LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
PERNIKAHAN TERSEMBUNYI (1)


__ADS_3

"Apakah pak Ardian demam?" tanya Nayla dalam hati dengan tangannya yang masih meraba kening Ardian.


Ardian yang merasakan tangan dingin Nayla di keningnya membuka matanya dengan perlahan.


"Nayla, kamu sudah bangun? jam berapa ini?" tanya Ardian yang merasakan punggungnya sakit karena tidur di sofa.


"Masih pagi pak, baru jam dua...badan bapak panas? sebaiknya bapak pindah ke tempat tidur." jawab Nayla menarik tangan Ardian pelan agar pindah ke tempat tidur.


Dengan punggung yang sedikit sakit, Ardian berjalan sedikit membungkuk ke tempat tidur.


"Apa punggung bapak sakit?" tanya Nayla saat melihat Ardian jalan sedikit membungkuk sambil memegang pinggangnya.


"Ada salah tidur mungkin Nay." jawab Ardian sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Aku pijat ya pak?" ucap Nayla menawarkan memijat punggung Ardian agar sakitnya berkurang.


Ardian menatap Nayla dengan perasaan tak percaya dan terharu.


Tanpa menjawab ucapan Nayla, Ardian mengubah posisinya menjadi tengkurap.


Dengan penuh perhatian, Nayla memijat punggung Ardian dengan pelan.


"Tidak terasa ya pak?" tanya Nayla menatap sisi wajah Ardian yang tengah terpejam.


"Tidak apa-apa Nay, itu sudah cukup." jawab Ardian merasakan tekanan tangan lembut Nayla telah membuat dadanya semakin sesak.


Setelah beberapa menit Nayla memijat Ardian, Nayla melihat Ardian tertidur kembali.


Nayla menghentikan pijatannya, kemudian mencoba sedikit mengeluarkan tenaganya Nayla membalikkan tubuh Ardian agar bisa tidur dengan nyaman dan menyelimutinya agar merasa hangat.


Nayla yang sudah tidak mengantuk, beranjak dari duduknya dan beranjak ke arah dapur untuk membuat bubur buat sarapan Ardian.


Tak terasa waktu berjalan sampai Adzan subuh, Nayla baru selesai mengaduk buburnya.


Dengan hati-hati Nayla memasukkan bubur ke dalam mangkuk kecil.


Sambil membawa semangkuk bubur Nayla membuka pintu kamar Ardian, namun langkahnya terhenti saat melihat Ardian sedang menjalankan sholat subuh dengan sangat khusyuk.


Tak ingin sholat Ardian terganggu Nayla berjalan tanpa suara, dan meletakkan semangkuk buburnya di atas meja.


Nayla duduk pinggir ranjang, melihat tanpa berkedip Ardian yang sedang berdoa dan mengaji dengan melantunkan ayat suci Alquran dengan sangat merdu.


Tak terasa hati Nayla berdesir dengan sikap dan tingkah laku Ardian yang mencerminkan pribadi yang sangat kuat iman.

__ADS_1


"Kamu tidak sholat Nay?" tanya Ardian yang tiba-tiba sudah di hadapannya dengan melipat sajadahnya.


"Aku lagi datang bulan pak." jawab Nayla sedikit gugup dengan tatapan Ardian yang begitu teduh, wajah Ardian terlihat bersih dan jernih.


"Mandilah Nay, kita harus pagi-pagi pulang aku tidak mau Ayah menjadi kuatir sama kita." ucap Ardian duduk di kursi sedikit bersandar.


"Kalau begitu bapak makan buburnya selagi panas, aku akan mandi sebentar." ucap Nayla sambil menunjuk bubur yang ada di atas meja.


"Apa kamu yang membuatnya Nay? maaf jadi merepotkanmu." ucap Ardian dengan hati-hati yang berbunga-bunga.


"Tidak merepotkan pak, bapak sudah baik sama aku jadi sepantasnya aku juga harus baik sama bapak." jawab Nayla tersenyum sambil berjalan ke kamar mandi.


Matahari pagi sudah menyeruak masuk di sela-sela jendela Ardian.


"Sudah siap Nay?" tanya Ardian dengan penampilan yang terlihat santai kali ini.


"Sudah pak." jawab Nayla menatap Ardian yang terlihat tampan dengan penampilan kasualnya.


"Ada apa Nay?" tanya Ardian sedikit gugup dengan tatapan Nayla.


"Bapak terlihat tampan dengan kaos itu." jawab Nayla dengan jujur.


"Trimakasih Nay." ucap Ardian dengan wajah yang bersemu merah.


Ardian mengangguk, berjalan keluar rumah dan mengambil motor Nayla.


"Ayo Nay, naiklah." ucap Ardian yang sudah duduk di atas motor.


Dengan pelan Nayla naik di atas motor di belakang Ardian.


Dengan nafas tertahan, Ardian merasakan dadanya kembali berdetak keras seiring dengan degup jantungnya yang berlari kencang, saat tangan lembut Nayla melingkar pada pinggangnya.


"Sudah siap Nay?" tanya Ardian memastikan Nayla sudah duduk dengan nyaman.


"Sudah pak." jawab Nayla yang sedikit banyak mencium aroma mint pada tubuh Ardian.


Ardian menjalankan motornya dengan pelan, agar Nayla merasa nyaman dan tidak bosan.


Sampai tiba di rumah Nayla, Ardian dan Nayla masuk ke dalam rumah bersama-sama.


Sasongko dan Bunda Nay sudah menyambut dengan sebuah senyuman.


" Silahkan duduk Nak Ardian." ucap Sasongko pada Ardian yang berdiri di samping Nayla.

__ADS_1


"Duduk pak, aku mau buatkan minum dulu." ucap Nayla dengan cepat ke belakang sebelum Ayah dan Bundanya menanyainya.


"Bagaimana, apa nak Ardian sudah bicara dengan Nayla soal pernikahan? apa Nayla mau dan setuju nak?" tanya Sasongko dengan perasaan harap-harap cemas.


"Alhamdulillah Nayla mau Ayah, tapi saya belum tahu Nayla inginnya menikah seperti apa." jawab Ardian dengan serius.


Sasongko dan Bunda Nay berkali-kali mengucapkan syukur Alhamdulillah.


"Coba panggil Nayla kesini Bunda." ucap Sasongko pada Bunda Nay.


Bunda Nay bangun dari duduknya berjalan ke belakang untuk memanggil Nayla.


Tidak lama kemudian Nayla datang bersama Bunda Nay denganmu membawa tiga gelas teh hangat dan di letakkannya di atas meja.


Bunda Nay duduk di samping Sasongko, sedangkan Nayla duduk di samping Ardian.


"Nayla, benarkah kamu mau menikah dengan nak Ardian?" tanya Sasongko dengan mata penuh selidik.


Nayla mengangguk pelan.


"Lalu kamu ingin menikah seperti apa Nay? di rumah atau di gedung?" tanya Sasongko dengan antusias.


"Aku tidak ingin menikah langsung di KUA saja Ayah, aku belum siap kalau menikah secara besar-besaran." ucap Nayla dengan perasaan sedikit takut jika Ayahnya marah.


"Nayla!! kenapa bisa begitu? ini pernikahanmu kamu harus merayakan dan mengundang semua orang desa." ucap Sasongko yang mulai marah.


"Ayah, apa boleh saya bicara dulu dengan Nayla?" tanya Ardian agar bisa bicara dengan Nayla dari hati ke hati.


"Baiklah nak Ardian, masuklah ke kamar Nayla dan bicaralah padanya agar Nayla menyadari ucapankannya." ucap Sasongko yang selalu pusing dengan sikap Nayla.


Ardian mengangguk pelan, kemudian berjalan mengikuti Nayla yang lebih dulu di depan.


Di dalam kamar Nayla duduk di pinggir ranjang, sedangkan Ardian duduk di sebuah kursi dari rotan.


"Nayla, kenapa kamu tidak ingin pernikahan yang besar?" tanya Ardian hati-hati takut Nayla akan marah jika dia memaksanya.


"Aku tidak ingin menyakiti hati Kenzo pak, aku sudah berjanji untuk menunggu Kenzo sampai lima bulan ke depan, aku hanya mau menikah dengan bapak jika menikahnya di KUA saja, tidak perlu di rayakan aku ingin pernikahan yang tersembunyi." ucap Nayla dengan serius menatap wajah Ardian.


"Aku akan memenuhi keinginanmu Nayla, yang penting pernikahan kita sah di mata hukum dan di mata agama." ucap Ardian dengan tersenyum.


"Dan ada satu lagi pak, setelah kita menikah aku tidak ingin tinggal di desa sini, aku ingin tinggal di kota yang terdekat." pinta Nayla lagi.


Ardian terdiam tidak mengerti kenapa Nayla tidak ingin tinggal di desanya.

__ADS_1


Ardian merasa di hadapkan pada sebuah dilema, dia sebagai kepala desa bagaimana dia bisa pulang pergi dari kota ke desa yang jaraknya di tempuh bisa satu jam lebih.


__ADS_2