LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
APAKAH KAMU TAKDIRKU


__ADS_3

"Apa Kenzo yang menelponmu Nay." tanya Ardian dengan suara pelan.


Nayla menundukkan wajahnya, ini semua terasa sulit baginya setelah menikah dengan Ardian.


Beban status dan kewajibannya sebagai seorang istri serasa mencengkram kuat di pikirannya.


"Ya pak." jawab Nayla yang tidak bisa membohongi Ardian lagi, Ardian sekarang suaminya, segala sesuatu yang akan di lakukan Nayla harus seizin Ardian walaupun untuk bertemu Kenzo sekalipun.


"Apa kalian akan bertemu?" tanya Ardian dengan suara bergetar.


"Rencananya seperti itu pak, sesuai dengan kesepakatan kita di awal, ini tidak seperti yang aku bayangkan, mengapa jadi serumit ini untuk bisa bersama Kenzo." ucap Nayla dengan kepala yang terasa pecah.


"Mengapa menjadi rumit, kamu bisa bertemu Kenzo jika kamu mau...aku akan menepati kesepakatan itu jika kamu menginginkannya Nay." ucap Ardian dengan jiwa seakan lepas dari raganya.


"Bapak tidak akan mengerti, aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku mencintai Kenzo dan Kenzo juga mencintaiku, dan apa bapak tahu? impianku sejak aku lulus SMA hanya ingin menikah dengannya dan Kenzo juga ingin menikah denganku, tapi kenapa semua menjadi seperti ini... Kenzo di paksa orangtuanya untuk bertunangan dengan wanita lain, dan bapak sendiri melamarku bahkan sekarang telah menikah denganku, apakah ini takdirku pak? kenapa takdir begitu kejam memisahkan aku dan Kenzo." ucap Nayla yang tak berdaya dengan semua yang terjadi.


Ardian terdiam menatap Nayla dengan iba, bahkan Ardian tak bisa menjawab kenapa semua ini bisa terjadi, jika bukan takdirNya.


"Nayla, apa aku bisa mengatakan padamu, kalau kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan bertawakal, semua ini terjadi karena sudah menjadi takdirNya, jika kita tidak berjodoh kita tidak akan pernah bisa menikah Nay." ucap Ardian berharap Nayla mengerti akan maksudnya.


"Apa maksud bapak aku dan Kenzo tidak berjodoh?" tanya Nayla dengan tatapan mata yang rumit.


"Aku juga tidak tahu Nay, semua keputusan ada di tanganmu Nay kalau kamu merasa kita tidak berjodoh, lakukan apa yang kamu yakini aku tidak bisa memaksa cintaku untuk menahanmu bersamaku, aku ingin kamu bahagia dengan pilihanmu." jawab Ardian dengan perasaan cinta yang mengikhlaskan bukan memaksakan.


Nayla semakin ragu dengan semua yang akan di lakukannya.


Di satu sisi hati dan cintanya tak bisa memungkiri jika sangat mencintai Kenzo, di sisi lain saat ini dia sudah menjadi istri Ardian yang harus menjalankan kewajibannya sebagai istri yang baik.

__ADS_1


"Makan dulu pak, maaf telah membuatmu terlibat dalam masalahku dengan Kenzo." ucap Nayla sambil menatap nasi Ardian yang masih utuh.


"Aku tidak merasa lapar Nay, kamu yang harus makan bukannya kamu tadi lapar?" ucap Ardian yang melihat nasi Nayla yang juga masih utuh.


"Kita sama-sama makan ya pak." ucap Nayla mengambil sesendok nasinya, namun saat mau memakannya Nayla berpikir untuk menyuapi Ardian.


"Buka mulutnya pak." ucap Nayla sambil mendekatkan nasinya di depan mulut Ardian.


Ardian menatap Nayla tak percaya, dengan ragu Ardian membuka mulutnya perlahan, dan Nayla menyuapinya dengan bibir tersenyum sedih.


"Nayla, aku bisa makan sendiri." ucap Ardian yang merasa ikut sedih, melihat kesedihan di wajah Nayla.


"Tidak apa-apa pak, aku ingin menyuapi bapak karena bapak suamiku, aku tahu bapak pasti terluka mengetahui aku masih mencintai Kenzo, maafkan aku...aku juga tidak ingin menyakiti hati bapak, tapi perasaan cinta apa bisa berubah pak? seperti bapak yang mencintai aku." ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah Nay, aku tidak bisa makan lagi, maafkan aku jika membuatmu msnjadi dilema seperti ini, kalau kamu ingin pergi dengan Kenzo ataupun kamu kembali padanya aku tidak akan menahanmu lagi Nay, jangan kamu pikirkan aku, aku tidak akan apa-apa." ucap Ardian tak sanggup lagi melihat kesedihan di wajah Nayla.


Ardian berdiri dan berjalan dengan gontai masuk ke dalam mobil, sungguh Ardian juga tak ingin pernikahannya akan hancur begitu saja, apalagi yang baru dalam hitungan hari.


Tiba di rumahnya yang baru, sungguh Nayla tidak bisa berkata apa. Rumah yang di siapkan Ardian lebih besar daripada rumah yang di desa.


Dengan halaman yang luas dan taman bunga yang membuat rumah terlihat sangat asri seperti suasana di desa.


Nayla mencari Ardian berniat mengucapkan terimakasih atas apa yang di lakukan Ardian untuknya.


Nayla berjalan ke sana kemari namun tak melihat keberadaan Ardian. Nayla mengambil nafas lega setelah melihat Ardian berada di kamar yang pintunya terbuka.


"Bapak di sini? aku mencari bapak ke mana-mana, rumah ini terlalu besar pak..ini tidak seperti yang aku bayangkan." ucap Nayla menghampiri Ardian yang sedang duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu Nay." ucap Ardian sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit.


"Terimakasih untuk semuanya pak." ucap Nayla menatap Ardian yang terlihat pucat.


"Sama-sama Nay, pakaian kamu ada di kamar sebelah mungkin kamu ingin mandi atau beristirahat." ucap Ardian yang menyiapkan kamar Nayla di samping kamarnya.


"Maksud bapak kita tidak sekamar begitu?" tanya Nayla yang tak pernah berpikir kalau Ardian akan melakukan hal itu.


"Apa yang harus aku lakukan Nay, bukankah ini bagian dari yang kamu inginkan Nay?" ucap Ardian yang ingat jelas kalau Nayla tidak akan bisa melayani apa yang di lakukan suami istri.


Dengan pikiran yang semakin rumit, Nayla keluar dari kamar Ardian dan berjalan ke kamarnya.


Nayla duduk termenung, menangis dalam diam.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? aku tidak menginginkan pernikahan ini dari awal, aku sudah mengorbankan cintaku, tapi kenapa harus menjadi seperti ini? hati pak Ardian terluka, hatiku dan hati Kenzo juga terluka, apa aku bisa bertahan dengan pernikahan ini selama lima bulan?" ucap Nayla dengan hati yang terluka.


Tak terasa airmata Nayla menetes di pipinya.


Perlahan Nayla bangun dari duduknya mengambil tas kopernya dan berjalan ke kamar Ardian mengikuti suara hatinya.


Ardian yang termenung di kamarnya tampak terkejut melihat Nayla masuk dengan membawa tas kopernya.


"Nayla? kenapa kamu membawa kopermu kemari? apakah kamu tidak suka dengan kamarmu? kalau kamu tidak suka biar aku yang pindah ke sana." ucap Ardian tak ingin membuat Nayla kecewa.


"Bapak tidak perlu kemana-mana, kita akan tinggal bersama di kamar ini." ucap Nayla dengan suara pelan.


Ardian berdiri terpaku, apa yang di ucapkan Nayla begitu mengejutkannya.

__ADS_1


"Nayla, aku tidak ingin kamu terpaksa melakukan hal ini, aku sungguh-sungguh tidak akan memaksamu untuk memenuhi semua kewajibanmu." ucap Ardian dengan hati yang berdebar-debar.


"Aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan pak, aku akan berusaha menjadi istri bapak yang baik sampai saat itu tiba." ucap Nayla dengan hati yang pedih.


__ADS_2