LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
SKENARIO BURHAN DAN ANITA (1)


__ADS_3

"Kita lakukan sekarang!" ucap Dargo dengan sebuah senjata api di balik jaketnya, mengendap-endap mengikuti Ardian yang berjalan ke arah toilet.


Ardian masuk ke dalam toilet pria, selang beberapa menit Ardian keluar dari kamar toilet dengan nafas terasa lega.


"Ardian!!" tiba-tiba dari arah kanan tampak Anita berjalan menghampiri Ardian dengan wajah yang menggoda.


"Ardian kamu ada di sini?" tanya Anita setelah sampai di hadapan Ardian seolah-olah terkejut.


"Ya, aku habis kontrol." jawab Ardian sambil menatap jam di tangannya.


"Maaf Nita, aku harus cepat kembali." ucap Ardian yang tidak ingin membuat Nayla kuatir.


Namun belum lagi Ardian berbalik Anita menyemprotkan sesuatu ke wajah Ardian.


Tidak ada kesempatan buat Ardian untuk berbicara karena matanya tiba-tiba terasa gelap dan tak sadarkan diri.


"Ayo cepat bawa ke mobil" ucap Anita pada anak buah Dargo yang sudah menahan tubuh Ardian di belakang.


Dengan di apit dua orang dan serta Anita dan Dargo ada di depan, mereka membawa Ardian lewat pintu samping dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


"Kita langsung ke markas." Ucap Dargo sambil melirik Anita yang berpenampilan sangat seksi.


Tiba di markas Dargo memerintahkan anak buahnya mengangkat Ardian untuk membawanya masuk ke dalam markas dengan mengikat kedua tangan Ardian pada sebuah tiang.


Anita yang melihat Ardian yang belum sadar tidak bisa menahan keinginannya untuk memeluk dan mencium bibir Ardian yang sudah lama dia inginkan.


"Anita, lakukan itu nanti di saat kalian berdua sendiri... sekarang kita bicarakan dengan kesepakatan yang kita buat, kalau kamu akan membantuku menjadi kepala desa dalam waktu dekat ini." ucap Burhan yang tiba-tiba sudah ada di belakang Anita saat hendak mencium Ardian.


"Sial, tidak bisakah kamu tidak mengagetkan aku Burhan." ucap Anita dengan nada kasar yang ternyata Burhan adalah kakak kelas Anita saat SMA di kota A.


"Bukan aku yang mengagetkan kamu, tapi kamu terlalu fokus dengan Ardianmu." sahut Burhan dengan tatapan tidak senang karena saat SMA Burhan pernah menjalin hubungan dengan Anita.


"Itu bukan urusanmu! dan aku tidak mau kalau Ardian kamu ikat di tiang seperti ini, aku ingin sebuah kamar khusus untuk Ardian agar aku bisa menggodanya dengan obat perangsang yang sudah aku beli." ucap Anita dengan sinar mata penuh gairah.

__ADS_1


"Terserah padamu, bilang saja pada Dargo untuk menyiapkan kamar di tempat belakang." ucap Burhan dengan nada cemburu.


"Sekarang cepat telepon teman kamu untuk bisa membuat aku terpilih menjadi kepala desa, karena hanya tinggal keputusan dari pusat yang bisa membuat aku terpilih." ucap Burhan sambil memberi kode Dargo untuk membawa Ardian ke kamar belakang.


"Baiklah, aku akan menelepon temanku sekarang." ucap Anita seraya mengambil ponselnya dari dalam tasnya, kemudian pergi mengikuti Ardian sambil menelepon temannya.


Burhan tersenyum licik dengan tatapan matanya seperti harimau yang sedang kelaparan.


"Lihat saja Anita, kamu dulu pernah mempermainkan hatiku sekarang aku yang akan mempermainkan dirimu." gumam Burhan yang berniat mengkhianati Anita dengan memperkosa Anita di saat setelah dia terpilih menjadi Lurah desa, karena Burhan tidak ingin kalau Ardian yang akan terpilih lagi menjadi Lurah.


***


Di dalam mobil Nayla menunggu dengan gelisah karena Ardian yang pamit sebentar ke toilet belum kembali juga.


Beberapa kali Nayla telepon, ponselnya tidak aktif.


"Kamu di mana Mas? sudah hampir dua jam aku menunggumu." gumam Nayla yang sudah mencarinya di dalam rumah sakit namun tidak menemukannya.


Dengan perasaan hati yang tidak menentu, Nayla berusaha menelepon Pria yang sedang ada tugas di kota.


"Ya Nay, ada apa? sepertinya kamu sedih?" tanya Pria menjadi cemas.


"Mas Ardian sepertinya menghilang, perasaanku mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Mas Ardian." ucap Nayla sambil menggigit bibirnya karena panik.


"Tenang ya Nay, kamu di mana sekarang?" tanya Pria berusaha tenang.


"Aku berada di rumah sakit desa di parkiran mobil?" jawab Nayla dengan dengan tangisnya yang lirih.


"Sebaiknya kamu cepat keluar dari mobil dan tunggu di pos satpam rumah sakit, sekarang juga aku akan ke sana." ucap Pria seraya menutup ponselnya.


Mendengar perintah Pria yang terlihat serius, Nayla segera keluar dari mobil berjalan dengan cepat ke tempat pos satpam rumah sakit.


Sambil menunggu kedatangan Pria, Nayla menceritakan semuanya pada Kepala satpam yang bernama Suyadi.

__ADS_1


"Begitulah ceritanya Pak, sampai sekarang suami saya belum kembali setelah minta izin ke toilet." jelas Nayla dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Posisi mobil Mbak Nayla ada di tempat parkir sebelah mana?" tanya Suyadi dengan sangat serius.


"Di parkiran samping rumah sakit pak." jawab Nayla dengan hati yang tidak tenang.


"Baiklah, bisakah Mbak Nayla mengirim foto Psk Ardian? agar bisa saya bagikan ke anak buah saya untuk mencarinya di sekitar rumah sakit." ucap Suyadi sambil mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomor ponselnya pada Nayla.


"Baik pak, akan saya kirim sekarang." ucap Nayla sambil mencari foto Ardian setelah memasukkan nomor Suyadi.


Setelah menemukan foto Ardian yang jelas, segera di kirimkannya ke nomor pak Suyadi.


"Oh..kalau ini saya tahu Pak Ardian kepala desa Gading ya? jadi yang hilang Pak Ardian?" tanya Suyadi tak percaya kemudian segera mengirim foto Ardian ke beberapa anak buahnya agar segera mencarinya di sekitar rumah sakit.


"Ya pak Suyadi, pak Ardian memang suami saya mantan kepala desa Gading." ucap Nayla dengan perasaan sedih karena sudah hampir sore Ardian juga belum mengabarinya.


"Nayla." panggil Pria yang sudah berada di pintu masih memakai seragam lengkapnya karena tidak sempat mampir ke rumah.


"Kapten Pria?" sapa Suyadi yang sangat tahu kalau Pria yang sekarang memegang kantor kepolisian desa Gading.


"Ya pak dengan pak Suyadi ya?" tanya Pria setelah membaca tag nama Suyadi di seragamnya.


"Ya Pak Kapten, saya Suyadi kepala satpam rumah sakit di desa Gading ini." jawab Suyadi dengan sedikit tegang.


"Pak Suyadi, bisa membantu saya untuk memperlihatkan cctv mana saja yang terpasang di rumah sakit ini?" tanya Pria dengan serius.


"Maaf sebelumnya Kapten, di rumah sakit sini masih belum terpasang cctv kapten." jawab Suyadi dengan tegas.


Pria terdiam sambil menekan pelipis matanya.


"Pak Suyadi, sudah mengerahkan anak buah pak Suyadi kan?" tanya Pria pada Suyadi.


"Sudah saya lakukan Kapten, tinggal menunggu laporan dari mereka." jawab Sayudi yang memberikan waktu pada anak buahnya selama dua jam untuk mencari Ardian.

__ADS_1


"Nayla, untuk sementara sebaiknya kamu pulang ke rumah orangtua kamu, akan sangat bahaya buat kamu kalau apa yang aku pikirkan ternyata benar." ucap Pria yang punya pikiran kalau hilangnya Ardian ada hubungannya dengan pemilihan kepala desa Gading yang baru.


__ADS_2