
"Antarkan aku pulang ke desa malam ini Zanna." jawab Ardian dengan lemah, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan merasakan rasa yang sangat sakit pada bagian perutnya.
"Pak Ardian, ini sudah malam.. sebaiknya besok pagi kita pulang ke desa pak." ucap Zanna semakin kuatir dengan kondisi Ardian yang tiba-tiba drop.
"Aku mohon Zanna, antarkan aku ke desa sekarang, aku tidak ingin Nayla tahu dengan keadaanku seperti ini." ucap Ardian sambil memegang perutnya yang terasa tertusuk sebilah pisau.
"Bagaimana saya harus mengantar Pak Ardian? ini sudah malam pak? bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan nanti?" Tanya Zanna dengan panik.
"Panggil saja ambulans untuk membawaku ke desa Zan." ucap Ardian dengan tubuhnya yang semakin lemas.
Melihat kondisi Ardian yang semakin memburuk, Zanna menyalakan ponselnya kembali agar bisa menelpon emergency rumah sakit.
Setelah menelpon pihak rumah sakit, Zanna melihat banyak sekali panggilan dan kiriman pesan dari Nayla.
"Pak Ardian, Nayla menelponku berkali-kali dan ini ada beberapa pesan, sepertinya Nayla ingin aku menjaga Kenzo karena Nayla mau pulang melihat keadaan pak Ardian." ucap Zanna sambil menatap Ardian yang terdiam menahan rasa sakitnya.
"Zanna, berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan apa-apa pada Nayla di mana aku berada, dan aku ingin kamu selalu menemani Nayla, jangan biarkan Nayla sendirian." ucap Ardian dengan suara lirih.
"Pak Ardian, kenapa bapak melakukan hal ini? Nayla pasti sedih dengan semua ini pak, apalagi setelah pak Ardian menceraikan Nayla, pasti hati Nayla hancur pak." ucap Zanna yang tak mengerti kenapa Ardian menceraikan Nayla padahal Zanna tahu Ardian sangat mencintai Nayla.
"Karena hidupku tidak akan lama lagi Zanna, aku ingin melihat di saat kematianku tiba, aku bisa melihat Nayla bahagia dengan Kenzo laki-laki yang di cintai Nayla." ucap Ardian dengan mata setengah terpejam.
Tubuh Zanna terasa lemas mendengar alasan yang di katakan Ardian.
"Ya Tuhan, hatimu seperti apa pak? di saat orang lain yang sakit ingin di jaga orang yang di cintai, sedangkan pak Ardian masih memikirkan kebahagiaan Nayla." teriak Zanna dalam hati.
"Zanna, coba lihat di luar sepertinya ambulans nya sudah datang, aku tidak ingin kemalaman sampai di sana." ucap Ardian sambil membawa foto pernikahannya dengan Nayla yang ada di atas meja.
"Walau selembar surat cerai tidak menjadikan kamu Istriku lagi, bagiku kamu tetaplah Istriku Nayla dan itu untuk selamanya, sampai akhir hidupku." ucap Ardian menatap wajah Nayla yang terlihat dingin tanpa sebuah senyuman karena pas mereka menikah Nayla memang tidak menyukainya sama sekali.
__ADS_1
"Pak Ardian mereka sudah datang." Ucap Zanna dengan beberapa orang perawat pria dan satu orang dokter yang sudah di minta Ardian untuk menjaganya sampai di desa nanti.
Ardian yang tubuhnya sedikit lemas terpaksa di angkat oleh beberapa perawat dan di bawa ke dalam ambulans.
Sampai di dalam ambulans, Ardian meminta Zanna untuk kembali ke rumah sakit untuk menemani Nayla dan meminta Zanna untuk tidak menceritakan apapun pada Nayla.
"Kamu mengerti kan Zanna dengan semua yang ku katakan?" tanya Ardian memastikan Zanna untuk tidak bercerita pada Nayla.
"Ya Pak Ardian, aku mengerti." ucap Zanna dengan kesedihan mendalam.
"Jaga Nayla ya Zanna." ucap Ardian lagi terasa berat meninggalkan semua kenangan indahnya bersama Nayla.
"Ya pak Ardian." Ucap Zanna dengan sedih saat mobil Ambulans membawa Ardian semakin menjauh.
Setelah mobil Ambulans tidak terlihat lagi, Zanna masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit di mana Nayla yang sudah menunggunya.
"Zanna!!! dari mana saja kamu Zan? aku mencarimu dari tadi." Ucap Nayla dengan sedikit lega setelah Zanna datang.
"Zan, aku minta tolong kamu jaga Kenzo malam ini ya? aku mau pulang melihat Mas Ardian." ucap Nayla yang sedari tadi hati dan perasaannya tidak enak, selalu tertuju pada Ardian.
"Hm, ya Nay.. hati-hati ya? sudah malam ini." ucap Zanna yang sebenarnya ingin bilang kalau Ardian sudah tidak ada di rumah, namun karena sudah berjanji pada Ardian keinginannya untuk memberitahu Nayla di urungkannya.
Dengan memakai mobil Zanna, Nayla menjalankan mobilnya sedikit cepat, Nayla ingin sampai di rumah dan melepas rindunya pada Ardian.
Sampai di depan rumah, Nayla menghentikan mobilnya melihat keadaan rumah terasa sunyi. Dengan hati yang tidak enak Nayla keluar dari mobil untuk membuka pagar.
Ada beberapa orang yang duduk di pos jaga yang memang ada di samping rumah Nayla.
"Bu Nayla, bagaimana keadaan pak Ardian?" tanya salah satu orang yang mengenal Ardian.
__ADS_1
Nayla yang tidak mengerti dengan maksud orang itu menjadi bingung.
"Maksud bapak? Mas Ardian baik-baik saja, bukannya ada di rumah?" Tanya Nayla dengan hati dan perasaan yang semakin tidak enak.
"Bukannya tadi Pak Ardian di bawa Ambulans ke rumah sakit Bu." Jawab orang itu yang tahu saat Ambulans membawa Ardian pergi entah kemana.
"Maksud bapak? bagaimana ya? saya tidak mengerti pak?" tanya Nayla dengan hatinya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Tadi sekitar satu jam yang lalu, ada ambulans datang dan membawa Pak Ardian pergi Bu, tapi saya tidak tahu pergi kemana, mungkin ke rumah sakit." jelas orang itu dengan panjang lebar.
Jantung Nayla tiba-tiba terasa berhenti, tubuhnya terasa lemas dan tak mampu berdiri.
"Trimakasih ya pak, saya akan melihat ke dalam sebentar." ucap Nayla dengan suara gemetar.
Dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lemas, Nayla masuk ke dalam rumah.
Sunyi, sepi, tidak ada suara apapun yang terdengar.
Nayla berlari masuk ke dalam kamar, membuka almari pakaian Ardian masih ada lengkap di sana.
Mata Nayla menyapu ke seluruh kamar tidak ada yang berubah, namun saat mata Nayla melihat ke arah meja di samping tempat tidur sudah tidak ada foto pernikahannya yang berdiri di meja.
Dengan tangan gemetar, Nayla mengambil ponselnya dan segera menelepon Ardian.
Namun tetap seperti tadi, ponsel Ardian tidak aktif dan tidak bisa di hubungi lagi.
Setetes airmata Nayla jatuh dari kedua matanya.
"Apa arti semua ini Mas? apa yang terjadi padamu? kenapa kamu pergi di saat aku membutuhkanmu? kenapa kamu tega padaku Mas?" ucap Nayla lirih dengan tubuhnya merosot ke lantai.
__ADS_1
Dalam isakan tangis Nayla mencoba beberapa kali menelpon Ardian seperti orang kehilangan akal.
"Aku harus bagaimana Mas? kemana aku harus mencarimu? setelah kamu menceraikan aku, kenapa kamu harus meninggalkan aku juga Mas? kenapa kamu tidak memberikan kesempatan padaku untuk bisa memilihmu dan bertahan dengan pernikahan kita? andai saja kamu tahu Mas, aku tidak akan pernan menandatangani surat perceraian kita, aku tidak mau bercerai denganmu Mas?" ucap Nayla dengan suara Isak tangisnya, sungguh hati dan perasaan begitu sangat sakit dan terasa hampa.