LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
SESAAT AKU BAHAGIA (2)


__ADS_3

"Ya Nay, makannya aku ingin memberitahumu hari ini aku sedikit bisa melihat, dan nanti akan di periksa ulang, kemungkinan besok pagi aku kembali ke desa, Ayah yang memintaku untuk kembali pulang Nay." ucap Kenzo yang sudah terbiasa bercerita pada Nayla.


"Syukurlah Ken, kalau kamu kembali ke desa, setidaknya kamu bisa berkumpul kembali dengan keluargamu." ucap Nayla tak mengalihkan pandangannya pada Ardian dan menyalahkan speakernya agar Ardian juga bisa mendengar. Sungguh Nayla tidak ingin sedikitpun untuk menyakiti hati suaminya lagi.


"Bagaimana kabar Pak Ardian Nay, apa sudah mendapatkan donor ginjal?" tanya Kenzo penuh perhatian.


"Keadaan Mas Ardian masih belum baik Ken, Mas Ardian sangat membutuhkan ginjal dalam waktu dekat ini." ucap Nayla dengan perasaan yang sedih kembali.


"Aku doakan segera mendapatkan donor ginjalnya dengan cepat ya Nay?" ucap Kenzo dengan suara penuh ketulusan.


"Aamiin, trimakasih ya Ken." ucap Nayla terharu dengan sikap Kenzo yang sudah tidak ada keegoisan lagi seperti halnya dirinya yang dulu juga pernah egois.


"Ya sudah Nay, sampai bertemu lagi jika aku pulang ke desa ya Nay." ucap Kenzo dengan suara terasa berat.


"Ya Ken." ucap Nayla kemudian menutup panggilan Kenzo.


Sambil menghela nafas, Nayla kembali meletakkan ponselnya di atas meja.


"Semoga Kenzo bisa dapat melihat lagi ya Nay?" tanya Ardian setelah melihat Nayla kembali menatapnya.


"Ya Mas, semoga Kenzo bisa dapat melihat kembali, agar rasa bersalahku juga berkurang Mas." ucap Nayla sembari menggenggam tangan Ardian kembali.


Ardian pun membalas genggaman tangan Nayla dengan perasaan penuh kerinduan.


"Aku senang Kenzo segera kembali ke desa, jadi jika terjadi sesuatu padaku, aku berharap kamu bisa kembali pada Kenzo." ucap Ardian dengan wajahnya yang teduh.


"Mas, apa yang kamu bicarakan? apa tidak ada lagi yang Mas bahas selain hal itu." ucap Nayla dengan perasaan yang benar-benar bersedih.


"Nayla, bisakah aku pulang besok pagi, aku ingin tinggal di rumah pondok berdua bersamamu saja Nay." ucap Ardian dengan tatapan sayu.


"Tapi Mas, kondisi kamu masih belum baik Mas." ucap Nayla yang sudah beberapa kali menjelaskan pada Ardian.

__ADS_1


"Nayla, aku mohon." ucap Ardian dengan tatapan memelas membuat Nayla tidak sampai hati untuk tidak menurutinya.


"Baiklah Mas, tapi aku meminta sesuatu dari kamu." ucap Nayla yang ingin sekali mencium bibir Ardian yang sudah sangat lama di rindukannya.


"Apa Nay?" tanya Ardian yang jadi berdebar-debar takut jika Nayla akan meninggalkannya karena Kenzo sudah sehat dan akan kembali.


"Hm, tutup mata kamu Mas." ucap Nayla dengan suara pelan.


Perlahan Ardian menutup matanya sambil menggenggam erat tangan Nayla.


Setelah melihat Ardian menutup matanya, Nayla sedikit lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Ardian, dengan hembusan nafas hangat Ardian, Nayla menyentuh bibir Ardian yang sedikit memerah, rasa hangat dan lembabnya bibir Ardian mulai membangkitkan gairah Nayla.


Jantung Ardian bergerak terasa cepat saat merasakan bibir lembab Nayla menyentuh bibir bawahnya. Perlahan Ardian membuka matanya dan menatap sepasang mata indah milik Nayla yang juga sedang menatap dirinya.


Dengan penuh perasaan keduanya saling melepas rindu dengan saling *******, memagut dan menghisap dan bermain lidah di dalamnya.


Hawa panas samakin mereka berdua rasakan dengan semakin intensnya mereka berdua saling menjelajah bermain lidah, bibir Ardian menyesap lembut kenyalnya lidah Nayla hingga Nayla hampir kehilangan pasokan oksigennya.


"Aku sangat merindukan hal ini Mas." ucap Nayla dengan tersenyum, sambil mengusap bibir Ardian yang ada bekas warna merah dari lipstiknya.


"Aku juga Nay." ucap Ardian ikut mengusap pinggiran bibir Nayla yang belepotan lipstiknya.


"Ya sudah Mas, sudah malam baiknya Mas Ardian istirahat." ucap Nayla sambil membetulkan selimut Ardian.


"Nayla, besok pagi kita jadi pulang kan?" ucap Ardian dengan tatapan sangat teduh.


"Ya Mas, tapi Mas Ardian harus cek up dulu ya Mas." ucap Nayla tidak ingin Ardian kenapa-kenapa.


"Ya Nay." ucap Ardian dengan hati yang sangat lega, paling tidak di saat menjelang hari-hari terakhir hidupnya, Ardian merasakan hidup bahagia hanya berdua dengan Nayla dan buah hatinya.


"Sekarang tidur ya Mas, agar besok tidak terlalu lelah." ucap Nayla dengan penuh perhatian.

__ADS_1


"Nay, bisakah kamu memelukku sampai aku tertidur?" pinta Ardian dengan tatapan yang sangat sayu di mata Nayla, tatapan yang selalu melemahkan hati Nayla.


"Hm, sebentar ya Mas." ucap Nayla berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam.


"Aku harus menguncinya dari pada nanti ketahuan para suster Mas, malu kita nanti" ucap Nayla tersenyum seraya duduk di pinggir ranjang Ardian.


Ardian membalas senyuman Nayla dengan senyuman bahagianya.


"Mas, tapi ranjangnya tidak terlalu besar dan seperti tidak cukup Mas untuk kita berdua." ucap Nayla merasa takut jika salah satu dari mereka berdua akan terjatuh.


"Berbaringlah pelan Nay, aku akan memelukmu erat agar tidak terjatuh nanti." ucap Ardian sambil menggeser tubuhnya untuk memberi tempat buat Nayla istrinya.


Dengan pelan Nayla menaikkan kakinya dengan berpegangan pada pundak Ardian.


Ardian berbaring miring menghadap ke Nayla, sebaliknya pun Nayla juga tidur miring menghadap Ardian.


Dengan posisi berhadapan Nayla dan Ardian hanya saling bertatapan menyelami hati satu sama lainnya.


"Mas, katanya minta di peluk?" tanya Nayla melihat Ardian diam saja dan hanya menatapnya dengan tatapan yang cinta yang begitu besar.


"Aku tidak akan puas menatap wajahmu Nay, serasa tak akan habis waktu untuk mengukir betapa cantiknya wajahmu." ucap Ardian dengan suara pelan nyaris tak terdengar.


Wajah Nayla bersemburat merah, dengan hati yang berdebar-debar mendengar pertama kalinya Ardian mengucapkan kata-kata indah yang membuat hatinya meleleh seketika m


"Apakah kita akan berbicara terus sampai pagi, dan melupakan kalau hari sudah malam Mas?" tanya Nayla dengan suara gugup menahan rasa malu.


"Biarkan saja waktu tidak berlalu tanpa ada pagi, siang dan malam Nay, karena aku ingin bersamamu tanpa perduli dengan waktu yang bisa tiba-tiba menjauhkan diriku darimu Nay." sahut Ardian yang ingin waktu tidak cepat berlalu.


"Pejamkan matamu malam ini Mas, aku aku akan tetap di hadapanmu sampai matamu terbuka di esok hari." ucap Nayla seraya mengusap lembut wajah Ardian, kemudian mengecup kedua mata Ardian agar bisa terlelap dengan mimpi indahnya.


"Aku mencintaimu Nay, sangat mencintaimu, bahkan aku tak sanggup jika harus meninggalkanmu dengan perasaanku yang begitu dalam padamu." ucap Ardian dalam hati dengan rasa sakit yang kadang menderanya hingga menusuk dalam ke dalam jantungnya.

__ADS_1


Sungguh rasa sakit yang tidak bisa Ardian keluarkan dengan suara rintihan dan ratapan, selain menyimpan semua rasa sakit dengan keikhlasan dan merelakan.


__ADS_2