
"DUAAAAARR"
Suara petir terdengar keras hingga Nayla terlonjak kaget dan bergerak cepat memeluk lengan Ardian dengan sangat erat.
Ardian yang sudah terlelap tidur ikut terlonjak kaget dengan pelukan Nayla yang begitu tiba-tiba di pinggangnya.
"Nayla ada apa?" tanya Ardian kebingungan jika Nayla sudah memeluknya dengan sangat erat.
"Pak Ardian, kenapa harus ada petir kalau hujan." ucap Nayla yang ketakutan di dalam pelukan Ardian.
"Nayla, petirnya ada di luar tidak akan melukaimu Nay." jelas Ardian sudah kesekian kalinya jika Nayla ketakutan saat mendengar suara petir.
"Tapi aku takut pak." ucap Nayla yang tak berniat melepas pelukannya.
"Ini sudah larut malam Nay, kamu harus tidur ya." ucap Ardian yang tak bisa menggerakkan badannya karena terlalu eratnya pelukan Nayla.
"Aku tidak bisa tidur pak." Cicit Nayla lagi yang semakin memperat pelukannya.
"Kita tidur bareng-bareng ya Nay." ucap Ardian menatap dalam wajah Nayla yang tenggelam di dadanya.
"Ya Pak, tapi jangan lepaskan pelukan bapak ya?" ucap Nayla yang selalu merasakan tenang dan nyaman di dalam pelukan Ardian.
"Ya Nay." jawab Ardian penuh kasih sayang.
Dalam pelukan Ardian Nayla mencoba memejamkan matanya kembali, tangan Nayla memegang erat tangan Ardian dan di dekapnya dalam dalam dadanya.
Hati Ardian begitu bahagia, bagaikan bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari.
Lewat musim hujan, membuat Nayla menjadi dekat padanya.
Ardian melihat jam dinding masih menunjukkan pukul satu malam.
"Nay, apa kamu sudah tidur?" tanya Ardian yang berniat bangun untuk menjalankan sholat tahajud.
"Belum pak." jawab Nayla menatap wajah Ardian yang semakin hari terlihat tampan di mata Nayla.
"Hujan sudah tidak deras, aku mau sholat tahajud dulu." ucap Ardian sambil melepas pelan genggaman tangan Nayla.
"Apa aku boleh ikut pak?" tanya Nayla dengan wajah serius.
Ardian menatap wajah Nayla dengan tatapan tak percaya, sungguh ini suatu nikmat Allah yang sangat luar biasa.
__ADS_1
"Ya tentu saja Nay, kita bisa sholat berjamaah." ucap Ardian dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
"Ayo kita ambil wudhu." ucap Ardian meihat Nayla masih bengong di tempat tidurnya.
Ardian mengulurkan tangannya, dengan sedikit ragu Nayla menyambut uluran tangan Ardian bersamaan suara petir bergemuruh.
"Bapaakkkkkk!!! teriak Nayla berdiri meloncat dalam gendongan Ardian yang sudah cepat menangkapnya saat tahu Nayla meloncat ke arahnya.
"Nayla, hemm bisa turun? kita harus ambil wudhu." ucap Ardian sedikit sakit dengan kedua tangan Nayla di lehernya.
Nayla menggelengkan kepalanya, setelah merasakan kenyamanan tiap kali dalam pelukan Ardian.
"Baiklah Nayla." ucap Ardian berjalan ke kamar mandi sambil menggendong Nayla.
Sampai di kamar mandi Ardian menurunkan Nayla dan segera mengambil wudhu.
Pertama kalinya mereka berdua melakukan sholat berjamaah.
Setelah selesai melakukan sholat, seperti yang selalu Nayla lihat dari orang tuanya, Nayla mengecup punggung tangan Ardian.
"Beginikah rasa bahagia seutuhnya itu Nayla? melakukan apapun bersamamu." ucap Ardian dalam hati, saat Nayla mengecup punggung tangannya.
"Tidurlah lagi Nay, aku masih mau berdzikir." ucap Ardian tersenyum pada Nayla.
Mata Nayla tak lepas menatap Ardian yang khusyuk dalam berdzikir.
"Apa yang kamu cari Nay? seorang yang sempurna sudah ada di hadapanmu, yang sudah menghalalkanmu, memberikan semua kebaikan padamu? apa hatimu masih belum terbuka karenanya?" ucap sisi baik dalam hati Nayla.
"Nayla kamu mencintai Kenzo, kamu bisa lebih bahagia bersama orang yang kamu cintai dan yang mencintaimu, ingat Nay cinta pertamamu yang membuatmu bisa bertahan sampai saat ini." ucap sisi lain hati Nayla yang membuat Nayla semakin bingung karenanya.
"Nayla? apa kamu melamun?" tanya Ardian yang tanpa di sadarinya sudah ada di hadapannya.
Nayla sedikit terkejut, dan merasa malu saat Ardian menatapnya sedemikian rupa.
"Tidak pak, aku mau tidur lagi." ucap Nayla mencoba memejamkan matanya, hujan telah reda namun mengapa Nayla ingin terlelap tidur dalam pelukan Ardian? apakah aku sudah tergantung pada kenyamanan seorang Ardian? Ya Tuhan jangan sampai..aku harus mengatakan apa pada Kenzo, aku tak ingin menyakiti hati Kenzo, teriak hati Nayla.
Hati Nayla resah, matanya sama sekali tidak bisa terpejam, dengan sedikit keberanian Nayla membalikkan badannya menghadap Ardian tepat saat Ardian juga menatapnya.
"Pak." panggil Nayla dengan suara tercekat.
"Ya Nay." sahut suara Ardian parau.
__ADS_1
"Maukah bapak memelukku? aku tidak bisa tidur." ucap Nayla jujur dengan apa yang di rasakannya.
"Apakah kamu yakin Nay?" tanya Ardian menatap lekat mata Nayla.
Nayla menganggukkan kepalanya pelan.
"Kemarilah Nay." ucap Ardian meraih pundak Nayla dan merengkuh sayang kepala Nayla dalam pelukannya.
"Terimakasih pak." ucap Nayla sambil memejamkan matanya.
Sungguh ajaib dalam pelukan Ardian Nayla sudah merasakan ingin terlelap tidur, dan akhirnya pun Nayla tertidur dalam dekapan Ardian.
***
"Nayla, hari ini aku akan ke kampus Anita aku ingin melamar pekerjaan di sana dan lagi kampusnya dekat sini." ucap Ardian sambil memakai sepatunya.
"Kenapa bapak harus kerja, bukannya bapak di desa sudah banyak sawah, dan beberapa usaha yang di kelola oleh orang-orang desa?" tanya Nayla sedikit heran dengan Ardian yang sudah kaya dan mempunyai beberapa usaha masih ingin mencari kerja.
"Aku ingin ada kesibukan Nay, di kampus aku hanya mengambil beberapa jam saja." ucap Ardian memberikan penjelasan pada Nayla.
"Anita itu bukannya yang bertemu kita di supermarket ya pak?" tanya Nayla lagi yang melihat sendiri kecantikan dan keanggunan seorang Anita yang menatap Ardian penuh cinta.
"Ya Nay benar, Anita rektor di kampus Mapala, dia menawarkan pekerjaan padaku." ucap Ardian sambil memasang dasi yang sedikit kesulitan.
Nayla turun dari tempat tidurnya dan membantu Ardian memasangkan dasinya.
"Trimakasih Nay." ucap Ardian yang begitu dekat wajahnya dengan wajah Nayla hingga nafas keduanya saling berbaur satu sama lainnya.
"Bu Anita sangat cantik, apakah dia mantan bapak?" tanya Nayla dengan sedikit gusar jika mengingat kecantikan Anita apalagi tatapan Anita yang begitu lembut saat menatap Ardian.
"Aku belum pernah berpacaran Nay, selain mencintaimu dan menikahimu." jawab Ardian yang membuat wajah Nayla bersemburat merah jingga.
"Bapak, pagi-pagi sudah bercanda." ucap Nayla merasa malu.
"Aku tidak bercanda Nay, bukannya kenyataan aku mencintaimu dan sudah menikah denganmu?" ucap Ardian dengan serius.
"Bu Anita sepertinya menyukai bapak? aku bisa melihatnya." ucap Nayla dengan perasaan yang terasa sedikit menyubit hatinya .
"Seperti halnya kamu yang mencintai Kenzo, aku juga bisa melihatnya." ucap Ardian dengan tersenyum.
"Bapak,..kok larinya ke Kenzo?" sungut Nayla dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Ardian tertawa kecil.
"Tidak biasanya kamu begini Nay? biasanya kamu antusias saat kita membicarakan Kenzo." ucap Ardian berharap suatu saat dia bisa melihat cinta di mata Nayla hanya untuknya.