LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
MENCARI KEBENARAN (1)


__ADS_3

"Saya menginginkan saudara Ardian di penjara sementara sampai masalah ini jelas, karena ada bukti sidik jari di pisau yang menancap di tubuh saudara Anita." ucap Arifin menatap Priambodo dengan serius.


Priambodo memicingkan matanya seraya menegakkan punggungnya.


"Apa anda sudah yakin hanya dengan bukti itu saja sudah bisa memasukkan seseorang ke dalam penjara? untuk di ketahui saja kita menangkap seorang harus ada beberapa proses terutama penyelidikan, pengumpulan bukti dan menganalisanya baru kita bisa menetapkan saksi sebagai tersangka atau terdakwa." ucap Priambodo dengan giginya yang bergemelatuk.


"Tapi kita bisa minta bantuan pada anda untuk menangkap sementara agar saksi atau tersangka tidak bisa melarikan diri." ucap Arifin memberikan alasannya.


"Saudara Ardian tidak akan bisa melarikan diri, kalau hal itu yang anda kuatirkan, karena selama dua puluh empat jam saudara Ardian dalam pengawasan kami." ucap Priambodo berusaha tenang agar Ardian tidak mendapat masalah lagi jika dia bersikap kasar pada pengacara keluarga Anita.


"Apa saya bisa melihat bukti-bukti yang lainnya pak Priambodo?" tanya Arifin yang ingin tahu semua bukti yang ada untuk dia pelajari agar bisa menjatuhkan Ardian.


"Maaf, untuk sementara bukti-bukti masih ada dalam pengawasan kami, karena masih harus mengungkap dan menangkap tersangka lainnya." jawab Priambodo dengan tegas, karena Priambodo sungguh tidak ingin ada oknum yang bisa saja sengaja menghilangkan barang bukti.


Arifin menghela nafas panjang kemudian menatap Priambodo.


"Bagaimana kalau saya di beri keterangan sedikit saja, apa saja yang menjadi bukti untuk kasus kematian saudara Anita?" tanya Arifin sedikit melunak.


"Ada beberapa bukti yang kami temukan dan kami sudah memeriksanya, Ada beberapa orang yang sedang kita curigai saat ini. Jadi biarkan kami bekerja lebih dulu dengan cara kami. Dan anda bisa mengumpulkan bukti dengan cara anda sendiri." ucap Priambodo dengan jelas dan tegas.


Arifin terdiam kemudian menatap Priambodo dalam-dalam.


"Begini pak Priambodo, bagaimana kalau saya..." Arifin tidak meneruskan kata-katanya, setelah menatap wajah Priambodo yang tidak terlihat ramah.


"Bagaimana apa? saudara Arifin? teruskan saja akan saya dengarkan." ucap Priambodo dengan tatapan serius.


"Tidak jadi pak, sebaiknya saya permisi dulu untuk mengumpulkan bukti lebih dulu." ucap Arifin yang sebenarnya Ingin menawarkan sejumlah uang untuk bisa memberitahu soal bukti-bukti itu. Tapi dengan melihat kepribadian Priambodo yang keras dan terlihat jujur dengan pekerjaannya, Arifin mengurungkan niatnya.


"Itu akan lebih baik pak Arifin, daripada pak Arifin menghabiskan waktu di sini dengan hasil yang sia-sia." ucap Priambodo dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


"Baiklah pak Priambodo terimakasih atas waktunya." ucap Arifin menyalami Priambodo sebelum keluar dari ruangan Priambodo.


Priambodo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, setelah Arifin keluar dari ruangannya. Sungguh hatinya sedikit lega karena dia telah mematahkan keinginan Arifin yang ingin memasukkan Ardian ke dalam penjara.


"Ya Tuhan, beri hamba kekuatan untuk bisa menyelesaikan tugas ini dengan cepat." ucap Priambodo, kemudian memanggil Hari untuk bertanya tentang hasil sidik jari yang ada di pecahan botol serta pada sarung ****** dan sarung tangan plastik yang di temukannya.


Sambil menunggu kedatangan Hari, Priambodo menghubungi Alex detektif khusus yang membantunya untuk mencari keberadaan Dargo dan anak buahnya.


Tapi sebelum Priambodo menghubungi Alex, ada panggilan masuk dari Kenzo.


Dengan cepat Priambodo menerima panggilannya Kenzo.


"Hallo, ya Kenzo ada apa?" tanya Priambodo dengan hati berdebar-debar.


"Aku telah mendapatkan nomor ponselnya Dargo yang terbaru, sepertinya Dargo memeras ayah, sehingga berani menghubungi ayah lagi. Nomornya sudah aku kirim lewat pesan barusan." ucap Kenzo yang langsung menutup panggilannya.


"Terimakasih Ken, kamu sangat membantuku." gumam Priambodo sambil membuka pesan dari Kenzo, dan berjalan ke ruangan Bayu.


"Beri waktu saya lima bekas menit pak." jawab Bayu dengan serius sambil menatap layar monitornya.


"Saya tunggu, karena itu letak lokasi buronan kita." ucap Priambodo yang berdiri di samping Bayu.


"Siap pak." ucap Bayu dengan konsentrasi penuh melacak nomor ponsel milik Dargo.


"Pak Pria mencari saya? saya masih menunggu hasil laporan terakhir dan sekarang sudah selesai." tiba-tiba suara Hari memecah kesunyian di ruangan Bayu.


"Tunggu di ruangan saya sebentar pak Hari." ucap Priambodo yang masih berdiri di samping Bayu.


"Siap pak." sahut Hari kemudian berlalu dan kembali ke ruang kerja Priambodo.

__ADS_1


"Bagaimana pak Bayu? sudah selesai?" tanya Priambodo sambil ikut menatap ke layar monitor.


"Sudah siap pak, sudah saya kirim ke ponsel bapak, sekalian ini saya print kan." ucap Bayu dengan perasaan lega, karena sedikit gugup jika kerja di dampingi sama atasan.


"Terimakasih pak Bayu,good job." ucap Priambodo kemudian beranjak kembali ke ruangannya.


Sambil berjalan ke ruangannya, Priambodo menghubungi Alex yang sudah stay dua puluh empat jam untuk menerima perintah selanjutnya.


"Pak Alex, aku barusan mengirim titik lokasi tempat persembunyian Dargo kamu cepat ke sana, aku juga sudah meminta bantuan polisi setempat untuk menyergap mereka. Bawa Dargo hidup-hidup karena dia kunci utamaku." ucap Priambodo dengan jelas dan tegas.


"Siap pak saya laksanakan." jawab Alex dengan tegas.


"Terimakasih Pak Alex." ucap Priambodo seraya duduk dengan perasaan lega setelah menutup panggilannya.


Hari yang mendengar pembicaraan Priambodo dengan Alex ikut merasa lega.


"Jadi mereka sudah di temukan pak?" tanya Hari dengan wajah serius.


"Lokasi mereka sudah di temukan tapi kita belum tahu mereka masih ada di sana atau tidak." jawab Priambodo sambil membuka laporan hasil sidik jari yang ada pada semua bukti yang di temukan.


"Ini sudah pasti sesuai dengan sidik jari mereka ya?" tanya Priambodo membaca dengan seksama.


"Ya pak, di botol yang pecah itu ada sidik jari saudara Anita dan ada sedikit darah milik pak Ardian. Kemungkinan botok itu pergunakan untuk menyakiti pak Ardian. Sedangkan sidik jari yang ada di sarung tangan plastik dan sarung ****** itu ternyata milik pak Burhan pak." jelas Hari dengan sangat serius.


"Pak Hari, aku ingin pak Hari melindungi dua saksi kita atas penculikan paman Ardian, dan untuk semua bukti ini jangan sampai yang tidak berkepentingan mengetahuinya, aku mau melihat Paman Ardian sekalian merekam kesaksiannya." ucap Priambodo kemudian keluar dari tempat kerjanya dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Ardian.


***


Di rumah sakit, Nayla duduk sedih di samping Ardian yang sedang termenung memikirkan masalahnya.

__ADS_1


"Nay, jika memang nanti aku terpaksa di penjara, kamu jangan sedih ya Nay?" ucap Ardian yang merasa kemungkinan besar dia yang akan di vonis dengan tuduhan bersalah.


"Semoga tidak mas, aku berharap Priambodo bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan bisa membebaskan mas Ardian dari semua tuduhan ini." ucap Nayla sambil menggenggam tangan Ardian dengan penuh perasaan.


__ADS_2