
Nayla berdiri di tempatnya, menatap Ardian dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
"Apa maksud bapak kita tidak memindahkan barang-barang ke sana?" tanya Nayla yang tidak percaya jika Ardian sudah mempersiapkan semuanya.
"Ya Nay, kita tinggal berangkat saja tanpa perlu membawa apa-apa, biar rumah di sini di rawat Bik Ummah, kita bisa ke sini seminggu sekali untuk menengok Ayah Bunda." jawab Ardian sambil memasukkan beberapa berkas-berkasnya ke dalam tas dokumen.
Nayla diam tak bisa berkata apa-apa, semua kebaikan Ardian mulai mengusik hati Nayla.
"Andai saja pak, kita sedekat ini sebelum aku mengenal Kenzo, mungkin aku bisa jatuh hati padamu pak." ucap Nayla dalam hati.
"Kita berangkat sekarang ya Nay, nanti keburu malam." ucap Ardian yang sudah siap kemudian mengangkat koper pakaian Nayla.
"Pak sebentar." ucap Nayla mengambil jaket Ardian yang ada di sofa.
"Jaket bapak ketinggalan, sebaiknya di pakai pak karena di luar dingin." ucap Nayla sambil membantu memasangkan jaket pada Ardian.
Hati Ardian berdesir saat tangan lembut Nayla yang bersentuhan dengan tangannya saat menarik resleting jaketnya.
"Terimakasih Nay." ucap Ardian dengan suara sedikit gugup.
"Sama-sama pak." ucap Nayla lirih hampir tak terdengar.
Sampai di mobil, Nayla menatap Ardian yang berjalan ke pintu pengemudi.
"Pak, sebaiknya biar aku yang menyetir bapak masih butuh istirahat." ucap Nayla menghampiri Ardian, namun Ardian mencegahnya.
"Tidak Nay, biar aku yang menyetir...kamu jangan memanjakan aku ya." ucap Ardian dengan tersenyum sangat terlihat tampan.
"DEG"
"Duh, kenapa wajah pak Ardian semakin tampan kalau tersenyum seperti itu, perasaanku dulu biasa-biasa saja, atau ini hanya perasaanku saja." ucap Nayla dalam hati sambil memukul jidatnya.
"Kenapa Nay, kenapa kamu memukul jidatmu seperti itu?" tanya Ardian menatap polos wajah Nayla.
Wajah Nayla. bersemu merah menahan malu.
"Tidak apa-apa pak, perasaan ada nyamuk tadi...kita jalan pak, keburu malam nanti." ucap Nayla mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca mobil.
Dalam perjalanan, Ardian yang sedikit merasa capek, menghentikan mobilnya di POM yang ada tempat peristirahatannya.
Apalagi hujan mulai turun deras, Ardian tak ingin membuat Nayla yang tertidur akan terbangun dengan adanya suara petir.
Ardian melirik jam tangannya menunjukkan pukul delapan malam.
__ADS_1
Nayla masih tertidur lelap, namun saat ada suara petir yang sangat keras Nayla terbangun dan berteriak keras memanggil nama Ardian.
"Pak Ardiannnnnnn." teriak Nayla bergerak cepat memeluk Ardian yang duduk terdiam di tempatnya.
Dengan refleks Ardian membalas pelukan Nayla yang terlihat sangat ketakutan.
"Tenang ya Nay, kamu tidak akan kenapa-kenapa..aku ada di sini Nay." ucap Ardian mengusap lembut punggung Nayla.
"Aku takut dengan suara petir pak, aku sangat takut karena petir temanku meninggal di hadapanku saat aku dan dia berhujan-hujan, tubuhnya menghitam dan matanya melotot pak." ucap Nayla terisak-isak dalam pelukan Ardian.
"Nayla, tenangkan hatimu ya...itu sudah takdir teman kamu, kamu harus mencoba melupakannya, dan kamu tahu tidak semua orang meninggal karena petir." ucap Ardian menenangkan hati Nayla dengan merengkuh penuh Kepala Nayla.
Mendengar suara Ardian yang lembut, dan rengkuhan Ardian yang hangat membuat hati Nayla tenang dan merasakan nyaman.
"Sekarang tidurlah lagi, perjalanan kita masih kurang setengah jam lagi." ucap Ardian sambil mencoba melepaskan pelukan Nayla yang sangat erat di pinggangnya.
"Tunggu hujan reda saja pak, aku masih takut." cicit Nayla tidak melepas pelukannya.
Ardian mengambil nafas panjang, tak mampu lagi menahan perasaannya pada Nayla.
Dengan perasaan yang penuh rindu aka cinta Nayla, Ardian membalas pelukan Nayla dengan lebih erat.
Nayla semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Ardian yang berdetak sangat kencang.
Suasana tampak romantis, Ardian ikut memejamkan matanya yang sangat lelah dengan Nayla yang tertidur dalam pelukannya.
Tak terasa waktu pun bergulir dari malam ke pagi hari.
Nayla yang terbangun terlebih dahulu sangat kaget dengan posisinya yang tertidur dalam pelukan Ardian.
Perlahan Nayla melepas pelukannya, dan melepas tangan Ardian yang memeluknya.
Mata Ardian perlahan terbuka saat merasakan tangan dingin Nayla mengangkat tangannya.
Dengan refleks Ardian menjauhkan tangannya, dan menegakkan punggungnya.
"Maaf Nay, aku tidak bermaksud memelukmu, aku melakukannya karena..." Ardian tidak melanjutkan ucapannya karena Nayla telah menyela ucapannya.
"Tidak apa-apa pak, seharusnya aku yang minta maaf karena selalu merepotkan bapak jika ada hujan petir." ucap Nayla dengan wajah tertunduk karena malu.
"Tidak apa-apa Nay, bukannya kita sudah sah sebagai suami istri, di mana tugasku harus melindungi dan menjagamu." ucap Ardian yang juga merasa malu karena Nayla pasti mengetahui saat dia memeluk Nayla dengan erat pula.
"Emmm, ini sudah pagi pak...bisa kita lanjutkan perjalanannya pak?" ucap Nayla mengalihkan pembicaraan yang membuat hatinya malu.
__ADS_1
"Ya Nay...." ucap Ardian tanpa bisa berkata-kata lagi, selain melanjutkan perjalanannya.
Sampai memasuki gerbang kota Ardian mendengar bunyi suara dari perut Nayla.
"Kamu lapar Nay? kita cari makan dulu ya?" ucap Ardian menatap Nayla yang juga menatapnya dengan wajah memerah.
"Hemm...maaf pak, dari sore kemarin aku belum ada makan." ucap Nayla tanpa malu lagi jika sudah urusan perut lapar.
Ardian tersenyum lebar.
"Aku juga belum ada makan Nay, jadi kita cari makan dulu ya." ucap Ardian masih dengan tersenyum.
Mata Nayla tak lepas menatap senyum Ardian yang begitu sangat menawan.
Ardian mengalihkan pandangannya, ke arah depan jalan sambil menenangkan hatinya yang sudah tak karuan bunyinya.
"Itu pak ada warung yang sudah buka." ucap Nayla sambil menunjuk sebuah warung yang sudah buka.
Tanpa membalas ucapan Nayla, Ardian menjalankan sedikit pelan mobilnya dan menghentikan tepat di depan warung nasi yang cukup besar.
"Ayo Nay turun." ucap Ardian keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam warung yang masih sepi.
Nayla yang masih di dalam mobil tidak jadi keluar saat ponselnya ada panggilan masuk.
"Hallo ya Ken, ada apa?" tanya Nayla setelah tahu Kenzo yang menelponnya.
"Apa kamu sudah sampai Nay?" tanya kenzo dengan suara yang penuh rindu.
"Belum, aku lagi cari makan sama pak Ardian." jawab Nayla sambil melihat Ardian dari kaca depan mobil, dan Nayla juga tahu Ardian juga sedang menatapnya.
"Aku sudah mulai bekerja pagi ini Nay, aku mengontrak rumah dekat di mana aku bekerja." ucap Kenzo dengan antusias.
"Syukurlah Ken, kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan." ucap Nayla yang merasa tidak enak karena Ardian pasti menunggunya.
"Nay, aku ingin sepulang kerja kita bisa bertemu, apa kamu bisa?" tanya Kenzo berharap Nayla mau bertemu dengannya.
Mata Nayla melihat Ardian yang duduk dengan wajah tertunduk, entah apa yang di pikirkannya.
"Ken, aku minta maaf sepertinya aku belum bisa menemuimu, aku harus bersih-bersih rumah...dan lagi ini hari pertama aku tinggal di kota ini, mungkin aku menemani pak Ardian beberapa hari ini, kamu tidak apa-apa kan?" ucap Nayla yang tidak tega melihat Kenzo kecewa.
"Tidak apa-apa Nay, beri kabar jika nanti kamu sudah sampai ya, aku mencintaimu Nay." ucap Kenzo dengan suaranya yang kecewa.
"Aku juga mencintaimu Ken, selamat bekerja ya." ucap Nayla kemudian menutup panggilannya.
__ADS_1