LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
SESAAT AKU BAHAGIA (1)


__ADS_3

Dengan bibir tersenyum, Nayla berjalan kembali ke kamar Ardian dengan membawa hasil laboratorium yang menyatakan dirinya positif hamil.


Suatu kebahagiaan terbesar dalam hidup Nayla bisa memberikan kebahagiaan pada Ardian yang saat ini membutuhkan semangat untuk hidup.


Perlahan Nayla membuka pintu kamar Ardian dan melihat Ardian yang sedang tertidur pulas.


Saat melihat Nayla datang, Sasongko memberi kode Nayla agar tidak menimbulkan suara.


Nayla mengangguk paham. Tanpa menimbulkan suara Nayla memberikan hasil laboratoriumnya pada Ayahnya.


Mata Sasongko tak berkedip saat membaca hasil laboratorium Nayla yang menyatakan bahwa Nayla hamil.


Kebahagiaan terpancar dari wajah Sasongko, tak percaya jika dirinya akan menjadi seorang Kakek.


Dengan perasaan bahagia dan terharu Sasongko memeluk Nayla dengan sangat erat.


"Nayla, terimakasih Nak...telah memberikan Ayah cucu, jaga baik-baik cucu Ayah ya Nay." ucap Sasongko dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ya Ayah." ucap Nayla dengan hati bahagia.


"Nay, kalau begitu Ayah pulang, besok pagi Ayah akan ke sini bersama Bunda kamu." ucap Sasongko sambil mengecup kening Nayla.


"Ya Ayah, salam buat Bunda ya Ayah." ucap Nayla sambil mengecup punggung tangan Ayahnya.


Setelah Sasongko keluar dari kamar Ardian, Nayla duduk sendirian menjaga Ardian yang masih terlelap.


Nayla menatap wajah Ardian dengan tersenyum, seolah-olah ingin sekali membisikkan kata-kata indah agar Ardian terbangun.


Dengan penuh kasih sayang, Nayla membelai dan mengusap lembut wajah Ardian, hingga mata Ardian yang terpejam sedikit perlahan membuka matanya.


"Kamu sudah bangun Mas?" ucap Nayla dengan melepas senyum.


"Hmm, ada tangan halus yang membelai wajahku, hingga aku terbangun." Jawab Ardian dengan suara berat.


"Apa kamu terganggu Mas?" tanya Nayla mendekatkan wajahnya pada wajah Ardian.


"Sama sekali tidak Nay, aku senang bisa melihat wajahmu kembali." Jawab Ardian tersenyum seraya mengusap wajah Nayla.


"Mas, ada kabar baik untuk kita Mas." ucap Nayla sambil menggenggam tangan Ardian yang berada di pipinya.


"Apa Nay? apa tentang hasil periksa kamu?" tanya Ardian dengan hati yang tiba-tiba berdebar.

__ADS_1


"Hm, ya Mas." jawab Nayla dengan tersenyum kemudian mengecup punggung tangan Ardian.


"Katakan sekarang Nay." pinta Ardian dengan wajah yang sedikit tegang.


Dengan menahan senyum, Nayla semakin mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh ujung hidung Ardian.


"Nay." ucap Ardian dengan wajah sedikit memerah dengan sikap Nayla yang berbeda dari biasanya.


"Mas, aku mencintaimu." ucap Nsyla dengan hembusan nafasnya menerpa wajah Ardian.


Jantung Ardian seperti terhenti dan tak sanggup lagi untuk bernafas tatkala bibir Nayla mencium sangat dalam tepat di bibirnya.


"Nayla." Ardian tak mampu lagi berkata-kata di saat bibir Nayla bertubi-tubi menciumi seluruh wajahnya.


"Nayla sayang." akhirnya Ardian tak sanggup lagi dengan godaan Nayla. Ardian begitu sangat sayang terhadap Nayla.


"Ya Mas, aku senang Mas memanggilku Nayla sayang, bisa Mas ulangi lagi?" pinta Nayla dengan suara berbisik seraya menautkan keningnya dengan kening Ardian.


"Nayla sayang." ucap Ardian sekali lagi, sambil menatap dalam wajah Nayla.


Nayla tersenyum terkulum, mengecup kening Ardian dengan sangat lama.


Hati Ardian kembali merasakan berdebar-debar, tatkala tangannya menyentuh perut Nsyla.


"Nay, ada apa? apa kamu? " tanya Ardian menatap Nayla tanpa melanjutkan ucapannya.


"Ya Mas, ada buah cinta kita di dalam perutku Mas." ucap Nayla dengan tersenyum bahagia.


Tangan Ardian bergetar meraba perut Nayla yang masih datar, namun desiran hangatnya terasa di telapak tangan Ardian.


"Nayla apa benar kamu hamil Nay?" tanya Ardian dengan mata yang berkaca-kaca masih tak percaya dengan kehadiran buah hatinya yang begitu cepat hadirnya.


"Ya Mas, aku juga tidak menyangka, walau kita melakukannya hanya sekali, tapi Tuhan telah memberi kepercayaan pada kita." ucap Nayla dengan perasaan yang bahagia.


"Nay, apa Ayah dan Bunda sudah tahu?" tanya Ardian dengan perasaan yang benar-benar bahagia.


"Ayah sudah tahu Mas, mungkin sekarang Bunda juga sudah tahu, katanya besok pagi akan kemari." ucap Nayla seraya membelai rambut Ardian dengan sayang.


"Sebaiknya besok pagi kita pulang Nay, aku sudah baikan." ucap Ardian ingin segera pulang ke rumah pondok.


Ada kekuatan dan semangat yang besar yang di rasakan Ardian saat mengetahui ada buah cintanya yang telah tumbuh di rahim Nayla.

__ADS_1


"Mas, mana bisa begitu..dokter sendiri bilang Mas harus tinggal di rumah sakit sampai dapat donor ginjal." ucap Nayla yang mulai merasa sedih jika kembali mengingat kondisi Ardian yang hidupnya sudah tidak lama lagi.


"Nayla, aku sudah tidak apa-apa, dengan bersamamu di rumah pondok aku akan bahagia Nay." ucap Ardian bersikeras untuk bisa pulang.


"Mas, kamu masih lemah dan kamu harus cuci darah tiga hari sekali, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu nanti Mas?" tanya Nayla yang sudah tidak bisa membujuk keinginan Ardian.


"Nayla, aku akan tepat waktu untuk cuci darah nanti, dan lagi ada kamu yang akan mengingatkan aku kan?" ucap Ardian menatap dalam wajah Nayla.


"Kamu sangat keras kepala Mas." ucap Nayla dengan menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat jika matanya telah berkaca-kaca.


Ardian meraih tangan Nayla dan menggenggamnya dengan lembut.


"Aku akan lebih bahagia tinggal di rumah kita Nay, aku akan merasa tenang dan nyaman, di banding tinggal di sini yang mengingatkan aku pada kematian yang akan datang untukku." ucap Ardian mencoba berbesar hati, menerima semua apa yang telah menjadi takdirNya.


Nayla terdiam membalas genggaman Ardian dengan sangat erat.


"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu Mas?" ucap Nayla dengan suara pelan.


"Tidak akan terjadi apa-apa padaku Nay, kamu tenang ya sayang." ucap Ardian dengan tersenyum.


"Drrrrttt... Drrrrttt... Drrrrttt"


Ponsel Nayla yang ada di atas meja bergetar.


"Nay, kalau ada telepon di biasakan di terima cepat, siapa tahu itu penting." ucap Ardian sambil mengambil ponsel Nayla dan di berikan pada Nsyla.


"Hm, lalu siapa kemarin yang berkali-kali tidak menerima panggilanku di saat aku rindu padanya." ucap Nayla tersenyum menyindir Ardian yang beberapa hari lalu juga tidak mengangkat teleponnya.


"Aku sudah mengangkatnya Nay, dengan suara hatiku." ucap Ardian sedikit merasa malu.


Nayla tersenyum menatap Ardian sambil menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenalnya.


"Hallo..Nay aku Kenzo." ucap Kenzo dengan suara yang terlihat gembira.


"Kenzo?? nomor kamu baru?" tanya Nayla sedikit terkejut karena Kenzo memakai nomor baru.


"Ya Nay, ponselku hilang kemarin, jadi aku minta tolong Zanna untuk membelikannya." jelas Kenzo.


"Ohh, begitu... keadaan kamu baik-baik saja kan Ken?" tanya Nayla sambil melihat Ardian dan menggenggam tangan Ardian.


"Ya Nay, makannya aku ingin memberitahumu hari ini aku sedikit bisa melihat, dan nanti akan di periksa ulang, kemungkinan besok pagi aku kembali ke desa, Ayah yang memintaku untuk kembali pulang Nay." ucap Kenzo yang sudah terbiasa bercerita pada Nayla.

__ADS_1


__ADS_2