
"Ya Zan, aku akan segera masuk." ucap Nayla dengan hati yang sangat terluka sekaligus merindukan kehadiran seorang Ardian.
Di dalam kamar Kenzo merasakan kehadiran Nayla dengan mencium aroma parfum milik Nayla yang tak pernah bisa di lupakannya.
"Nayla kamu kah itu?" Tanya Kenzo menoleh ke arah suara kaki Nayla dengan tatapan matanya yang kosong.
Nayla mendekati Kenzo dan meraih tangan Kenzo yang menggapai-gapai dirinya.
"Aku di sini Ken." Ucap Nayla dengan hati terasa terenyuh melihat keadaan Kenzo yang tak berdaya apa-apa.
"Nayla dari mana saja kamu? aku menunggumu dari tadi." ucap Kenzo dengan wajah panik.
"Aku di rumah masih ada perlu tadi, kamu masih belum sarapan Ken?" tanya Nayla melihat makanan di piring masih utuh.
"Aku ingin kamu yang menyuapiku Nay?" ucap Kenzo dengan tatapan hampa penuh harap.
"Ada Zanna, kenapa tidak minta Zanna untuk menyuapi, kalau kamu lemas bagaimana?" tanya Nayla yang merasa bertanggung jawab pada Kenzo.
"Aku hanya menginginkanmu Nay, bukan yang lain." ucap Kenzo dengan suara bergetar.
Hati Nayla semakin teriris.
"Apa arti semua ini Ya Tuhan, di saat aku membuka hati untuk Mas Ardian, aku di hadapkan pada Kenzo yang tak berdaya, apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan? di mana lagi aku harus mencari Mas Ardian? bagaimana keadaannya sekarang?" teriak Nayla bertanya dalam hatinya.
"Nayla, kenapa kamu diam Nay? apa kamu memikirkan pak Ardian?" tanya Kenzo dengan nada cemburunya.
"Kenzo, aku minta padamu.. jangan lagi kamu marah pada Mas Ardian, dia suamiku Ken, aku tidak mau ada orang yang menjelek-jelekkan Mas Ardian dan itu termasuk kamu." ucap Nayla sedikit penuh tekanan.
"Tapi Pak Ardian sudah menceraikanmu Nay? apa yang kamu pikirkan lagi?" tanya Kenzo dengan perasaan sakit.
"Kamu tahu darimana?" tanya Nayla dengan tatapan penuh selidik.
"Dari Zanna tadi pagi." ucap Kenzo dengan tangannya meremas ujung selimut.
"Aku belum resmi bercerai Ken, aku belum menandatangani surat cerainya." ucap Nayla dengan jujur.
"Kenapa kamu belum menandatanganinya Nay? apa yang kamu tunggu lagi?" tanya Kenzo semakin uring-uringan.
"Aku tidak tahu Ken, sudahlah...kamu sarapan dulu ya." ucap Nayla sambil mengambil sepiring nasi dari rumah sakit yang belum di makan Kenzo.
Dengan masih memikirkan di mana keberadaan Ardian, Nayla menyuapi Kenzo.
"Ken, kata Dokter kapan boleh pulang?" tanya Nayla yang butuh waktu untuk banyak untuk mencari Ardian, sedangkan kalau masih di rumah sakit dia tidak bisa kemana-mana.
"Mungkin besok siang aku sudah boleh pulang." jawab Kenzo.
__ADS_1
"Syukurlah Ken, aku harap lambat laun kamu bisa melihat kembali." ucap Nayla agar rasa bersalahnya berkurang.
"Nay, kalau aku pulang besok, kamu akan tinggal di rumahku kan?" tanya Kenzo penuh harap Nayla mau tinggal bersamanya.
"Aku tidak bisa Ken, aku kan sudah punya rumah." jawab Nayla yang tak ingin meninggalkan rumah Ardian.
"Lalu bagaimana kamu bisa menjagaku Nay?" tanya Kenzo kecewa.
"Aku datang pagi pulang sore ya Ken?" Jawab Nayla tak bisa di tinggal di rumah Kenzo karena dia masih belum resmi cerai dari Ardian.
"Kalau malam aku bagaimana Nay? siapa yang akan menjagaku?" tanya Kenzo lagi dengan hati yang sangat sedih.
"Nanti aku akan meminta Bik Ijah untuk tinggal bersamamu jadi kamu tidak perlu kuatir Ken." ucap Nayla yang sudah meminta bantuan Bik Ijah untuk menjaga Kenzo di saat dirinya tidak ada.
Kenzo terdiam, kendati dirinya inginnya Nayla selalu bersamanya, tapi Kenzo tak bisa memaksa kehendaknya pada Nayla, karena Kenzo tahu bagaimana keras kepalanya Nayla.
"Sekarang kamu tidur ya Ken, aku mau keluar sebentar, nanti sore aku sini lagi." Ucap Nayla yang ingin mencari keberadaan Ardian.
"Jangan terlalu malam ya Nay." ucap Kenzo yang tidak tahu apa yang membuat Nayla tidak bisa diam di rumah sakit.
"Ya Ken, dan lagi aku sudah meminta Zanna untuk menjagamu sementara." Ucap Nayla yang hari ini ingin menemui Anita, siapa tahu Anita tahu di mana Ardian berada.
"Hm, hati-hati di jalan ya Nay, I love you." ucap Kenzo dengan sepenuh hati.
***
Di dalam mobil Nayla memijat keningnya yang sedikit pusing. Dengan pelan Nayla menjalankan mobilnya ke universitas di mana Ardian bekerja. Nayla ingin menemui Anita.
Sampai di kampus di mana Ardian mengajar, Nayla keluar dari mobil dan berjalan ke kantor di mana Anita berada.
" Tok..Tok.. Tok" Nayla mengetuk pintu ruang kantor Anita.
Tak lama kemudian muncul Anita membuka pintu dengan wajah heran.
"Nayla? ada apa?" tanya Anita dengan kening berkerut.
Tanpa kebohongan Nayla menceritakan semuanya pada Anita. Berkali-kali Anita mengambil nafas panjang, mendengar cerita Nayla soal Ardian.
"Kasihan sekali Ardian Nay, kamu harus mencarinya sampai ketemu, Ardian memang sangat mencintaimu Nay." ucap Anita dengan perasaan yang semakin kagum pada Ardian.
"Apakah benar Bu Anita tidak tahu keberadaan Mas Ardian?" tanya Nayla sekali lagi mencari kepastian pada Anita.
"Sungguh aku tidak tahu Nay, kalaupun aku tahu aku pasti akan memberitahumu." Ucap Anita dengan serius.
Nayla terdiam kemudian tersenyum pada Anita.
__ADS_1
"Trimakasih Bu Anita, kalau ada kabar mengenai Mas Ardian mohon bisa info ke aku langsung Bu." Ucap Nayla dengan perasaan yang hampir putus asa.
"Ya Nay, pasti aku akan memberitahu." Ucap Anita dengan tulus.
Setelah selesai menemui Anita, Nayla masuk ke dalam mobil kemudian menyadarkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Aku harus mencarimu kemana lagi Mas? sedang apa kamu sekarang? apa kamu merindukanku Mas?" Tanya Nayla dalam hati dengan setitik airmata yang jatuh dari kedua sudut matanya.
Nayla menatap ponselnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Seharian Nayla menjaga Kenzo dan mencari keberadaan Ardian membuat Nayla tidak sempat menelpon Ardian lagi.
Berlahan Nayla membuka nomor kontaknya melihat sebuah nama yang sangat di rindukannya.
"ARDIAN MY HUSBAND"
***
Ardian menatap ponselnya dengan tatapan sendu, seharian Ardian menunggu Nayla menghubunginya, walaupun dia tidak menerima panggilan Nayla namun Ardian selalu berharap Nayla menghubunginya atau mengirim voice note yang membuat rasa rindunya terobati.
"Apa yang kamu lakukan sekarang Nay? apa kamu sudah menjaga Kenzo hingga tidak sempat menelponku? aku sangat merindukanmu Nay? sangat merindukanmu?" gumam Ardian dengan mata terpejam dengan tubuh yang di rasakannya semakin melemah.
Duduk di meja kerjanya, Ardian meraih sebuah pena dan mengambil selembar kertas putih yang masih kosong.
Dengan hati hampa Ardian menorehkan kata hatinya dengan tulisan indahnya.
Sedalam rasa ini mengakar dalam hati...
Sejauh kuberlari menyapa cinta...
Tatapku hampa, jiwaku meronta...
Muasal dia yang nyata, hanya ilusi dari kepingan Rindu...
Meski tersayat perih, aku rela...
Asal raga mu tak pergi, meski hatimu entah dimana...
Bahkan, hadirnya dihatimu...
Selekat benalu, yang tak pernah lelah, tumbuh meski perlahan terusir dan mati...
Satu harapku, rasa ini abadi...
Meski terlahir dalam dilema hati...
__ADS_1