LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
HATI YANG RUMIT


__ADS_3

"Aku tidak cemburu Ken, aku hanya marah pada wanita itu.. entahlah Ken, kita pulang sekarang ya?" Ucap Nayla dengan perasaan kecewa, entah kecewa karena apa.


Tiba di rumah, Nayla turun dari mobil dan ikuti Kenzo yang berjalan di sampingnya.


"Nay, jawab aku jujur? apa kamu cemburu dengan Pak Ardian?" tanya Kenzo lagi ingin tahu apa yang rasakan Nayla sekarang.


"Ken, aku kan sudah bilang..ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Pak Ardian." ucap Nayla sedikit kesal karena Kenzo tak mempercayainya.


"Kalau kamu tidak cemburu kenapa kamu merasa terganggu Nay? aku bisa melihat jelas di matamu Nay." ucap Kenzo lagi menatap penuh wajah Nayla.


"Ken, kenapa kamu tidak percaya padaku? kalau kamu masih berpikir seperti itu baiknya kamu pulang, daripada kita bertengkar soal hal yang tidak jelas ini." ucap Nayla sambil memijat pelipisnya.


"Aku hanya tidak ingin kamu berpaling dari cintaku Nay, aku mencintaimu dan kamu mencintaiku." Ucap Kenzo menatap dalam-dalam wajah Nayla.


"Aku tidak akan mudah berpaling Ken, baiknya sekarang kamu pulang ya, aku ingin istirahat." Ucap Nayla dengan perasaan hati yang tidak tentu.


"Baiklah Nay, aku pulang dulu...aku akan menghubungimu besok." ucap Kenzo dengan perasaan tak rela meninggalkan Nayla sendirian.


"Hati-hati Ken di jalan." ucap Nayla kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.


Nayla masuk ke dalam kamar meletakkan tasnya di atas meja, sambil mengambil ponselnya yang belum di lihatnya sama sekali.


Banyak sekali panggilan dari Ardian, bahkan pesan yang berkali-kali menanyakan di mana dirinya berada.


Nayla menghela nafas, seraya meletakkan ponselnya tanpa berniat membalas pesan atau menelpon balik Ardian.


"Ada apa denganku? kenapa juga aku marah melihat pak Ardian dengan Anita, kenapa aku harus terganggu dengan keakraban mereka?" monolog Nayla dengan kepalanya yang sedikit berdenyut.


Dengan pikiran sedikit lelah Nayla mencoba memejamkan matanya.


Namun matanya kembali terbuka saat ponselnya berdering nada panggilan.


Nayla meraih ponselnya melihat Ardian menelponnya lagi.


"Hallo, apa ini Nayla?" tanya seseorang wanita di sana.


"Ya benar, ini dengan siapa?" tanya Nayla dengan perasaan yang tidak enak, ponsel Ardian ada di tangan seorang wanita.


"Aku Anita, suami kamu berada di rumah sakit, Ardian mengalami kecelakaan." ucap Anita yang telah melihat sendiri mobil Ardian kecelakaan saat menghindari anak kecil yang menyeberang jalan tanpa melihat lampu lalu lintas.

__ADS_1


Tangan Nayla sedikit gemetar mendengar berita yang di beritahu Anita.


"Apakah yang kamu katakan benar?" tanya Nayla mencoba menenangkan diri.


"Ardian ada di rumah sakit dekat kampus, sekarang sudah di kamar inap Flamboyan tiga." jawab Anita dengan tenang di sana.


"Pak Ardian baik-baik saja kan?" tanya Nayla lagi merasa bersalah pada Ardian yang telah kirim pesan sebanyak itu, belum lagi beberapa panggilan yang tidak di angkatnya.


"Ardian baik-baik saja, hanya pergelangan tangan kirinya yang patah." jawab Anita yang tahu dari penjelasan dokter yang telah mengoperasi Ardian.


"Baiklah, aku akan segera ke sana." Ucap Nayla sedikit berlari keluar rumah dan menghentikan sebuah taxi untuk segera ke rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, Nayla berjalan cepat ingin segera tahu keadaan Ardian, entah apa yang di pikirannya saat ini, selain ingin melihat Ardian dalam keadaan baik-baik saja.


Dengan nanar, Nayla melihat kamar Flamboyan nomor tiga tepat di hadapannya.


Nayla mengetuk pelan pintu kamar, kemudian membukanya secara perlahan.


Ada Anita yang duduk di samping Ardian yang sepertinya belum sadar.


"Kamu sudah datang?" Tanya Anita sedikit kaku melihat Nayla yang sudah datang untuk melihat Ardian.


"Maaf, aku sedikit terlambat." ucap Nayla sedikit gugup.


Nayla termenung mendengar semua ucapan Anita.


Sambil menghela nafas panjang, Nayla menghampiri di mana Ardian masih terbaring pingsan.


Dada bidang Ardian terlihat telanjang, ternyata selain pergelangan tangan Ardian yang di gips ternyata bahu Ardian juga terluka.


Nayla mengambil kursi dan sedikit mendekat pada Ardian yang masih belum sadar.


Wajah Ardian terlihat pucat, ada sedikit luka sobek di keningnya.


Tangan Nayla sedikit gemetar saat menyentuh pergelangan tangan Ardian yang di gips.


Nayla terdiam tak bisa berkata-kata lagi, selain duduk diam menatap wajah Ardian yang pucat pasi.


Dengan keberanian hati, Nayla mengusap lembut wajah Ardian yang di tumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahangnya.

__ADS_1


"Nayla." panggil Ardian lemah saat tangan lembut Nayla menerpa kulit wajahnya.


"Ya Pak?" sahut Nayla sedikit mendekat ke wajah Ardian yang kesulitan bicara.


"Aku minta maaf." ucap Ardian menatap sendu ke mata Nayla.


Hati Nayla bergetar, entah kenapa hatinya berdesir saat melihat tatapan sendu Ardian.


"Minta maaf kenapa? bapak tidak ada salah." ucap Nayla dengan tersenyum.


"Kamu marah, aku menelponmu berkali-kali Nay...ingin minta maaf padamu." ucap Ardian yang merasa Nayla marah padanya.


"Ponselku silent pak, aku baru tahu pas sampai di rumah." Jawab Nayla yang tak menyangka Ardian yang minta maaf padanya padahal Ardian tidak bersalah.


"Aku tidak menyakiti hatimu kan Nay?" ucap Ardian sedikit menggerakkan jarinya yang terasa kaku.


"Sama sekali tidak pak... bapak istirahat ya, jangan banyak bicara dulu." Ucap Nayla menatap wajah Ardian yang terlihat mengantuk.


"Nay, seandainya tanganku patah, apakah kamu akan meninggalkan aku? tanpa harus menunggu lima bulan Nay?" tanya Ardian dengan tatapannya yang sedih.


"Tidak pak, aku tidak akan meninggalkan bapak sampai waktu itu tiba." Jawab Nayla dengan tersenyum.


"Benarkah Nay?" tanya Ardian dengan perasaan yang tidak percaya.


"Itu benar pak, sekarang bapat istirahat ya?" ucap Nayla dengan hati yang terenyuh melihat begitu besar cintanya Ardian kepadanya.


"Trimakasih Nay." ucap Ardian dengan mencoba memejamkan matanya.


Nayla tersenyum, entah melihat wajah Ardian yang begitu lembut dengan matanya yang teduh membuat hati Nayla merasa nyaman.


Dengan menatap wajah Ardian yang teduh tanpa sadar Nayla berdiri dari duduknya, dan mengecup kening Ardian dengan penuh perhatian.


Mata Ardian terbuka, menatap tepat mata Nayla yang masih berada di keningnya.


"Nay." panggil Ardian dengan perasaan hati yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran dengan sejuta kupu-kupu yang berterbangan di atas kelopaknya.


"Ya Pak," sahut Nayla kembali ke tempatnya duduknya dengan perasaan malu, karena Ardian telah melihatnya.


"Terimakasih masih mau bertahan dengan hubungan kita yang sepert ini Nay." ucap Ardian dengan seulas senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Ini semua karena cinta bapak yang begitu besar padaku, hingga aku selalu berpikir untuk bisa membalas semua kebaikan bapak." ucap Nayla membalas senyuman Ardian.


"Tidur ya pak, istirahat yang banyak...aku akan menjaga bapak di sini." Ucap Nayla mengusap lembut rambut hitam Ardian.


__ADS_2