
"Maafkan aku Nay." ucap Ardian lirih dengan kedua matanya yang perlahan mulai terpejam diam tak bergerak.
Tangan Ardian yang menggenggam erat tangan Nayla perlahan terkulai lemas. Nayla yang merasakan genggaman Ardian terlepas seketika menatap wajah Ardian yang semakin pucat dengan matanya yang terpejam rapat.
Jantung Nayla seakan terhenti seketika, syaraf otaknya sudah berpikir hal yang tidak di inginkannya. Tubuh Nayla tak bergerak terpaku menatap dalam ke wajah Ardian.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi? jangan lagi Engkau memberi ujian yang aku sudah tak mampu lagi Ya Tuhan." Isak tangis Nayla dalam hati sambil meraih lengan Ardian untuk melihat denyut nadi Ardian.
Tangis Nayla mulai terdengar, denyut nadi Ardian hampir tidak bisa Nayla rasakan, bahkan dada Ardian tidak lagi bergerak naik turun.
"Ayahhhh!! Ayahhhh toloong Mas Ardian Ayah." teriak Nayla dengan airmata yang sudah membasahi pipinya, sambil memeluk erat tubuh Ardian yang tak bergerak.
Sasongko yang di berada di belakang seketika datang dengan tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan dan tangis Nayla.
"Ada apa Nay?" tanya Sasongko dengan panik, melihat Nayla yang memeluk Ardian dengan wajah yang sudah berurai airmata.
"Ayah, bantu aku membawa Mas Ardian ke rumah sakit Ayah, ayo cepat Ayah..Mas Ardian sepertinya terkena serangan jantung Ayah." ucap Nayla sambil menangis terisak-isak.
"Ya Tuhan Nay?? bagaimana bisa Nay?? ayo cepat kita bawa ke mobil." ucap Sasongko mengangkat tubuh Ardian dengan di bantu Nayla dan di bawanya ke mobil Nayla.
"Nay, biar Ayah yang bawa mobilnya, kamu jaga suamimu saja." ucap Sasongko setelah sampai di mobil Nayla.
Nayla masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, baru Sasongko membaringkan Ardian di pangkuan Nayla.
Dengan cepat Sasongko masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Nayla yang duduk di belakang memeluk tubuh Ardian dengan sangat erat, berkali-kali Nayla mengusap wajah Ardian dan menciumi wajah Ardian dengan uraian airamata.
"Mas Ardian, aku mohon kamu harus kuat Mas, kamu jangan pergi!!..jangan tinggalkan aku sendirian Mas." ucap Nayla berulang-ulang menatap wajah Ardian yang semakin dingin dan pucat.
"Nayla, kamu tunggu di sini... Ayah akan minta bantuan." ucap Sasongko saat sudah sampai rumah sakit. Sasongko keluar dari mobil dan berlari menuju ke ruang UGD.
Tangisan Nayla tak berhenti berharap dan berdoa agar suaminya di berikan kesempatan untuk hidup lebih panjang lagi.
Nayla membuka pintu mobil saat melihat beberapa para medis datang dengan brangkar dorong.
__ADS_1
Nayla menangis pilu saat melihat Ardian di angkat dan dipindahkan ke atas brangkar dorong.
"Mohon maaf, kalau bisa salah satu pihak keluarga bisa kebagian admin untuk bisa isi formulir daftar di kantor UGD." ucap salah satu perawat sambil membantu mendorong brangkar masuk ke ruang UGD.
"Nayla, kamu jaga di sini saja Nak, biar Ayah yang daftar sekalian Ayah mau mencari Dokter Ketut." Sasongko kemudian masuk ke ruangan Admin UGD.
Nayla berdiri dan bersandar di samping pintu kamar ruang UGD, mungkin melihat kondisi Ardian yang sudah lemas kehabisan oksigen, Ardian di masukkan ke ruang khusus UGD.
Hampir satu jam Nayla berdiri, tanpa ada kabar dari dalam ruangan UGD, Nayla sedikit lega saat Ayahnya datang dengan Dokter Ketut.
"Nayla dan Pak Sasongko sebaiknya kalian menunggu sambil duduk di sana, karena saya harus memeriksa lebih lanjut Pak Adrian, karena dari hasil terakhir kemarin Ginjal Pak Ardian sudah tidak bisa berfungsi baik lagi, jadi kita harus mencari pendonor ginjal secepatnya.
Dada Nayla semakin terasa sesak mendengar penjelasan dokter Ketut.
"Apa yang harus kita lakukan Dokter?" tanya Nayla dengan airmata yang tidak bisa berhenti mengalir.
"Kita tinggal menunggu keajaiban saja, karena dari prediksi sebelumnya memang hidup Pak Ardian tidak akan lama lagi, selain ada pendonor ginjal untuk Pak Ardian kemungkinan besar nyawa Pak Ardian bisa tertolong." jelas Dokter Ketut dengan iba.
"Dokter Ketut!!" panggil dokter muda yang keluar dari ruang UGD dengan wajah pucat.
"Ada apa?" tanya Dokter Ketut dengan serius.
"Ayahhhh!! panggil Nayla pada Ayahnya dengan tubuh yang terasa lemas, sama sekali tidak ada kekuatan untuk berdiri.
"Nayla, sabar ya Nak? kuatkan hatimu." ucap Sasongko memeluk Nayla dan membawanya duduk di kursi panjang tepat di depan ruang UGD.
"Ayah, di mana lagi kita harus cari pendonor ginjal Ayah?" tanya Nayla menatap wajah Sasongko yang susah terlihat lelah.
"Dokter Ketut sudah membantu mencari Nay, bahkan Dokter Ketut minta bantuan rumah sakit yang di kota." jawab Sasongko dengan kesedihan mendalam.
"Drrrrttt...Drrrrttt... Drrrrttt"
"Nay, ponsel kamu berbunyi nak." ucap Sasongko saat mendengar suara ponsel berbunyi dari tas Nayla.
Dengan berat hati, Nayla mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dan melihat ada nama Zanna di sana.
__ADS_1
"Hallo Zan." ucap Nayla sambil menghapus airmatanya.
"Nayla, ini Kenzo mau bicara sebentar denganmu." ucap Zanna di sana.
Nayla terdiam menunggu Kenzo bicara.
"Hallo Nayla." sapa Kenzo dengan suara penuh rindu di sana.
"Ya Ken, ada apa? kamu baik-baik saja kan?" tanya Nayla yang sudah berhutang budi pada kebaikan Kenzo.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Pak Ardian? bagaimana keadaannya sekarang Nay?" tanya Kenzo tulus di sana.
"Sudah Ken, aku sudah bertemu dengan Mas Ardian, tapi keadaannya tidak baik sekarang, kata Dokter hidup Mas Ardian tidak lama lagi jika tidak mendapat donor secepatnya." ucap Nayla kembali dengan tangisannya.
Hati Kenzo terasa sakit, ikut merasakan kesedihan Nayla wanita yang sangat di cintainya.
"Aku ikut bersedih Nay, aku doakan semoga Pak Ardian cepat sembuh dan segera mendapatkan donor ginjal ya Nay." ucap Kenzo dengan suara pelan.
"Trimakasih doanya Ken." ucap Nayla merasa terharu dengan perhatian Kenzo.
"Ya sudah Nay, jaga dirimu baik-baik ya Nay." ucap Kenzo kemudian menutup teleponnya.
"Apakah Kenzo yang menelponmu Nay?" tanya Sasongko sedikit kuatir jika Nayla masih mencintai Kenzo.
"Ya Ayah, dia tanya keadaan Mas Ardian." ucap Nayla yang sedikit terusik dengan cara bicara Kenzo yang tidak biasanya.
"Apa kamu masih mencintainya Nay?" tanya Sasongko dengan hati-hati takut jika Nayla tersinggung.
"Tidak Ayah, aku sudah tidak mencintainya lagi, aku hanya mencintai Mas Ardian sekarang Ayah." ucap Nayla dengan perasaan yang penuh rindu pada Ardian.
"Syukurlah Nay, kalau kamu sudah menetapkan hatimu untuk suamimu." ucap Sasongko dengan hati lega.
"Ayah jangan kuatir lagi, tidak ada lagi di hatiku selain Mas Ardian Ayah." ucap Nayla dengan tersenyum sedih.
Setelah hampir satu jam menunggu, tampak dokter Ketut keluar dengan wajah sedih.
__ADS_1
Jantung dan hati Nayla berdetak sangat cepat.
"Ya Tuhan, jangan beri hambamu Ujian di luar kemampuanku, aku mohon Ya Tuhan." jerit suara hati Nayla dengan airmata berlinang.