
Dan Alhasil wajah Pria yang tadinya penuh kena tomat sekarang sebagian wajahnya berubah menjadi warna hitam.
Nayla menatap Pria sedikit terkejut dengan kedua tangannya menyembunyikan lap kotornya di belakang punggungnya.
"Ya Tuhan, apa yang barusan aku lakukan?" tanya Nayla dalam hati dengan perasaan takut kalau Pria akan marah.
"Ada apa? kenapa kamu menatapku seperti itu Dek?" tanya Pria dengan curiga.
"Wajah kamu? sebaiknya kamu bersihkan di kamar mandi." ucap Nayla tanpa memberitahu kalau wajah Pria tercoreng warna hitam.
"Apa wajahku terlalu kotor?" tanya Pria dengan polosnya.
"Ya, sedikit kotor,..oh..tidak !! maksudku kotor sekali, maafkan aku." ucap Nayla seraya pergi begitu saja meninggalkan Pria yang terpaku dengan pikiran yang masih belum paham dengan kata-kata Nayla.
"Aneh juga dia? apa wajahku membuatnya takut? apa yang dia bilang wajahku kotor sekali?" gumam Pria kemudian berjalan ke kamar mandi dan masuk ke dalam.
Dan sungguh terkejut saat Pria melihat wajahnya di depan kaca, wajah tampannya terlihat corengan hitam.
"Pantas sekali, adek cantik tadi ketakutan ternyata wajahku seperti ini, dan ini terjadi karena dia." gumam Pria sambil membasuh wajahnya dengan air dan sabun.
Setelah membersihkan wajahnya dan buang air kecil, Pria kembali ke ruang tamu di mana Ardian menunggu.
"Paman, maaf agak lama...ada gangguan kecil di dapur tadi, ada adek cantik yang menumpahkan juice tomat padaku belum lagi dia membersihkan wajahku pakai lap kompor." jelas Pria dengan sebuah senyuman.
"Adek cantik? siapa adek cantik itu Pri?" tanya Ardian penasaran dengan adek cantik yang di panggil Pria.
"Dia wanita cantik yang pernah belum pernah ku temui Paman, usianya mungkin di bawaku dua atau tiga tahun mungkin." ucap Pria dengan membayangkan wajah cantik Nayla.
"Mungkin yang kamu maksud itu adalah istriku Nayla Pri, usia Nayla memang masih lebih tua kamu dan dia memang sangat cantik." ucap Ardian tersenyum sudah bisa membayangkan kalau Pria ada hati sama Nayla.
"Benarkah Paman? jadi yang aku panggil Adek cantik tadi adalah istri Paman, berarti Tanteku?" ucap Pria sambil mengusap tengkuknya dengan wajahnya yang sedikit memerah.
"Ya benar, Nayla adalah istri Paman yang hampir kamu jaga kalau Paman tidak tertolong, sayangnya Paman masih di beri umur panjang jadi masih bisa menjaga Nayla." ucap Ardian dengan sebuah senyuman.
"Ya Paman, itu berarti memang Nayla Jodoh Paman, dan bukan jodoh aku atau jodoh mantan Nayla, siapa namanya Paman? lupa aku?" tanya Pria mencoba mengingat nama mantan Nayla.
__ADS_1
"Namanya Kenzo." jawab Ardian tertawa lirih melihat kepolosan Pria yang tidak pernah sombong dengan jabatannya.
"Ya benar Kenzo, sekarang Kenzo ada di mana Paman?" tanya Pria sambil menahan haus.
"Ada di desa ini juga, apa kamu haus Pri?" tanya Ardian melihat Pria yang beberapa kali mengelus tenggorokannya.
"Hehe...ya Paman." jawab Pria sedikit malu.
"Permisi Den Ardian, Den Pria, tadi Non Nayla sudah buat tapi katanya tumpah, ini saya buatkan lagi tapi Juice buah naga." ucap Bik Ummah yang datang tiba-tiba dengan membawa dua juice buah naga.
"Trimakasih ya Bik Ummah, oh ya Bik..tolong bisa di panggilkan Nayla." ucap Ardian seraya mengambil minumannya dan meminumnya pelan-pelan.
"Ya Den Ardian." ucap Bik Ummah tanpa melihat ke wajah Pria, sejujurnya Bik Ummah takut pada Pria tak lain karena Pria adalah seorang Polisi.
"Bik Ummah itu kenapa ya Paman? sepertinya takut sekali padaku, apa wajahku menyeramkan?" tanya Pria dengan sedikit heran semua wanita takut padanya.
"Karena kamu seorang Polisi Pri, di desa ini masih sangat primitif, jadikan sama Polisi itu sangat takut sekali." Jawab Ardian sedikit nyeri perutnya kalau di buat duduk terlalu lama.
Belum lagi Pria membalas ucapan Ardian, Ardian memanggil nama Nayla.
Sedikit ragu dan malu, Nayla mendekati Ardian dan Pria.
"Nay, kenalkan dia Tegar Priambodo putra dari kakakku yang tinggal di Jakarta." ucap Ardian memperkenalkan Nayla pada Pria.
"Hati Bibi muda." sapa Pria berusaha ramah dengan memanggil Nayla dengan Bibi muda.
Wajah Nayla seketika memerah, dengan matanya yang melotot indah menatap Pria.
Ardian tertawa lirih, di susul tawa lepas Pria.
"Memang ada yang lucu? hingga kalian berdua tertawa.
"Ya lucu saja Nay, sebutan Bibi muda cukup bagus juga kok Nay." ucap Ardian tersenyum bahagia.
"Mas Ardian kok jadi ikutan apa kata ponakan." ucap Nayla mengambil tempat duduk dekat Ardian dengan bibir manyun.
__ADS_1
"Hallo Bibi muda, saya punya nama, nama saya Pria." sahut Pria semakin menggoda Nayla.
"Aku juga punya nama ponakan, Nayla namaku." sahut Nayla sedikit kesal dengan sikap Pria yang memang wajahnya hampir sama dengan Ardian.
"Pri, kamu berniat mau menginap di sini atau pulang ke rumah besar?" tanya Ardian sambil menahan rasa nyeri di perutnya yang sebenarnya masih belum boleh duduk terlalu lama.
"Di rumah besar saja Paman, sekalian mengantar Bik Ummah pulang." jawab Pria sambil melihat Ardian yang terlihat sedikit kesakitan.
"Apa Paman merasakan sakit?" tanya Pria menatap dalam-dalam wajah Ardian.
"Tidak Pri, hanya jahitan di perut sedikit nyeri kalau di buat duduk terlalu lama." jawab Ardian menggenggam tangan Nayla.
"Nay, tolong antar aku ke kamar." ucap Ardian seraya berdiri dengan memegang perutnya.
"Sini Bimu, biar aku yang antar Paman ke kamar." ucap Pria, memapah Ardian masuk ke dalam kamar.
Setelah Ardian berbaring dengan nyaman, Pria minta izin pulang.
"Mas, Pria itu memang seperti itu sifatnya ya?" tanya Nayla dengan penasaran.
"Tidak seperti itu saat bekerja, semua takut sama Pria karena selalu serius dalam bekerja." jawab Ardian sambil mengusap perutnya.
"Masih sakit Mas? sini biar aku yang usap Mas." ucap Nayla sambil menaikkan kaos Ardian.
"Trimakasih ya sayang." ucap Ardian dengan seulas senyum di bibirnya.
***
Di sebuah rumah kosong di pinggiran desa, ada beberapa orang berkumpul dengan wajah-wajah yang sangat bertampang preman dan mantan-mantan orang kriminal.
"Siapa nama orang yang harus kita lenyapkan Bos?" tanya Dargo kaki tangan Burhan yang sudah lama menjadi buronan polisi di kota.
"Dia mantan seorang lurah, tapi kalian harus hati-hati sebelum melenyapkannya, jangan sampai ada bukti yang tertinggal bila perlu di bakar saja agar tidak meninggalkan jejak." ucap Burhan yang sudah terlanjur sakit hati dengan Ardian sejak pergantian lurah, Ardian malah memimpin orang lain untuk menggantikan posisinya. Sedangkan dirinya yang terkenal kaya nomor satu di desa itu tidak di pilih Ardian.
"Kapan rencana ini kita laksanakan Bos?" tanya Dargo lagi dengan mata menjadi hijau saat Burhan menunjukkan satu kotak koper yang berisi uang untuk mendapatkan bayaran jika berhasil melenyapkan seorang Ardian Adhlino Gavin.
__ADS_1