LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
PERTAMA KALINYA (1)


__ADS_3

"Aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan pak, aku akan berusaha menjadi istri bapak yang baik sampai saat itu tiba." ucap Nayla dengan hati yang pedih.


"Jangan lakukan jika itu menjadi beban di hatimu Nay, karea kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, aku ingin kamu melakukannya dari hatimu agar kamu mendapatkan pahala karenanya." ucap Ardian menatap teduh wajah Nayla.


Wajah Nayla tertunduk, semua kata Ardian sangat benar adanya.


"Pak Ardian, boleh aku bertanya padamu?" tanya Nayla dengan pertanyaan yang ingin dia tanyakan sejak kemarin-kemarin.


"Ya Nay, kamu mau bertanya apa?" ucap Ardian dengan tenang.


"Kalau boleh tahu, siapa orang yang bapak bantu dengan mendonorkan ginjal bapak?" tanya Nayla yang sedikit penasaran dengan waktu yang bersamaan antara Ardian saat mendonorkan ginjalnya, dengan Ayahnya yang menerima donor ginjal dari seseorang yang tidak di ketahuinya.


"Aku tidak mengenal orangnya Nay, yang aku tahu orang itu baik dan hatiku tergerak untuk membantunya, kenapa kamu menanyakan hal itu Nay?" tanya Ardian tak ingin Nayla tahu jika yang menerima ginjalnya adalah Sasongko Ayah Nayla.


"Tidak ada apa-apa Pak." jawab Nayla dengan perasaan yang masih penasaran saja.


"Nayla, sebaiknya kamu istirahat, aku mau keluar sebentar untuk belanja kebutuhan dapur." ucap Ardian seraya mengambil kunci mobil di atas meja.


"Boleh aku ikut pak?" ucap Nayla berharap bisa mengenal lebih dekat lagi seorang Ardian.


"Apa kamu tidak capek?" tanya Ardian yang tidak ingin Nayla merasakan capek setelah perjalanan dari desa ke kota.


"Tidak pak, dan lagi aku juga ingin tahu beberapa tempat kota ini." ucap Nayla dengan santai.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." ucap Ardian dengan suasana hatinya yang sangat baik.


***


Di supermarket terdekat, Ardian dan Nayla masuk ke tempat lorong bahan-bahan pokok makanan untuk kebutuhan sehari-hari.


"Nay, ambillah beberapa telor yang di sana, biar aku yang memilih buah di sini." ucap Ardian sambil memilih beberapa buah yang selalu di konsumsinya tiap hari.


"Ardian?" panggil seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat anggun dan rapi dengan rambutnya yang di sanggul modern.


"Anita?" balas Ardian yang masih mengingat sahabatnya waktu kuliah dulu.


"Ternyata kamu masih mengingatku Yan." ucap Anita menyalami Ardian dengan perasaan bahagia bisa bertemu kembali dengan laki-laki yang selama ini di carinya.


Ardian berdehem pelan, karena tangan Anita tak melepas genggamannya.


"Hmm, maaf Yan...aku terlalu senang bisa bertemu denganmu setelah sekian lama tidak bertemu." ucap Anita perasaan malu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nita." ucap Ardian dengan tersenyum.


"Oh ya Yan, kamu sekarang kerja di mana?" tanya Anita yang heran di hari kerja bertemu dengan Ardian dengan pakaian yang santai.


"Aku tidak bekerja Nita, kamu sendiri kerja di mana?" tanya Ardian sambil fokus memilih buah jeruk.


"Aku seorang Rektor di Universitas Mapala dekat daerah sini, kalau kamu mau kamu bisa menjadi dosen di tempatku Yan." ucap Anita yang sudah bertahun-tahun lamanya masih mencintai seorang Ardian.


"Terimakasih atas tawaranmu Nita, akan aku pikirkan nanti ya." ucap Ardian dengan tersenyum.


"Ini Yan, kartu namaku...kamu bisa menelponku kapan saja, jika mau mengajar di tempatku bekerja." ucap Anita penuh harap.


Sebelum Ardian menjawab ucapan Anita, Ardian melihat Nayla yang berdiri menatapnya dengan membawa telor yang sudah di ambilnya.


"Nayla kemarilah." ucap Ardian pada Nayla yang masih berdiri terpaku.


Nayla berjalan menghampiri di mana Ardian berada.


"Nay, kenalkan ini temanku saat aku kuliah dulu, namanya Anita dan Nita ini istriku namanya Nayla." ucap Ardian pada keduanya.


Nyala dan Anita berkenalan dengan sama-sama tersenyum ramah.


"Ardian, aku kembali dulu ya...jangan lupa kalau kamu membutuhkan pekerjaan kamu bisa menelponku." ucap Anita tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Ardian.


"Pak Ardian, bisa kita pulang sekarang?" ucap Nayla dengan suara datar.


"Bukannya kamu masih mau membeli daging ayam Nay?" tanya Ardian yang tidak mengerti kenapa Nayla menjadi dingin padanya.


"Tidak jadi pak, besok saja membeli ikannya." ucap Nayla sedikit gusar.


"Baiklah, sini biar aku yang bawa." ucap Ardian mengambil telor dari tangan Nayla.


Keluar dari supermarket sampai tiba di rumah Nayla hanya diam tak bersuara.


Bahkan sampai malam, Nayla lebih banyak diam daripada bicara.


Nayla duduk bersandar di ranjangnya sambil membaca novel kesukaannya.


Ardian yang habis menjalankan sholat isya, mengambil bantal dari dalam almari dan meletakkannya di sofa untuk tempat tidur dirinya.


Nayla melirik sebentar apa yang di lakukan Ardian, kemudian melanjutkan kembali membaca novelnya.

__ADS_1


"Nayla aku mau tidur dulu, kalau kamu ingin sesuatu bangunkan aku saja ya?" ucap Ardian seraya merebahkan dirinya di sofa melepas rasa penatnya.


Nayla terdiam, berpikir kenapa dia harus mendiamkan Ardian, padahal Ardian tidak melakukan kesalahan apapun.


Dan lagi apa yang terjadi pada dirinya, kenapa dia tidak suka saat Ardian tersenyum pada wanita lain.


Nayla mencoba memejamkan matanya, namun tetap saja mata Nayla tak lepas menatap Ardian yang tidur meringkuk karena sofa tak muat dengan tubuh Ardian yang tinggi.


Berkali-kali Nayla mencoba tak perduli dengan apa yang di lihatnya namun hati Nayla tetap tak bisa menutup mata.


Perlahan Nayla turun dari ranjangnya, dan menghampiri Ardian.


"Pak Ardian." panggil Nayla sambil menepuk pelan pundak Ardian.


Ardian perlahan membuka matanya sambil membetulkan posisi tidurnya.


"Ada apa Nay? apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Ardian dengan punggung yang selalu sakit jika tidur di sofa.


"Tidurlah di ranjang pak." ucap Nayla dengan suara pelan.


Ardian terdiam mencoba memahami apa maksud Nayla.


"Di luar tidak ada hujan kan Nay?" tanya Ardian yang tidak percaya dengan tawaran Nayla untuk tidur satu ranjang bersamanya.


"Tidak ada hujan pak, daripada punggung bapak sakit sebaiknya bapak tidur di ranjang." ucap Nayla kemudian kembali naik atas ranjang.


Dengan menahan kantuk Ardian naik ke atas tempat tidur di sebelah kanan Nayla. Mata Ardian sudah terpejam kembali.


Di samping Ardian Nayla masih belum bisa tidur, apalagi malam telah larut.


Perasaan takut dan gelisah, mulai mencengkram kuat di pikiran Nayla.


"Pak..pak Ardian." panggil Nayla dengan suara bergetar karena takut.


Karena Ardian terlalu lelah, hingga tak mendengar suara Nayla yang memanggilnya.


Hingga sampai saat hujan mulai terdengar di telinga Nayla, membuat Nayla semakin ketakutan.


Memang Nayla dan Ardian menikah di musim hujan sangat tepat waktunya bagi orang yang sudah menikah untuk berbulan madu.


Tapi tidak bagi Nayla di musim hujan dia selalu lebih banyak berdiam diri di dalam rumah karena rasa traumanya.

__ADS_1


"DUAAAAARR"


Suara petir terdengar keras hingga Nayla terlonjak kaget dan bergerak cepat memeluk lengan Ardian dengan sangat erat.


__ADS_2