
Sesuai keinginan Ardian, Nayla telah mengurus izin kepulangan suaminya. Dan kini sudah berada rumah pondok Ardian yang tempatnya dekat dengan Danau.
"Bagaimana Mas, apa kamu bahagia kita sudah ada di sini?" tanya Kayla saat duduk di teras depan rumah yang begitu asri dengan tanaman bunga yang beraneka warna.
"Bahagiaku karena bersamamu Nay." ucap Ardian yang bersandar di balai-balai bambu.
Nayla tersenyum, kemudian berdiri dan mengulurkan salah satu tangannya.
"Kita jalan-jalan ke danau yuk Mas? aku penasaran dengan keindahannya, kata Ayah airnya sangat jernih di sana." ucap Nayla menggenggam tangan Ardian saat Ardian menerima uluran tangannya.
"Kamu akan terpesona dengan keindahannya Nay." ucap Ardian berdiri di samping Nayla.
"Benarkah? aku rasa, aku tidak akan terpesona Mas." sahut Nayla sambil menyanggul rambutnya ke atas.
"Karena kamu belum melihatnya Nay, saat kamu melihatnya kamu pasti akan terpesona." ucap Ardian menatap kecantikan Nayla dengan anak rambutnya yang beberapa helai terjuntai ke menutup sebagian pipinya.
"Itu tidak akan terjadi Mas, karena mataku sudah terpesona pada seseorang yang menurutku lebih indah di banding keindahan danau itu." ucap Nayla dengan senyum tersembunyi.
Mendengar ucapan Nayla, Ardian memalingkan wajahnya ke arah lain dengan hati yang sedih. Ardian tahu hati Nayla tidak mungkin secepat itu berpaling dari Kenzo karena cinta Nayla sudah bertahun-tahun lamanya pada Kenzo, apalagi hari ini Kenzo akan kembali ke desa.
"Kita berangkat sekarang Nay." ucap Ardian mengalihkan pembicaraan Nayla, hendak turun tangga dari teras rumah.
"Apa Mas Ardian tidak ingin tahu siapa seseorang itu? seseorang yang telah membuat hati dan mataku terpesona?" ucap Nayla menahan tangan Ardian yang sedari tadi dalam genggamannya.
Ardian menghentikan langkahnya tepat pada anak tangga terakhir, dengan Nayla yang masih berdiri di anak tangga atas.
"Siapa?" tanya Ardian dengan suara tercekat menatap wajah Nayla dengan tatapan sayu.
Nayla menatap Ardian tanpa berkedip kemudian menuruni tiga anak tangga agar bisa sejajar dengan Ardian.
"Seseorang itu kamu Mas, hati dan mataku telah terpesona olehmu, hal apapun yang indah di dunia ini tidak bisa di bandingkan dengan indahnya cintamu." bisik Nayla tepat di wajah Ardian serata mengecup lembut bibir Ardian.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu." ucap Nayla tersenyum dengan tatapan penuh cinta.
Bibir Ardian sedikit terbuka, dengan tubuh tak bergerak, sungguh jantung dan hati Ardian bergetar dan berdetak lebih kencang dari yang sebelum-sebelumnya.
"Mas, kenapa kamu diam saja?" tanya Nayla dengan tatapan penuh perhatian.
Tanpa bicara Ardian meraih pundak Nayla dan menarik puncak kepala Nayla dan di tenggelamkannya ke dalam dadanya. Hati Ardian begitu sangat bahagia, sungguh hanya satu impiannya mempunyai kesempatan untuk bisa hidup bersama Nayla dan buah hatinya.
"Trimakasih Nayla, aku bahagia mendengarnya, sangat bahagia." bisik Ardian sambil mengecup puncak kepala Nayla berulang-ulang.
"Aku juga berterima kasih padamu Mas, yang telah mencintaiku selama ini tanpa lelah." ucap Nayla melingkarkan tangannya pada pinggang Ardian.
"Tidak akan pernah lelah, untuk meraih cintamu Nay." ucap Ardian menangkup wajah Nayla dengan tersenyum bahagia.
Nayla membalas senyuman Ardian dengan sebuah senyuman yang paling manis yang di milikinya.
"Kita ke danau sekarang ya Mas? udara pagi akan baik untukmu." ucap Nayla berjalan pelan sambil memeluk pinggang Ardian.
Sampai di pinggiran Danau yang begitu jernih airnya Ardian menghentikan langkahnya.
"Kita duduk di sini saja ya Nay." ucap Ardian yang sedikit terlihat lelah, karena kesehatannya memang semakin menurun.
"Ya Mas." ucap Nayla seraya membantu Ardian duduk di kursi panjang yang terbuat dari pohon bambu.
"Sangat indah kan Nayla pemandangannya?" tanya Ardian sambil mengatur nafasnya agar berdetak kembali normal.
"Sangat indah Mas, tapi seperti yang aku katakan tadi, keindahannya tidak bisa di bandingkan dengan keindahan cintamu." jawab Nayla dengan tersenyum menggoda.
Wajah Ardian kembali memerah, entah sudah berapa kali Nayla selalu membuat hatinya melambung tinggi.
"Nayla, jangan membuat jantungku berdegup kencang, aku takut aku tidak bisa menahan kebahagiaan yang luar biasa ini." ucap Ardian dengan jujur.
__ADS_1
"Coba tarik nafas pelan-pelan Mas, atau aku bantu dengan nafas buatan Mas?" tanya Nayla yang sontak membuat Ardian tertawa melengeh.
"Kamu semakin pintar menggoda ya Nay." ucap Ardian sambil menjepit ujung hidung Nayla yang mancung dan mungil.
"Untuk membuatmu bahagia, aku akan melakukan apapun Mas, walau aku harus menari telanjang di hadapanmu?" ucap Nayla tertawa dengan perumpaannya.
Ardian kembali tertawa dengan ucapan Nayla.
"Benarkah Nay? kamu akan menari telanjang di hadapanku agar aku bahagia?" tanya Ardian dengan senyum terkulum.
"Itu hanya perumpamaan saja Mas, tapi kalau kamu menginginkannya dan membuatmu bahagia, aku akan melakukannya dengan senang hati." ucap Nayla sambil menelan air ludahnya, tidak yakin apa dia bisa melakukannya atau tidak.
Ardian kembali tertawa terkekeh, ternyata Nayla ada sisi humornya di balik sisi keras hatinya.
"Aku tidak ingin kamu melakukannya Nay, aku sudah sangat bahagia dengan kamu ada di sampingku dan selalu tersenyum padaku." ucap Ardian dengan wajah serius, meraih pundak Nayla dan memeluknya erat dengan salah satu tangannya.
Nayla menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Ardian, sambil menatap air jernih danau di hadapannya. Sungguh Nayla tidak akan pernah menyesali lagi pernikahannya dengan Ardian yang membawanya ke dalam kebahagiaan lahir dan batin.
"Aku berjanji padamu Mas, akan selalu di sampingmu selamanya dan akan selalu tersenyum padamu, karena kamulah yang membuatku selalu tersenyum." ucap Nayla sambil menggenggam erat tangan Ardian yang begitu hangat.
"Trimakasih Nay, aku sangat bahagia mendengarnya, seandainya pun aku meninggal, aku akan meninggal dengan membawa cintamu." ucap Ardian dengan suara hampir yang tidak terdengar, namun Nayla dengan jelas mendengarnya.
Tangis Nayla kembali terdengar, sungguh Nayla tidak bisa lagi menahan kesedihannya saat Ardian membicarakan soal kematiannya.
"Mas jangan bicara seperti itu lagi, berjanjilah padaku jangan bicara lagi soal kematian, aku tidak akan sanggup lagi mendengarnya Mas." ucap Nayla dalam tangis.
"Maafkan aku Nay, tapi lambat laun kita harus bisa menerima kenyataan yang ada kan Nay?" ucap Ardian menangkup wajah Nayla dengan kedua tangannya.
"Mas, bagaimana kalau aku mendonorkan ginjalku padamu Mas?" tanya Nayla tiba-tiba dengan serius.
"Apa yang kamu katakan Nayla? tentu saja aku tidak bisa menerimanya Nayla." ucap Ardian dengan hati sesak sekalipun bahagia dengan besarnya cinta Nayla.
__ADS_1
"Suka tidak suka, aku akan tetap memberikan ginjalku padamu Mas, dan aku akan segera melakukannya." ucap Nayla yang tidak ingin kehilangan Ardian yang sangat di cintainya.