
"Menyerahlah Ardian, Istrimu sama sekali tidak mencintaimu seperti aku yang mencintaimu." ucap Anita mendekati Ardian dan mengusap lembut wajah Ardian.
"Jauhkan tanganmu dari wajahku Anita, aku sudah mempunyai istri, dan tidak pantas sekali kamu berbuat seperti ini." ucap Ardian dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
"Aku tidak perduli kamu sudah beristri atau tidak Ardian, aku menginginkan dirimu..aku ingin bercinta denganmu." bisik Anita di telinga Ardian.
"Bunuh saja aku, itu lebih baik daripada aku harus melayanimu." ucap Ardian dengan rasa sakit di perutnya yang sudah tidak bisa di tahannya.
"Tidak akan aku biarkan kamu mati Ardian, kamu sudah tahu.. bertahun-tahun aku menanti hal ini, berdua denganmu tanpa ada yang menganggu." ucap Anita dengan tatapan penuh cinta.
Ardian memejamkan matanya, sungguh perasaan dan hatinya berontak untuk bisa menepis tangan kotor Anita, tapi ikatan di tangannya dan di kakinya tidak bisa membuatnya bergerak bebas selain penolakan dari tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Jauhkan tanganmu dari kulitku Anita, kenapa kamu tidak punya rasa malu sedikitpun, aku malu dan sedih melihatmu Anita." ucap Ardian dengan nada suaranya yang putus asa.
"Aku sudah tidak punya rasa malu sejak kamu menolakku Ardian dan sekarang tidak ada waktu lagi, aku sangat menginginkanmu." ucap Anita membelai wajah dan dada Ardian.
Dada Ardian terasa sesak menahan rasa jijiknya pada Anita. Tapi Anita tidak perduli dengan semua itu.
Dengan hati yang telah buta, Anita berusaha menyentuh bibir Ardian, tapi tubuh Ardian berontak dengan kuat dengan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga Ardian terjatuh dari atas ranjang dan pingsan karena Anita telah memukul tengkuk Ardian dengan sebuah botol.
"Sial, kenapa aku masih belum bisa bercinta denganmu Ardian, harusnya aku memberikan obat perangsang yang tinggi agar kamu tidak menolakku lagi." gumam Anita kemudian keluar kamar meminta anak buahnya Burhan untuk mengangkat Ardian kembali ke ranjang.
"Anita!! panggil Burhan yang baru datang ke markas dengan membawa surat-surat yang harus di tandatangani oleh Anita untuk kesepakatan mereka berdua karena besok pagi adalah penentuan pemilihan Lurah tahap terakhir.
"Ada apa Burhan? kenapa kamu selalu mengusikku?" tanya Anita dengan wajah penuh kemarahan.
"Tandatangani sekarang surat-surat ini, biar urusan kita cepat selesai dan kamu bisa melanjutkan kesenanganmu dengan Ardian." ucap Burhan dengan sebuah senyuman yang penuh kelicikan.
__ADS_1
Tanpa menaruh curiga Anita dengan cepat menandatangani surat-surat tersebut agar dia bisa keluar sebentar untuk membeli obat perangsang yang lebih kuat lagi.
"Terimakasih Anita, kamu memang mantan yang sangat baik hati." ucap Burhan dengan seringaian di bibirnya.
"Dargo ambil minuman yang sudah aku siapkan, mari kita minum sedikit karena besok aku terpilih menjadi Lurah di desa Gading." ucap Burhan merasa puas, karena di samping dia sudah di pastikan menjadi kepala desa Gading dia juga punya hak beberapa property yang di miliki Anita dengan Anita sendiri yang menandatanganinya surat-surat pembelian Burhan atas property itu.
"Ini Tuan Burhan minumannya." ucap Dargo yang sudah datang dengan membawa sebotol minuman Vodka.
"Nah..Anita untuk merayakan kerjasama kita dan rasa amarahmu biar hilang, kamu memerlukan minuman ini.. minuman ini akan menenangkan hatimu." ucap Burhan dengan menahan rasa cemburunya pada Ardian.
"Cepat tuangkan Burhan, aku sudah tidak bisa menahan amarahku lagi." ucap Anita dengan wajah yang muram.
"Tenang saja ini masih pagi kamu bisa meminumnya dengan santai." ucap Burhan dengan suara penuh kelembutan.
"Aku harus cepat-cepat Burhan, aku harus ke kota untuk membeli obat untuk Ardian." ucap Anita dengan perasaan kacau.
"Tenang saja, nanti aku yang akan mengantarmu ke kota." ucap Burhan sambil memberikan satu gelas minuman yang sudah tercampur dengan obat perangsang.
Burhan tidak menjawab pertanyaan Anita selain hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Tambahkan lagi Burhan lebih banyak lagi." ucap Anita ingin merasakan lagi minumannya yang terasa enak di tenggorokannya.
Dengan tenang Burhan menuangkan lagi Vodka yang sudah di campurnya dengan obat perangsang.
Wajah Anita memerah menahan sesuatu rasa gelora yang sangat tinggi dalam dirinya.
"Mana Vodkanya Burhan, kamu pelit sekali hanya memberikan sedikit sekali." ucap Anita sambil meraih botol yang ada di tangan Burhan dan menegaknya langsung dari botolnya.
__ADS_1
"Sudah cukup Anita, kamu sudah menghabiskan satu botol minuman mahalku." ucap Burhan memberikan kode pada Dargo untuk mempersiapkan kamar untuknya.
"Ayo Anita, aku antar kamu ke kamar..kamu tampak lelah hari ini." ucap Burhan dengan suara yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.
Dengan tubuh yang sudah sempoyongan Anita memeluk pinggang Burhan menuju ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar, Anita di baringkan ke ranjang dengan sedikit kasar. Wajah Anita memerah rangsangan obat perangsang itu sudah mempengaruhinya.
"Ardian? kamukah itu Ardian? sayangku! kemarilah! aku sudah menunggumu." ucap Anita yang sudah tidak sadar dengan apa yang di lihatnya dan apa yang di ucapkanya.
Dan itu membuat Burhan lebih leluasa untuk melakukan keinginannya karena Anita sudah tergoda olehnya.
Tanpa banyak bicara, Burhan menutup kamar dan menguncinya dari dalam. Dengan hasrat Anita yang tinggi serta keinginannya dirinya yang sudah tidak bisa di tahannya lagi, Burhan melakukannya dengan cepat hingga apa yang di inginkannya sudah tersalurkan.
Burhan tersenyum dengan rasa puas melemparkan bekas ****** dan juga kaos tangan plastik yang di pakainya. Pupus sudah dendamnya selama bertahun-tahun setelah pagi ini dia menghancurkan keangkuhan Anita.
"Terimakasih Anita, kamu sudah memberikan semuanya padaku. Baik propertymu juga tubuhmu yang begitu nikmat." ucap Burhan dengan seringaian iblis di wajahnya.
Sambil memakai kembali pakaiannya, Burhan keluar dari kamarnya meninggalkan Anita yang tergeletak lemas di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Dargo!!" panggil Burhan saat kembali di ruang tengah yang sangat besar.
"Ya Tuan Burhan, ada apa?" tanya Dargo dengan tatapan penuh tanda tanya melihat Burhan yang terlihat senang.
"Aku akan kembali ke Desa Gading sekarang. Kamu tahu kan tugasmu selanjutnya untuk menjebak Ardian. Dan ingat jangan sedikitpun meninggalkan jejak, buang semua apa yang kita pegang dan bersihkan semua jejak kaki atau jari kita." ucap Burhan yang berniat mengambinghitamkan Ardian atas kematian Anita.
"Siap Tuan Burhan." ucap Dargo seraya memakai kaos plastik tangannya untuk menjalankan tugas terakhirnya yaitu menghabisi Anita dengan mengambinghitamkan Ardian yang masih pingsan.
__ADS_1
"Lakukan dengan hati-hati Dargo setelah itu kamu harus menghilang sementara, jika tidak kamu sendiri yang akan masuk dalam penjara." ucap Burhan dengan tatapan yang tajam kemudian berjalan keluar dan masuk ke dalam mobilnya untuk kembali pulang ke Desa Gading.
Setelah Burhan meninggalkan tempat, Dargo melihat keadaan Ardian yang masih pingsan dengan kondisi yang terlihat pucat dan lemas.