LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
CINTA YANG KURINDUKAN (1)


__ADS_3

Pagi hari tubuh Nayla masih meringkuk di ranjang dengan memeluk kemeja Ardian, kedua matanya sembab akibat menangis semalaman.


Mata Nayla terasa berat sejak selesai sholat subuh, dan sekarang Nayla ingin terus menutup matanya berharap semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi.


"Drrrtttt... Drrrrttt... Drrrrttt"


Mata Nayla sedikit terbuka saat ponselnya berbunyi panggilan.


Dengan mata setengah terpejam, Nayla meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.


"Hallo Nayla?" panggil Zanna pagi-pagi sudah meneleponnya.


"Ya Zan, ada apa?" ucap Nayla dengan mata yang masih terasa berat.


"Cepatlah kemari Nay, Kenzo tidak mau sarapan nih, dari tadi pagi makanannya belum di makan sama sekali." ucap Zanna yang kuwalahan menghadapi Kenzo yang sangat sensitif hatinya.


"Sebentar lagi aku akan kesana Zan." ucap Nayla pelan tanpa sebuah keinginan untuk melihat Kenzo di rumah sakit.


Nayla masih enggan meninggalkan tempat tidurnya, dengan hati yang galau Nayla menenggelamkan kepalanya pada bantal yang biasanya di pakai Ardian, sungguh aroma mint Ardian serasa masih lengket pada bantal itu.


"Aku merindukanmu Mas, di mana kamu sekarang? apa kamu merasakan kerinduanku ini Mas?" tanya Nayla dalam hati.


Saat Nayla teringat Ardian, dengan spontan Nayla mengambil ponselnya dan segera menelepon Ardian.


Kali ini ponsel Ardian aktif namun panggilannya tidak satupun di angkat sama Ardian.


Dengan perasaan putus asa, akhirnya Nayla mengirim voice note pada Ardian agar Ardian bisa mendengarnya.


"Mas, kamu di mana? keadaan kamu sekarang bagaimana? kamu baik-baik saja kan Mas? Mas kenapa kamu tega meninggalkan aku sendirian? Aku sangat merindukanmu Mas, aku ingin mendengar suaramu di tiap hari-hari ku." pesan Nayla pada Ardian lewat Voice notenya.


Setelah beberapa menit Nayla membuka kembali ponselnya untuk melihat apakah voice notenya sudah terbaca atau tidak, dengan perasaan kecewa Nayla menutup kembali ponselnya saat voice notenya masih belum terbaca.


Dengan lesu Nayla bangun dari tidurnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


***


Di ruang kamarnya Ardian duduk bersandar di ranjangnya, seharian sudah ponselnya sengaja dia matikan.


Dan setelah sholat subuh Ardian baru menyalakan ponselnya. Ada banyak telepon masuk dan beberapa pesan dari Nayla.


Dengan hati penuh rindu Ardian membaca pesan dari Nayla satu persatu, semua pesan yang di kirim Nayla membuat hati Ardian semakin merindu.


Apalagi saat melihat pesan Nayla yang memakai voice note, hati Ardian terasa sakit, jiwanya terasa terhempas dalam lubang kesedihan.


"Maafkan aku Nayla, maafkan aku yang harus melakukan hal ini daripada semua terlambat, hidupku sudah dalam hitungan bulan, aku tak ingin membuat hidupmu berakhir dalam satu penyesalan." gumam Ardian yang memang hidupnya tidak akan lama lagi.


Ginjalnya sudah mengalami kerusakan yang sangat parah, tidak akan bisa sembuh hanya dengan cuci darah, tapi harus ada donor ginjal yang baru untuk Ardian.


"Den Ardian, sudah waktunya Den Ardian untuk sarapan?" ucap Bik Ummah dengan perasaan sedih saat melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Ardian.


"Ya Bik, letakkan saja di meja.. nanti aku akan memakannya." ucap Ardian dengan hati yang sudah tidak ada semangat untuk hidup.


"Den Ardian, kenapa pulang tidak bersama dengan Non Nayla?" tanya Bik Ummah dengan heran.


"Aku sudah berpisah dengan Nayla Bik." Ucap Ardian lesu dengan wajah pucatnya.


"Kenapa harus berpisah Den? bukannya Den Ardian sangat mencintai Non Nayla?" tanya Bik Ummah dengan iba.


"Aku tidak bisa lagi membuat Nayla bahagia Bik, hidupku hanya tinggal menunggu beberapa bulan saja, aku tidak ingin Nayla lebih menderita lagi." ucap Ardian menahan semua rasa sakitnya.


"Apa Pak Sasongko sudah tahu hal ini Den?" tanya Bik Ummah dengan serius.


"Belum Bik, rencanaku nanti sore aku akan ke sana dan memberitahu Ayah dan Bunda." Jawab Ardian yang belum tahu bagaimana reaksi orang tua Nayla nanti.


"Bibik hanya bisa berdoa, semoga apa yang telah di tentukan oleh Tuhan pada Den Ardian adalah kebahagiaan dunia akhirat." ucap Bik Ummah dengan sungguh-sungguh.


"Aamiin Bik, Bik Ummah tolong dengarkan aku, aku akan memberi pesan padamu...jika Nayla mencariku jangan di beritahu keberadaanku ya Bik." ucap Ardian seraya menghela nafas panjang, sungguh sehari saja tidak bertemu Nayla sudah sangat menyiksanya, apalagi jika berbulan-bulan.

__ADS_1


"Ya Den, tapi bagaimana kalau Non Nayla tahu dan mencari Den Ardian sampai kemari?" tanya Bik Ummah yang tiba-tiba membuat Ardian ingat sesuatu.


"Ya Bik, mungkin aku bisa tinggal di rumah kita yang dulu Bik." ucap Ardian yang sebelumnya pindah ke rumah besar, Ardian juga punya rumah pondok sederhana di pinggir Danau yang tak jauh dari desanya.


"Baik Den, makan dulu makanannya Den, biar Den Ardian tidak lemas." ucap Bik Ummah merasa cemas dengan kondisi Ardian.


Ardian terdiam, sungguh perutnya tidak terasa lapar, selera makannya hilang begitu saja.


"Ya Bik, nanti saja aku makan ya Bik, atau makanannya bisa Bik Ummah bawa pulang saja daripada mubazir." sahut Ardian dengan tatapan matanya menerawang jauh.


***


Sampai di rumah sakit, Nayla mencari keberadaan Zanna dan ingin mengajak Zanna untuk mencari Ardian.


"Zanna, bisa tidak kamu menemaniku mencari keberadaan pak Ardian?" tanya Nayla yang belum tahu di mana keberadaan Ardian.


"Aku mau saja, tapi bagaimana dengan Kenzo siapa yang menjaganya nanti? dan lagi dari pagi sampai sekarang Kenzo belum ada makan Nay, kasihan Kenzo." jawab Zanna yang tak ingin meninggalkan Kenzo sendirian.


"Ya sudah biar aku mencari Mas Ardian sendiri, kamu pastikan saja Kenzo ada makan ya Zan." ucap Nayla yang belum bertemu Kenzo dari pagi.


"Temuilah Kenzo sebentar Nay, dan suruhlah untuk makan sarapannya, aku tidak ingin Kenzo semakin gila karenamu." ucap Zanna dengan perasaan kecewa, karena Kenzo dan Nayla tidak tahu perasaannya yang paling dalam.


Nayla terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Zan, aku akan melihatnya sekarang." ucap Nayla, namun sebelum itu Nayla melihat pesan voice notenya pada Ardian, sudah di lihat atau belum.


Hati Nayla terasa lega sekaligus kecewa saat voice notesnya sudah terbaca tapi tidak ada balasan.


Namun Nayla tidak berkecil hati, saat tahu voice note terbaca, Nayla langsung menelpon Ardian, harapan terbesar Nayla...Ardian akan mau menerima panggilannya, namun harapan tinggallah harapan, panggilan teleponnya tidak ada satupun yang di terima oleh Ardian.


"Nay, jadi masuk tidak? kasihan Kenzo menunggumu dari pagi." ucap Zanna yang tidak rela jika kenzo tersakiti.


"Ya Zan, aku akan segera masuk." ucap Nayla dengan hati yang sangat terluka sekaligus merindu pada seorang Ardian.

__ADS_1


__ADS_2