
Nayla tidak mampu menjawab karena memang kenyataannya ya, namun tidak semata-mata itu alasannya.
Mami Kenzo sudah sangat tahu kalau dia menemui Kenzo karena dia ingin berterimakasih karena Kenzo telah mendonorkan ginjalnya pada Ardian, dan itupun dia ketahui dari Zanna saat bertemu Zanna.
Nayla menatap wajah Ardian yang sedang menatapnya.
"Jawab saja Nay, biar Mami Kenzo merasa lega dengan mendapatkan jawabannya." ucap Ardian yang sudah sangat tahu dari tatapan Nayla kalau semua itu benar adanya.
"Apa yang di katakan Tante itu benar, tapi ada alasannya kenapa itu terjadi Mas." ucap Nayla dengan perasaan menyesal kenapa dia harus menuruti Zanna.
"Nah pak Ardian, apa yang aku katakan benar bukan? kenapa Pak Ardian tidak terima saja kalau sebenarnya Nayla masih mencintai Kenzo sebaliknya Kenzo juga sangat mencintai Nayla." ucap Mami Kenzo dengan nada menekan perasaan Ardian.
"Mami, Mami jangan membuatku malu!! Nayla tolong cepat pergi dari sini bawa Pak Ardian tolong maafkan kesalahan Mami." ucap Kenzo yang tak bisa mengendalikan kemarahan Maminya.
"Mami kamu tidak bersalah Kenzo, apa yang di katakan benar adanya, mungkin memang kalian masih saling mencintai, tapi seperti yang di bilang Nayla, kami sudah menikah dan lagi Nayla juga hamil anak kami, karena hal itu kami minta maaf kalau telah mengecewakan hati kalian berdua." ucap Ardian dengan tenang walaupun dengan perasaan hati yang sakit.
"Ayo Nayla kita pergi." ucap Ardian berusaha memutar kursi rodanya sendiri, tapi Nayla dengan cepat membantunya dan mendorongnya dengan pelan.
"Kita langsung bersiap pulang saja Nay." ucap Ardian pelan, entah karena apa hatinya begitu hanpa dan sunyi.
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit sampai tiba di rumah pondok Ardian terdiam dengan tanpa ada kata-kata.
Nayla tahu apa yang dikatakan Mami Kenzo sangat menyakiti hati Ardian, bahkan Nayla pun ikut merasakan rasa kesakitan itu.
"Mas, aku rawat dulu biar segar ya?" tawar Nayla pada Ardian yang sedari tadi diam tanpa bicara sedikitpun.
"Tidak usah Nay, aku ingin istirahat sebentar." ucap Ardian berbaring miring memunggungi Nayla yang duduk di pinggir ranjang di sampingnya.
__ADS_1
Nayla semakin bingung dengan sikap Ardian, tadi di depan Mami Kenzo Ardian sangat percaya dan membelanya, dan sekarang kenapa sikapnya berubah menjadi pendiam, walaupun Ardian masih menjawab tiap kali dia bertanya.
Melihat kediaman Ardian yang cukup lama dan itu sama sekali bukan sifatnya Ardian, Nayla mendekati Ardian dengan ikut berbaring dan memeluk dada Ardian dari belakang.
Hati Ardian terkesiap saat salah satu tangan Nayla memeluknya di belakang punggungnya.
"Mas, apa kamu marah?" tanya Nayla dengan suara pelan.
Ingin sekali Ardian menjawabnya, ya aku marah Nayla! namun jawaban itu tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Kenapa harus marah Nay." hanya itu yang bisa di jawab Ardian masih memunggungi Nayla.
"Kalau tidak marah kenapa Mas Ardian dari tadi diam saja? apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Mas?" tanya Nayla lagi mencoba belajar sabar mencontoh kesabaran Ardian selama ini.
Ardian terdiam tak mampu lagi menjawab pertanyaan Nayla, apa yang yang harus di jawabnya kalau sebenarnya tidak ada yang mengganggu pikirannya, selain dia merasakan ada sesuatu yang sakit di hatinya saat Nayla begitu perhatian pada Kenzo, apa ini yang di namakan rasa cemburu?
"Mas, katakan sesuatu agar aku bisa tahu dan mengerti apa penyebabnya Mas Ardian sedari tadi diam saja?" tanya Nayla lirih dengan airmata yang sudah mengalir, entah kenapa sejak dirinya hamil perasaan Nayla lebih sensitif dan mudah sekali menangis.
Dengan rasa bersalah Ardian membalikkan badannya dan menatap lembut wajah Nayla.
"Maafkan aku Nay, telah membuatmu menangis, jangan menangis lagi ya." ucap Ardian mengusap airmata Nayla kemudian memeluknya dengan penuh perasaan.
"Katakan Mas, apa yang membuatmu tidak bicara sama sekali dari tadi? apa ini ada hubungannya dengan Kenzo? apa Mas Ardian tidak percaya padaku?" tanya Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sssttt tidak seperti itu Nayla, aku sangat percaya padamu, apapun yang kamu lakukan dan apa yang kamu katakan aku percaya padamu Nay." ucap Ardian menangkup wajah Nayla dengan tatapan sayang.
"Lalu kenapa Mas Ardian mendiamkanku?" tanya Nayla ingin tahu.
__ADS_1
"Itu karena di hatiku sepertinya sudah ada rasa cemburu Nay, ada sesuatu di sini yang sakit saat membayangkan kamu begitu perhatian pada Kenzo." ucap Ardian mengatakan apa yang di rasakannya.
Nayla menatap kedua mata Ardian dengan tak berkedip.
"Katakan sekali lagi Mas, apa aku tidak salah dengar?" tanya Nayla dengan hati yang berbunga-bunga.
"Aku cemburu Nay." ucap Ardian lagi membalas tatapan Nayla dengan perasaan penuh cinta.
Ada seulas senyum di bibir Nayla, kemudian dengan rasa bahagia Nayla memeluk erat Ardian dan mengecup semua wajah Ardian.
"Trimakasih Mas, karena sudah cemburu padaku, aku pikir Mas Ardian akan selalu tenang dengan semua itu." ucap Nayla dengan tersenyum mengusap wajah Ardian yang sedikit basah terkena ciumannya.
"Kamu tidak marah karena aku cemburu pada Kenzo Nay?" tanya Ardian dengan tatapan teduhnya.
"Tidak Mas, aku senang itu tandanya rasa cinta Mas sudah lebih besar lagi padaku." ucap Nayla dengan gemas menyentuh bibir Ardian dengan jari telunjuknya.
"Begitu ya, aku berpikir kamu akan marah kalau aku cemburu pada Kenzo." ucap Ardian dengan hati lega.
"Tidak akan pernah marah padamu Mas, karena aku lebih banyak belajar darimu untuk bersabar hati dan menahan emosi." ucap Nayla yang juga merasa lega karena apa yang di takutkan jika Ardian tidak percaya padanya ternyata salah, Ardian sangat percaya padanya.
"Trimakasih Nay, karena telah berusaha mencintaiku, aku akan semakin membuatmu jatuh cinta padaku, dan semakin mencintaiku." ucap Ardian dengan kepercayaan penuh setelah yakin sepenuhnya sudah mendapatkan hati dan cinta Nayla.
"Aku itu sudah mencintaimu Mas, bukan lagi berusaha." ucap Nayla gemas menjepit ujung hidung Ardian.
Ardian tersenyum bahagia, sangat bahagia karena telah di beri kesempatan hidup untuk bisa mencintai dan di cintai dari Nayla wanita yang sangat di cintainya.
"Nayla, ada sesuatu yang aku bicarakan penting denganmu." ucap Ardian dengan serius.
__ADS_1
"Apa itu Mas?" tanya Nayla ikut serius mendengarkan.
"Begini Nay, sebelumnya aku minta maaf padamu, kamu tahu kan sebelum aku mendapatkan donor ginjal aku sekarat dan pasti tidak bisa bertahan hidup, dan karena kamu tidak ingin kembali pada Kenzo, aku meminta tolong pada ponakanku yang masih belum punya pacar untuk bisa menjagamu di saat aku tidak ada, dan dia menyanggupi dan bersedia menjagamu, dan ternyata ponakanku sudah datang hari ini dan tinggal di rumah lama." ucap Ardian sulit sekali untuk menjelaskan pada Nayla karena ini di luar dugaannya kalau dirinya masih di beri kesempatan hidup untuk bisa mencintai dan menjaga Nayla.