
"Maaf Bu Anita, saya sekedar memberitahu pada Bu Anita kalau Sahabat Bu Anita itu telah menikah, dan lagi saya tidak habis pikir..saya kira Bu Anita sudah mengikhlaskan Mas Ardian untuk hidup bahagia dengan orang yang di cintainya, tapi kenapa dari kemarin Bu Anita selalu mengejar suami saya? apa tujuan Bu Anita? Mas Ardian sudah mempunyai istri Bu, dan tolong hargai pilihan Mas Ardian jika memang Bu Anita sahabat yang baik, dan satu lagi saya bukan hanya cemburu, tapi saya punya hak untuk menjaga suami saya dari perempuan seperti Bu Anita." ucap Nayla dengan suara pelan tapi penuh tekanan.
Setelah bicara yang sekiranya di anggap perlu, Nayla mengakhiri panggilannya Anita dan memblokir nomor kontak Anita.
"Ini Mas ponselnya." ucap Nayla dengan dada yang terasa sesak memberikan ponselnya pada Ardian.
Entah apa dia harus marah pada Ardian atau tidak yang pasti di hatinya sekarang ada rasa cemburu dan rasa takut akan kehilangan.
"Kamu mau kemana Nay?" tanya Ardian saat melihat Nayla hendak keluar kamar.
"Mau menenangkan diri sebentar Mas." jawab Nayla dengan jujur.
"Jangan kemana-mana Nay, tetaplah di sini bersamaku, tidak akan baik bagimu mencari ketenangan diri di luar, selain kamu tetap di sini bersamaku yang akan menenangkan hatimu." ucap Ardian menarik pelan lengan Nayla dan merengkuhnya dalam pelukannya.
Nayla terdiam, apa yang di katakan Ardian sangat benar adanya.
"Aku tidak tidak yakin, kalau aku di sini akan tenang Mas, saat aku bersamamu aku masih teringat Bu Anita yang sama sekali tidak menghargai kamu Mas, aku tidak tahu bagaimana dia begitu berani padamu, apa karena Mas Ardian terlalu sabar padanya." ucap Nayla yang kembali emosi.
Ardian Menenggelamkan kepala Nayla dalam dadanya, agar Nayla bisa mendengarkan detak jantungnya.
"Apa kamu mendengar detak jantungku Nay? detak jantung itu berdegup sangat kencang hanya saat aku berada di dekatmu, karena aku sangat mencintaimu Nay, tidak ada yang lain." ucap Ardian sambil membelai rambut Nayla.
Nayla memejamkan matanya, menyelami apa yang di ucapkan Ardian, hanya sedikit menenangkan hatinya.
"Mas, apa sikapku tadi keterlaluan? jawab jujur ya Mas, karena aku tahu Bu Anita telah banyak membantu Mas Ardian." ucap Nayla dengan emosi yang masih belum mereda.
"Sama sekali tidak Nay, apa yang di tanam Anita dia telah mendapatkan hasilnya." ucap Ardian seraya mengusap punggung tangan Nayla.
__ADS_1
"Tapi Bu Anita teman kamu Mas, dan apa Mas Ardian marah padaku karena telah memblokir nomor teleponnya?" tanya Nayla dengan tatapan yang serius.
"Dengar Nayla, lakukan apa yang menurutmu baik untuk menyelamatkan rumah tangga kita, aku tidak akan marah dengan apa yang kamu lakukan." ucap Ardian merasa bersalah, mungkin karena dirinya yang memang terlalu sabar hingga Anita bersikap seperti itu.
"Aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita sendirian Mas, selagi Mas Ardian tetap sabar dengan sikap Bu Anita seperti itu, selamanya Bu Anita akan bersikap seperti itu." ucap Nayla dengan kecemburuan yang sangat kentara.
"Apa yang kamu katakan benar Nay, kita berdua akan mempertahankan rumah tangga kita, kamu dan aku. Sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar Anita tidak bersikap seperti itu padaku?" tanya Ardian menangkup wajah Nayla dengan tatapan yang teduh.
Nayla terdiam, tidak tahu menjawab apa atas pertanyaan Ardian.
"Kenapa Diam Nay? beri aku saran..aku harus bagaimana agar Anita bisa sadar dan tidak bersikap berani padaku?" tanya Ardian lagi yang tetap menatap lembut wajah Nayla.
"Aku tidak tahu Mas, yang terpenting aku tidak mau Mas dekat-dekat dengan wanita lain, atau perhatian pada wanita lain, aku tidak mau Mas Ardian terlalu sabar pada mereka ataupun tersenyum pada mereka." ucap Nayla dengan suara penuh emosi dan nafas yang memburu menahan cemburu yang kembali membuncah.
Dengan cepat Ardian merengkuh erat dan mengecup puncak kepala Nayla berkali-kali.
Saat tersadar dengan emosinya yang tinggi, Nayla ingin menangis, merasa malu dan marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa menahan rasa cemburuku ini, sepertinya aku tidak bisa menyikapinya dengan secara dewasa Mas." ucap Nayla Menenggelamkan kepalanya di dada Ardian.
"Tidak apa-apa Nay, aku senang melihatmu yang cemburu seperti itu tadi, sangat lucu dan menggemaskan." ucap Ardian menyentuh bibir Nayla yang sedikit manyun namun sangat indah di pandang mata.
Wajah Nayla bersemburat merah mendengar ucapan Ardian, kemudian perlahan tampak sebuah senyuman di bibir Nayla.
"Ngaco, aku lagi marah Mas? bukan melucu?" ucap Nayla dengan bibir yang mengerucut.
"Hm, boleh tahu tidak? istri siapa ini kalau marah malah membuatku semakin jatuh cinta?" tanya Ardian berpura-pura bertanya pada Nayla yang masih cemberut karena malu.
__ADS_1
"Mas Ardian...!!! jangan di teruskan, aku malu Mas!!" cicit Nayla merasakan hatinya sudah mulai membaik setelah mendengar candaan Ardian.
"Apa hatimu sudah membaik sekarang Nay?" tanya Ardian dengan menangkup wajah cantik Nayla.
"Hm iya Mas, terimakasih telah menenangkan hatiku." jawab Nayla tersenyum malu.
"Syukurlah, aku senang sudah bisa melihat senyum cantik istriku lagi...kita berangkat sekarang ke rumah sakit ya Nay? kita sudah sedikit terlambat sayang." ucap Ardian mengusap wajah Nayla dan mengecup bibir nya dengan lembut.
"Maafkan aku ya Mas." ucap Nayla dengan hatinya yang berdebar-debar indah.
"Tidak Nay, aku yang harusnya minta maaf padamu karena telah membuat hatimu terluka dan cemburu." bisik Ardian seraya mengecup puncak kepala Nayla dengan penuh perasaan.
"Sudah tidak lagi Mas, aku sudah tenang sekarang." ucap Nayla tersenyum dengan wajah memerah kemudian bangun dari duduknya dan berkaca sebentar untuk menyamarkan matanya yang sembab dengan polesan bedak.
Dengan suasana hati yang sudah tenang, Nayla dan Ardian berangkat ke rumah sakit untuk kontrol hasil operasi ginjal Ardian yang terkadang masih nyeri saat di buat duduk atau berjalan agak lama.
Tiba di rumah sakit Ardian di periksa secara intens oleh dokter Ketut yang menangani operasi ginjal Ardian.
"Hati-hati ya Pak Ardian, untuk sementara waktu Pak Ardian di larang keras melakukan pekerjaan yang berat." jelas Dokter Ketut setelah membaca hasil pemeriksaannya.
Setelah selesai menemui dokter Ketut dan keluar dari rumah sakit, Ardian minta izin sebentar pada Nayla untuk ke kamar kecil.
"Jangan lama-lama ya Mas?" ucap Nayla yang sudah di dalam mobil.
Ardian tersenyum kemudian kembali masuk ke dalam rumah sakit, tanpa menyadari ada lima orang preman yang sedang mengawasinya dengan tatapan mata yang tajam.
"Kita lakukan sekarang!" ucap Dargo dengan sebuah senjata api di balik jaketnya.
__ADS_1