
Hati Nayla semakin sesak setelah berada di samping Ardian, terlihat dengan jelas tubuh Ardian yang sangat kurus, dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi.
Tubuh Nayla merosot di pinggir ranjang, dengan airmata tanpa suara tangisan, sungguh hati Nayla seperti tertusuk beribu-ribu belati namun tak berdarah.
"Apa yang telah aku lakukan padamu Mas? kenapa kamu sampai seperti ini? kenapa kamu menyiksa dirimu Mas?" ratap Nayla dengan airmatanya yang berlinang di matanya.
Dengan perasaan hati yang juga terluka Nayla meraih tangan Ardian yang terlihat kurus dan lemah.
Bergetar hati Nayla saat menyentuh kulit Ardian yang dingin dan lembab. Semakin sakit saat melihat dada Ardian yang naik turun pelan dengan nafasnya yang begitu lemah.
Nayla menangis dalam diam, tak kuasa lagi melihat keadaan Ardian.
"Kenapa melihatmu seperti ini, hatiku terasa lebih menderita Mas." ucap Nayla dengan wajah tertunduk, sambil mengusap lembut punggung tangan Ardian.
"Nayla." panggil Sasongko yang sudah berada di belakang Nayla tanpa Nayla sadari.
"Kamu istirahatlah Nak, kamu pasti capek datang dari kota kemari, dan lagi Nak Ardian barusan mendapat suntikan, jadi dia tidak bisa mendengarmu Nay." ucap Sasongko yang iba melihat Nayla menunggui Ardian tanpa istirahat.
"Tidak apa-apa Ayah, ini juga nungguin Mas Ardian sambil duduk." sahut Nayla masih dengan menggenggam tangan Ardian.
"Makan dulu Nay, biar Ayah yang menjaga suamimu." Ucap Sasongko menyebut Ardian dengan suamimu.
Mata Nayla kembali berkaca-kaca.
"Ayah,.. trimakasih, Mas Ardian memang suamiku Ayah." ucap Nayla memeluk tubuh Sasongko.
Dada Sasongko terasa sesak melihat kesedihan putrinya, juga apa sakit yang di alami menantunya.
"Waktu makan Mas Ardian jam berapa Ayah?" tanya Nayla sambil menatap sedih tubuh Ardian yang sangat kurus.
"Harusnya siang ini Nay, tapi bagaimana lagi suamimu jarang mau makan, kalaupun makan hanya sedikit saja, kemudian muntah lagi." jawab Sasongko sambil menghela nafas panjang.
"Mas Ardian masih bisa di ajak bicara kan Ayah?" tanya Nayla dengan perasaan kuatir.
Sasongko menatap Nayla dengan tatapan rumit.
"Harusnya masih bicara Nay, tapi suamimu tidak merespon sama sekali jika Ayah mengajak bicara, selain hanya melihat Ayah." jelas Sasongko yang menjaga Ardian tiap hari.
__ADS_1
"Ayah tenang saja ya, biar aku yang menjaga Mas Ardian sekarang, kasihan Bunda kalau Ayah di sini terus." ucap Nayla menatap Sasongko dengan tatapan kasihan karena telah merepotkan Ayahnya.
"Ya Nay, Ayah senang kalau kamu sudah sudah menyadari semuanya, suamimu lebih penting dari apapun." ucap Sasongko lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Oh ya Ayah, kenapa Mas Ardian tidak kita bawa ke rumah sakit saja Ayah?" tanya Nayla sedikit heran.
"Suamimu yang tidak mau Nay, malah suamimu bilang seandainya umurnya tidak lama lagi, dia ingin meninggal di sini." ucap Sasongko dengan dadanya yang semakin sesak.
Mendengar cerita Sasongko seperti itu tak terasa airmata Nayla menetes kembali.
"Sudah Ayah, jangan di teruskan lagi...aku sudah tidak tahan lagi Ayah." ucap Nayla dengan Isak tangisnya memeluk tubuh Ardian dan menangis di dada Ardian.
"Bangunlah Mas, kamu harus menjawab pertanyaanku... kenapa kamu mengatakan itu pada Ayah, apa kamu sudah tidak mencintaiku? di mana janjimu yang bilang kita akan selalu bersama." ratap Nayla menangis dan menenggelamkan kepalanya di dada Ardian.
"Bangun Mas... bicaralah padaku sekarang, kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanya Nayla menatap wajah Ardian yang masih terpejam.
"Ayah... kenapa Mas Ardian belum bangun juga?" tanya Nayla dengan perasaan cemas.
"Sebentar lagi mungkin Nay, Ayah siapkan makanannya dulu ya Nay, kamu suapi nanti suamimu." ucap Sasongko beranjak ke dapur.
"Jangan Nay, kamu di sini saja.. sebentar lagi suamimu pasti bangun, kalau tahu kamu ada di sini pasti akan senang." ucap Sasongko menahan pundak Nayla agar duduk kembali.
Karena Sasongko yang meminta, Nayla kembali duduk untuk menjaga Ardian.
Sambil menunggu makan siang untuk Ardian, Nayla mengusap pelan wajah Ardian, tepatnya mengusap pipi Ardian yang terlihat tirus.
Saat Nayla mengusap lembut pipi Ardian, terlihat mata Ardian terbuka secara perlahan.
Dengan tatapan yang redup mata Ardian menangkap wajah Nayla, wajah wanita yang sangat di rindukan kehadirannya.
Kedua iris mata Ardian tak berkedip menatap Nayla, ada setitik air menetes di kedua sudut mata Ardian.
Dalam diam Nayla pun menatap Ardian tanpa berkedip, tiada kata-kata yang terucap di bibir Nayla selain airmata yang menetes di pipinya.
Setelah beberapa menit saling melepas rindu dalam tatapan penuh cinta dan kerinduan, Nayla kembali meraih tangan Ardian dan mengecup punggung tangan Ardian penuh perasaan.
"Akhirnya kamu bangun juga Mas, aku menunggumu dari tadi." ucap Nayla kembali mengecup punggung tangan Ardian.
__ADS_1
Ardian masih menatap Nayla tak berkedip, seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Nayla." panggil Ardian sangat pelan hampir tidak ada suara yang keluar.
"Ya Mas, aku istrimu ada di sini..aku akan menjagamu, akan selalu di sisimu selamanya." ucap Nayla menangis dengan perasaan sedih bercampur haru.
Perlahan tangan Ardian bergerak pelan mengusap airmata Nayla yang mengalir deras.
"Jangan menangis lagi." ucap Ardian dengan suara tak terdengar.
Nayla meraih tangan Ardian yang di masih di pipinya, dan di biarkan tetap di pipinya.
"Aku menangis karena aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu." ucap Nayla penuh perasaan.
Mata Ardian berkedip mendengar kata-kata Nayla yang sudah lama di nantikannya.
"Benarkah Nay?" tanya Ardian sangat pelan, dengan tatapan yang sangat lembut.
Nayla mengangguk pelan, kemudian dengan gerakan pelan Nayla mendekatkan wajahnya pada wajah Ardian.
Dengan tatapan penuh cinta Nayla menyentuh bibir Ardian dengan bibirnya, kemudian melumatnya pelan dan memagutnya dengan sangat hati-hati.
"Aku sangat mencintaimu Mas." bisik Nayla setelah melepas pagutannya.
Dada Ardian yang tadinya sangat lemah, mulai berdetak dua kaki lipat dari sebelumnya, merespon apa yang di lakukan Nayla padanya.
"Aku juga mencintaimu Nay." bisik Ardian lirih tepat di hadapan wajah Nayla.
"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu meninggalkan aku Mas? di saat aku membutuhkanmu sebagai kekuatanku." ucap Nayla menatap lekat tepat pada kedua mata Ardian.
"Aku ingin kamu bahagia Nay." jawab Ardian dengan tatapan penuh kerinduan menatap kedua iris mata Nayla.
"Aku sedih Mas, aku hancur, aku sepi tanpamu jangan lakukan ini lagi padaku Mas, aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Nayla lirih menautkan keningnya pada kening Ardian.
Hati Ardian tersentuh dengan semua ucapan Nayla, tidak menyangka apa yang di lakukannya demi Nayla bahagia malah membuat hati Nayla tersakiti.
"Maafkan aku Nay." ucap Ardian lirih dengan kedua matanya yang perlahan mulai terpejam diam tak bergerak.
__ADS_1