
Dengan tertatih Ardian keluar dari mobilnya dan berjalan pelan ke arah pintu rumah Ayah Bunda Nayla.
Sasongko yang lebih dulu tahu kedatangan Ardian tergopoh-gopoh menghampiri Ardian yang tampak terlihat pucat dan tidak sehat.
"Nak Ardian." panggil Sasongko memegang lengan Ardian.
"Ayah." sahut Ardian tersenyum lemah berjalan masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu Nak Ardian." ucap Sasongko membantu Ardian duduk di kursi.
"Nak Ardian tumben ke sini dan sendirian, di mana Nayla nak?" tanya Sasongko dengan perasaan yang tidak enak.
"Saya mau menceritakan sesuatu pada Ayah dan Bunda, bisakah Ayah panggilkan Bunda?" ucap Ardian yang ingin menceritakan semuanya dari awal agar Ayah dan Bunda Nay tidak marah pada Nayla.
"Sebentar ya Nak." ucap Sasongko masuk ke dalam dan memanggil istrinya.
Setelah Sasongko dan Bunda Nay duduk berdampingan, Ardian menatap keduanya dengan mengambil nafas panjang.
Tanpa mengurangi kejadian yang terjadi, Ardian menceritakan semuanya tentang keadaan sakitnya yang hidupnya sudah tidak lama lagi, juga tentang kedatangan Kenzo yang sudah mengorbankan semuanya untuk Nayla, bahkan kecelakaan yang di alami Kenzo dan kebutaannya.
Semua Ardian ceritakan dengan tenang dan ikhlas, bahkan tentang perceraiannya yang sudah di berikan pada Nayla.
Sasongko dan Bunda Nay menangis bersamaan tak sanggup lagi dengan keadaan Ardian dan Nayla yang harus terpisah.
"Nak Ardian kenapa Nak Ardian sampai menceraikan Nayla? bagaimana dengan Nak Ardian tanpa Nayla sekarang?" tanya Sasongko dengan perasaan yang sangat sedih.
"Saya tidak ingin menjadi penghalang bagi hubungan mereka berdua lagi Ayah, Kenzo sama menderitanya dengan saya, dia juga mengorbankan semua yang di milikinya demi Nayla, saya yakin Kenzo pasti bisa membahagiakan Nayla." jawab Ardian panjang lebar.
"Tapi Nak Ardian, Ayah rasa Nayla sudah mencintai Nak Ardian dan tidak lagi mencintai Kenzo Nak." sahut Bunda Nay yang pernah di telepon Nayla kalau perasaan hatinya sudah tersentuh Ardian.
__ADS_1
"Sekarang apa yang Nak Ardian lakukan?" tanya Sasongko dengan hati yang begitu sedih.
"Saya kembali ke rumah untuk menunggu hari-hari terakhir saya saja Ayah, saya ingin kalau meninggal saya meninggalnya di desa ini, desa kelahiran saya." ucap Ardian dengan mata yang sendu.
"Nak Ardian bicara apa? jangan mendahului takdir Tuhan!! mungkin dokter bisa mevonis hidup Nak Ardian tidak lama lagi, tapi hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan." ucap Bunda Nay menangis pilu.
"Ya Bunda, saya tahu itu tapi keadaan saya sudah semakin parah Bunda, terkadang saya sudah tidak sanggup menahan rasa sakit saat datang bersamaan." ucap Ardian yang tiba-tiba terlihat sangat pucat saat mendapat panggilan telepon dari Bik Ummah.
Dengan tubuh lemas Ardian menerima panggilan Bik Ummah.
"Ada apa Bik Ummah?" tanya Ardian dengan lemah.
"Den Ardian, barusan Non Nayla menelpon saya bertanya tentang keberadaan Den Ardian." ucap Bik Ummah dengan panik.
"Bik Ummah tidak mengatakan apa-apa kan?" tanya Ardian pada Bik Ummah yang kadang tidak bisa berbohong.
"Bik Ummah tenang yah, kalau begitu aku tidak akan pulang, tolong semua buku-buku dan obat-obatanku Bik Ummah simpan yang tidak bisa di ketahui Nayla, tolong layani Nayla dengan baik ya Bik." ucap Ardian yang terselip perasaan bahagia saat Nayla mencarinya sampai ke desa.
"Nak Ardian, Nayla ke desa mencari Nak Ardian, itu berarti Nayla sangat perduli dengan Nak Ardian, kenapa Nak Ardian tidak menemui Nayla saja Nak?" ucap Bunda Nay yang bersedih dengan keras kepalanya Ardian.
"Saya tidak ingin Nayla hanya kasihan pada saya Bunda, saya ingin Nayla mencintai saya, untuk itu saya memberi kesempatan pada Nayla untuk meraih cintanya." ucap Ardian menahan rasa sakit yang datang kembali di daerah perutnya.
"Nak Ardian Ayah minta jangan lakukan hal ini Nak, kalian sudah di menikah dan itu namanya jodoh, kenapa Nak Ardian masih memikirkan orang lain?" Ucap Sasongko dengan kesedihan mendalam.
"Ayah bisa kah Ayah mendukungku kali ini, aku tidak ingin menyakiti hati Nayla dan Kenzo lagi Ayah, biar mereka mendapatkan kesempatan untuk bahagia." ucap Ardian yang lambat laun nafasnya terasa sesak.
"Nak Ardian, ada apa Nak? apa ayah antar ke rumah sakit sekarang?" tanya Sasongko saat melihat Ardian terlihat kesulitan bernafas.
"Ya Ayah, tapi tolong Ayah dan Bunda jangan beritahu keberadaan saya pada Nayla, berjanjilah pada saya Ayah." ucap Ardian menahan sakit dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya.
__ADS_1
"Ya Nak, sekarang kita ke rumah sakit ya Nak." ucap Sasongko dengan dadanya yang ikut merasakan sesak, Sasongko sangat tahu bagaimana rasanya sakit saat ginjalnya dulu kambuh, semalaman merintih dalam kesakitan.
Dengan di papah Sasongko, Ardian masuk ke dalam mobil dan segera di larikan Sasongko ke rumah sakit desa.
***
Dengan menahan kantuk Nayla sampai juga di rumah besar Ardian. Suasana rumah tampak sepi, namun kebersihannya masih tetap terjaga.
Nayla keluar dari mobilnya dan di sambut oleh Bik Ummah.
"Non Nayla, tumben ke sini sendirian Non? mana Den Ardian?" tanya Bik Ummah berpura-pura tidak tahu.
"Kita masuk dulu Bik Ummah, aku akan menceritakan semuanya pada Bik Ummah." ucap Nayla dengan wajah sedih.
Di dalam rumah Bik Ummah membuatkan teh hangat buat Nayla.
"Memang ada sesuatu yang terjadi ya Non?" tanya Bik Ummah dengan serius.
Dengan matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca, Nayla menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir pada Bik Ummah orang yang sudah bertahun-tahun merawat dan menjaga Ardian dari saat masih muda belia.
Bik Ummah menangis meraung setelah Nayla menceritakan semuanya.
"Bik Ummah minta Non, jangan pernah tinggalkan Den Ardian Non, jangan sampai Non Nayla menandatangani surat cerai itu, kasihan Den Ardian, pengorbanan Den Ardian pada keluarga dan Non Nayla sangatlah besar sekali, dan itu tidak bisa di ganti dengan apapun." ucap Bik Ummah dengan tangisan pilu.
"Maksud Bik Ummah apa? apa yang di lakukan Mas Ardian untukku dan untuk keluargaku? tolong ceritakan semuanya Bik Ummah." ucap Nayla dengan hati yang berdebar-debar.
Sepertinya apa yang pernah di pikirkannya akan benar-benar terjadi, kalau Ardian ada hubungannya dengan sembuhnya Ayahnya di waktu lalu.
"Non Nayla, saat Ayah Non Nayla sakit parah dan butuh donor ginjal, Den Ardianlah yang menyumbangkan ginjalnya dan membiayai semua biaya rumah sakit Ayah Non Nayla, dan juga saat Non Nayla kuliah di kota, Den Ardian juga yang membiayai semuanya, termasuk dengan rumah Non yang dulunya tidak bagus menjadi bagus, semua itu karena bantuan dari Den Ardian Non, tapi Den Ardian tidak ingin Non Nayla tahu untuk itu Ayah dan Bunda Non Nayla tidak pernah memberitahu sedikit pun tentang itu pada Non Nayla." ucap Bik Ummah menceritakan panjang lebar tentang pengorbanan seorang Ardian.
__ADS_1