
Nayla menatap selembar surat cerai yang sudah di tangannya. Tak terasa airmata menitik jatuh pada selembar surat cerainya yang sudah di tandatangani Ardian.
Hati Nayla terasa sesak, tak mampu bernafas dengan semestinya.
Selembar surat inikah yang dulu ia inginkan? kenapa sekarang membuat dirinya hancur dalam jurang kesedihan.
"Nayla." panggil Ardian dengan suara parau.
Nayla terdiam, tak mampu mengangkat wajahnya untuk melihat wajah seseorang yang telah bersamanya beberapa bulan.
"Aku sudah menandatanganinya, jika kamu ingin cepat selesai surat cerai kita, kamu harus menandatanganinya dan mengirim ke pengadilan Agama agar di sahkan di sana." ucap Ardian dengan keikhlasan penuh.
Nayla masih terdiam tidak bisa berpikir lagi apa yang harus di lakukannya untuk menyelesaikan masalahnya.
"Hari ini, hari terakhir kita menjadi suami istri Nay." Ucap Ardian lagi merasakan kesakitan dalam hatinya melihat Nayla yang diam seharian tanpa bicara sejak pagi saat dia mengurus surat cerainya.
Perlahan Nayla mengangkat wajahnya, menatap lembut wajah Ardian yang begitu sangat teduh.
"Apakah ini jalan terbaik buat kita bertiga Mas?" tanya Nayla lagi yang tidak yakin dengan hatinya.
Ardian mengangguk, mengusap wajah Nayla yang terlihat sembab.
"Kamu belum bisa tahu perasaanmu, karena aku masih bersamamu, kamu akan tahu siapa yang kamu inginkan jika aku tidak bersamamu, akulah penghalang di sini Nay." ucap Ardian dengan perasaan yang penuh rasa bersalah.
"Jangan bahas itu lagi Mas, kamu bukan penghalang dalam hubunganku dengan Kenzo, aku mencoba menjernihkan pikiranku saat ini." ucap Nayla sambil melipat surat cerai yang sudah di tangani Ardian.
"Jangan di buat beban pikiran ya Nay?" ucap Ardian mengusap lembut wajah Nayla.
Nayla mengangguk kecil.
"Zanna sudah di rumah sakit kan Nay?" tanya Ardian yang heran Nayla sudah pulang lebih awal.
"Ya Mas, Zanna sudah di sana makanya aku pulang untuk siapkan makan malam buat kamu Mas." jawab Nayla tersenyum sedih.
"Ya Nay, trimakasih ya." ucap Ardian terharu dengan perhatian Nayla.
"Aku ambilkan makanannya ya Mas?" tanya Nayla ingin melayani Ardian untuk yang terakhir kalinya.
"Hmm, ya boleh Nay." ucap Ardian dengan antusias.
Dalam diam, Nayla mengambilkan makanan buat makan malam Ardian.
"Ini Mas, makanlah." ucap Nayla sambil menatap Ardian yang terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
Saat Ardian memulai makannya, ponsel Nayla berbunyi terus.
"Nay, ponselmu berbunyi, mungkin penting." ucap Ardian dengan hatinya yang berdebar-debar.
Nayla melihat ada nama Zanna di sana, dengan perasaan yang tidak tenang Nayla menerima panggilan Zanna.
"Hallo ya Zan, ada apa?" tanya Nayla sambil menatap Ardian yang tidak jadi makan.
"Nay, cepatlah kemari Kenzo sudah sadar tapi dia histeris mencari kamu Nay, dia mencabuti semua alat infusnya saat tahu dia buta, aku kuatir dia akan nekat bunuh diri Nay." ucap Zanna dengan terisak-isak di sana.
"Baiklah Zanna, aku segera ke sana." ucap Nayla dengan panik dan kepanikan Nayla tak lepas dari tatapan Ardian.
Ardian sangat tahu, Nayla sebenarnya masih mencintai Kenzo.
"Mas, aku harus ke rumah sakit, Kenzo sudah sadar tapi dia melukai dirinya sendiri saat tahu dia buta." ucap Nayla yang tanpa sadar dengan sikapnya itu membuat hati Ardian menangis dalam diam.
"Ya Nay, hati-hati di jalan ya? atau biar aku antar Nay?" ucap Ardian yang tidak tega Nayla harus ke sana sendirian.
"Tidak usah Mas, tidak baik buat kesehatan Mas, oh ya Mas.. makannya di habiskan ya Mas." ucap Nayla seraya mengecup kening Ardian.
Ardian terdiam, tersenyum dengan hati menangis.
"Mungkin inilah takdir kita Nay, kita berpisah dan kamu kembali pada Kenzo." ucap Ardian dalam hati dengan rasa sesak di dada.
"Ya Mas, tunggu aku ya Mas." ucap Nayla tersenyum manis pada Ardian.
***
Sampai di rumah sakit Nayla melihat Zanna menangis di bangku panjang.
"Kamu kenapa di sini Zanna? di mana Kenzo?" tanya Nayla yang sangat kuatir.
"Kenzo di dalam sedang di rawat dokter, Kenzo tidak berhenti untuk menyakiti dirinya sendiri Nay." jelas Zanna dengan perasaan sedih, dirinya tak mampu untuk menenangkan hati Kenzo.
"Baiklah aku ke dalam dulu, siapa tahu dia sudah tenang sekarang." ucap Nayla kemudian masuk ke dalam kamar Kenzo.
Di dalam Nayla melihat Kenzo yang terlihat lemas dengan wajahnya yang terlihat putus asa.
"Nah Kenzo, itu Nayla sudah datang, benarkan yang aku bilang Nayla perduli sama kamu." ucap dokter membesarkan hati Kenzo.
Dengan tatapan kosong, Kenzo mengangkat tangannya mencoba mencari keberadaan Nayla.
"Aku di sini Ken." ucap Nayla dengan suara tercekat, tidak tega melihat keadaan Kenzo yang tidak bisa melihat lagi.
__ADS_1
"Nayla,.. Nayla..!! di mana kamu Nay?" ucap Kenzo dengan tangannya yang menggapai keberadaan Nayla.
Nayla mengulurkan tangannya, meraih tangan Kenzo yang terangkat.
Saat sudah mendapatkan tangan Nayla, Kenzo menarik tangan Nayla hingga tubuh Nayla terjatuh dalam pelukan Kenzo.
"Nayla, jangan tinggalkan aku Nay, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu Nay." ucap Kenzo dengan tatapannya yang kosong.
Hati Nayla seperti tersambar petir, bagaimana pun dia yang menjadikan Kenzo seperti sekarang ini, sebelum dia pulang ke desa kehidupan Kenzo baik-baik saja dengan kedua orang tuanya, dan sekarang Kenzo sudah kehilangan orangtuanya demi dirinya, di tambah lagi dengan keadaan Kenzo yang sekarang buta walau tidak permanen.
"Kamu tenang ya Ken, aku ada di sini sekarang." ucap Nayla yang masih dalam pelukan Kenzo.
Kenzo terdiam meraba wajah Nayla dan mengusap wajah Nayla.
"Aku tidak bisa melihat wajahmu lagi Nay, duniaku gelap sekarang, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi." ucap Kenzo dengan putus asa.
"Jangan pikirkan yang lain dulu Ken, sekarang kamu harus sembuh dulu." Ucap Nayla yang bingung juga harus berbuat apa.
"Kenapa aku tidak mati saja Nay, daripada aku harus hidup seperti ini, sendiri dalam gelap." ucap Kenzo yang membuat hati Nayla semakin sedih dengan keadaan Kenzo.
"Kamu bicara apa Ken, aku tidak ingin kamu seperti ini Ken." Ucap Nayla sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Ken, kamu istirahat ya? aku harus pulang, besok pagi aku akan kembali ke sini." ucap Nayla yang sudah berjanji pada Ardian untuk pulang, dan lagi malam ini malam terakhir dirinya dan Ardian menjadi suami istri.
"Nay, aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri, aku membutuhkanmu Nay." ucap Kenzo dengan tatapan yang hampa.
"Ken, malam ini biar Zanna yang temani kamu ya, aku harus pulang." ucap Nayla mencoba memberi pengertian pada Kenzo.
"Baiklah Nay, di mana Zanna sekarang?" Tanya Kenzo yang masih membutuhkan seseorang untuk membantunya jika dia memerlukan sesuatu.
"Aku cari Zanna dulu ya?" ucap Nayla mengambil ponselnya dan menelpon Zanna.
Namun ponsel Zanna tidak bisa di hubungi dan tidak aktif.
Rasa putus asa menyelimuti hati Nayla, dengan tangan gemetar Nayla menelpon Ardian. Ponsel Ardian pun tidak bisa di hubungi, beberapa kali Nayla mencoba menelpon Zanna dan Ardian tetap tidak bisa tersambung.
Hati Nayla merasakan sesuatu yang tidak enak, terasa ada rasa sakit yang sangat dalam Nayla rasakan.
"Mas, kenapa ponselmu tidak aktif? apakah kamu baik-baik saja Mas?" tanya Nayla dalam hati.
****
"Pak Ardian, kita ke rumah sakit saja ya?" ucap Zanna yang di telpon Ardian karena kondisinya tiba-tiba drop.
__ADS_1
"Antarkan aku pulang ke desa malam ini Zanna." jawab Ardian dengan lemah, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan merasakan rasa yang sangat sakit pada bagian perutnya.