
Setelah Ardian dan Nayla tenggelam dalam kesunyian yang panjang, dengan sejuta pemikiran yang ada di hati masing-masing. Ardian membuka suaranya setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah empat.
"Nayla mandilah dulu, sudah mau subuh kita sholat berjamaah ya." Ucap Ardian seraya duduk bersandar saat Nayla sudah tidak menindihnya.
"Kita mandi sama-sama ya Pak, sekalian aku membersihkan badan bapak agar air lengan bapak tidak terkena air." ucap Nayla dengan suara lembut.
Hati Ardian semakin meleleh dengan perhatian Nayla yang tak pernah di bayangkan sebelumnya oleh Ardian.
Ardian merasakan perubahan Nayla sejak dari rumah sakit, akankah Nayla melakukanya berdasarkan kasihan atau berdasarkan cinta? Ardian ingin tahu.
"Nayla, bisakah aku bertanya padamu dan kamu menjawabnya dengan jujur?" ucap Ardian yang sudah bersiap-siap dengan jawaban Nayla yang pasti terasa sakit di hatinya.
"Bertanya apa pak?" tanya Nayla yang belum tahu pertanyaan Ardian.
"Nayla, apakah kamu melakukan semua ini karena kasihan padaku? karena hidupku sudah tidak lama lagi, kamu melakukan semua ini agar aku bahagia, ya kan Nay?" ucap Ardian dengan opininya.
Nayla terdiam sejenak dengan menatap wajah pucat Ardian.
Selang beberapa menit, Nayla yang masih terbungkus kain selimut, menggeser duduknya mendekati Ardian dan menatap lembut mata Ardian kemudian beralih ke bibir bawah Ardian.
Dengan penuh perasaan Nayla mengecup lembut bibir pucat Ardian beberapa detik.
"Mas Ardian." tiba-tiba Nayla memanggil nama Ardian dengan sebutan Mas, yang sebelumnya selalu memanggil dengan sebutan bapak.
Ardian menatap mata Nayla dalam-dalam, terlalu banyak kejutan yang di berikan Nayla dalam satu hari ini, kejutan yang sangat membahagiakan hatinya.
"Apakah bapak suka, kalau mulai sekarang aku memanggil bapak dengan panggilan Mas Ardian?" ucap Nayla pelan dengan wajah serius.
"Semua panggilan yang kamu tujukan padaku, aku menyukai semuanya Nay, apalagi kamu sekarang kamu memanggilku Mas sekarang." jawab Ardian dengan hati terharu.
"Baiklah Mas, kita mandi sekarang ya." ucap Nayla meraih tangan satunya Ardian.
"Nayla, kamu masih belum menjawab pertanyaanku." ucap Ardian menggenggam tangan Nayla yang menariknya.
Nayla kembali terdiam, mencari jawaban yang tepat untuk Ardian.
"Mas, aku melakukannya karena aku ingin mendapatkan surga dengan membuatmu bahagia, aku bahagia bisa melakukannya, apalagi melihat Mas Ardian yang juga bahagia." jawab Nayla jujur.
Ardian tenggelam dalam kata-kata Nayla. Nayla melakukannya karena menginginkan surganya suami.
__ADS_1
"Ayo Mas, kita mandi sekarang sudah mau menjelang subuh." ucap Nayla menarik pelan tangan Ardian.
Ardian pun bangun dari duduknya mengikuti tangan Nayla yang membawanya ke kamar mandi.
Dengan penuh perhatian Nayla memandikan Ardian terlebih dahulu, baru setelah Ardian selesai di mandikannya, Nayla mandi di hadapan Ardian tanpa ada rasa malu lagi.
Setelah acara ritual mandi selesai dan Nayla sudah membantu Ardian memakaikan bajunya, Nayla menyiapkan sajadah untuk sholat berjamaah.
"Kita sholat berjamaah kan Mas?" tanya Nayla pada Ardian yang masih tenggelam dengan semua apa yang di pikirkannya.
"Mas Ardian." panggil Nayla lagi menyadarkan Ardian dari lamunannya.
"Ya Nay." sahut Ardian pelan.
Berdua akhirnya menjalankan sholat subuh berjamaah dengan sangat khusyuk dan di lanjut dengan Ardian yang mengaji dengan suaranya yang begitu sangat merdu.
Entah Nayla harus bersyukur atau tidak, karena telah mendapatkan suami seperti Ardian yang telah menunjukkan dirinya pada jalan yang benar-benar lurus.
Hati Nayla begitu sangat tenang saat mendengar suara Ardian yang begitu menyentuh hatinya.
***
"Nayla, aku ingin pagi ini berangkat kerja, aku sudah merasa baikan Nay." Ucap Ardian yang ingin bekerja lagi.
"Sudah tidak apa-apa Nay, kalau aku di rumah terus jadi merepotkanmu Nay." Ucap Ardian kasihan pada Nayla yang sudah merawatnya pagi siang dan malam.
"Tidak apa-apa Mas, aku lebih senang Mas Ardian merepotkan aku dari pada di kampus Mas Ardian merepotkan Bu Anita." ucap Nayla dengan perasaan yang tiba-tiba kesal.
Ardian tersenyum dengan jawaban Nayla yang terlihat kesal.
"Aku tidak akan merepotkan siapapun di sana Nay." ucap Ardian dengan sabar.
"Ya Mas aku tahu, Mas tidak akan merepotkan mereka, tapi mereka yang merepotkan diri untuk Mas." ucap Nayla yang sudah tahu keinginan Anita yang ingin mendapatkan Ardian.
"Apa kamu marah dengan hal itu Nay?" Tanya Ardian menatap dalam wajah Nayla.
"Jelas aku marah Mas, kamu suamiku Mas, masak mereka tidak tahu." jawab Nayla tanpa sadar mengakui kalau Ardian adalah suaminya.
"Aku bahagia mendengarnya Nay, sangat bahagia." Ucap Ardian menatap Nayla penuh dengan cinta.
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan bekerja lagi Mas?" tanya Nayla sambil membantu mengancingkan kemeja Ardian.
"Aku harus ada kegiatan Nay, biar badanku tidak kaku semua." ucap Ardian menatap Nayla yang fokus mengancingkan kemejanya.
"Hanya mencari kegiatan saja kan Mas? bukan memberi kesempatan pada Bu Anita untuk dekat dengan Mas kan?" tanya Nayla dengan bibir mengerucut.
Ardian tersenyum bahagia, melihat sikap Nayla sudah berubah padanya lebih perhatian dan lebih manis saat bicara padanya.
"Apakah menurutmu aku bisa melakukan hal itu Nay?" tanya Ardian menatap lembut wajah Nayla.
Wajah Nayla bersemu merah, menahan rasa malu, bagaimana bisa dia mempunyai pikiran yang begitu picik.
"Maafkan aku Mas." ucap Nayla menundukkan kepalanya.
Perlahan tangan kokoh Ardian mengangkat dagu Nayla.
"Aku senang dengan apa yang kamu pikirkan Nay, paling tidak aku tahu kamu menguatirkan aku." ucap Ardian dengan tersenyum.
"Oh ya Mas, seperti yang aku ceritakan kemarin aku putuskan akan menemui Kenzo hari ini Mas, aku tidak ingin masalahku dan Kenzo akan mengganggu hubungan kita." ucap Nayla yang berniat memutuskan hubungannya dengan Kenzo.
"Apa kamu yakin Nay, apa aku harus ikut denganmu?" tanya Ardian yang takut jika Kenzo marah dan berbuat kasar pada Nayla.
"Tidak perlu Mas, aku akan bicara baik-baik padanya, aku yakin dia akan mengerti." ucap Nayla sambil meletakkan telapak tangannya di dada Ardian.
"Baiklah Nay, hati-hati nanti di jalan, aku harus berangkat sekarang." ucap Ardian menatap Nayla ingin mengecup kening Nayla tapi ragu apa Nayla mau menerima kecupannya.
"Nay, aku berangkat ya." ucap Ardian berjalan menuju pintu, mengurungkan niat untuk mengecup Nayla.
"Mas, apa kamu melupakan sesuatu?" tanya Nayla sebelum Ardian keluar pintu.
Ardian menoleh sambil memegang knop pintu.
"Apa Nay?" tanya Ardian dengan hati yang berdebar-debar saat Nayla menghampirinya.
"Apa Mas lupa menciumku?" tanya Nayla polos mengingatkan Ardian.
Hati Ardian berbunga-bunga menatap haru wajah Nayla.
Perlahan Ardian mengecup kening Nayla dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Nayla pun meraih tangan Ardian dan mengecup punggung tangan Ardian.
Dengan kebahagiaan yang meluap-luap Ardian tersenyum kemudian keluar dari pintu kamar.