
"Bagaimana dokter kondisi suami saya saat ini?" tanya Nayla pada Dokter Ketut dokter pribadi Ardian, saat mengantar Ardian ke rumah sakit untuk cuci darah.
"Aku bingung Nayla harus bilang apa padamu, pak Ardian terlalu meremehkan sakitnya, harusnya Pak Ardian itu sudah di larang keras untuk bekerja atau berpikir terlalu keras yang menyebabkan kinerja ginjalnya semakin parah apalagi Pak Ardian selalu terlambat untuk melakukan cuci darah yang harusnya di lakukan dengan rutin." jelas Dokter Ketut yang masih belum bilang kondisi terbarunya Ardian.
"Lalu dokter? dari semua itu apa pengaruhnya pada ginjal suami saya Dokter?" tanya Nayla yang merasakan sesuatu yang tidak baik.
"Pak Ardian sudah mengalami kerusakan ginjal yang sangat parah yang hanya bisa di sembuhkan dengan ginjal yang baru, hidupnya pak Ardian tidak akan lama jika tidak segera mendapatkan donor ginjal." jelas Dokter Ketut yang menyebabkan hati dan dada Nayla tidak bisa tenang.
"Bukannya suami saya sudah ada cuci darah Dok?" Tanya Nayla dengan kepalanya semakin berdenyut-denyut.
"Itu hanya menjaga kondisi pak Ardian agar stabil saja, bukan menyembuhkan ginjalnya yang sudah parahnya." ucap Dokter Ketut lagi.
"Sampai berapa lama hitungan medis untuk suami saya bertahan dokter?" tanya Nayla lagi.
"Kalau perkiraan secara medis memungkinan hanya hitungan bulan sekitar tiga sampai empat bulan, tapi kita tidak tahu untuk kepastiannya karena hidup dan mati itu hanya Milik yang di Atas, aku sarankan berikan kebahagiaan pada Pak Ardian di sisa hidupnya siapa tahu dengan kebahagiaan yang Pak ardian dapatkan membuatnya punya semangat hidup kembali." jelas Dokter Ketut lagi melihat wajah Nayla yang menjadi pucat seperti seputih kertas.
"Trimakasih Dokter atas penjelasannya." ucap Nayla dengan hati yang tiba-tiba tertuju pada Ardian.
"Aku harus bagaimana? apa pak Ardian tahu tentang kondisinya saat ini, hingga pernah bilang kalau hidupnya tidak akan lama? kenapa hatiku sangat sakit dengan semua ini?" ucap Nayla dalam hati.
Nayla berjalan kembali ke ruangan Ardian yang baru selesai transfusi cuci darahnya.
Di lihatnya Ardian berbaring sedang menatap dirinya.
"Nay, darimana?" Tanya Ardian menatap dalam wajah Nayla yang terlihat menyimpan sesuatu.
"Dari Dokter Ketut Pak." ucap Nayla dengan suara pelan.
"Apa dokter Ketut mengatakan sesuatu padamu Nay?" tanya Ardian mencoba untuk duduk bersandar karena tangannya masih tergantung dengan kain di lehernya.
"Kita bicara di rumah ya pak." jawab Nayla dengan perasaan sedih.
Ardian terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya.
Sampai di rumah, Nayla melepas kemeja Ardian dan menggantinya dengan baju kain kaos yang berkancing.
"Bagaimana pak, sudah tidak terasa lemas kan pak?" tanya Nayla meraba kulit lengan Ardian yang sudah menghangat.
__ADS_1
"Nay, katakan sekarang apa kata dokter Ketut soal hasil cek-up ku yang terakhir?" tanya Ardian tak lepas menatap Nayla yang memasang kancingnya bajunya.
"Mulai sekarang bapak harus lebih menjaga kesehatan bapak ya? jangan terlambat juga untuk cuci darah, aku akan segera mencari pendonor ginjal untuk bapak." ucap Nayla tanpa menatap wajah Ardian.
"Nayla, lihat aku." ucap Ardian dengan suara parau.
Dengan terpaksa Nayla menatap mata Ardian yang sedang menatapnya penuh.
"Katakan Nayla, jangan ada yang di sembunyikan lagi." ucap Ardian dengan suara tercekat.
Entah karena apa, melihat wajah dan suara Ardian yang parau membuat hati Nayla menjerit mengingat semua yang di katakan dokter Ketut padanya.
"Nayla?" tatap Ardian dengan tatapan sendu.
"Bapak." panggil Nayla lirih dengan tiba-tiba memeluk tubuh Ardian dengan sangat erat.
Nayla menenggelamkan tangisannya di dada Ardian.
"Nayla, ada apa, katakan padaku Nay?" ucap Ardian membalas pelukan Nayla dengan penuh Kasih.
"Apakah kamu tahu soal hidupku yang sudah tidak akan lama lagi?" Tanya Ardiana masih dalam tatapannya.
Nayla mengangguk pelan tak berdaya.
"Apakah kamu takut kehilanganku Nay?" tanya Ardian pelan berharap Nayla akan merasa kehilangan dirinya.
"Bapak bisa sembuh asal bapak jaga kesehatan dengan baik, jangan terlalu banyak bekerja pak." ucap Nayla yang tidak bisa menjawab pertanyaan Ardian.
"Aku akan baik-baik saja Nay, selama ada kamu bersamaku." ucap Ardian membelai lembut rambut Nayla.
Nayla terkesiap saat sadar dengan apa yang di lakukannya, dengan rasa malu Nayla sedikit menjauhkan wajahnya dari Ardian.
"Bapak minum obat dulu ya?" ucap Nayla sambil mengambil segelas air putih dan beberapa obat dari dokter Ketut.
Setelah Ardian minum semua obatnya, Nayla mengembalikan gelas di atas meja.
Seiring ponselnya berbunyi panggilan. Nayla melihat ada nama Kenzo di sana.
__ADS_1
Dengan perasaan ragu Nayla menerima panggilan Kenzo di hadapan Ardian.
"Ya Ken, ada apa?" tanya Nayla sambil menatap wajah Ardian yang terlihat sedih.
"Kemarin aku belum selesai bicara kenapa kamu mematikannya Mau?" tanya Kenzo dengan rasa kekecewaan yang sangat besar.
"Kapan kamu menelponku Ken? kemarin kamu tidak menelponku?" Tanya Nayla dengan heran.
"Kemarin malam Nay, aku sudah bilang padamu kalau aku sudah resmi berpisah dengan Safitri, dan aku juga bertanya padamu apa kamu sudah meminta cerai dari Pak Ardian, tapi kamu malah mematikannya." cerita Kenzo dengan suara yang penuh luka.
Nayla mendengarkan cerita Kenzo sambil menatap mata Ardian yang tertunduk.
"Ken, nanti kita bicara lagi ya, aku masih ada urusan sebentar." ucap Nayla dengan tatapan matanya yang tak lepas menatap Ardian.
"Pak Ardian lihat aku pak." tanya Nayla dengan perasaan hatinya yang tiba-tiba merasakan luka hati Ardian.
Ardian mengangkat wajahnya menatap Nayla dengan hati yang kembali terluka.
"Apakah bapak yang menerima telepon dari Kenzo kemarin malam?" tanya Nayla tanpa berkedip.
Ardian mengangguk jujur tidak siap dengan kemarahan Nayla.
"Apakah karena berita itu bapak jadi drop semalam?" tanya Nayla dengan bibir bergetar.
Ardian menganggukkan kepalanya lagi tanpa berani menatap Nayla.
"Maafkan aku pak, aku tidak tahu kalau bapak telah mendengar semua itu dari Kenzo, aku mohon jangan di masukkan hati ya Pak." ucap Nayla dengan perasaan bersalah.
"Kenzo telah resmi berpisah dari Safitri, dan itu demi dirimu Nay? apakah kamu bahagia Nay?" tanya Ardian dengan pelan.
Nayla tidak bisa menjawab pertanyaan Ardian yang dirinya sendiri juga tidak tahu, apakah harus bahagia atau tidak.
"Dan Kenzo telah menyuruhmu untuk minta cerai kan Nay, apakah kamu akan menceraikan aku demi Kenzo Nay?" tanya Ardian dengan hati yang sangat pedih.
"Bukannya aku sudah bilang pak, aku tidak akan meninggalkan bapak." jawab Nayla yang masih belum memikirkan jawaban buat Kenzo.
"Bagaimana dengan Kenzo Nay? dia sudah berkorban demi dirimu?" tanya Ardian yang tak ingin Nayla hanya merasa kasihan padanya.
__ADS_1