
Ardian merasa di hadapkan pada sebuah dilema, dia sebagai kepala desa bagaimana dia bisa pulang pergi dari kota ke desa yang jaraknya di tempuh bisa satu jam lebih.
"Kenapa kita harus pindah ke kota Nay? bukannya tinggal di sini lebih tenang?" tanya Ardian yang masih belum mengerti dengan keinginan Nayla.
"Kalau kita tinggal di sini bagaimana aku bisa menjaga nama baik Ayah dan Bunda, juga nama baik Bapak, kalau di kota kan kita tidak terlalu memikirkan nama baik pak." ucap Nayla memberikan alasannya.
"Tapi ini terlalu jauh Nay, bagaimana aku bisa menempuh perjalanan jauh pulang pergi dengan kondisiku yang seperti ini?" ucap Ardian dengan perasaan yang cukup sedih.
Nayla menatap wajah Ardian yang terlihat rumit dengan menanggung beban pikiran yang berat.
Nayla meraih tangan Ardian, dan menatap penuh permohonan.
"Aku mohon pak, kabulkan permintaanku ini pak, aku tidak akan meminta yang lain lagi selain yang telah kita sepakati." ucap Nayla lirih sambil menggenggam kedua tangan Ardian.
Hati Ardian meleleh sekaligus dengan hati yang penuh luka.
"Beri aku waktu untuk mencari jalan keluarnya ya Nay? yang terpenting kita harus menikah segera agar Ayah Bunda tidak menjadi malu dengan tetangga.
"Aku sangat percaya sama bapak, trimakasih pak." ucap Nayla dengan bibir tersenyum.
"Lalu kapan kita bisa menikah Nay, apa bisa dalam Minggu ini?" tanya Ardian dengan serius.
"Besok juga bisa pak, kalau bapak bisa mengurus cepat semua persyaratan di kantor KUA." jawab Nayla cepat.
"Baiklah Nay, ayo kita keluar dan memberitahu Ayah dan Bunda." ucap Ardian seraya membuka pintu kamar dan kembali ke ruang tamu di mana Sasongko dan Bunda Nay masih duduk menunggunya.
Dengan beberapa alasan dan cara Ardian yang menjelaskan dengan sungguh-sungguh, Sasongko dan Bunda Nay akhirnya menyetujui semua keputusan Ardian.
"Jadi intinya nak Ardian, bapak sudah pasrah menyerahkan Nayla pada nak Ardian, bapak sangat percaya dengan nak Ardian bisa menjaga Nayla dengan baik." ucap Sasongko yang sangat tahu, semua keputusan itu pasti bukan dari Ardian tapi dari Nayla.
Namun Sasongko tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu sudah keputusan Ardian juga.
"Trimakasih Ayah, kalau mempercayakan Nayla pada saya, saya pasti akan menjaga Nayla dengan baik dengan sepenuh hati saya." ucap Ardian dengan perasaan ikhlas dan percaya jika suatu saat Nayla akan bisa mencintainya.
"Jadi apa besok kita harus ke kantor KUA nak Ardian?" tanya Sasongko memastikan nikahnya Ardian dan Nayla.
__ADS_1
"Ya Ayah, saya usahakan siang ini semua syarat-syarat untuk menikah bisa selesai, agar besok kita bisa tepat waktu untuk datang ke KUA." ucap Ardian dengan serius.
Sasongko mengambil nafas panjang.
"Semoga semua yang nak Ardian harapkan bisa terwujud ya nak." ucap Sasongko dengan perasaan haru.
"Aamiin, trimakasih doanya Ayah...saya mau pamit sekalian langsung ke KUA." ucap Ardian seraya berdiri mohon pamit.
"Apa aku antar pak?" tanya Nayla yang diam saja saat Ardian bicara untuk meyakinkan Ayahnya.
"Tidak usah Nay, aku sudah minta di jemput Mang Maman." jawab Ardian dengan tersenyum, dan menganggukkan kepalanya pada Sasongko dan Bunda Nay untuk pamit.
Setelah Ardian tidak terlihat punggungnya.
Nayla meminta izin pada Sasongko untuk keluar ke rumah Zanna.
"Ayah aku ke rumah Zanna sebentar, aku akan memberitahu Zanna agar ikut untuk acara besok." ucap Nayla tanpa menunggu persetujuan Sasongko sudah mengambil motornya dan mengendarainya ke rumah Zanna.
Sampai di rumah Zanna, Nayla menceritakan semuanya juga tujuannya pindah ke kota setelah menikah.
"Kamu bagaimana sih Zan, bukannya kamu tidak senang dengan pak Ardian, kenapa sekarang kamu malah kasihan padanya, Zanna kamu tahu kan aku tidak mencintai pak Ardian, hanya Kenzo yang aku cintai..kenapa semua orang tidak bisa memahami perasaan ku." keluh Nayla ingin menangis.
"Terus sekarang ada apa kamu kemari Nay? bukannya besok kamu sudah akan menikah dengan pak Ardian." tanya Zanna dengan perasaan yang ikut sesak karena kasihan sama Ardian.
"Aku mau titip motor aku sebentar, aku akan naik ojek ke kota, Kenzo sudah menungguku di sana..aku harus menjelaskan pada Kenzo soal pernikahan yang mendadak ini." Ucap Nayla, bergegas keluar dari halaman rumah Zanna dan berjalan ke pangkalan ojek yang dekat dari rumah Zanna.
Di kota S, Nayla turun tepat di depan alun-alun di mana Kenzo sudah menunggunya.
"Kenzo." panggil Nayla melihat Kenzo yang sedang duduk termenung di bangku panjang.
"Nayla sayang." ucap Kenzo memeluk Nayla dengan sangat erat.
"Kenzo, jangan seperti ini tidak enak kalau ada yang mengenali kita." ucap Nayla sambil melepas pelukan Kenzo.
"Ya Nay, maafkan aku... sekarang kita mana?" tanya Kenzo yang selalu mengalah.
__ADS_1
"Kita ke taman saja Ken." jawab Nayla sambil menerima helm dari Kenzo.
Di taman, Kenzo dan Nayla duduk diam sama-sama saling termenung dengan pikirannya masing-masing.
Berkali-kali Kenzo menghela nafas panjang.
"Kenapa harus seperti Nay, kenapa menjadi rumit saja hubungan kita... kenapa kamu harus menikah dengan pak Ardian, hubungan kita akan semakin sulit Nay." ucap Kenzo dengan kepala tertunduk.
"Aku tidak bisa membiarkan Ayah dan Bundaku malu Ken, pak Ardian sudah melamarku sudah sangat lama, dan para tetangga tahunya aku adalah calon istri pak Ardian, jadi bagaimana bisa aku menyakiti Ayah Bunda aku." ucap Nayla dengan mata menerawang jauh.
"Apakah aku juga harus menikahi safitri saja." ucap Kenzo dengan perasaan yang sangat terluka saat tahu Nayla akan menikah besok dengan Ardian.
"Apa kamu melakukannya karena sakit hati padaku?" tanya Nayla dengan hati yang cemburu.
"Aku mencintaimu Nay, aku sudah berusaha untuk mencari jalan tengah, agar kamu menungguku tapi kamu telah mencari jalanmu sendiri tanpa memikirkan aku." ucap Kenzo dengan hati yang benar-benar terluka.
"Kalau aku tidak memikirkan kamu Ken, buat apa aku melakukan pernikahan dengan sembunyi-sembunyi, dan buat apa aku meminta pada pak Ardian agar pindah ke kota, semua itu kulakukan untukmu Ken, agar aku bisa bersamamu." ucap Nayla dengan hati yang terluka juga.
"Benarkah apa yang kamu bilang Nay, kamu tidak membohongiku kan?" tanya Kenzo dengan serius.
"Kapan aku berbohong padamu Ken." ucap Nayla dengan bersungguh-sungguh.
"Aku percaya padamu Nay." ucap Kenzo menggenggam tangan Nayla.
"Jadi, apa kamu masih tetap akan menikahi Safitri?" tanya Nayla dengan tatapan cemburu.
Kenzo menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Aku tidak akan pernah menikahi Safitri Nay, aku hanya ingin melihat apakah kamu cemburu atau tidak, aku berjanji akan menunggumu sampai waktu itu tiba." ucap Kenzo menatap Nayla dengan penuh perasaan.
***
"Apa kamu yakin Zan, Nayla pergi bersama Kenzo?" tanya Ardian bersandar di dinding kamarnya sambil menahan rasa sakit yang selalu datang tiba-tiba,
Mata Ardian terpejam, mengingat bagaimana dirinya menyiapkan semua persiapan untuk pernikahannya dengan Nayla, bahkan Ardian juga sudah membuat surat pengunduran dirinya sebagai lurah, hanya demi keinginan dan kebahagiaan Nayla.
__ADS_1