
Ardian mengambil nafas panjang, dengan perasaan yang tidak tahu lagi seperti apa rasa sedih di hatinya.
"Trimakasih ya Zan, atas informasinya." ucap Ardian sambil menutup panggilan Zanna.
Dengan hati yang terasa hampa, Ardian mengambil wudhu dan melakukan sholat Sunnah untuk menenangkan hatinya.
Mata Ardian terpejam dengan hati yang berdoa khusyuk untuk melepas rasa sakit menjadi rasa keikhlasan.
Semua apa yang terjadi Ardian kembalikan pada Tuhan yang menguasai tiap hati manusia.
Setelah beberapa jam duduk diam dalam doa, Ardiam kembali ke ranjangnya mencoba memejamkan matanya.
Namun sebelum matanya terlelap ponsel Ardian berbunyi ada nama Nayla di sana.
Tanpa membuat Nayla menunggu lama Ardian menerima panggilan Nayla.
"Assalamualaikum, ya Nayla." ucap Ardian menarik nafas dalam.
"Waalaikumsallam pak Ardian." jawab Nayla di sana.
"Ada apa Nay, ini sudah malam...kamu belum tidur?" tanya Ardian dengan penuh perhatian.
"Tidak bisa tidur pak, memikirkan acara nikah besok, apa bapak sudah menyelesaikan syarat-syaratnya pak?" tanya Nayla lagi seperti ada beban dalam suaranya.
"Sudah selesai Nay, aku sudah menjelaskan semuanya pada Ayah dan Bunda tadi." jawab Ardian mencoba untuk tenang.
"Lalu bagaimana tentang yang bapak cari jalan keluar setelah kita menikah?" tanya Nayla dengan hati-hati.
"Aku sudah mengajukan surat permohonan mengundurkan diri dalam bulan ini." jawab Ardian dengan dada yang semakin terasa sesak jika ingat kata-kata Zanna.
"Kenapa harus keluar pak? apa tidak ada jalan lain? apa Ayah sudah tahu hal ini?" tanya Nayla dengan perasaan takut jika Ayahnya akan marah padanya.
"Tidak ada jalan lagi Nay, aku tidak sanggup jika harus pulang pergi dari kota ke desa, kondisiku tidak memungkinkan untuk hal itu, Ayah sudah tahu dan menyerahkan semua keputusan padaku sebagai kepala keluarga nanti." jelas Ardian dengan sedikit lemas.
"Syukurlah pak kalau Ayah tidak marah, bapak sudah ada makan?" tanya Nayla yang berniat ingin ke rumah Ardian mengirim makanan.
__ADS_1
"Sudah tadi siang, malam ini belum...kenapa Nay?" tanya Ardian yang terpaksa belum ada makan karena Bik Ummah pulang siang.
"Aku ke rumah bapak ya? makanan masih banyak di sini." ucap Nayla dengan perasaan yang tidak enak karena Ardian harus melepas pekerjaannya demi dirinya.
"Ini sudah malam Nay, apa tidak merepotkan?" ucap Ardian dengan hati yang berangsur-angsur hilang rasa sakitnya.
"Masih jam delapan malam pak, ya sudah aku ke sana sekarang ya pak." ucap Nayla kemudian mematikan panggilannya.
Ardian menatap ponselnya yang sudah putus panggilannya.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam hatimu Nay? aku berharap suatu saat nanti ada cinta mu untukku, walau aku tidak yakin aku masih bisa hidup atau tidak." gumam Ardian sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.
Ardian keluar dari kamarnya setelah mendengar suara pintu luar terketuk dan membukakan pintu buat Nayla.
"Nayla, ini jadi merepotkanmu." ucap Ardian setelah Nayla masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa pak, daripada di rumah makanan mubazir tidak ada yang makan." ucap Nayla sambil mengeluarkan rantang dari dalam tas plastik.
"Makan di dalam saja Nay." ucap Ardian mengambil alih rantang yang di bawah Nayla.
Nayla mengambil satu piring dan satu sendok, kemudian mengambil beberapa sendok nasi serta sayur asem dengan satu potong ayam goreng dan dua tempe goreng.
"Silahkan makan pak." ucap Nayla setelah memberikan sepiring nasi pada Ardian.
Dengan pelan dan tanpa bicara, Ardian memakan pelan nasi yang sudah di siapkan Nayla.
Nayla menatap dalam wajah Ardian yang lagi fokus dengan makanannya.
Melihat Nayla yang menatapnya sedemikian rupa membuat Ardian sedikit gugup.
"Ada apa Nay? apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Ardian setelah selesai makannya sambil meraih segelas air putih.
"Wajah bapak sangat tampan." jawab Nayla dengan jujur, membuat Ardian tersedak air minumnya saat mendengar jawaban Nayla.
Dengan segera Nayla mengambil tissue dan membersihkan dagu Ardian yang basah terkena air.
__ADS_1
Tangan Ardian yang reflek hendak meraih tissue yang di pegang Nayla, tak sengaja memegang punggung tangan Nayla.
Nayla terpaku menatap Ardian, sebaliknya pun begitu Ardian membalas tatapan Nayla dengan tatapan yang teduh.
Nayla melepas tangannya setelah sadar beberapa saat tangannya yang tergenggam Ardian.
"Emm maaf pak, membuat bapak jadi tersedak karena ucapanku." ucap Nayla sedikit malu karena mengatakan yang sebenarnya kalau Ardian memang tampan.
"Tidak apa-apa Nay, terimakasih karena telah memujiku...baru kali ini aku di puji seorang wanita." ucap Ardian jujur karena selama ini jarang sekali dia berinteraksi dengan wanita dalam artian dekat dengan seorang wanita.
"Benarkah pak? masak sih pak? aku tidak percaya kalau tidak ada wanita yang memuji bapak." ucap Nayla yang kembali merasakan kenyamanan saat berbincang dengan Ardian.
"Hampir tidak ada, karena aku tidak punya teman dekat wanita." ucap Ardian dengan jujur.
"Jadi selama ini bapak belum pernah pacaran?" tanya Nayla tertawa kecil masih tak percaya dengan jawaban Ardian.
Nayla dulu pernah sempat dengar salah satu guru wanitanya ada yang suka sama Ardian saat masih jadi guru pengganti.
"Belum pernah Nay, dan kenapa kamu tertawa?" tanya Ardian yang merasa aneh melihat Nayla tertawa lepas padanya.
"Jadi kenapa pak Ardian tidak pernah pacaran, padahal saya dengar dulu ada bu citra yang naksir bapak." tanya Nayla dengan penasaran.
"Karena aku hanya mencintaimu Nay, dari saat kamu masih SMP hingga saat ini." jawab Ardian sambil menatap dalam wajah Nayla.
Wajah Nayla bersemu merah, tak menyangka dengan jawaban Ardian yang membuatnya jadi merasa bersalah karena tidak bisa membalas cinta Ardian.
"Aku sungguh tidak percaya pak, bagaimana bapak bisa mencintai aku yang tidak cantik dan tidak seumuran dengan bapak, apalagi sejak SMP aku masih ingusan pak." ucap Nayla mencoba menenangkan hatinya.
"Aku juga tidak tahu Nay, bukannya cinta tidak memerlukan suatu alasan?" jawab Ardian menatap teduh wajah Nayla.
"Em, tapi sayangnya aku sudah mencintai Kenzo sejak kelas satu SMA dan Kenzo adalah cinta pertama ku pak, seperti bapak yang tidak bisa melupakan perasaan cinta bapak terhadap aku." jawab Nayla mencoba jujur pada Ardian tentang perasaannya.
"Aku tahu Nay, sampai saat ini kamu masih mencintai Kenzo, dan ingin hidup bersamanya, tapi takdir berkata lain kita akan menikah besok, aku berharap masih ada kesempatan bagiku untuk membuatmu bisa mencintaiku." ucap Ardian dengan bersungguh-sungguh.
"Soal perasaan, aku orangnya sama seperti bapak tidak mudah untuk berpaling pada cinta yang lain pak, tapi aku berjanji pada bapak sampai lima bulan ke depan aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik, kecuali berhubungan selayaknya suami istri, karena aku tidak bisa berpaling dari cinta Kenzo, aku harap bapak mengerti dengan apa yang aku maksud." ucap Nayla yang tidak bisa membohongi diri sendiri.
__ADS_1
"Aku mengerti Nay, sangat mengerti." ucap Ardian lirih dengan memendam luka hati.