LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
PENANGKAPAN BURHAN (1)


__ADS_3

"Mas, apa sebaiknya kita pulangnya tunggu keputusan dari dokter dulu, aku takut kalau masih terjadi sesuatu infeksi pada jahitannya?" tanya Nayla sambil melihat jahitan di perut Ardian dengan tatapan kuatir.


"Aku sudah tidak apa-apa Nay, kamu jangan kuatir lagi ya?" ucap Ardian dengan tatapan teduh.


"Tapi aku lebih tenang kalau kita pulang atas perintah dokter bukan minta pulang paksa." cicit Nayla dengan wajah terlihat cemas.


"Kemarilah Nay, peluk aku. Aku sangat merindukanmu Nay, ingin memelukmu di tempat tidur kita. Aku rindu suasana rumah." ucap Ardian dengan suara pelan.


"Baiklah, kalau mas Ardian ingin pulang sekarang aku bisa bilang apa? karena kadang mas Ardian keras kepala juga." ucap Nayla sambil menghela nafas panjang.


"Aku tidak keras kepala Nay, aku ingin pulang karena tidak tega melihatmu yang tidak berhenti menjagaku dan bolak balik ke rumah dalam keadaan hamil." ucap Ardian menatap wajah Fazrani dengan tatapan lembut.


Wajah Nayla bersemburat merah mendengar ucapan Ardian yang selalu perhatian padanya.


"Untuk menjaga suami yang lagi sakit, bagi seorang istri tidak akan pernah merasakan capek mas, apalagi suaminya seperti mas Ardian yang sangat tampan." ucap Nayla sedikit menggoda Ardian.


Wajah Ardian memerah mendengar Nayla memujinya.


"Walau tampan tapi kalau kulit berkeriput karena sudah tua, apa seorang istri tidak akan bosan Nay?" tanya Ardian menatap penuh wajah Nayla.


"Kalau aku tidak akan bosan mas, aku akan semakin mencintainya." jawab Nayla dengan tersenyum.


"Benarkah Nay?" tanya Ardian meletakkan tangannya pada pipi Nayla.


"Apa yang aku katakan benar adanya mas, aku mencintaimu bukan karena dari wajah mas Ardian saja, tapi dari kebaikan dan kesabarannya mas Ardian. Aku jatuh cinta padamu dengan semua sikap yang mas tunjukkan padaku." ucap Nayla dengan wajah serius.


"Di saat ada seorang laki-laki muda yang mempunyai sifat lebih baik dariku, lebih tampan dariku dan dia juga ternyata mencintaimu. Apakah kamu akan jatuh cinta padanya?" tanya Ardian dengan suara pelan.


Nayla menatap wajah Ardian tak berkedip, sepertinya ada sesuatu yang lain dari pertanyaan Ardian, sejak dia melakukan kesalahan tidak sengaja memeluk Priambodo, Ardian terlihat sensitif walau tidak di tunjukkan secara nyata.


"Apa aku harus menjawabnya dengan jujur mas?" tanya Nayla berbisik lirih.


"Hm, ya Nay." sahut Ardian dengan memejamkan matanya berusaha menenangkan hatinya yang berdebar-debar menunggu jawaban Nayla.


"Aku menikah hanya satu kali mas, dan mulai mencintaimu setelah menikah dan setelahnya tidak akan ada cinta buat yang lainnya. Karena ruang hatiku sudah di penuhi dengan mencintaimu dan mencintai anak kita." jawab Nayla dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Hati Ardian meleleh, begitu sangat tenang mendengar jawaban dari Nayla.


"Apa mas Ardian senang dengan jawabanku?" tanya Nayla dengan menahan senyum.


"Terimakasih Nay, hatiku sudah merasa tenang." ucap Ardian meraih punggung Nayla dan memeluknya dengan erat.


"Aku merasakan ketakutanmu mas, maafkan aku yang telah membuatmu cemburu pada Priambodo." ucap Nayla seraya mengusap lembut wajah Ardian yang terlihat memerah.


"Seharusnya aku bisa menahan rasa cemburuku Nay, tapi kadang aku tak bisa menahan rasa sakitnya." ucap Ardian dengan tatapan penuh cinta.


"Aku senang mendengarnya mas, paling tidak aku tahu mas Ardian sangat mencintaiku." ucap Nayla semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ardian.


"Aku ingin secepatnya melakukannya di rumah danau Nay, aku merindukanmu dari kemarin-kemarin." ucap Ardian saat kedua tangan Nayla menangkup wajahnya.


"Kita pasti akan melakukannya mas, sabar ya?" ucap Nayla mengecup lembut bibir lembab Ardian.


Ardian tersenyum, kembali memeluk Nayla dengan penuh kerinduan.


***


"Sudah siap Kapten." ucap Hari yang selalu menemani Priambodo di tiap bertugas.


"Kita berangkat sekarang." ucap Priambodo berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Priambodo mendapat panggilan yang berulang-ulang dari Kenzo.


"Hallo, ya Ken..ada apa?" tanya Priambodo dengan serius.


"Cepat datang, sekarang ayah masih di tahan ibu di kamarnya." ucap Kenzo yang menunggu di depan kamar Ibunya dengan perasaan gelisah.


"Aku sudah bergerak ke rumahmu." jawab Priambodo dengan pasti.


"Letnan Hari di percepat sedikit." ucap Priambodo menatap lurus ke depan jalan raya.


Tiba di halaman rumah Burhan, tampak suasana sangat sepi.

__ADS_1


Priambodo merasa curiga dengan suasananya.


"Kapten sepertinya kita terlambat, sedang terjadi sesuatu di sini, bau peluru yang barusan di tembakan." ucap Letnan Hari yang penciumannya sangat tajam.


"Sebar anak buahmu ke semua titik jalan keluar. Jangan sampai Burhan lolos." perintah Priambodo sambil mengeluarkan senjata apinya.


Dengan mengendap-endap Priambodo masuk ke dalam ke arah jendela kamar Burhan yang sudah di ketahui sebelumnya dari denah rumah Burhan yang di kirim Kenzo padanya.


"Aku ingin tahu Kenzo sudah di tangan Burhan atau tidak." gumam Priambodo sambil menekan tombol panggilan ke Kenzo.


"Tidak aktif, berarti benar Kenzo dan ibunya dalam bahaya." gumam Priambodo yang tiba-tiba mendengar suara letusan dari samping rumah Burhan.


"Letakkan senjata kalian, biarkan aku pergi maka dua orang ini tidak akan aku bunuh." ucap Burhan dengan keras memakai sandera istri dan anaknya sendiri.


Priambodo keluar dari tempatnya dan tetap menodongkan pistol ke arah Burhan.


"Kamu jangan main-main Pria, aku bersumpah bisa membunuh istri dan anakku jika kamu memaksaku melakukannya." ucap Burhan sambil mengarahkan senjatanya pada kepala istrinya. Istri Burhan dan Kenzo dalam keadaan terikat dengan kedua tangannya di belakang.


Kenzo menatap ibunya, sungguh dia menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa saat Burhan keluar dari kamar dengan ibunya yang sudah terikat. Ternyata Burhan sudah mengetahui semuanya, ada seorang mata-mata yang memberitahunya kalau beberapa polisi bergerak akan menangkapnya.


"Pria, tembak saja orang yang tidak punya hati ini. Kita tidak apa-apa mati di tangan dia, daripada hidup menanggung malu punya ayah seperti dia." ucap Kenzo keras, dan langsung mendapat pukulan dari ayahnya.


"Anak kurang ajar, ternyata selama ini kamu telah mengkhianati aku! kamu tahu aku melakukan hal ini juga demi kamu dan ibu kamu yang telah malu dan tersakiti oleh Nayla." ucap Burhan dengan kemarahan meluap-luap.


"Aku tidak malu dan tersakiti ayah, harusnya ayah yang malu di belakang ibu sudah berselingkuh dengan Anita mantan Ayah!!" sahut Kenzo dengan suara keras.


Ibu Kenzo hanya menangis histeris meronta dari pegangan Burhan, mengingat pertama kali Kenzo memberitahunya kalau suaminya telah berselingkuh dengan seorang wanita yang bernama Anita seorang Rektor Universitas di desanya.


Wajah Burhan merah padam.


"Seharusnya aku membunuh kalian berdua, kalian sengaja menjebakku kurang ajar!" ucap Burhan memukul tengkuk leher Kenzo dengan senjatanya hingga Kenzo pingsan.


"Letakkan senjatamu Pria! atau aku benar-benar akan membunuh mereka berdua!" ucap Burhan seraya berjalan ke arah mobilnya.


Note: Novel akan segera tamat dan rencana akan di bukukan yang minat bisa tinggalkan jejak di WA : 0888-4072-222 atau di komentar.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2