LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
CURHAT HATI PRIAMBODO


__ADS_3

Sampai di rumah danau, Nayla bergegas keluar dari mobilnya apalagi melihat motor Priambodo yang ada di depan rumah.


"Ada apa Priambodo kemari? apa ada sesuatu yang penting dengan kejadian tertangkapnya Burhan?" tanya Nayla dalam hati seraya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah tampak Priambodo sudah duduk di samping Ardian dan terlihat sangat serius.


"Assalamualaikum." sapa Nayla kemudian duduk di kursi di hadapan Ardian dan Priambodo.


"Waalaikumsallam." jawab Ardian dan Priambodo hampir bersamaan.


"Apa aku ketinggalan suatu pembicaraan yang penting?" tanya Nayla langsung pada pertanyaan yang ada di pikirannya.


"Senin besok, paman di haruskan datang sebagai saksi sidang kejahatannya Burhan." jawab Priambodo dengan serius.


"Mas Ardian siap tidak dengan kondisinya sekarang?" tanya Nayla menatap Ardian dan Priambodo secara bergantian.


Sungguh baru sekarang ini Nayla ada kesempatan untuk mengamati wajah keduanya yang seperti kembar siam versi wajah yang sudah matang dan wajah yang masih muda.


Wajah Ardian dan Priambodo bisa di katakan mirip dan cocok jika mereka menjadi saudara adik kakak, padahal hubungan mereka paman dan ponakan.


"Nayla! ada apa denganmu? kenapa mata kamu menatap kita tak berkedip?" tanya Priambodo sambil melambaikan tangannya di depan wajah Nayla.


"Ehhh, aku...aku hanya lagi membandingkan wajah kalian berdua." jawab Nayla spontan dan polos.


"Lebih tampan mana?" tanya Priambodo sambil menegakkan badannya yang lebih kekar di banding Ardian.


"Sama tampannya, kalian kan bisa di katakan kembar Siam? yang satu versi tua dan yang satu versi muda." Jawab Nayla yang langsung menutup mulutnya saat tersadar dengan kata-katanya.


Ardian menatap wajah Nayla dengan tatapan yang rumit.


"Maksudku, aku lebih menyukai versi yang matang daripada yang muda." ralat Nayla dengan gugup saat melihat tatapan Ardian yang menembus jantungnya.


"Cepat sekali kamu berubah pikiran Nay? tadi bilang tua sekarang matang." ucap Priambodo sambil melirik ke arah Ardian yang diam dengan pikirannya.


"Sudah diam Pri, kamu jangan provokasi!kamu sangat tahu aku sangat mencintaimu pamanmu, dan tidak bisa hidup tanpa mas Ardian walau seharipun." sahut Nayla sedikit merayu meredam kecemburuan Ardian.

__ADS_1


"Uhukk.. Uhukk..Uhukk"


Ardian terbatuk-batuk mendengar kata-kata manis Nayla.


"Mas!! kamu tidak apa-apa kan?" tanya Nayla sambil memberikan segelas air putih mineral yang tersedia di meja.


Dengan wajah memerah Ardian menerima air putih dari Nayla dan meminumnya.


"Aku tidak apa-apa Nay, aku tersedak karena belum terbiasa dengan kata-kata manis darimu." jawab Ardian setelah kembali tenang.


Nayla menelan air ludahnya, sungguh tak menyangka dengan kata-kata manisnya Ardian sampai terbatuk-batuk apalagi kalau dia mengucapkan kata-kata yang lebih dari itu?"


"Pri, lanjutkan ceritamu yang tadi.. mengenai tugas barumu di kota." ucap Ardian kembali dengan wajah serius.


"Mas, memang Pria mau dapat tugas baru? terus yang menggantikan Pria disini siapa?" tanya Nayla dengan penasaran.


"Kamu bisa bertanya pada Priambodo setelah mendengar ceritanya Nay, kemarilah duduk di sampingku biar Priambodo yang duduk di situ." ucap Ardian sambil mengulurkan tangannya.


Nayla menyambut uluran tangan Ardian, sedangkan Priambodo tanpa komentar langsung pindah ke tempat Nayla.


"Lanjutkan ceritamu Pri." ucap Ardian setelah Nayla duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya.


"Begini paman, seperti yang aku ceritakan tadi...Pak Hadi memberi tugas yang tidak seperti biasanya, aku berpikir tidak wajar saja.


Aku yang biasa di tugaskan di kantor wilayah sekarang ini di beri tugas untuk menjaga dan mengawasi putrinya selama dua puluh empat jam, bayangkan dua puluh empat jam apa itu tidak berarti aku harus tinggal bersama dengan dia?" cerita Priambodo sedikit emosi.


"Wah... putrinya atasanmu pasti cantik dan berkelas dong Pri, kamu terima saja Pri siapa tahu dia jodoh kamu. Namanya siapa Pri?" tanya Nayla penasaran.


"Jodoh? mana bisa di katakan jodoh Nay, putrinya pak Hadi itu masih kecil masih SMA kelas tiga dan kamu tahu Nay? dia sama sekali tidak cantik, seperti gadis culun. Ini foto anaknya, namanya Putri anak tunggal pak Hadi." jawab Priambodo sambil menunjukkan foto Putri yang ada di ponselnya setelah Hadi Wirawan mengirim beberapa foto ke dirinya.


Nayla mengamati wajah Putri, kulit putih, kurus tinggi dengan wajah natural, rambut hitam panjang dan di kepang dua dengan poni yang rata dan berkaca mata tebal.


"Pri, lihat matanya.. sangat indah warnanya kebiruan dia pasti keturunan bule ya?" tanya Nayla dengan serius saat melihat kedua mata indah Putri di balik kacamata tebalnya.


"Istri pak Hadi asli wanita Jerman." jawab Priambodo singkat.

__ADS_1


"Pri, dengar paman.. menurutku di balik semua tugas baru kamu itu pak Hadi mempersiapkan putri untuk menjadi milikmu, intinya ingin kamu menjadi menantunya dan menikah dengan Putri." ucap Ardian setelah terdiam beberapa saat.


"Ya Tuhan paman, aku harus menikah dengan gadis kecil dan culun? yang benar saja?" ucap Priambodo menjadi gelisah dengan ucapan Ardian.


"Pri, aku juga berpikir sama dengan mas Ardian. Dan satu lagi jangan menghina kekurangan orang lain atau membencinya, itu bisa berbalik padamu, contohnya aku dengan pamanmu dulu tidak suka dengan orang yang usia tua dan sempat membencinya lihat sekarang semuanya berbalik, seperti hukum karma." ucap Nayla yang mendapat tatapan dari Priambodo dan Ardian yang sedemikian rupa.


"Ehhh.. maksudku bukan hukum karma tapi aku benar-benar jatuh cinta pada pamanmu karena hati dan cintanya yang luar biasa, selain itu juga karena pamanmu sangat tampan apalagi senyumnya membuat aku semakin jatuh cinta, bukan begitu mas?" ucap Nayla kembali meralat kata-katanya.


Ardian bergeser, mendekatkan wajahnya pada Nayla. Tidak perduli di hadapan Priambodo Ardian mengecup lembut bibir Nayla sekilas.


"Hari ini istriku sangat manis sekali, membuatku menginginkan sesuatu." bisik Ardian yang gemas dengan sikap Nayla.


Wajah Nayla bersemburat merah, menelan air ludahnya sambil menatap malu pada Priambodo dan Ardian hanya tersenyum saja.


"Paman sebaiknya aku pulang sekarang, lanjutkan saja acara romantisnya." ucap Priambodo seraya mengusap tengkuk lehernya yang berkeringat panas dingin.


"Ingat kata-kataku Pri, di balik semua tugas kamu yang baru pasti ada hal yang baik untuk kamu." ucap Ardian yang sangat tahu Priambodo belum pernah jatuh cinta, sekali hampir jatuh cinta, jatuh cintanya pada orang yang salah yaitu pada Nayla.


"Ya paman, paman jangan kuatir aku pasti menerima takdirku dengan senang hati." sahut Priambodo berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar di ikuti Nayla dan Ardian.


"Jangan lupa hari Senin besok jam delapan pagi aku tunggu di pengadilan paman." ucap Priambodo yang sudah di atas motornya.


Ardian mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Priambodo yang kemudian berlalu menjauh.


NOTES


Happy reading kak.


Cerita Love the old man sebentar lagi akan segera tamat.


Di pantengin terus jangan sampai terlewatkan karena pada bab terakhir nanti akan terhapus dengan cepat.


Karena rencananya jika tidak ada halangan akan di bukukan/cetak bersama dengan novel Cinta suci wanita bercadar dengan extra part 4 bab tentunya bab yang manis.


Mungkin ada yang minat bisa tinggal kan jejak atau bisa hubungi:

__ADS_1


WA : 0888-4072-222


trimakasih, please tinggalkan jejak PS, Riview dan komentarnya.


__ADS_2