LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
KESEPAKATAN


__ADS_3

"Nayla, lihatlah aku..apakah aku terlihat marah padamu?" tanya Ardian yang tiba-tiba dadanya berdebar-debar sangat kencang, saat Nayla berlahan menatap matanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa Pak Ardian masih memegang janji yang kemarin telah kita sepakati? aku mohon jangan cerita pada Ayah Bunda mengenai kesepakatan kita, cukup kita berdua yang tahu, aku berjanji akan menuruti tiga permintaan yang Pak Ardian inginkan asalkan lima bulan ke depan Pak Ardian melepaskan aku." ucap Nayla dengan suara lirih dan matanya yang memohon.


Ardian terdiam dengan perasaan yang selalu terluka.


Bagaimana dia bisa menjalani hubungan berdasarkan hanya dengan suatu kesepakatan.


Setelah berpikir cukup lama, Ardian menatap Nayla dengan serius.


"Apa itu benar? jika aku setuju dengan kesepakatan ini kamu akan menuruti tiga permintaanku?" tanya Ardian dengan perasaan yang terluka dan putus asa.


Nayla mengangguk pasti.


"Kalau begitu untuk permintaanku yang pertama menikahlah denganku dalam Minggu ini." ucap Ardian dengan tenang walaupun hatinya berdebar-debar tak karuan apa Nayla mau menerimanya atau tidak.


Nayla menatap Ardian dengan gusar, bukannya hubungan mereka hanya sebatas pertunangan? setelah lima bulan baru akan berpisah.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang Pak, bagaimana kalau nanti sore saya menjawabnya." ucap Nayla ingin berbicara dulu Kenzo mengenai hal semalam juga apa langkah mereka selanjutnya.


Ardian mengangguk pelan.


"Aku akan menunggu jawabanmu Nay." ucap Ardian yang sangat tahu apa yang telah di pikirkan Nayla.


"Sekali lagi ya pak, aku minta tolong pada Bapak jangan ceritakan semua ini pada Ayah dan Bunda, aku percaya sama Bapak." ucap Nayla dengan bersungguh-sungguh.


"Kamu bisa percaya padaku Nay." sahut Ardian dengan bersabar hati menghadapi sikap Nayla yang selalu menyakiti hatinya.


"Trimakasih Pak, Pak Ardian sangat baik sekali." ucap Nayla tanpa sadar memegang kedua tangan Ardian yang begitu hangat.


Ardian menatap Nayla dengan jantungnya yang selalu berdegup kencang bila Nayla menyentuhnya.


"Nay, aku harus pulang sekarang ada pekerjaan yang harus aku lakukan di kantor." ucap Ardian menutupi kegugupannya.


"Eh, ya pak.. lalu pak Ardian pulang bagaimana?" tanya Nayla karena Ardian tidak ada kendaraan untuk pulang.


"Aku bisa pulang naik ojek Nay, oh ya Nay bisa kamu melepaskan tanganmu?" ucap Ardian yang tidak bisa menahan kegugupannya.


Wajah Nayla bersemu merah, karena tanpa sadar telah memegang kedua tangan Ardian begitu lama.

__ADS_1


"Emm, maaf pak aku tidak sengaja." ucap Nayla tersenyum malu, karena larut dalam kehangatan tangan Ardian.


"Tidak apa-apa, bisa panggilkan Ayah Bundamu Nay?" ucap Ardian mencoba untuk tenang.


"Sebentar pak, akan aku panggilkan." ucap Nayla yang akan melangkah melewati Ardian, karena tidak hati-hati kaki Nayla terantuk kaki meja membuat tubuh Nayla hampir terjerembab ke lantai jika Ardian tidak menarik pinggangnya dengan cepat ke dalam pelukannya.


Nayla terjatuh dalam dada Ardian yang bidang.


"Kamu tidak apa-apa Nay? hati-hati kalau berjalan." ucap Ardian menatap wajah Nayla dengan dadanya yang berdetak sangat keras.


"Emm, aku tidak apa-apa Pak, terimakasih." ucap Nayla yang tiba-tiba menjadi gugup dan malu dengan tatapan Ardian yang teduh.


Dengan perasaan malu, Nayla masuk ke dalam dan memanggil Ayah Bundanya yang berada di dalam kamar.


Ardian menunggu sedikit lama sampai Sasongko dan Bunda Nay keluar bersama Nayla yang sudah segar dan berganti baju.


"Mau pulang sekarang Nak Ardian?" tanya Bunda Nay dengan hati yang sudah tenang.


"Ya Bu, ada pekerjaan di kantor yang belum saya selesaikan." ucap Ardian dengan tersenyum.


"Nak Ardian, karena Nak Ardian sudah kami anggap sebagai anak sendiri panggillah kami dengan Ayah Bunda seperti Nayla memanggil kami." ucap Sasongko yang benar-benar menyayangi Ardian.


"Baiklah Ayah Bunda, tidak baik menolak kebaikan orang tua yang sudah baik pada saya." ucap Ardian terharu dengan kedua orang tua Nayla yang begitu menyayanginya.


Nayla menganggukkan kepalanya dan memberikan kunci motornya pada Ardian.


"Baiklah Ayah Bunda, saya pamit dulu." ucap Ardian sambil menganggukkan kepala.


Setelah berpamitan pada Ayah Bunda Nayla, Ardian berjalan keluar rumah mengambil motor Nayla.


"Ayo naik Nay." ucap Ardian yang sudah duduk di atas motor.


Dengan canggung Nayla naik ke atas motor dan memegang sisi pinggang Ardian.


Hati Ardian berdesir tiap kali tangan lembut Nayla menyentuhnya.


Dengan Nayla duduk di belakangnya, Ardian merasakan kebahagiaan yang luar biasa walau dia tahu itu hanya sesaat, Ardian mensyukuri apa tiap datang kebahagiaan itu.


"Sudah sampai Nay," ucap Ardian setelah sampai di depan rumahnya.

__ADS_1


Nayla menatap wajah Ardian yang terlihat pucat dan lelah, dia tahu pasti Ardian tidak tidur semalaman karena cemas memikirkannya.


"Pak Ardian apa yakin akan bekerja pagi ini?" tanya Nayla sedikit kuatir dengan kesehatan Ardian.


Ardian menatap Nayla dengan perasaan yang tak percaya.


"Nayla kenapa aku tidak bisa mengerti dirimu, terkadang kamu begitu perhatian padaku, tapi dengan cepat pula kamu membenciku." ucap Ardian dalam hati.


"Pak Ardian? bapak mendengarku kan?" tanya Nayla lagi.


"Aku hari ini tidak bekerja Nay, aku akan ke rumah sakit kunjungan rutin." jawab Ardian yang tiap Minggu sekali dia harus melakukan cuci darah.


"Maksudnya pak?" tanya Nayla tak mengerti.


"Aku harus cuci darah tiap seminggu sekali, agar kesehatanku tidak bertambah parah." jelas Ardian dengan tanpa ada rasa kesedihan.


"Kapan Pak Ardian mau ke rumah sakit?" tanya Nayla yang membuat Ardian jadi tak bisa berpikir lagi.


"Pagi ini setelah aku mandi." jawab Ardian menatap dalam Nayla.


"Cepatlah mandi Pak, aku akan menemani bapak ke rumah sakit." ucap Nayla dengan cepat.


"Maksudmu Nay? apa kamu ikut aku ke rumah sakit?" tanya Ardian memastikan lagi apa yang di ucapkan Nayla.


"Ya pak, ayo cepat pak soalnya siang nanti aku mau bertemu Kenzo mengenai semalam." ucap Nayla yang tidak tahu kenapa menjadi terbuka pada Ardian.


"Apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dengan Kenzo Nay?" tanya Ardian dengan hati yang tiba-tiba cemas.


"Tidak ada Pak, aku juga tahu bagaimana menjaga diri Pak." jawab Nayla membuat hati Ardian menjadi lega.


"Sudah, ayo cepat mandi pak." ucap Nayla mendorong punggung Ardian masuk ke dalam rumah.


Ardian tersenyum, entah kenapa serasa Nayla sudah seperti istrinya saat Nayla mendorong punggungnya untuk menyuruhnya mandi.


"Nayla, aku bisa jatuh kalau kamu mendorongku." ucap Ardian sambil tertawa terkekeh.


Nayla menghentikan dorongannya, kemudian menatap dalam-dalam wajah Ardian.


"Coba pak, tertawa lagi seperti barusan." ucap Nayla tak percaya jika Ardian tertawa terlihat sangat tampan.

__ADS_1


"Kenapa menyuruhku tertawa lagi Nay?" tanya Ardian dengan gugup.


"Pak Ardian terlihat lebih tampan jika tertawa, sungguh sangat tampan." ucap Nayla dengan menahan senyum melihat wajah Ardian yang tersipu malu.


__ADS_2