
"Sekarang ceritakan semuanya padaku Pri? apa yang terjadi? hingga kamu terlihat marah seperti ini?" tanya Ardian berusaha untuk tenang.
"Aku mendapat kabar dari kantor, kalau keluarga Anita menuntut paman agar di penjara sementara atas kematian Anita, karena di pisau yang menancap di perut Anita ada sidik jari paman, keluarga Anita menyewa pengacara ternama dari kota." ucap Priambodo seraya memijat tengkuk lehernya yang terasa sakit.
Ardian yang sama sekali tidak ingat apapun hanya bisa berdiam diri.
"Pri, yang aku ingat aku hanya bertemu dengan Anita di rumah sakit, setelah itu aku terbangun di sebuah kamar dan ada Anita di situ yang ingin mengajakku bercinta. Saat itu aku antara sadar dan tidak, tapi aku selalu menolak Anita sampai dia mengancam akan membunuh Nayla. Aku hanya ingat hal itu saja." ucap Ardian berusaha untuk tenang.
"Aku sudah menemukan bukti-bukti yang masih harus di periksa paman, jalan keluar satu-satunya untuk menunjukkan bukti itu dengan menangkap pembunuh Anita yang sebenarnya, mereka adalag Dargo dan anak buahnya yang jelas-jelas bersama Anita saat menculik paman. Dan Dargo adalah kaki tangan Burhan. Paman, apa paman ada bermusuhan sebelumnya dengan Burhan?" tanya Priambodo yang ingin tahu dengan alasan apa Burhan sampai ingin menghancurkan pamannya.
"Burhan itu ayah Kenzo, jika semua ini karena Kenzo hingga membuat Burhan balas dendam, kenapa pada paman? kenapa bukan pada Nayla?" tanya Priambodo lagi, pertanyaan demi pertanyaan yang sama sekali belum bisa di jawab oleh Ardian.
Ardian terdiam hanya berpikir untuk mengingat sesuatu yang bisa mengurai masalahnya yang cukup rumit.
"Intinya dari aku pribadi, aku tidak ada masalah dengan Burhan. Selain kita sama-sama di ajukan sebagai calon kades, dan aku memang pernah dengar dari Anita kalau Burhan dulu pernah menjadi pacarnya dan tidak berlanjut itu saja. Kalau mengenai Kenzo bisa jadi Burhan kesal sama Nayla yang pernah menyakiti hati Kenzo dan untuk menyakiti hati Nayla mungkin Burhan menggunakan aku untuk di jadikan korban." ucap Ardian setelah berpikir secara matang.
"Jadi kemungkinan besar banyak alasannya hingga Burhan nekat untuk balas dendam pada paman." gumam Priambodo yang sudah menemukan titik terang dari semua yang terjadi.
"Dan karena Anita yang juga kecewa dengan paman, akhirnya bekerjasama dengan Burhan dengan menyewa jasa Dargo sebagai pelaksananya. Dan sekarang semua kunci jawaban hanya pada Dargo, aku harus menemukan Dargo secepatnya, karena bisa jadi Burhan punya pikiran untuk menghabisi Dargo dan anak buahnya." ucap Priambodo lagi dengan tangan terkepal.
"Kamu benar Pri, kamu harus cepat-cepat mencari Dargo. Aku tidak mau mas Ardian sampai di tahan hanya karena tuntutan dari keluarga Anita." ucap Nayla dengan wajah sedih.
"Kamu jangan sedih Nay, yakinlah semua badai pasti berlalu." ucap Ardian meraih punggung Nayla dan memeluknya.
__ADS_1
"Ya mas, tapi aku tidak membayangkan bagaimana jadinya kalau mas Ardian jadi di tahan di kantor polisi sebagai tersangka atas Kematiannya Anita? perasaanku takut jika itu terjadi seperti itu mas." ucap Nayla menggenggam tangan Ardian dengan rasa ketakutan yang mendalam.
Ardian terdiam tidak mampu lagi bicara apa-apa untuk bisa menenangkan hati Nayla selain memeluknya lebih erat lagi.
"Paman, aku harus ke kantor sekarang. Aku akan menemui pengacara keluarga Anita yang tetap kukuh meminta paman untuk di masukkan ke penjara. Aku berharap paman tidak sampai di penjara sampai masalah kematian Anita terungkap, tapi hal itu kemungkinannya sangat kecil sekali karena ini kasus tindak pidana." ucap Priambodo dengan perasaan sedih setelah mendapat pesan dari wakilnya di kantor.
"Jalankan saja tugasmu dengan baik sesuai dengan proses dan prosedur yang benar Pri, aku tidak apa-apa kalau memang hal itu nanti harus kamu lakukan." ucap Ardian dengan berusaha lebih sabar untuk menghadapi ujian yang di hadapinya sekarang.
"Terimakasih Paman, aku berjanji aku akan mencari Dargo secepatnya agar paman terbebas dari segala tuduhan ini." ucap Priambodo menatap Ardian dengan serius.
"Aku pergi dulu Paman, Nayla jaga paman baik-baik." ucap Priambodo kemudian keluar dari kamar Ardian.
***
"Sekarang sudah sangat jelas saudara Ardian berada di kamar dengan saudari Anita dalam keadaan sama-sama tidak berpakaian, dan sudah ada sidik jari saudara Ardian di pisau itu, dari bukti itu sudah cukup untuk bisa menahan saudara Ardian." ucap Arifin sebagai pengacara keluarga Anita.
"Sebentar pak Arifin kira tunggu kapten Pria akan datang sebentar lagi." ucap Hari yang tidak pandai berkata-kata.
"Kemana memang kapten Pria? apa ini bisa di katakan benar? di jam kerja malah pergi untuk menjaga pamannya?" ucap Arifin dengan nada menekan dan mengejek.
"Siapa yang mengatakan aku aku tidak bekerja pada saat jam kerja?" ucap Priambodo yang baru datang dan mendengar ucapan Arifin yang membuat telinga Priambodo panas seketika.
Arifin yang tidak tahu kedatangan Priambodo seketika diam apalagi melihat penampilan Priambodo yang tinggi tegap dan kekar juga mempunyai wajah tampan dan terlihat keras.
__ADS_1
"Bisa katakan sekarang alasan saudara sampai bicara seperti itu?" tanya Priambodo dengan tatapan tajam.
"Yaa..karena dari tadi saya menunggu pak Pria belum datang juga, dan pak Hari bilang sedang di rumah sakit melihat saudara Ardian." ucap Arifin memberanikan diri membalas ucapan Priambodo walau dalam hatinya hampir saja down.
"Pak Arifin tahu siapa saudara Ardian?" tanya Priambodo lagi dengan tatapannya yang tak lepas sedikitpun dari kedua mata Arifin.
"Pamannya Pak Pria." jawab Arifin dengan singkat.
"Brakkkkk"
Priambodo menggebrak mejanya dengan cukup keras sehingga membuat jantung Arifin loncat keluar.
Arifin sama sekali tidak menyangka di balik ketampanan seorang Priambodo ternyata berjiwa monster.
"Saudara Ardian selain paman saya dia juga korban di sini, atau bisa juga menjadi tersangka jadi saya kesana untuk menjalankan tugasku yang ada kaitannya dengan kematian saudara Anita, yang sekarang menjadi kasus anda. Bukankah benar seperti itu pak Arifin?" tanya Priambodo yang sudah kesal hatinya menjadi lebih kesal dengan ucapan Arifin.
Arifin terdiam menelan air ludahnya dengan perasaan yang mulai takut melihat bagaimana kemarahannya Priambodo.
"Aku minta maaf, aku tidak berpikir ke arah sana." ucap Arifin yang mengutuki kebodohannya sendiri.
"Itu lebih baik, jika tidak saya akan menuntut anda karena sudah mencemarkan nama baik saya sebagai polisi." ucap Priambodo dengan suara penuh tekanan.
"Sekarang katakan, apa tujuan pak Arifin kemari?" tanya Priambodo seolah-olah tidak tahu.
__ADS_1
"Aku ingin saudara Ardian di penjara sementara sampai masalah ini jelas, karena ada bukti sidik jari di pisau yang menancap di tubuh saudara Anita." ucap Arifin menatap Priambodo dengan serius.