
Tubuh Nayla merosot terduduk di sofa, apa yang di dengarnya dari Bik Ummah seakan menusuk jantungnya.
"Apa yang bisa aku katakan sekarang Bik Ummah, apa sebuah penyesalan bisa mengembalikan Mas Ardian padaku?" ucap Nayla dengan airmata yang sudah mengalir deras.
"Sabar Non Nayla, segala niat yang baik pasti akan berakhir dengan baik, pesan Bibik satu saja, jangan pernah menandatangani surat cerai Den Ardian, Den Ardian sangat mencintai Non Nayla." ucap Bik Ummah.
"Kalau Mas Ardian mencintaiku, kenapa menceraikan aku Bik Ummah?" Tanya Nayla tak mengerti di saat dia sudah menetapkan hatinya, di saat itu pula surat cerai dia dapatkan.
"Den Ardian menginginkan yang terbaik buat Non Nayla walaupun itu sangat menyakiti hati Den Ardian sendiri." ucap Bik Ummah dengan hati yang sesak jika mengingat hidup Ardian sudah tidak lama lagi.
"Bik Ummah, apa Bik Ummah yakin tidak tahu di mana Mas Ardian di mana?" tanya Nayla lagi dengan rasa putus asa.
"Bibik tidak tahu Non, tapi Bik Ummah minta Non Nayla jangan putus asa mencari Den Ardian ya Non." ucap Bik Ummah berharap Nayla bisa menemukan Ardian.
"Ya Bik Ummah, aku akan berusaha mencari Mas Ardian." ucap Nayla yang sudah beberapa kali menguap.
"Non Nayla mengantuk? sebaiknya Non Nayla tidur di kamar saja dulu, Bibik akan memasak sebentar untuk makan siang Non Nayla." ucap Bik Ummah yang sedikit berkeringat dingin kalau ada sesuatu yang kurang beres di kamar Ardian, karena waktu untuk membereskan kamar Ardian sangat sedikit.
"Baiklah Bik, aku mau tidur sebentar sebelum ke rumah Ayah Bunda." ucap Nayla masuk ke kamar Ardian yang juga kamarnya.
Tidak ada yang berubah saat Nayla masuk ke dalam kamarnya.
Nayla meletakkan tasnya di atas meja, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang yang bersih dan sangat harum.
Nayla mencium harum mint saat mengambil guling untuk di peluknya. Rasa rindu kembali menyeruak dari hatinya.
Sambil memeluk dan mencium harumnya, mata Nayla terpejam membayangkan wajah Ardian yang beberapa hari ini tidak di lihatnya.
"Aku sangat merindukanmu Mas, rindu menatap wajahmu." rintih suara hati Nayla yang tanpa terasa telah menitikkan airmata.
Mata Nayla terbuka menatap langit-langit kamar, pikirannya sedang memikirkan sesuatu.
Sudah berapa bulan dia dan Ardian meninggalkan rumah ini, tapi kenapa bau harum mint sangat begitu terasa, seperti baru beberapa menit Ardian ada di sini.
Nayla bangun dari tidurnya, kemudian mencium bantal dan guling serta selimut yang ada di ranjang semua masih terasa bau mint yang masih kental.
__ADS_1
Nayla bangun dari duduknya berjalan ke almari dan membukanya tidak ada perubahan, masih tertata rapi, tanpa putus asa Nayla ke kamar mandi yang biasanya selalu ada aroma shampoo milik Ardian yang selalu keramas tiap pagi.
Nayla kembali terduduk lemas, di pinggir ranjang tidak ada yang terjadi seperti yang di pikirkannya, kamar mandi tidak ada bau shampoo milik Ardian.
Dengan lemas Nayla berdiri mengambil tasnya di atas meja, berniat segera ke rumah orangtuanya dan tidak berlama-lama di kamar Ardian yang sangat menyesakkan dadanya.
Saat Nayla mengambil tasnya, matanya tertuju pada selembar kertas di atas meja.
Penasaran Nayla meraih selembar kertas itu dan membacanya.
Mata Nayla berkaca-kaca, airamata kesedihannya sudah tidak bisa tahannya lagi.
Dalam Isak tangisnya, Nayla meraung memanggil nama Ardian berkali-kali.
"Mas Ardian, di mana kamu Mas... kenapa kamu menjauh dariku Mas, jangan kamu hukum aku seperti ini Mas." ratap Nayla sambil menatap lembaran puisi itu lagi.
Iris mata Nayla kembali tertuju pada tulisan di ujung kertas. Di ujung kertas tertulis hari Rabu tanggal empat April, dan sekarang adalah tanggal lima April.
Nayla berpikir keras, mencoba memahami apa yang di lihatnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Nayla bergegas keluar kamar mencari Bik Ummah yang berada di dapur sambil membawa selembar kertas yang berisi puisi yang di tulis Ardian.
"Bik Ummah, Bik Ummah yakin kalau Mas Ardian tidak kemari? ini aku menemukan selembar kertas yang berisi puisi Mas Ardian dan ada tanggal Mas Ardian saat menulisnya, tanggal empat April, bukankah kemarin Bik?" Tanya Nayla menatap dalam Bik Ummah.
Bik Ummah yang sudah merasakan hal ini akan terjadi sudah mendapatkan jawabannya.
"Sungguh Bik Ummah tidak tahu kalau kemarin Den Ardian kemari Non, dua hari kemarin Bibik pulang kampung tengok cucu, baru tadi pagi balik kemari Non." jawab Bik Ummah sedikit gugup namun Nayla tidak melihat kegugupannya.
"Bik Ummah, aku harus pergi sekarang, siapa tahu Mas Ardian kemarin juga ke rumah Ayah." Ucap Nayla segera mencium punggung tangan Bik Ummah.
"Non Nayla tidak makan dulu?" Tanya Bik Ummah dengan hati lega, Nayla tidak curiga.
"Tidak Bik, aku harus pergi sekarang." ucap Nayla berjalan keluar menuju ke mobilnya.
Dengan kecepatan sedang, Nayla menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.
__ADS_1
Sampai di rumah, Nayla keluar dari mobil dan berjalan ke pintu rumah yang tertutup dan terlihat sepi.
Nayla mengetuk pintu beberapa kali, namun pintu tidak terbuka juga.
Dengan perasaan yang tak menentu, Nayla mengambil ponselnya dan segera menelepon Ayahnya.
"Ayah." panggil Nayla sedikit keras karena ponsel Ayahnya terdengar kecil.
"Nayla, ada apa nak?" Tanya Sasongko dengan sedikit gugup karena harus berbohong pada Nayla.
"Ayah ada di mana? aku ada di rumah Ayah sekarang." ucap Nayla tak sabar ingin bertemu orang tuanya.
"Ayah lagi di rumah sakit bersama Bunda Nay." Jawab Sasongko yang merasa bersalah pada Nayla.
"Ayah di rumah sakit? apa Ayah sakit?" tanya Nayla dengan cemas.
"Ayah tidak sakit sayang, hanya kontrol rutin saja, kamu tunggu sebentar ya Nay." jawab Sasongko yang sebenarnya berada di samping Ardian yang berbaring di ranjang sedang melakukan transfusi darah.
"Aku ke sana sekarang ya Ayah." ucap Nayla sambil menutup telponnya, dengan hati yang sudah tidak sabar untuk bertemu Ayahnya.
Bergegas Nayla kembali masuk ke dalam mobilnya, dan menjalankan mobilnya ke arah rumah sakit.
Baru melajukan beberapa meter, ponsel Nayla bergetar ada panggilan dari Zanna.
"Nayla, please...kamu cepat kemari!! Kenzo tiba-tiba pingsan, aku takut sekali Nay." ucap Zanna dengan panik di sana.
"Baiklah Zan, aku segera ke sana." ucap Nayla sambil menutup ponselnya.
Dengan berat hati, Nayla menghubungi kembali Ayahnya.
"Ayah, maafkan aku..sepertinya kita tidak bisa bertemu sekarang Ayah, aku harus kembali ke kota sekarang, ada panggilan urgent." ucap Nayla yang tidak tahu kalau di rumah sakit, ponsel Sasongko telah di speaker.
Hati Ardian kembali terluka dengan apa yang di dengarnya. Nayla membatalkan bertemu dengan orang tuanya hanya karena telepon dari seorang Kenzo.
"Nayla,...aku merindukanmu, sangat merindukanmu." rintih Ardian yang merasakan tubuhnya semakin lemah walau sudah ada transfusi darah.
__ADS_1