LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
KERINDUAN KITA


__ADS_3

"Baguslah, kalau ponakan Mas mau tinggal di rumah lama, paling tidak ada yang menjaga rumah lama selain Bik Ummah, iya kan?" ucap Nayla dengan tersenyum.


"Masalahnya, ponakan datang karena memegang amanah yang aku berikan Nayla." ucap Ardian kebingungan.


"Sudah Mas, aku tahu maksudmu kamu ingin dia menjagaku di saat Mas Ardian berpikir hidup tidak akan lama, tapi takdir berkata lain Mas masih ada untuk bisa menjagaku." ucap Nayla mulai belajar untuk memahami suatu masalah.


"Mungkin aku harus menjelaskan padanya, karena dia ke sini belum tahu kalau aku sudah sehat." ucap Ardian sedikit merasa bersalah seolah mempermainkan perasaannya.


"Terus Mas Ardian tahu darimana kalau ponakan Mas sudah datang?" tanya Nayla dengan heran.


"Dari Bik Ummah, tapi Bik Ummah tidak berani bilang padanya Nay." jawab Ardian sambil membetulkan posisi duduknya karena perutnya terasa nyeri.


"Apa sakit perutmu Mas?" tanya Nayla seraya menaikkan kaos atasan Ardian untuk melihat jahitan Ardian pasca operasi ginjalnya.


"Sedikit nyeri Nay, mungkin pengaruh obat anti nyerinya sudah habis." ucap Ardian sedikit meringis saat Nayla menyentuh perbannya.


"Perbannya masih rapi Mas, mungkin saja memang sudah habis obat anti nyerinya." ucap Nayla yang tiba-tiba mengecup perut Ardian dengan penuh perasaan.


Hati Ardian berdesir hangat dengan kecupan Nayla yang begitu tiba-tiba pada perutnya.


"Bagaimana Mas, apa masih sakit?" tanya Nayla menatap wajah Ardian dengan tatapan lembut.


Ardian tersenyum dengan tatapan sedikit nakal.


"Sudah tidak sakit Nay, tapi yang bawah jadi sedikit sakit." ucap Ardian dengan wajah memerah.


"Hm, mulai nakal ya Mas? sini aku cium juga biar sakitnya hilang." ucap Nayla dengan gemas pagi-pagi Ardian sudah membuatnya berhasrat tinggi walau hanya dengan ucapan Ardian saja.


Ardian tertawa lirih dengan wajah bahagianya.


Nayla menatap wajah Ardian tak bergeming hatinya semakin meleleh dengan tawa lirih Ardian yang begitu sedap di pandang mata.


"Tertawa lah lagi Mas, aku ingin melihatnya, Mas Ardian sangat tampan dengan tertawa seperti itu." pinta Nayla dengan perasaan hati yang semakin mencintai Ardian.

__ADS_1


"Mau di beri apa, kalau aku tertawa lagi Nay?" tanya Ardian semakin blushing dengan pujian Nayla.


"Aku cium yang sakit tadi." Jawab Nayla tersenyum menggoda menatap Ardian seraya mengusap lembut wajah Ardian


Ardian memejamkan matanya merasakan kelembutan jari-jari lembut Nayla yang mengusap pipinya berulang-ulang.


"Bagaimana aku bisa tertawa lagi, kalau kamu membuatku lemah Nay?" ucap ardian menatap sendu wajah Nayla dengan usapan lembut Nayla yang semakin membuat juniornya yang bawah mulai mengeras.


"Lemah kenapa Mas?" tanya Nayla mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Ardian tanpa jarak sedikitpun.


"Aku lemah untuk bisa menahan keinginanku Nay." ucap Ardian dengan suara bergetar.


"Mas Ardian masih sakit, tidak bisa bergerak dengan bebas." ucap Nayla dengan suara lirih sambil menatap bibir Ardian yang begitu menggodanya dan tak ingin melepasnya begitu saja.


"Ya Nay, mungkin beberapa Minggu aku harus berbaring seperti ini, merindukanmu dengan besarnya keinginannku." bisik Ardian menatap kedua mata Nayla dengan tatapan sayu dan sendu.


"Akan aku penuhi keinginanmu Mas, agar kamu tidak menahan kerinduan yang menyiksamu, aku tidak akan membiarkan suamiku menderita karena kerinduannya." ucap Nayla membalas tatapan Ardian dengan penuh cinta.


"Hasratku tidak terlalu penting Mas, yang terpenting kamu tidak merasa kesakitan lagi." ucap Nayla dengan mengecup lembut bibir Ardian yang basah dan begitu sangat menggodanya.


Hati Ardian kembali meleleh dan terharu dengan perhatian dan rasa cinta Nayla yang begitu besar padanya.


"Aku bahagia Nay, sangat bahagia.. trimakasih dengan cintamu yang begitu besar." ucap Ardian dengan perasaan haru.


"Tidak sebesar rasa cinta Mas Ardian padaku yang rela memberikan ginjal Mas pada Ayah dan membiayai aku saat kuliah, aku sangat berterimakasih akan hal itu, apalagi dengan kesabaran cinta Mas Ardian yang begitu besar padaku... sungguh aku rasa cintaku tidak bisa di bandingkan dengan rasa cinta Mas Ardian." ucap Nayla dengan airmata bahagia yang mengalir di pipinya.


"Nayla, sstttt...jangan menangis lagi kita harus bahagia dengan perasaan cinta kita ini ya." ucap Ardian mengusap lembut airmata yang membasahi wajah Nayla.


"Hiks.. hiks...hiks..ya Mas, maafkan aku harusnya aku bahagia dengan hubungan kita yang sekarang, maafkan aku ya Mas." ucap Nayla seraya menghapus airmatanya.


"Hem, perasaan tadi... istriku bilang kalau ingin membahagiakan aku dengan melayaniku hasratku, apa itu masih berlaku ya." ucap Ardian tersenyum dengan tatapan menggoda.


Wajah Nayla seketika memerah yang telah lupa akan ucapannya.

__ADS_1


"Ya...ya Mas, aku ingat kok, jangan tatap aku seperti itu lagi." ucap Nayla dengan perasaan malu.


"Kenapa Nay?" tanya Ardian dengan suara parau dan tatapan yang sangat teduh.


"Membuat hasratku juga naik Mas." jawab Nayla dengan gugup.


"Kita akan melakukannya Nay, kalau kamu juga menginginkannya." ucap Ardian menatap Nayla dengan iba karena masih belum bisa memenuhi keinginan Nayla.


"Tidak apa-apa Mas, aku akan bersabar asal Mas sembuh lebih dulu, sekarang giliran aku dulu yang akan memenuhi keinginan Mas Ardian." ucap Nayla mengecup lembut bibir lembab Ardian, kemudian beralih pada bagian bawah milik Ardian.


"Nayla, kalau nanti itu membuatmu merasa mual jangan kamu lakukan ya, kasihan bayi kita nanti." ucap Ardian yang kuatir kalau-kalau Nayla akan merasa jijik muntah.


"Jangan kuatir Mas, sepertinya bayi kita sangat menyayangimu Mas, aku sudah tidak sabar untuk menyentuhnya." ucap Nayla dengan hasratnya yang sering naik semenjak dia hamil.


"Ya Nay, trimakasih ya sayang." ucap Ardian baru pertama kalinya memanggil Nayla dengan panggilan sayang.


"Katakan sekali lagi Mas, aku bahagia mendengarnya." ucap Nayla tersenyum bahagia.


"Terimakasih banyak istriku sayang." ucap Ardian tersenyum dengan wajahnya yang sedikit memerah karena harus ekstra menambah keberaniannya saat mengatakannya.


Hati Nayla tengelam sedalam-dalamnya pada telaga cinta Ardian.


Dengan penuh kasih sayang Nayla memulai tugasnya membuka perlahan resleting celana Ardiam kemudian melepasnya dengan hati-hati.


"Sudah mengeras Mas, pasti sakit rasanya ya kan Mas?" tanya Nayla dengan suara pelan.


"Ada apa Nay, apa itu sangat mengganggumu sayang?" tanya Ardian penasaran.


"Aku tidak menyangka saja Mas, saat malam pertama kita, aku sepertinya tidak dalam keadaan sadar." ucap Nayla yang masih terpaku dengan apa yang di lihatnya.


"Nay, sepertinya ada yang mengetuk pintu? apa itu Ayah atau Bik Ummah?" tanya Ardian yang sedikit panik dengan keadaannya.


"Akan aku lihat dulu ya Mas." ucap Nayla sembari menutup tubuh Ardian dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2