yang penting mas Ardian harus pulihkan tenaga dulu agar bisa siap menghadapi semuanya." ucap Nayla seraya mengambil semangkok bubur yang sudah tersedia di atas meja.

__ADS_1


"Ya Nay, kamu juga harus makan Nay." ucap Ardian menatap teduh wajah Nayla.


"Jangan menatapku seperti itu mas, aku jadi tidak tahan melihat tatapan mas Ardian yang teduh seperti itu." ucap Nayla menahan semua rasa rindunya.


"Karena aku merindukanmu Nay." ucap Ardian dengan suara lirih.


Nayla terdiam sejenak, kemudian berdiri meletakkan kembali buburnya di atas meja. Secara tiba-tiba, Nayla mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Ardian.


"Aku juga merindukanmu mas, sangat merindukanmu." bisik Nayla seraya menyapu lembut bibir Ardian dengan segala perasaan rindunya yang sudah tidak terbendung lagi.


Jantung Ardian terkesiap saat bibir Nayla sudah me***lum bibirnya dengan sangat intens, dalam diam Ardian membalas ku***an bibir Nayla dengan sangat lembut.


Cukup lama keduanya saling membalas ci**an demi ci**an hingga nafas keduanya saling memburu. Dengan nafasnya yang mulai sesak Nayla melepas bibirnya secara perlahan.


"Terimakasih mas, aku bahagia masih bisa merasakan ini semua." ucap Nayla dengan tersenyum.


Wajah Ardian sedikit memerah, baru di ketahuinya jika wanita yang sedang hamil libidonya begitu cepat naik dan itu sedang di alami istrinya Nayla.


"Aku juga bahagia Nay." ucap Ardian mengusap lembut pipi Nayla yang sudah mulai berisi.


"Kita lanjutkan makan ya mas?" ucap Nayla tersenyum dengan sedikit malu-malu karena sudah tidak bisa menahan rasa rindunya di hadapan suaminya.


"Tok.. Tok..Tok"


Suara pintu terketuk kemudian tampak wajah Priambodo yang terlihat muram dan berkesan menahan amarah.


"Pria? ada apa dengan wajahmu? apa ada sesuatu yang terjadi? kamu tidak membawa berita burukkan?" tanya Nayla yang membawa mangkuk bubur dengan perasaan cemas.


"Makanlah dulu Nay, setelah itu aku janji akan menceritakan semuanya pada kalian berdua." ucap Priambodo yang sekarang suasana hatinya tidak cukup baik, ingin membunuh seseorang yang telah berani menjebak pamannya.


Dengan hati yang penuh tanda tanya, Nayla dan Ardian menghabiskan buburnya dengan secepat kilat.

__ADS_1


"Sekarang ceritakan semuanya padaku Pri? apa yang terjadi? hingga kamu terlihat marah seperti ini?" tanya Ardian berusaha untuk tenang.


__ADS_2